
Menjelang pagi tiba, aku selalu merasa sedih hingga ingin menangis meronta-ronta ketika harus berpisah jauh kembali dengan sosok kakak yang sejak kecil kami sudah selalu bersama.
"Sehatlah selalu, jaga kandungan mu baik-baik. Jangan membuat kakak khawatir lagi, kali ini kau harus berhasil melahirkannya ke dunia bersama senyuman mu." Ucap kak Rendy ketika berpamitan pagi ini di teras depan.
"Aku berjanji kali ini kak. Ehm, ku harap kak ipar pun begitu nantinya ya," Jawab ku sembari melihat ke arah kak Shishi kemudian. Lalu kami saling berpelukan satu sama lain, aku dan kak Rendy serta kak Shishi.
Setelah itu kak Rendy beranjak lebih dulu ke mobil, dan meraih sebuah kotak yang di ujungnya terpasang sebuah pita bersimpul dan di berikannya padaku. Betapa aku sangat terkejut dan sumringah melihatnya seketika.
"Cokelat !!! Aaah, aku tahu kak Rendy tidak mungkin melupakan adik nya yang tersayang ini bukan? Kyaaaaaaa... Senang nya dapat cokelat ini lagi."
Eh, cokelat ini juga pernah di berikan oleh Kevin. Apakah kali ini juga? Haha, tidak mungkin.
"Kali ini sengaja kakak sendiri yang membelinya loh, demi apa coba??? Hmm... Lalu begitu saja? Tanpa terimakasih?"
Jika kali ini kakak yang membelinya, itu berarti... Selama dulu dia memberikannya padaku, itu mutlak dari Kevin dong? Cih, dasar. Kakak menipuku selama ini..
Aku tersenyum dan memeluknya lagi setelah terdiam sejenak menatap cokelat itu.
"Kakak, jadi selama dulu kakak memberikan ini apakah Kevin yang membelinya untuk ku? Dasar kau, ih..." Jawab ku berbisik di telinganya ketika aku memelukknya erat.
"Ehm, terimakasih banyak kakak." Jawab ku kembali. Tampak kak Rendy tertawa geli sembari kikuk di depan ku akan bisikan ku tadi.
"Mama, tidak boleh makan cokelat. Nanti gigi mama bolong," jawab Pelangi menyela, yang sejak tadi sudah berada di tengah-tengah kami, membuat kami tertawa.
"Maafkan kakak, dan kakak akan sangat merindukan kalian. Terutama, tuan puteri yang satu ini. Semoga kau selalu menjadi penerang dalam rumah tangga mama dan papa mu ya Nak."
Pelangi tersenyum dan mengangguk serta meraih tangan kak Rendy lalu mencium punggungnya dengan hormat. Kak Shishi menghampirinya dan memeluk serta menciumi Pelangi dengan gemas.
"Hati-hati di jalan kak. Salam dengan semua keluarga, maaf jika kami tidak bisa memberikan banyak suguhan yang mewah." Ucap Irgy kemudian saat memeluk kak Rendy kembali.
"Bro, aku tidak akan pernah bosan untuk berkata.. Titip adik ku, Fanny. Kau paham bukan?"
"Aku mengerti. Aku akan selalu menjaga nya dan menjalankan tugasku sebagai suami."
"Aku percaya." Jawab kak Rendy lagi.
Kemudian mereka memasuki mobil dan melambaikan tangan, berlalu pergi dari pandangan ku. Dalam hatiku terasa sesak, bagaimana tidak. Dulu kami selalu bersama setiap waktu kapan pun dan dimana pun. Lalu setelah kami menikah dan memiliki keluarga masing-masing, kami sulit meski hanya sekedar menyapa.
Hati-hati di jalan kakak ku. Semoga kita masih bisa bertemu dan berkumpul bersama di lain waktu. Aku akan sangat merindukan kakak ipar juga, kalian sudah seperti kakak kandungku, aku masih rindu. Sangat Rindu, semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan dan menjaga kalian dalam perlindungannya.
Dalam hati aku bergumam, menatap punggung mobilnya yang berlalu menghilang dari tatapan ku.
"Ma, ayo ke sekolah." Ucap Pelangi dengan rengekan membuatku tersadar kembali dari pikiran yang melayang entah kemana.
"Sayang, aku ke kantor dulu. Kau bisa mengantar Pelangi ke sekolah. Hati-hati ya, jangan sampai kau kelelahan juga."
"Hemm.. Baik lah, kau juga harus hati-hati sayang."
Irgy mengangguk sembari mengecup kening ku dengan hangat, lalu mengecup serta memeluk Pelangi kemudian. Pelangi melambaikan tangan pada papanya yang berlalu lebih dulu pergi.
🌻🌻🌻
Tiba di sekolah Pelangi sudah senyum-senyum menoleh ke kanan dan ke kiri, aku mengerti dan melihatnya pun ikut tersenyum menggelengkan kepala.
"Pelangi..."
Dengan cepat Pelangi menoleh lalu tersenyum hangat dengan ekspresi gemas. Ya, gemas. Sepertinya begitu ekspresi yang bisa ku tangkap ketika ku lihat dari arah depan sana sosok anak yang di nantinya muncul dengan senyuman yang tak kalah manisnya. Raut wajahnya menyimpulkan bahwa dia terlihat belum pulih betul dari penampilannya yang masih lengkap menggunakan sebuah syal mengikat lehernya.
"Hai Lucky." Sapa Pelangi kemudian.
"Eh, selamat pagi Pelangi. Dan selamat pagi juga mama Pelangi," Sapa nya membalas dengan santun, dengan setengah membungkukkan tubuhnya pada kami.
"Hai nak, kau sudah sembuh? Tapi sepertinya kau belum pulih betul " Jawab ku sembari menyentuh rambut di kepalanya.
"Tak apa tante, saya sudah jauh lebih baik."
"Itu berkat Nona dan tuan puteri Pelangi, tuan muda jadi sehat kembali seketika." Ujar suster Lulu menyela.
"Bibi..." Ucap Lucky dengan lirikan tajam.
"Upz, hihi. Maaf tuan muda, saya keceplosan." Jawab suster Lulu sembari cekikikan di susul oleh ku kemudian.
"Jika kau masih sakit, aku akan mengobatimu."
"Sungguh? Baik lah, bu dokter." Jawab Lucky tersenyum manis pada Pelangi.
"Okkeh Ma, Pelangi masuk kelas dulu." Ucap Pelangi dengan antusias menghampiriku lalu meraih tangan ku, aku mengerti. Kemudian aku mencondongkan wajah ku menghadapnya. Dia langsung mengecup kedua pipi ku, dan merangkul leherku.
"Jangan merepotkan guru di kelas ya, belajar dengan baik dan tetaplah bersama Lucky."
"Baik, Ma." Jawab Pelangi menurut dengan riang.
"Saya permisi tante," Ucap Lucky kemudian dan mereka berlalu pergi memasuki halaman sekolah dengan riang.
"Nona, terimakasih banyak. Sebuah pencil pemberian tuan puteri Pelangi kemarin sangat berguna hingga tuan muda langsung semangat kembali."
"Hahaha, aduh kau terlalu sungkan suster."
"Baiklah nona, saya permisi dulu."
"Eh, ah... Baiklah," Jawab ku singkat. Setelah melihat suster Lulu memasuki mobil yang mengantarnya, kemudian aku memasuki mobil ku juga hendak pergi ke mall. Untuk mencari berbagai macam model baju hamil dan berbagai kebutuhan lainnya.
🌻🌻🌻
Dan di sisi lain, di kelas pelangi...
"Lucky, kau suka minum obat?" Tanya Pelangi.
"Ehm, aku tidak terlalu suka. Karena itu sangat buruk rasanya," Jawab Lucky dengan sedikit menyembikkan bibirnya.
"Aku berani loh sama obat, kan aku calon dokter."
Lucky tersenyum manis mendengar jawaban Pelangi.
"Apa kau pernah sakit Pelangi?"
"Pernah. Sampai muntah, hehe."
"Orang tua mu pasti sangat takut."
"Tidak. Mereka sangat menyayangiku dan menjagaku sampai pagi,"
"Kau beruntung Langi."
"Ehm.. Lucky, kenapa di rumah mu sangat banyak penjaga dan dokter? Apa kau sakit parah?"
"Aku hanya demam saja. Aku sedih, ku takut sendirian lagi. Kau pergi begitu saja,"
Pelangi terdiam akan ucapan Lucky, dia berusaha mencerna ucapannya. Meski sulit dia mengerti, membuat Lucky tersenyum kembali menatap wajah lugu Pelangi.
"Aku rindu ayah dan nenek angkatku."
"Apa kau tidak punya mama?"
Lucky menggelengkan kepalanya.
"Kemana mama mu?"
"Aku tidak tahu Langi,"
"Apa aku boleh main kerumah mu?" Tanya Pelangi kemudian.
"Maafkan aku. Ayah angkatku sangat galak, dia melarangku berteman dengan orang asing selama mereka tidak disini, aku hanya tinggal dengan bibi dan beberapa penjaga lainnya."
"Lalu dimana mereka? Apa jauh?"
"Mereka di luar negeri. Itu sangat jauh, tapi tinggal disitu sangat menyenangkan ada banyak tempat bermain yang seperti kerajaan. Tapi juga membosankan, ayah angkatku selalu sibuk bekerja. Aku selalu bermain dengan nenek angkat saja."
"Wah... Aku ingin kesana." Ucap Pelangi menyeru dengan mata berbinar-binar.
"Maafkan aku Langi, tapi aku janji. Saat dewasa nanti, aku akan mengajakmu kesana."
"Kau berjanji?" Ucap Pelangi dengan menjulurkan jari kelingking dan jempola tangan kanan nya.
Lucky tersenyum kemudian menyatukan jari yang sama dengan Pelangi.
"Aku berjanji." Jawab Lucky mantap, kemudian mereka saling melempar senyum bahagia satu sama lain.