
Keesokan harinya.
Kirana sedang dirias oleh make-up artis sekaligus hairstylist juga fashion designer untuk mendandani Kirana. Tentu saja atas perintah dari Rendy.
Beberapa ibu-ibu yang tinggal disekitar rumah Kirana merasa heran dengan adanya orang-orang yang sedang mendandani Kirana.
Mereka menunggu diruang tamu Kirana dan pastinya sambil ngerumpi membicarakan Kirana.
"Sebenernya laki-laki yang mau menikahi Kirana siapa sih? Apa dia anak pejabat?"
"Mungkin anak sultan kali Bu."
"Sepertinya dia bukan orang sembarangan deh."
"Iya. Kalau diperhatikan memang seperti bukan orang sembarangan."
"Ya mungkin karena itu, Kirana jual diri ke dia biar bisa jadi horang kaya."
"Husss! Ngaco aja Bu Ida kalau ngomong. Jangan asal bicara Bu. Nanti kalau banyak yang denger kan nggak enak."
Bisik-bisik mereka yang terus membicarakan dan masih saja berpikiran buruk tentang Kirana.
Setelah hampir tiga jam di make over, Kirana keluar dari kamar dengan duduk dikursi roda yang tadi telah diantar oleh Beni.
Seorang penata rias Kirana mendorong kursi roda yang diduduki Kirana keluar dari kamar.
Ibu-ibu yang sudah menunggu langsung berdiri dan menatap Kirana tak berkedip.
Kirana yang selama ini terlihat polos, cantik tanpa berdandan dan juga sangat ramah, setelah didandani sedemikian rupa ternyata menjadi jauh lebih cantik bagai bidadari yang turun dari langit.
"Selamat pagi ibu-ibu. Apa kita sudah bisa berangkat ke KUA sekarang?" Sapa Kirana dan bertanya dengan ramah. Dia menjadi sangat canggung untuk tersenyum setelah kejadian semalam yang membuat dirinya dibuat malu.
"Oh iya. Ayo, biar saya yang dorong." Jawab salah satu ibu-ibu yang merupakan istri dari Pak RT.
Sesampainya di KUA yang jaraknya tidak jauh dari rumah Kirana, Kirana merasa sangat gugup dan gelisah. Dia juga merasakan takut.
Dia belum bercerita dan memberitau Ibunya tentang hubungannya dengan Rendy. Kirana takut kalau Ibunya akan marah dan menentang hubungannya. Bukannya tidak diijinkan untuk berpacaran. Tapi, Salma-ibu Kirana hanya takut kalau putri semata wayangnya akan terpengaruh dengan pergaulan bebas dikota metropolitan ini. Apalagi, Kirana jauh darinya dan tinggal seorang diri.
Meski setiap hari selalu mengirim pesan menanyakan kabar juga sesekali melakukan video call hanya ingin memastikan kalau putrinya baik-baik saja, tetap saja seorang ibu tidak akan pernah merasa tenang tinggal berjauhan dengan anak perempuan satu-satunya.
Tapi, Bunda Siti sama sekali tidak terlihat. Dia merasa sangat kecewa dengan Kirana. Gadis yang selama ini disayanginya juga telah dianggap seperti anaknya sendiri dan berencana ingin dijadikan menantunya, tapi akan menikah dengan laki-laki lain. Bukan dengan putranya.
Bunda Siti memilih untuk berdiak diri didalam rumah dan tidak ingin melihat Kirana. Sedangkan Haris yang mengetahui sejak semalam, dia pun merasa kecewa dan masih belum bisa menemui Kirana.
"Makasih ya Om." Ucap Kirana dengan tersenyum kecil.
Sudah hampir setengah jam semua menunggu di ruang tunggu KUA. Tapi, Rendy masih belum juga datang.
"Maaf, untuk calon pengantin yang akan melaksanakan ijab qabul silahkan masuk kedalam karena Bapak penghulu sudah menunggu." Seru seorang staff KUA dengan ramah dan sopan.
"Loh, mana calon pengantin prianya?" Beberapa warga yang ikut hadir sebagai saksi pun bertanya-tanya juga kembali berbisik-bisik dibelakang Kirana.
"Jangan-jangan, dia kabur. Dasar anak muda jaman sekarang memang begitu. Nggak bertanggung jawab."
"Mungkin dia udah merasa kena malu dan nggak mau datang."
"Kasihan Kirana."
"Salah sendiri, kelakuannya nggak bener gitu."
"Iya, biar tau rasa. Kalau udah seperti ini, kita semua juga ikut repot dan ikut malu kan? Buang-buang waktu aja."
Meskipun mereka berbisik-bisik, tetap saja Kirana bisa mendengarnya dengan jelas. Dia hanya terus menundukkan wajahnya dengan mata yang sudah memanas menahan air matanya.
Ya Tuhan, kenapa mereka masih terus berpikiran buruk tentang aku? Kenapa aku harus mengalami hal semacam ini dikampungku kelahiranku?
Batin Kirana kemudian menghela nafasnya dalam-dalam mencoba untuk menerima keadaan ini.
"Permisi!" Seru Beni yang tiba-tiba datang dengan buru-buru terlihat panik.
Semua orang langsung menoleh kearahnya termasuk Kirana.
"Pak Beni? Ada apa? Dimana Mas Rendy? Ijab qabulnya udah mau dimulai." Tanya Kirana.
"Em, maaf semuanya. Bos saya..maksud saya Mas Rendynya tidak bisa datang karena mengalami musibah. Dia kecelakaan saat perjalanan menuju kemari." Ucap Beni.
................