
Sesampainya di lantai pertama, Lin Yan pun menuju ke dekat pintu dan disitu ada sebuah meja sederhana. Seorang pria tua yang merupakan Tetua pengelolaan Aula Senjata di sekte Naga Langit sedang melakukan aktifitasnya seperti biasa, yaitu membaca sebuah buku.
Ketika Lin Yan dan Huan Caiyi mendekat, Tetua itu sudah meliriknya sekilas juga melihat tombak yang dipegang oleh Lin Yan.
“Hm? Kenapa anak itu tertarik pada tombak itu?” Batin Tetua itu setelah selesai melihat sekilas ke arah Lin Yan.
“Permisi Tetua.. bisakah anda jelaskan tentang tombak ini?” Tanya Lin Yan saat menaruh tombak di atas meja.
Tetua itu melihat ke arah Lin Yan dengan seksama dan sedikit terkejut dengan tingkat kultivasi Lin Yan di usia yang sangat muda. Ia pun melihat kembali ke arah tombak dengan seksama dan mencoba mengingat detail tentang tombak itu karena itu termasuk informasi yang sudah sangat lama.
“Tombak ini tidak memiliki nama sama sekali. Di masa lalu, seorang dari Kerajaan Bintang yang merupakan lulusan dari sekte Naga Langit menggunakan tombak itu saat berperang melawan Kerajaan Bulan. Diperkirakan tombak ini telah berusia lebih dari puluhan ribu tahun. Tetapi itu hanya rumor karena bagian-bagian dari tombak ini telah berkarat. Ketika masa tombak ini memiliki pemegangnya, itu juga sudah berkarat walaupun tidak separah ini.” Ujar Tetua tersebut.
Mendengar penjelasan Tetua itu, Lin Yan kecewa seketika. Ia sangat ingin mengetahui apa sebenarnya asal usul tombak tersebut.
“Lalu, berapa harga dari tombak ini?” Tanya Lin Yan karena ia pasti akan mengambilnya karena ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa meninggalkannya walaupun kondisinya saat ini bisa dibilang sudah sangat parah.
“Maaf, aku bukan Tetua pengelola Aula Senjata. Aku hanya ingin bersantai di tempat ini. Tunggu sebentar, aku akan memanggil pengurus tempat ini.” Tetua itu menutup matanya seperti seorang idiot.
Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya muncul di samping Tetua yang menutup mata itu.
“Tetua Ketiga.. apakah anda membutuhkan sesuatu?” Tanya Tetua tersebut.
Lin Yan dan Huan Caiyi terkejut bahwa pria tua yang tampak sangat rapuh itu adalah salah satu dari tiga Tetua utama di sekte Naga Langit. Bahkan Lin Yan tidak merasakan apapun dari Tetua Ketiga yang membuatnya sangat heran.
Biasanya, instingnya akan bekerja dengan baik jika ada orang yang sangat kuat di dekatnya. Tetapi, Lin Yan salah menafsirkan tentang kemampuannya. Sebenarnya itu bukanlah pendeteksi aura seseorang yang sangat kuat, melainkan pendeteksi niat jahat dari seseorang. Dan dengan niat jahat itu, dari itu juga Lin Yan mampu menafsirkan tingkat kekuatannya ke taraf tertentu. Bisa dikatakan, ketika seseorang mengeluarkan emosi atau niat tertentu apalagi mereka seorang kultivator, sudah pasti akan ada getaran qi yang terjadi. Hal itulah yang membuat Lin Yan sangat mudah mendeteksi kekuatan seseorang hanya dengan instingnya.
Dan lelaki tua yang merupakan Tetua ketiga tersebut memiliki aura yang sangat murni atau lebih baik dikatakan begitu tenang sehingga insting Lin Yan tidak bekerja sama sekali.
Juga, ketika Lin Yan menatap pria tua itu, usianya juga sudahlah sangat tua. Bisa dikatakan, usia Tetua ketiga jauh lebih tua dari pada Master dan Tetua Agung sekte Naga Langit.
“Murid ini ingin menanyakan harga tombak itu.” Balas Tetua itu dan membaca bukunya lagi.
Tetua pengelolaan tempat itu tidak merasa keberatan dengan sikap Tetua Ketiga karena ia juga tau bahwa semua Tetua lainnya bahkan Master dan Tetua Agung sekte Naga Langit menaruh rasa hormat padanya.
“Apa? Kenapa itu sangat mahal? Senjata ini berada di lantai dua sebelumnya!” Huan Caiyi memasang wajah tidak puas karena harga yang dikatakan oleh Tetua Khu sangat tinggi.
Lin Yan tidak bisa berkata-kata karena setiap kali ia akan menerima kerugian, Huan Caiyi akan langsung buka suara untuk mengatakan keberatannya.
“Nak, apakah kau tau apa tombak yang kau pegang itu? Nilainya dahulu memang setara dengan senjata terkuat di tempat ini. Sementara harga senjata tertinggi di Aula Senjata adalah 20.000 poin merit. Kenapa harga senjata itu tinggi, tentu saja karena itu merupakan sebuah lambang atau lebih tepatnya tombak itu hanya bisa dijadikan koleksi karena sejarahnya.” Ujar Tetua Khu.
Huan Caiyi terdiam mendengarnya karena sudah membuat spekulasi bahwa pengguna tombak itu sebelumnya memiliki sejarah yang bagus dan membuat prestasinya sendiri di Kerajaan Bintang menggunakan tombak yang sudah berkarat.
“Tidak masalah dengan harganya. Aku akan mengambilnya.” Lin Yan tentu saja akan mengambil tombak itu. Lagi pula ia masih memiliki hadiah yang belum ia terima dan tombak itu akan menjadi hadiahnya.
Mata Tetua Khu sedikit menyipit. Begitu juga dengan Tetua Ketiga yang sedari tadi membaca buku menaikkan sedikit alisnya karena tidak menyangka bahwa Lin Yan akan mengambil tombak usang dengan harga yang sangat tinggi.
“Apakah kau bercanda? Kau masih sangat muda. Dari mana kau mendapatkan poin merit sebanyak itu? Kau harus tau bahwa senjata yang ada di sini tidak bisa dibeli dengan koin emas.” Tetua Khu mendengus sedikit ke arah Lin Yan.
Huan Caiyi semakin marah karena Tetua itu terlalu meremehkan adiknya. Ia sangat ingin merobek-robeknya tetapi tetap menahannya.
Lin Yan juga tidak membalas perkataan Tetua Khu. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dan meletakkan token identitasnya juga.
Tetua Khu bingung awalnya. Tetapi ketika membaca baris pertama dari dokumen itu, ia tercengang dan mengerti mengapa Lin Yan pasti akan mendapatkan tombak legendaris di masa lampau.
“Kau.. kau Lin Yan? Pemenang misi kelas B di pelantara luar?” Tanya Tetua Khu dengan keterkejutan luar biasa saat menatap Lin Yan.
Sementara itu, Tetua Ketiga menegang saat mendengar nama Lin Yan. Mau tidak mau, ia langsung melihat ke arah Lin Yan kembali dengan tatapan serius.
“Anak ini cucu senior Lin Ming dan Lin Xi? Sungguh sulit dipercaya. Anak ini bahkan telah mencapai tingkat Xiantian dalam waktu sesingkat ini. Juga dia adalah pemenang misi kelas B? Tidak heran.. tidak heran.. anak ini pasti akan memiliki reputasi seperti kakek dan neneknya di masa depan.” Batin Tetua Ketiga. Ia pun kembali membaca bukunya setelah itu.
Tentu saja kejadian kecil itu tidak luput dari perhatian Lin Yan. Tetapi ia tetap mengabaikannya juga.
“Ya. Aku adalah murid yang menyelesaikan misi.” Lin Yan mengangguk kecil.
“Baik. Jika seperti itu, aku akan memproses dokumen hadiah yang kau miliki. Sekarang tombak ini adalah milikmu.” Tetua tersebut langsung mengambil dokumen milik Lin Yan setelah mengatakan itu. Ia tentu tidak akan mengatakan apa-apa lagi karena Lin Yan bisa mengambil satu senjata apa saja yang ada di Aula Senjata.