Dragon Monarch

Dragon Monarch
Chapter 163 - Babak Final (3)



Pintu yang bersinar tersebut pun perlahan terbuka.


Semua mata menatap ke arah pintu tersebut dengan bersemangat karena sangat jarang terlihat seorang ahli Spiritualis Dunia bertarung bersama dengan roh yang mereka kontrak.


Tidak lama kemudian, satu pria pendek yang memegang palu hitam pun muncul dari pintu tersebut.


“Ada apa kau memanggilku, Gui Lang?” Tanya pria pendek yang tampak seperti kurcaci tersebut.


“Bantu aku melawan anak itu, Luyang..” ucap Gui Lang.


“Hm?” Luyang menatap Lin Yan dengan seksama dan ia langsung terkejut luar biasa.


Sementara itu, Lin Yan langsung waspada karena melihat bahwa pria pendek tersebut bisa melayang diudara. Ia juga mendengarkan diskusi para penonton tertentu tentang Spiritualis Dunia yang mampu memanggil roh dari Dunia Roh. Yang artinya, setiap makhluk dari Dunia Roh sudah bisa terbang dan itu adalah lawan yang merepotkan.


“Hei Gui Lang, apa kau ingin aku mati melawan anak itu?” Tanya Luyang marah dan wajahnya sedikit pucat.


“A-apa maksudmu?” Tanya Gui Lang tercengang.


“Kau tidak perlu tau apa-apa! Dan aku menyarankan agar kau tidak berurusan dengan bocah itu atau kau akan tewas mengenaskan!” ucap Luyang marah dan langsung masuk kembali ke pintu Dunia Roh.


Jreg!


Pintu tersebut kembali tertutup dan Luyang pun menghilang bersama dengan pintu.


Kejadian itu membuat para penonton tercengang dan tidak bisa berkata-kata.


Bahkan Master sekte Gerbang Surgawi gemetaran saat mendengar kata-kata Luyang. Ia pun melambaikan tangannya dan membuka Gerbang Roh.


“Ada apa kau memanggilku?” Suara kurcaci lainnya terdengar di dekat Master sekte Gerbang Surgawi.


“Apa kau tau siapa bocah itu, Han?” Tanya Master sekte Gerbang Surgawi sambil menunjuk ke arah Lin Yan yang berada di tengah Arena.


Roh kurcaci yang memegang palu merah di tangannya pun bingung dan menatap ke arah Lin Yan yang berada di Arena.


Ketika memeriksa dengan cermat, wajah Han langsung berubah drastis. “Dia, kenapa dia ada di sini! Sial!”


Tanpa berbicara, Han pun langsung masuk kembali ke pintu tanpa memberi penjelasan kepada Master sekte Gerbang Surgawi.


Master sekte Gerbang Surgawi dan beberapa Tetua lainnya tercengang karena tampaknya para Roh dari Dunia Roh sangat takut melihat Lin Yan.


“Apa yang terjadi? Kenapa Han tampak tidak mau berurusan dengan bocah itu dan bahkan tidak mau menjelaskan siapa dia seperti Roh kontrak Gui Lang?” Batin Master sekte Gerbang Surgawi terkejut. Ia saat ini bertanya-tanya apa identitas Lin Yan yang sebenarnya sehingga para Roh pun tidak mau berurusan dengan Lin Yan.


Bahkan para kultivator kuat yang menatap kejadian di Arena pun terdiam. Mereka tentu tau bahwa kekuatan para Roh sama dengan kontraktor mereka sehingga ketika melawan Spiritualis Dunia, itu seperti melawan dua individu yang setara sekaligus.


“Apa yang terjadi? Kenapa Roh itu tampak tidak mau melawan Lin Yan? Siapa dia sebenarnya?”


Penonton tertentu bertanya dengan nada serius sekaligus melihat ke arah tempat Master sekte Naga Langit yang tampak bingung juga.


“Guru, apakah anda bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Master sekte Naga Langit karena dengan pengetahuannya pun, ia tidak menemukan apa-apa.


Tetua Ketiga terdiam juga. Ia berpikir banyak hal lalu menggelengkan kepalanya karena ia tidak tau alasannya juga.


Lin Yan bingung dengan pergantian peristiwa tersebut. “Kenapa Roh itu terlihat seperti mengenalku?” Batinnya heran.


Karena Gui Lang terdiam, Lin Yan pun langsung menggunakan tekniknya dan menyampingkan tentang hal tersebut.


“Tombak Petir Suci..”


“Gaya Pertama, Tubuh Petir Suci..”


Blar!


Saat Lin Yan mengangkat tombaknya ke arah langit, petir pun menyambar. Ia langsung diselimuti oleh petir hitam saat ini.


“Ayo kita mulai!” ucap Lin Yan dengan senyum kecil.


Ketika Lin Yan ingin bergerak, Lin Yan terdiam karena mendengar kata-kata dari Gui Lang.


“Aku menyerah..”


Gui Lang menyerah karena sedikit frustasi dengan kata-kata Luyang. Ia tau bahwa berurusan dengan Lin Yan akan menambah masalah untuk dirinya sendiri. Tentu ia tidak akan mengabaikan kata-kata Roh tersebut yang bahkan tidak mau berurusan dengan Lin Yan.


Tetua Agung sekte Seribu Pedang pun tampak bingung karena Gui Lang tampak sedikit putus asa karena kata-kata Roh kontraknya sendiri.


“Pertandingan kedua dimenangkan oleh Lin Yan!” Teriak Tetua Agung sekte Seribu Pedang yang membuat semua penonton terdiam.


Tidak ada sorak-sorai yang terdengar sama sekali karena pertandingan tersebut sangat mengecewakan tidak seperti pertarungan antara Shi Zho dan Jian Li.


Lin Yan hanya menyimpan Tombak Raja Langit lalu berjalan keluar dari Arena. Ia tidak peduli apakah penonton puas atau tidak.


“Lin Yan menang!” Satu suara melengking terdengar dari bangku penonton dan semua mata tertuju padanya.


Lin Yan juga berkedut mendengar suara itu dan menatap ke arah bangku penonton. Ia menemukan seorang wanita yang menatapnya sangat dalam dan ia tidak tau harus berkata apa.


Para penonton juga menatap wanita yang merupakan Gu Yin dengan seksama karena hanya dia seorang saja yang bersorak karena kemenangan Lin Yan.


Gu Yin yang sangat bersemangat pun melihat semua mata tertuju padanya dan wajahnya langsung merah seperti tomat. Ia pun duduk kembali dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.


Sementara itu, Gu Yuena tidak melihat ke arah Gu Yin sama sekali seolah-olah ia tidak mengenalnya. Ia tentu sangat malu dengan perilaku sepupunya itu.


Huan Caiyi di sisi lain, hanya tercengang menatap ke arah Gu Yin sama seperti keluarga Gu Yuena. Mereka tidak bisa berkata-kata melihat wanita yang sedang dimabuk cinta tersebut.


Para penonton pun mengabaikan Gu Yin dan menatap ke arah Arena lagi tetapi tidak ada yang berbicara atau bersorak untuk kemenangan Lin Yan. Semuanya hanya mengutuk Gui Lang dalam hati karena tidak berani bertarung setelah Roh kontraknya tidak mau bertarung.


Karena suasana menjadi hening, Tetua Agung sekte Seribu Pedang pun mengumumkan pertandingan selanjutnya.


Lin Yan yang telah kembali ke tempat para peserta hanya duduk bersila untuk membiasakan diri dengan kekuatannya saat ini. Ia sadar bahwa jika ia terus bertarung, mungkin kemungkinan kalah lebih besar dari pada menang karena kekuatannya sangat tidak stabil saat ini setelah menerobos kultivasinya dengan buru-buru.


“Tampaknya lain kali aku harus memberikan jeda untuk kekuatanku menerobos. Jika tidak, aku akan kesulitan nantinya.” Batin Lin Yan yang sedang duduk bermeditasi.


Penonton kembali bersorak karena pertarungan berikutnya ternyata luar biasa. Sebab, itu adalah pertarungan seorang wanita yang berasal dari sekte Seribu Pedang yang merupakan peringkat pertama kompetisi babak pertama sebelumnya.


Lin Yan sama sekali tidak peduli dan fokus pada pengendalian kekuatannya saat ini sebelum ia bertarung melawan lawannya yang selanjutnya, yaitu Shi Zho.