
“Apa itu Naga sungguhan?” murid wanita sekte Bambu gemetaran sedikit karena tentu ia telah membaca legenda-legenda zaman lampau tentang binatang roh Naga yang disebut sebagai binatang roh bencana atau malapetaka.
“Aku tidak tau.. tetapi tampaknya itu seperti hidup.” Sambung murid pria sekte Bambu.
Lin Yan menatap ke arah bawah dengan senyum diwajahnya. Ia sadar bahwa para penonton diluar sana telah melihat apa yang ia lakukan. Jadi, untuk membuat agar para kultivator merasa bahwa apa yang ia lakukan hanya untuk membuat pijakan, Lin Yan pun membubarkan tekniknya sekaligus menyerang menggunakan Tombak Raja Langit ke arah bawah.
“Tombak Petir Neraka..”
“Gaya Pertama, Tusukan Neraka Keputusasaan!”
Zhep!
Lin Yan yang dibaluti oleh petir hitam melesat ke arah dua murid sekte Bambu dengan kecepatan yang sangat tinggi. Karena posisinya saat ini berada di udara, kecepatannya untuk turun ke bawah pun berlipat-lipat ganda dari sebelumnya.
“Menghindar!” Teriak murid pria dengan buru-buru.
Keduanya pun memisahkan teknik kombinasi mereka dan bergerak ke arah kiri dan kanan secara bersamaan.
Zhung!
Duar!
Ledakan besar terjadi saat Tombak Raja Langit membentur permukaan tanah. Hutan bambu yang ada di sana juga terhempas seluruhnya ke samping walaupun tidak sepenuhnya.
Kawah besar juga tercipta saat Lin Yan menggunakan teknik tersebut dengan sengaja. Ini adalah sebuah kamuflase agar para kultivator diluar sana tidak kembali memikirkan apa sebenarnya Naga Hitam yang ia ciptakan sebelumnya.
Brrrttt! Brrrttt!
Percikan petir menyambar terus-menerus dari kawah yang membuat dua murid sekte Bambu menelan ludah mereka masing-masing serta dengan keringat yang bercucuran di dahi mereka.
Keduanya sadar bahwa jika mereka terkena serangan itu, tidak akan ada kesempatan untuk bertahan hidup. Kali ini keduanya mengerti kengerian Lin Yan yang sesungguhnya.
“Kalian cukup hebat bisa menghindar. Tetapi serangan berikutnya pasti akan mengenai sasaran!” Suara Lin Yan terdengar. Ia pun perlahan berjalan keluar dari kawah yang cukup dalam sambil memegang Tombak Raja Langit di pundaknya serta memasang senyum tipis diwajahnya.
“Kita tidak mungkin menang melawan anak ini!” Hanya itu pemikiran kedua murid sekte Bambu karena sadar bahwa serangan Lin Yan sebelumnya memiliki kerusakan yang sama dengan serangan gabungan mereka.
Keduanya tidak lagi memikirkan tentang Naga Hitam sebelumnya karena merasa itu hanya sebuah teknik untuk tempat berpijak juga.
“Serahkan poin kalian berdua atau aku akan merebutnya secara paksa dan kalian pasti tidak akan menyukai cara yang aku gunakan!”
Ketika kata-kata Lin Yan jatuh, petir hitam yang jauh lebih ganas memercik dari tubuhnya.
“Sial! Anak ini masih memiliki qi sebesar itu!” Batin kedua murid sekte Bambu dan tau bahwa kesempatan mereka untuk kabur adalah nol. Dan juga, keduanya tidak ingin berpisah karena bukan sifat mereka untuk meninggalkan rekan mereka ketika dalam situasi seperti ini. Itulah yang membuat Lin Yan tidak ingin membunuh mereka.
Lin Yan adalah pemuda yang sebenarnya akan berpikir dua kali ketika membunuh seseorang. Tetapi, jika musuh mencoba melukai seseorang yang penting baginya atau berniat membunuhnya, ia tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh musuh.
Kedua murid sekte Bambu tersebut terlihat sedari awal tidak ingin membunuhnya karena menganggap ini hanyalah sebuah kompetisi bukan ajang perlombaan bertahan hidup. Itulah yang dihargai Lin Yan walaupun keduanya harus menggunakan kekuatan penuh untuk mengalahkannya sebelumnya.
“Kami menyerah.” murid wanita tersebut membuka suara.
“Tapi..” murid pria ingin berbicara tetapi di potong oleh murid wanita.
Lin Yan tersenyum mendengarnya karena tampaknya wanita itu memiliki pemikiran bijaksana walaupun emosinya selalu meledak-ledak.
Karena sudah memutuskan, kedua murid sekte Bambu itu pun melempar kristal poin mereka ke arah Lin Yan karena mereka ingin menyerah. Tidak mungkin mengejar ketertinggalan dalam waktu tiga jam kedepan dengan kondisi qi yang hampir habis.
“Kau sungguh bijak. Aku melihat bahwa kau baru berusia hampir 16 tahun dan telah mencapai tingkat Alam Roh tahap kedelapan. Bisa dikatakan kau adalah salah satu jenius tertinggi di Daratan Utara. Katakan, siapa namamu.” ucap Lin Yan saat menangkap kedua kristal poin.
“Yue-Yue.”
“Lin Yan.”
Setelah memperkenalkan diri, Lin Yan pun langsung melesat dengan kecepatan penuh ke suatu tempat untuk memindahkan semua poin yang ia terima.
Murid wanita yang bernama Yue-Yue itu terdiam dan menatap kepergian Lin Yan. Ia tersenyum kecil dan menatap ke arah rekannya yang memiliki wajah jelek.
“Ada apa dengan wajahmu itu?” Tanya Yue-Yue.
“Tidak ada apa-apa.” Balas murid pria tersebut dengan sedikit nada tidak senang.
“Ayo pergi keluar dari hutan ini.” Yue-Yue pun menggunakan benda formasi yang membuatnya akan terlindungi ketika berpergian di tempat itu karena ia sudah tereliminasi saat ini.
Murid pria tersebut pun hanya bisa menghela nafas panjang dan melakukan hal yang sama.
Sementara itu, Lin Yan saat ini sedang proses penyerapan poin. Ia sudah memiliki poin 360. Dan ketika selesai menyerap kedua poin milik dua murid sekte Bambu, poinnya kini mencapai 570.
Lin Yan tersenyum melihat jumlah poinnya lalu melihat posisi semua murid dalam jumlah poin.
“Oh? Jian Li dan Gui Shan sudah memiliki poin lebih dari 400 karena tampaknya mengalahkan musuh juga. Sementara Gui Zhang memiliki poin 490. Jika dia mengalahkan satu murid dengan poin tinggi, bisa dipastikan bahwa dia mengambil posisi pertama.”
“Karena itu..” Lin Yan pun menyeringai saat melihat daftar nama tertentu dan jaraknya tidak terlalu jauh dari posisinya saat ini.
“Poin 410, sungguh tidak terduga bahwa kau akan mencapai angka itu. Waktunya menjarah seseorang yang layak untuk dijarah.” ucap Lin Yan dan menyimpan kristal poin lalu bergerak ke arah tempat tertentu untuk mengejar seseorang.
**
Kedua Tetua sekte Bambu hanya bisa menghela nafas karena murid favorit para Tetua dan Master sekte Bambu jatuh di babak pertama. Tetapi mereka tidak marah sama sekali karena memang benar apa yang dikatakan oleh Yue-Yue bahwa Lin Yan terlalu tangguh.
Para kultivator lainnya pun hanya bisa memasang wajah gelap karena setiap kali Lin Yan bertemu seseorang, ia akan mengambil poin mereka yang artinya, semua murid saat ini yang menjadi target Lin Yan akan tereleminasi.
Di sisi lain, Gu Yin memasang wajah cemberut dari waktu ke waktu karena suatu hal.
“Ada apa dengan wajahmu itu?” Tanya Gu Yuena heran.
“Tidak ada apa-apa!” Balas Gu Yin dengan wajah cemberut.
“Oh? Tampaknya putri kecil kita sedang cemburu karena Lin Yan bertanya nama wanita cantik dari sekte Bambu.” Gu Mien menggoda Gu Yin karena tentu tau apa yang terjadi.
Gu Yin semakin cemberut saat mendengarnya tetapi hanya diam saja.
Sementara Patriak klan Gu dan Gu Shen hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap kekanak-kanakan Gu Yin.