
Gu Yin merasa malu sambil memegang dahinya. Tetapi ketika melihat sepupunya, ia pun memasang wajah garang yang menyiratkan ‘Aku tau bawah kau mengincar Lin Yan ku!’
Gu Yuena tidak bisa berkata-kata karena hanya dengan gerakan kecil Lin Yan, sepupunya itu langsung jinak, tetapi tidak untuknya.
“Otak anak ini pasti sudah terkontaminasi dengan sesuatu yang disebut sebagai Lin Yan. Otaknya benar-benar sudah rusak, aku bertanya-tanya, jika dia dijodohkan kepada orang lain, apa yang akan terjadi?” Tanya Gu Yuena dalam hati, namun ia sudah memiliki jawabannya, sepupunya itu pasti kabur dari klan Gu.
Setelah melototi Gu Yuena sejenak, Gu Yin pun langsung berbalik dan mengejar Lin Yan sambil terus memegang dahinya dengan senyum di wajahnya.
Gu Yuena ingin muntah melihat sikap sepupunya tersebut dan memang benar-benar hampir tidak tahan lagi. Bisa-bisa ia terkena gangguan jiwa karena sepupunya.
Sesampainya di dalam ruangan tamu, Lin Yan duduk disebuah bantalan yang tampak sangat nyaman.
Sementara Gu Yin langsung duduk di hadapan Lin Yan dan terus memasang wajah senyum dari waktu ke waktu. Lalu Gu Yuena duduk di sebelah Gu Yin sambil mendengus ketika melihat senyum sepupunya.
Tidak lama kemudian, Huan Caiyi pun langsung keluar dari ruangannya dan duduk di sebelah Lin Yan. Ia tentu dapat merasakan kehadiran ketiganya yang berkumpul sehingga ia tau bahwa ada sesuatu yang hendak di diskusikan.
“Ada apa Yan'er?” Tanya Huan Caiyi saat sudah duduk.
Tanpa menjawab, Lin Yan mengeluarkan dua pedang terlebih dahulu dan menaruhnya di hadapan Gu Yuena dan Gu Yin.
“Ini..” Gu Yuena dan Gu Yin tentu terkejut saat melihat dua pedang berwana ungu yang terlihat sedikit mirip.
“Ini adalah dua dari tiga pedang terkuat yang aku miliki. Aku bukanlah pengguna pedang dan tidak suka menggunakan pedang. Dari pada menjualnya, aku ingin kalian menggunakannya. Ini adalah dua pedang kembar yang disebut sebagai Pedang Kembar Chi. Pemilik sebelumnya adalah sepasang saudara yang sama seperti kalian berdua, dan aku akan mengatakan bahwa pedang ini adalah pedang kelas 8. Aku merasa kalian berdua pasti cocok menggunakannya,” ucap Lin Yan dan menjelaskan sedikit tentang pedang.
Juga, sebenarnya bukan tiga pedang terkuat yang ada di dalam cincin ruangnya, tetapi ada empat. Salah satu lagi adalah milik neneknya. Itu adalah pedang yang unik dan terus mengeluarkan aura misterius yang tidak dimengerti oleh Lin Yan. Dan juga, tidak ada penjelasan tentang pedang tersebut.
“Benarkah kau ingin memberikan ini kepada kami?” Tanya Gu Yuena gugup karena ia tidak pernah melihat kelas pedang tingkat 8. Bahkan untuk tingkat 7 juga hampir tidak pernah terlihat di Daratan Utara.
Sebelum Lin Yan menjawab, Gu Yin langsung mengambil salah satu pedang dengan instingnya sambil berbicara, “Lin Yan tidak mungkin berbohong dan pasti memberikan kita pedang ini. Ada apa denganmu? Apa kau meragukan bahwa Lin Yan tidak tulus dan memiliki niat buruk? Berhentilah bersikap buruk dan curiga padanya. Katakan terimakasih!”
Wajah Lin Yan dan Huan Caiyi berubah merah dan ungu saat mendengar apa yang Gu Yin katakan. Keduanya tidak menyangka bahwa wanita aneh itu akan bisa melontarkan kata-kata seperti itu.
Sementara itu, Gu Yuena hanya bisa tercengang dan membatu di tempat. Wajahnya sangat merah saat ini dan benar-benar tidak tahan lagi. Ia pun langsung mencekik sepupunya karena mempermalukannya sedemikian rupa.
Gu Yin terkejut saat sepupunya itu mencekiknya dan tau bahwa ia salah berbicara ketika memproses apa yang ia katakan sebelumnya.
Keduanya pun berhenti dan merasa malu karena bertengkar seperti anak kecil. Tetapi Lin Yan tidak tau bahwa keduanya memang sering seperti itu sedari kecil.
“Dan untukmu..” Lin Yan pun mengeluarkan sebuah pedang yang mirip dengan pedang yang pernah ia berikan kepada Huan Caiyi sebelumnya.
“Ini adalah versi sebenarnya dari pedang yang kau pegang, kakak. Pedang ini bernama Pedang Hitam Kematian. Pedang sebelumnya memiliki kualitas tingkat 7 karena merupakan duplikat terbaik dari Pedang Hitam Kematian dan ini memiliki kualitas tingkat 8 sama seperti pedang yang diterima oleh Gu Yuena dan Gu Yin. Aku tidak terlalu tau asal-usul Pedang Hitam Kematian ini, namun, setiap duplikatnya memiliki asal yang sama dan ada beberapa duplikat lainnya diluar sana. Aku juga tidak tau kenapa pedang ini dibuat banyak duplikat. Suatu hari nanti kau mungkin akan mengerti,” ujar Lin Yan.
Mata Huan Caiyi langsung berbinar melihat pedang yang sama persis dengan yang ia pegang walaupun langsung tau bahwa kualitasnya berbeda karena sudah sering menggunakan pedang duplikat sebelumnya. Jika seseorang tidak menggunakan yang asli atau duplikat Pedang Hitam Kematian, pasti akan sulit membedakannya.
Huan Caiyi pun langsung memeluk Lin Yan karena sangat senang adik kecilnya itu memberinya hadiah lagi.
Sementara Gu Yin mengigit bajunya sedikit ketika melihat adegan itu. Tentu ia juga ingin melakukan hal yang sama. Sementara Gu Yuena hanya melirik ke arah sepupunya itu dengan tatapan tidak puas seperti biasa.
Lin Yan hanya tersenyum melihat kakaknya yang bahagia dan memeluknya. Setelah pelukan itu selesai, ia juga langsung mengeluarkan semua benda yang ia beli sebelumnya dan membagikannya kepada mereka bertiga. Juga, Lin Yan membagikan beberapa batu spiritual untuk membantu mereka menerobos ketika sumber daya tidak mencukupi.
Gu Yuena dan Gu Yin semakin tersentuh karena Lin Yan tidak pelit sama sekali kepada mereka berdua. Karena itu, bahkan Gu Yuena pun yang sering tidak puas dengan sikap Lin Yan juga tau bahwa Lin Yan telah menganggapnya rekan yang bisa dipercaya.
Sedari awal juga Lin Yan sudah tau bahwa kedua wanita yang sok akrab dengannya tidak pernah memiliki niat buruk karena ia sudah sering memperhatikan keduanya. Juga, instingnya tidak akan salah dalam menilai sesuatu. Terutama untuk Gu Yin, Lin Yan selalu melihat aura putih bersih yang merembes dari tubuh Gu Yin dengan samar dan itu adalah sesuatu yang selalu ditujukan oleh Gu Yin untuknya.
Setelah mempelajari tentang warna-warna dan bentuk-bentuk di setiap warna yang sama dengan Mata Raja, ia mulai paham apa secara kasar apa arti dari semua warna dan juga dari ketebalan atau pudar.
Huan Caiyi juga memiliki warna yang sama dengan Gu Yin tetapi walaupun sama, tetap saja berbeda karena satu lebih terang kabur, satu lebih padat.
Sementara Gu Yuena memiliki warna putih bercampur biru, ia juga paham apa artinya. Itu adalah perasaan persahabatan yang lumayan dalam dan juga, ia tau bahwa Gu Yuena juga ingin diperhatikan olehnya walaupun bukan dalam hal romantis seperti Gu Yin karena ini juga pertama kalinya Gu Yuena memiliki teman seorang pria yang benar-benar ia anggap sebagai teman.
Lin Yan sudah tau apa fungsi Mata Raja, itu memiliki dua bentuk dalam hal warna, pertama untuk melihat perasaan dan satu lagi untuk melihat warna qi.
Tentu Mata Raja milik Lin Yan memiliki fungsi lainnya yang masih belum terungkap sampai saat ini.
“Baiklah, berkultivasilah dengan giat. Aku akan pergi untuk berlatih di depan,” ucap Lin Yan lalu berdiri dan pergi keluar dari kediaman itu meninggalkan ketiganya yang masih dalam suasana hati bahagia.
Ketiganya pun langsung menghilang menuju ruangan mereka masing-masing untuk meningkatkan kultivasi mereka, tentu itu untuk mengejar Lin Yan.
Lin Yan yang sudah tiba di halaman kediamannya juga duduk bersila. Ia pun mengeluarkan dua gulungan teknik yang ia beli sebelumnya.