
“Lin Yan, kenapa kau tidak pernah mengikuti kelas yang disediakan oleh sekte? Banyak kelas yang berguna seperti kelas Alkemis, kelas Penempaan dan bahkan ada kelas cara bertarung yang dijari oleh para Tetua secara langsung,” ucap Gu Yuena karena ia merasa sedikit sayang untuk melewatkan kesempatan untuk belajar seperti itu.
Di sekte Naga Langit, ada beberapa kategori murid yang ada. Pertama, untuk para bangsawan, mereka sangat jarang untuk mengambil kelas seperti itu karena sudah mendapatkan bimbingan langsung dari keluarga mereka. Tujuan para bangsawan memasuki sekte tentu saja untuk memperbesar nama keluarga mereka dengan nama jenius murid dan itu juga merupakan keuntungan bagi sekte Naga Langit. Juga, para bangsawan biasanya akan menjadi penerus Tetua-Tetua penting di sebuah sekte. Itu juga memperdalam kerja sama sekte dengan keluarga atau kekuatan tertentu.
Kategori kedua adalah murid yang berasal dari kalangan biasa, tentu mereka semua akan mengambil banyak kelas untuk mempelajari semua hal dan ketika waktunya tiba, para murid itu akan fokus ke satu jalur. Akhirnya beberapa Tetua akan mengambil mereka sebagai murid untuk mengikatnya dengan sekte.
Yang ketiga adalah kategori murid seperti Lin Yan yang menganggap sekte hanya sebagai tempat sarana pelatihan, jalur inilah yang paling tidak disukai oleh sebuah sekte karena terlihat bahwa murid tersebut tidak ingin terikat dengan sekte. Dan kebanyakan murid seperti ini akan tewas sebelum tumbuh sepenuhnya.
Contohnya Lin Yan, tanpa Lin Yan bertanya pun, ia tau bahwa sekte Naga Langit tau kelompok Kalajengking Merah mengincarnya. Walaupun ia jenius, sekte Naga Langit tetap membiarkan hal itu karena Lin Yan bukan termasuk dari kategori yang bisa dikendalikan suatu hari nanti.
Untung bagi Lin Yan memiliki pendukung yang ditakuti oleh Master sekte Naga Langit sekalipun. Jika tidak, kehidupannya di sekte Naga Langit juga pasti akan sangat sulit karena para Tetua pasti membuat gerakan untuk menyingkirkan murid seperti itu.
Inilah wajah sebenarnya sebuah sekte besar. Mereka tidak akan mengijinkan jenius tumbuh jika tidak bisa dikendalikan. Untuk apa membesarkan seekor monster jika suatu hari nanti monster itu akan menusuk mereka dari belakang ketika sudah dewasa?
Semua itu sudah diketahui oleh klan besar lainnya tentu saja. Bahkan untuk murid lemah namun setia pun disingkirkan karena tidak memiliki kegunaan. Contohnya sendiri adalah saat Lin Yan berada di pelantara luar sekte Naga Langit, di saat itu, tiba-tiba sekte mengeluarkan misi kelas B yang akhirnya memusnahkan banyak murid.
“Mengambil kelas? Untuk anak sepertiku, itu hanya akan menghambat pertumbuhanku. Aku memang tidak terlalu mengetahui tentang hal seperti itu, namun aku sudah mendalami hal lainnya sedari aku kecil. Aku tidak ingin menjadi serba bisa, aku hanya ingin menguasai beberapa keterampilan yang menurutku akan menjadi penentu tujuanku di masa depan. Bukankah kau juga begitu, Gu Yuena?” Tanya Lin Yan balik.
Gu Yuena terdiam mendengar apa yang Lin Yan katakan. Tentu saja alasan Patriak klan Gu mengirimnya dan sepupunya adalah mencari pengalaman serta memperkuat hubungan dengan sekte Naga Langit.
Dan tujuan Ling Ming dan Lin Xi mengirim Lin Yan ke sekte Naga Langit adalah untuk mengetahui bagaimana wajah dunia itu sendiri melalui satu sekte. Mereka tentu saja paham bagaimana kinerja sekte Naga Langit yang membuat Lin Ming memutuskan bahwa itu adalah tempat untuk Lin Yan belajar paling cocok untuk menempa dirinya dalam hal mengenal jenis-jenis kultivator, sekte, keluarga dan bahkan Kerajaan karena sekte Naga Langit terkait dengan semua itu.
Karena Gu Yuena tidak lagi membalas kata-katanya, Lin Yan juga tidak berbicara lagi dan keduanya pun terus berjalan menuju kediaman mereka.
Sesampainya di dekat kediaman, Lin Yan dan Gu Yuena menemukan seorang Tetua yang tampak kesulitan untuk mencoba memasuki formasi yang Lin Yan ciptakan.
Menatap perilaku Tetua itu, Gu Yuena tidak bisa berkata-kata. “Apa yang dilakukan oleh seorang Tetua di kediaman kita?” Tanyanya.
Lin Yan tidak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan Gu Yuena. Kediaman kita? Sejak kapan itu menjadi milik kita bersama? Ingat, kau hanya menumpang.
Lin Yan ingin membalas seperti itu tetapi tetap menahannya sambil terus menatap Tetua itu yang menggunakan formula khusus untuk memasuki formasi. Ia tentu paham apa tujuan Tetua itu tetapi tetap diam dan menunggu karena merasa terhibur sedikit.
“Hei, katakan sesuatu, apakah kau membuat masalah sehingga salah satu Tetua datang ke kediamanmu?” Tanya Gu Yuena namun tatapannya tidak beralih dari Tetua tersebut karena merasa lucu juga melihatnya.
“Oh...” Gu Yuena mengerti dan menatap ke arah Tetua terus-menerus yang tampak berteriak-teriak marah serta terus melempar berbagai formula untuk menembus formasi.
Tidak lama kemudian, karena Tetua tersebut sangat berisik, Gu Yin pun keluar dari kediaman Lin Yan sambil memasang wajah gelap.
“Hei, apa yang anda lakukan di kediaman murid? Teriakan anda mengganggu para murid berkultivasi!” Gu Yin berkata dengan nada tidak puas walaupun tidak terlalu menunjukkannya.
Wajah Tetua itu kaku mendengarnya. Tetapi ia tetap menjawab, “Pembayaran sewa kediaman sudah jatuh tempo. Lebih baik kalian membayarnya atau kami akan mengambil tindakan.”
Gu Yin cemberut mendengarnya lalu bertanya berapa biaya sewa. Setelah Tetua itu mengatakan jumlahnya, Gu Yin yang tidak senang langsung memberikan jumlah yang pernah diberikan oleh Lin Yan kepada Tetua lalu langsung masuk ke dalam tanpa mengatakan apa-apa lagi yang membuat Tetua itu memasang wajah jelek karena seorang murid sama sekali tidak menghormatinya.
Tetua itu pun langsung menghilang seketika karena tugasnya telah selesai.
Sementara itu, Lin Yan dan Gu Yuena yang berada di kejauhan tentu ingin tertawa melihat peristiwa itu. Sangat jarang bagi Tetua bersikap seperti itu.
“Kali ini formasi yang kau buat di kediaman itu akan ketahuan,” ucap Gu Yuena lalu berjalan ke arah kediaman Lin Yan.
Lin Yan tidak membalas sama sekali karena mungkin hanya seseorang setingkat Tetua Pertama, Kedua, Ketiga, Tetua Agung dan Master sekte Naga Langit yang mampu masuk secara paksa meskipun membutuhkan usaha besar.
Tidak lama kemudian, keduanya pun masuk ke dalam kediaman itu dan di depan pintu sudah ada singa betina yang menatap Lin Yan dan Gu Yuena dengan tatapan maut seperti hendak ingin menelan keduanya.
“Oh? Sangat jarang kalian berpergian bersama..” ucap Gu Yin dengan senyum aneh.
Lin Yan dan Gu Yuena tentu tau mengapa Gu Yin seperti itu.
Gu Yuena memasang wajah pucat karena tau bahwa sepupunya itu pasti akan mengamuk. Sementara Lin Yan tidak peduli sama sekali.
Lin Yan perlahan berjalan lalu menjentikkan jarinya ke dahi Gu Yin yang tampak ingin melahapnya. “Hentikan pemikiran anehmu itu, ayo masuk.. aku akan memberikan kalian sesuatu.”
Gu Yin yang tampak seperti singa betina sebenarnya pun langsung berubah menjadi kucing jinak yang membuat Gu Yuena tidak bisa berkata-kata.