
Klan Gu
“Aku saat ini telah menembus tingkat Alam Langit tahap kedua.” Lin Yan pun mengatakan level kekuatannya saat ini. Sebenarnya, ia juga tidak akan menyangka bahwa ia akan menembus empat tahap dalam sekali jalan. Ini adalah peningkatan kultivasi yang sangat besar.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Lin Yan, Gu Yuena pun memasang wajah muram. Ia dikatakan sebagai seorang jenius dari klan Gu. Tetapi, jika dibandingkan dengan Lin Yan, ia masih kalah jauh.
“Lalu apa tingkat kultivasimu?” Tanya Gu Yuena dengan wajah gugup ke arah Gu Yin.
Mendengar pertanyaan sepupunya, Gu Yin tersenyum lebar menunjukkan giginya yang putih lalu menjawab, “Aku telah mencapai tingkat Alam Langit tahap pertama.”
Jawaban Gu Yin membuat wajah Gu Yuena sedikit pucat. Ia awalnya selalu berada di atas sepupunya. Tetapi kini ia telah tertinggal sangat jauh. Ia selalu bertanya-tanya, sebenarnya di mana letak kesalahannya sehingga ia jauh tertinggal. Dari segi bakat awal, ia jauh lebih unggul dari sepupunya itu. Tetapi kini ia ditinggalkan di belakang seperti debu.
Patriak klan Gu menatap putrinya yang tampak frustasi. Ia pun tersenyum sedikit karena itu akan merangsang putrinya untuk bekerja lebih keras.
Bahkan Gu Lan dan Gu Yang juga berpikiran sama. Keduanya tentu paham tentang tempramen Gu Yuena yang tidak akan mau tinggal di belakang sepupunya.
Sementara Huan Caiyi, ia pun mengepalkan tangannya. sebagai seorang kakak, ia merasa bahwa ialah yang selalu harus melindungi Lin Yan. Tetapi kini ia merasa tidak berguna sekali lagi. Bahkan di waktu terakhir kali adik kecilnya dalam kesulitan, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia sudah berkultivasi dengan sangat keras ketika berada di klan Gu, tetapi tetap saja ia tertinggal sangat jauh dari adiknya Lin Yan.
Lin Yan menatap Huan Caiyi dengan tatapan rumit karena tentu ia mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh kakaknya itu.
“Kakak..” Lin Yan ingin mencoba menghibur Huan Caiyi tetapi kakaknya itu menatapnya dengan senyum yang membuatnya terdiam.
“Ada yang ingin aku katakan padamu nanti. Apakah kau memiliki waktu?” Tanya Huan Caiyi.
Patriak klan Gu yang menatap itu pun berbicara, “Luangkan waktu kalian. Kau berisitirahat lah selama sehari ini karena besok kau akan pergi bersama dengan Gu Feng dan Gu Yang.”
“Na'er.. ayo pergi. Ada yang ingin ayah bahas bersamamu.” Patriak pun langsung pergi dari tempat itu bersama dengan semua anggota klan Gu lainnya.
Gu Yuena pun pergi juga dengan wajah sedikit frustasi meninggalkan Lin Yan, Gu Yin dan Huan Caiyi.
“Apa..-” Ketika Lin Yan ingin berbicara, Huan Caiyi langsung memotongnya.
“Aku akan pergi ke suatu tempat.”
Lin Yan terkejut dan tidak tau mengapa kakaknya itu tampak sedikit berbeda kali ini. “Kemana kau ingin pergi?” Tanyanya serius.
Gu Yin yang mendengarnya pun tetap diam karena ia tau bahwa Huan Caiyi sangat frustasi saat ini. Ia paham apa tujuan Huan Caiyi hidup, yaitu bisa selalu berada di sisi Lin Yan untuk melindunginya. Tetapi kini dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya karena sudah pasti Lin Yan akan terus tumbuh dengan kecepatan yang sangat tinggi.
“Aku akan kembali ke Reruntuhan Klan Huan.” Huan Caiyi pun mengatakan tujuannya.
“Jika aku tidak pergi ke sana, aku pasti tidak akan pernah bersamamu lagi.” Huan Caiyi pun berkata sambil mengepalkan tangannya dengan kuat sampai-sampai berdarah. Ini adalah kekhwatiran terbesarnya, yaitu tidak bisa bersama adiknya karena ia terlalu lemah.
Kata-kata Huan Caiyi membuat Lin Yan terdiam. Ia menatap ke arah tangan kakaknya itu dan merasa sangat rumit. Ia pun menghampirinya dan langsung memeluknya. “Jangan terlalu memaksakan dirimu. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Apapun yang terjadi, kau akan tetap selalu menjadi kakakku.”
Huan Caiyi pun menggigit bibirnya dan memeluk Lin Yan dengan erat. Air matanya langsung menetes karena ia sangat bahagia adiknya berkata seperti itu. Ia semakin membulatkan tekadnya untuk mendatangi tempat yang pernah dikatakan oleh ayahnya dahulu.
Emosi Huan Caiyi dapat dirasakan oleh Lin Yan karena mereka memang tampak seperti adik dan kakak kandung. Ia paham bahwa ia tidak akan bisa menghentikan kakaknya yang akan pergi dan ia tau bahwa tempat tersebut pasti sangat berbahaya dari perilaku yang ditunjukkan Huan Caiyi.
Setelah melepaskan pelukannya, Huan Caiyi pun menyentuh kedua pipi Lin Yan, ia membelainya dengan lembut dan mencium keningnya.
“Yin'er.. jaga Yan'er baik-baik,” ucap Huan Caiyi.
Mendengar itu, Gu Yin tersentak karena tau bahwa Huan Caiyi mungkin akan pergi ke tempat yang sangat jauh.
“Aku pergi..”
Bussssh!
Huan Caiyi pun bergerak seperti sebuah bayangan dan menghilang dari hadapan Lin Yan dan Gu Yin.
Menatap itu, Lin Yan merasa sangat rumit. “Berhati-hatilah. Apapun yang kau lakukan, di manapun kau berada, seperti apapun kau nanti ketika kita bertemu, kau akan tetap menjadi saudariku.”
Huan Caiyi yang bergerak dengan kecepatan penuhnya mendengar apa yang dikatakan Lin Yan. Air matanya mengalir deras saat ini. Ia tidak berhenti sama sekali atau menoleh karena ia pasti tidak akan sanggup berpisah dari Lin Yan.
“Jika aku selamat, aku pasti akan mencarimu.” Batin Huan Caiyi. Tatapannya kini hanya menampilkan kekosongan dan tekad yang kuat. Wajahnya menjadi datar karena ia tau bahwa kesempatannya untuk hidup ketika pergi ke tempat yang dikatakan oleh ayahnya adalah 1%.
Lin Yan berdiam diri di tempat dalam waktu yang lama karena ia tau dengan jelas melalui matanya dan sikap Huan Caiyi bahwa kemungkinan mereka bertemu kembali hanya memiliki peluang 1% juga. Tetapi ia tau bahwa dirinya tidak akan bisa meyakinkan Huan Caiyi tetap tinggal. Ia tau dengan jelas bagaimana sifat kakaknya itu.
Sementara itu, Gu Yin pun diam dalam waktu yang lama. Dari kata-kata Huan Caiyi kepadanya, dari sikap Lin Yan saat ini, ia paham dengan jelas bahwa apapun yang dilakukan oleh Huan Caiyi pasti sangat berbahaya.
“Ayo Yin'er..” Setelah terdiam dalam waktu yang lama, Lin Yan dengan wajah kompleks pun berbicara dan perlahan berjalan ke arah tertentu dan itu adalah kediaman yang disediakan klan Gu untuknya.
Melihat Lin Yan yang seperti itu, Gu Yin hanya dengan patuh mengikuti. Ia paham bahwa suasana hati Lin Yan saat ini sedang tidak baik.
Dengan wajah sedih, Gu Yin menatap ke arah tertentu dan itu tempat Huan Caiyi pergi, “Berhati-hatilah dimana pun kau berada kakak, kami akan menunggu waktu untuk kita bertemu kembali.”