
Klan Gu
Semua yang ada disekitar Kuil Dewi Salju menatap Lin Yan dan Gu Yin yang menghilang begitu saja tiba-tiba.
“Kenapa upacara ini tidak bisa kita lihat secara langsung?” Tanya Huan Caiyi penasaran.
Gu Yuena tidak menjawab sama sekali karena ia pun tidak tau kenapa seperti itu. Ia hanya menatap ke arah ayahnya yang selalu menatap ke arah kuil dengan wajah serius.
“Di dalam sana, pasangan baru akan diberikan anugerah oleh Dewi Salju. Hanya itu yang bisa aku katakan padamu.” Gu Mien pun membuka suara dan tidak mengalihkan pandangannya dari Kuil Dewi Salju. Ia tentu berharap bahwa putrinya akan mendapatkan sesuatu yang berguna di dalam sana.
Para Tetua hanya diam karena mereka semua juga telah mengikuti upacara tersebut dan tidak ada yang istimewa sama sekali. Mereka hanya mengira hal tersebut adalah kebiasaan bagi anggota klan Gu sedari dulu.
Hanya Patriak klan Gu yang mengetahui sedikit rahasia tersebut. Setiap generasi Patriak harus menyimpan rahasia tersebut kepada generasi berikutnya. Bahkan untuk Tetua Agung klan Gu dan Gu Shen tidak mengetahui sejarah tersebut.
Semuanya pun hanya diam dan menunggu Lin Yan dan Gu Yin keluar dari Kuil Dewi Salju. Setiap dari pasangan yang masuk, mereka akan memiliki waktu berbeda-beda ketika keluar.
Juga, satu hal yang tidak pernah disadari oleh anggota klan Gu sedari dulu. Kenapa Kuil Dewi Salju hanya akan bekerja jika hanya pasangan yang masuk?
**
Kuil Dewi Salju
Di dalam ruangan yang sangat megah, Lin Yan dan Gu Yin tiba-tiba muncul dari udara tipis. Keduanya menatap tempat mereka tiba dengan tatapan terkejut.
“Bagaimana bisa Kuil yang tampak sangat kecil menjadi besar seperti ini?” Tanya Gu Yin tidak percaya.
Tempat tersebut tampak sangatlah indah, ruangan yang mereka masuki terlihat seperti Istana Kerajaan, namun, tempat yang dimasuki oleh Lin Yan dan Gu Yin bahkan lebih megah. Sebab, semua hal yang ada di sana tampak seperti kaca transparan. Tidak hanya itu, butiran salju pun turun terus-menerus.
Karena penasaran, Lin Yan pun mengaktifkan Mata Raja lalu menatap semua yang ada di sana. Ia pun sungguh terkejut karena menemukan sesuatu yang tampak luar biasa.
“Butiran salju itu adalah sebuah qi. Tetapi, mengapa itu tidak dapat dilacak seperti biasa?” Batin Lin Yan dan semakin penasaran apa sebenarnya Kuil Dewi Salju.
Tiba-tiba, cahaya menyilaukan terpancar dari dalam ruangan yang sangat besar tersebut. Cahaya tersebut hanya bersinar dalam waktu kurang dua detik lalu lenyap sepenuhnya.
Di hadapan Lin Yan dan Gu Yin kini terlihat jalan yang muncul. Jalan tersebut terbuat dari salju yang tampak dipadatkan berwarna putih kebiruan. Ujung dari jalan yang tiba-tiba muncul seperti sebuah jembatan pajang pun tidak terlihat sama sekali karena hanya ada kabut putih.
“Apakah kita harus ke sana?” Tanya Gu Yin penasaran.
Lin Yan hanya mengangguk dan perlahan berjalan sambil menggenggam tangan Gu Yin.
“Hm?” Kerutan muncul sedikit di dahi Lin Yan karena ia mendengar suara teriakan Xia Yue'er agar membiarkannya keluar. Tetapi tetap saja Xia Yue'er tidak bisa keluar walaupun sudah diberi izin oleh Lin Yan.
Dari hal itupun, Lin Yan semakin terkejut karena tempat yang ia masuki dengan Gu Yin mampu menahan Gerbang Roh diciptakan.
Keduanya terus berjalan dan akhirnya mencapai ujung jalan. Keduanya pun masuk ke dalam kabut tersebut tanpa ragu sedikitpun karena Lin Yan dan Gu Yin merasa mereka memang harus masuk.
Di tengah-tengah ruangan yang tidak terlalu luas, terlihat altar persegi empat. Di setiap sudutnya, ada tiang es yang tidak terlalu tinggi tetapi terus mengeluarkan api biru yang memancarkan aura dingin diujungnya.
Altar tersebut pun diisi oleh tulisan aneh memanjang membentuk segi empat juga tetapi setiap sudutnya, mengarah ke tengah pinggiran altar.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya Gu Yin menoleh ke arah Lin Yan.
“Ayo kita lihat apa sebenarnya altar itu karena hanya ada itu di tempat ini.” Tanpa membuang waktu, Lin Yan pun menarik Gu Yin menuju ke arah altar. Keduanya pun naik ke atas altar untuk mencari tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ketika keduanya telah naik, cahaya kebiruan tiba-tiba muncul menyelimuti altar.
“Selamat datang pasangan Dao yang telah ditakdirkan.”
Suara seseorang terdengar yang membuat Lin Yan dan Gu Yin terkejut.
Lin Yan langsung memeriksa sekelilingnya tetapi tidak menemukan apapun. Ia sedikit waspada saat ini karena Patriak klan Gu tidak mengatakan petunjuk apapun pada mereka.
Di depan Lin Yan dan Gu Yin, butiran salju muncul lalu memadat membentuk satu sosok wanita cantik berambut putih berpakaian biru muda. Tubuhnya tampak transparan karena dia bukanlah makhluk hidup.
“Siapa kau?” Tanya Lin Yan waspada.
Wanita tersebut tersenyum menatap ke arah Lin Yan seolah-olah ia telah menunggu kedatangannya.
“Kau tidak perlu tau siapa aku. Tetapi aku tau dengan pasti kau itu siapa. Ketika kau tiba di kuil ini bersama dengannya, maka tugasku telah selesai.” ucap wanita tersebut menatap ke arah Gu Yin dengan senyum hangat.
Kerutan muncul di dahi Lin Yan. Mengetahui siapa dirinya? Ia bertanya-tanya kenapa wanita tersebut tampak sangat mengenalnya begitu juga dengan Gu Yin.
“Gu Yin.. saat ini kau telah memenuhi syarat yang ditentukan karena Akar Spiritual milikmu telah berevolusi menggunakan qi Lin Yan. Sebelum itu, aku akan menjelaskan sedikit tentang Kuil Dewi Salju, setiap anggota klan Gu yang masuk ke tempat ini tidak akan bertemu denganku, tetapi mereka akan mendapatkan berkah di Kuil ini, yaitu peningkatan kekuatan, bakat dan sebagainya.”
“Tetapi, ini hanya untuk menghargai mereka karena klan Gu adalah keturunan pencipta Kuil ini. Kuil akan terus bekerja seperti biasanya jika ada pasangan yang masuk kembali ke dalam. Tetapi, untuk kalian berdua adalah kasus khusus, karena sejak awal, Kuil ini memang diciptakan untuk kalian berdua.” Wanita tersebut menjelaskan.
“Untuk kami berdua? Tidak mungkin..” Batin Lin Yan saat matanya melotot sedikit karena langsung paham bahwa seseorang yang membuat Kuil telah melihat sesuatu di masa depan, dan itu adalah masa kini yang sedang ia jalani.
“Tampaknya kau mengerti. Aku memang tidak melebih-lebihkanmu. Apa yang kau pikirkan memang kenyataan. Namun, apa yang kami lihat hanya sampai di sini. Dan sisanya tergantung padamu karena itu adalah jalan hidupmu.” Lanjut wanita tersebut.
Ketika mendengar penjelasan singkat tersebut, Lin Yan memiliki dua kata kunci di kepalanya.
Pertama, semua yang ada tampaknya sudah diatur oleh seseorang untuknya meskipun hanya meraba-raba karena apa yang mereka ramalkan tidak semuanya menjadi kenyataan.
Dan satu lagi, wanita tersebut menyebut kata ‘kami’ yang artinya bukan hanya wanita tersebut yang membuat rencana pembuatan Kuil.
Dengan wajah sedikit ragu, Lin Yan menatap ke arah wanita tersebut dan bertanya, “Siapa kalian?”