Dragon Monarch

Dragon Monarch
Chapter 132 - Babak Penyisihan



Dalam dua hari, Lin Yan, Huan Caiyi, Gu Yuena dan Gu Yin bersantai untuk menunggu waktu hari penyisihan kompetisi diadakan.


Dua hari kemudian, terlihat Arena sangat penuh di isi oleh banyak murid yang masuk ke bangku penonton untuk melihat penyisihan yang akan diadakan. Karena besarnya Arena, delapan grup akan bertanding bersamaan.


Dari informasi yang telah beredar, kompetisi kali ini hanya mengkhususkan dalam pertarungan individu yang membuat penyisihan juga diadakan seperti itu. Tidak seperti lima tahun yang lewat, kompetisi dilakukan secara berkelompok dan grup. Setiap periode kompetisi, cara pertandingan selalu berbeda.


Serta, kali ini kompetisi sedikit istimewa karena bahkan sesama murid dari sekte yang sama akan bertemu di pertarungan walaupun kecil kemungkinan karena pengaturan yang telah dibuat oleh seluruh sekte.


Saat ini, terlihat semua peserta yang sedang berkumpul di pinggiran Arena. Semuanya kini berada di grup masing-masing tidak terkecuali untuk Lin Yan, Huan Caiyi, Gu Yuena dan Gu Yin.


Setelah mengucapkan beberapa patah kata kepada Huan Caiyi dan Gu Yuena, Lin Yan dan Gu Yin pun pergi ke grup 8 tempat mereka mengikuti penyisihan.


Tentu saja hal itu membuat Gu Yin tersenyum sepanjang waktu karena bisa berduaan dengan pujaan hatinya walaupun berada di depan umum.


Setelah masuk ke dalam grup, Lin Yan memerhatikan semua murid yang ikut penyisihan.


“Tidak ada tingkat Alam Roh tahap kesembilan, hanya ada beberapa murid tingkat Alam Roh tahap kedelapan. Namun, mereka semua kuat.” Batin Lin Yan. Ia tentu akan bersemangat melawan murid lainnya yang kuat. Ia tentu tidak gentar walaupun musuhnya memiliki kultivasi dua tahap diatasnya.


Semua murid lainnya juga melihat semua murid lainnya karena semua yang ada di dalam satu grup tentu saja adalah saingan. Hanya ada delapan grup dan peserta terakhir yang tersisa akan ikut dalam kompetisi antar sekte sebagai peserta utama.


“Perhatian!”


Suara seseorang terdengar di tengah Arena yang kini di bagi menjadi 16 tempat yang berbeda. Karena luasnya Arena, setiap tempat pertarungan yang dibuat juga lumayan luas. Delapan untuk murid tingkat Alam Roh dan delapan lagi untuk murid tingkat Alam Bumi.


Sebelumnya pun, Lin Yan sudah melihat ke tempat yang jauh bahwa para murid tingkat Alam Bumi tidak sebanyak tingkat Alam Roh. Ia juga melihat bahwa Li Han dan Long Hua berada di tempat penyisihan.


Semua perhatian murid kini tertuju pada Tetua yang berada di tengah Arena, karena Tetua tersebut menggunakan qi untuk berbicara, itu membuat suaranya menjadi kuat.


“Tetua kedua!” Batin semua murid di tempat itu saat melihat sosok pria paruh baya yang tampak sangat bijaksana dengan wajah sedikit dingin, ia menggunakan pakaian khusus Tetua sekte Naga Langit namun dengan warna yang berbeda karena statusnya sebagai salah satu dari Tiga Tetua utama.


“Pertama-tama, aku akan memberikan tujuan dari diadakannya kompetisi ini.” Tetua Kedua berbicara panjang kali lebar yang membuat banyak murid bersemangat sementara Lin Yan tidak peduli sama sekali karena itu terdengar seperti cuci otak ditelinganya agar para murid setia kepada sekte Naga Langit.


Setelah berbicara sedikit, Tetua Kedua pun melanjutkan, “Sekte Naga Langit senagaja membuat babak penyisihan seperti ini agar murid-murid yang tidak terkenal dan memiliki bakat mampu untuk ikut menjadi peserta kompetisi. Ini adalah peraturan yang dibuat oleh sekte agar semua murid memiliki kesempatan untuk menjadi peserta mewakili sekte Naga Langit.”


“Aku tidak akan banyak berbicara, hanya satu hal yang akan aku sampaikan. Semoga berhasil!”


Para murid yang mendengar itupun memiliki semangat juang yang semakin tinggi. Mereka merasa bahwa itu adalah motivasi untuk mereka maju lebih jauh lagi.


Tidak lama kemudian, di setiap tempat pertandingan grup, seorang Tetua muncul untuk menjadi seorang wasit.


“Aku tidak akan membuang waktu, pertandingan pertama akan dimulai, nomor 1 melawan nomor 2!” Teriak Tetua yang berada di arena grup 8. Ia pun mengeluarkan sebuah papan yang memiliki tiang kaki untuk mencatat peserta yang menang dan maju ke babak selanjutnya.


“Tampaknya aku yang pertama.” Seorang murid wanita perlahan naik ke panggung dengan senyum penuh percaya diri.


Lalu seorang murid pria pun naik juga ke atas panggung. Keduanya memiliki tingkat kultivasi yang sama yaitu tingkat Alam Roh tahap ketujuh.


Lin Yan menatap kedua peserta dengan penuh minat karena tau bahwa di babak selanjutnya, ia akan melawan salah satu dari mereka jika ia berhasil lolos juga.


Kedua murid pun langsung bergerak ke arah lawan masing-masing. Keduanya langsung melancarkan serangan menggunakan pedang.


Tring! Tring! Tring!


Pertarungan sengit terjadi antara kedua murid. Para penonton di bangku arena juga memilih pertandingan mana yang ingin mereka tonton karena ada 16 arena saat ini. Namun, kebanyakan para murid tentu menonton pertarungan murid tingkat Alam Bumi yang juga memiliki arena bertarung yang hampir tiga kali lipat dari pada tempat pertarungan murid tingkat Alam Roh.


Srak!


“Arrrggghhg!” Teriakan seorang wanita terdengar saat punggungnya di tebas oleh pedang. Luka itu lumayan dalam tetapi tidak akan membuat kultivator tingkat Alam Roh akan kehilangan nyawa.


“Pemenangnya peserta nomor 2!” Teriak Tetua setelah memutuskan untuk menghentikan pertarungan karena sangat terlihat murid wanita tersebut tidak akan mampu melawan lagi setelah bertarung selama hampir tiga menit.


Beberapa murid kemudian membawa murid wanita tersebut untuk diobati.


Tetua yang menjadi wasit tidak membuang waktu sama sekali dan langsung melanjutkan pertarungan berikutnya.


“Pertandingan selanjutnya adalah murid nomor 3 dan 4!” Teriak Tetua tersebut.


Zhep!


Seorang murid dengan tingkat Alam Roh tahap ketujuh melompat ke udara dengan cara yang elegan lalu mendarat dengan mulus di tengah Arena.


Sementara itu, Lin Yan dengan santainya berjalan ke arah Arena.


Semua peserta di grup 8 menatap Lin Yan dengan tidak puas karena terlihat terlalu santai. Mereka semua menghina Lin Yan dalam hati, sebab, mereka melihat kultivasi Lin Yan dan hanya bisa mengutuknya karena mencoba membuat pertandingan selanjutnya mekakdi lebih lama.


Lin Yan tidak menyembunyikan kultivasinya sama sekali. Ia tidak perlu melakukan hal itu agar musuhnya tidak waspada padanya.


Tetua yang menjadi wasit juga mengerut sedikit tetapi tidak berbicara sama sekali karena tidak ada peraturan menyuruh murid agar cepat masuk ke dalam arena.


Ketika mencapai di depan murid tersebut yang menjadi lawannya, Lin Yan hanya menatapnya dengan datar tanpa rasa bersalah sama sekali karena berlama-lama hanya untuk masuk ke dalam Arena.


“Hei pendek, apa kau sengaja melakukan itu karena sudah tau tidak mungkin menang?” Tanya murid tersebut dengan nada dingin lalu melanjutkan, “Lebih baik kau menyerah sebelum aku mematahkan salah satu tangan tau kakimu!” Ancam murid tersebut.


Gu Yin yang sedang melihat Lin Yan di tengah Arena langsung memasang niat membunuh saat mendengar ancaman itu yang membuat semua murid di sekitarnya merasa heran.


Lin Yan sama sekali tidak membalas. Ia hanya melihat ke arah Tetua untuk menyatakan pertandingan dimulai.


Murid yang menjadi lawan Lin Yan memasang wajah sangat marah ketika melihat respon Lin Yan. Ia telah memutuskan untuk memberi pelajaran serius.


Sementara itu, Tetua yang menjadi wasit tentu mengerti dan tidak membuang waktu.


“Pertandingan dimulai!”