Dragon Monarch

Dragon Monarch
Chapter 159 - Undian



Tetua sekte Seribu Pedang menuntun Lin Yan dan Jian Li menuju tempat para murid yang lolos ke babak selanjutnya.


Ketika mencapai tempat itu, Lin Yan menatap semua murid yang ada di sana dan hanya bisa menghela nafas karena memang benar bahwa Huan Caiyi tidak berada di tempat itu. Ia hanya bisa berdoa agar kakaknya itu baik-baik saja.


Lin Yan menatap semua murid yang ada di sana dan semuanya memiliki tingkat kultivasi Alam Roh tahap kesembilan. Hanya dirinya yang memiliki tingkat kultivasi Alam Roh tahap ketujuh.


Lima murid lainnya pun bingung melihat Lin Yan karena masuk ke babak berikutnya karena tidak ada dari mereka yang mengenali Lin Yan. Hanya satu murid dari sekte Naga Langit lainya yang mengenal Lin Yan. Dia juga terkejut bahwa Lin Yan lah yang maju ke babak berikutnya.


Sedangkan untuk para murid tingkat Alam Bumi memiliki pertemuan di tempat yang berbeda.


Kemudian satu sosok Tetua yang sangat terkenal dari sekte Seribu Pedang pun muncul. Dia adalah Tetua Jian An.


“Pertama-tama, aku mengucapkan selamat kepada semua murid yang berhasil untuk masuk ke babak final.”


“Baiklah, kalian berdelapan adalah murid yang akan bertarung di babak final kompetisi. Saat ini, kita akan mengambil undian untuk menentukan lawan kalian masing-masing.” Tetua Jian An berbicara.


Zhep!


Satu Tetua pun mengibaskan lengannya dan sebuah kotak muncul.


“Di dalam kotak ini ada angka satu sampai dengan delapan. Setiap murid akan dipanggil satu persatu untuk mengambil undian. Aku memperingati kalian bahwa tidak boleh menggunakan Energi spiritual ataupun qi kalian karena mungkin kalian akan menerima serangan balik yang menyakitkan.” Tetua Jian An memeringati.


Salah satu Tetua memutar kotak itu dan suara benturan sesuatu terdengar di dalamnya untuk mengacak isi kotak.


“Pertama, murid peringkat pertama dari empat grup, Jian Ling, silahkan maju.” ucap Tetua Jian An.


Semua murid melihat ke arah seorang wanita cantik yang membawa pedang di pinggangnya. Semuanya tidak menyangka bahwa poin tertinggi dari empat grup adalah seorang wanita.


Jian Ling perlahan maju dan mengambil undian. Ia tidak terlalu peduli dengan semua tatapan yang diarahkan kepadanya.


Ketika Jian Ling mengambil sesuatu dari dalam kotak, terlihat sebuah bola yang memiliki nomor di permukaannya.


“Enam..” Gumam Jian Ling.


“Jian Ling, peserta nomor enam di pertandingan ketiga.” Tetua Jian An mengumumkan dan mencatatnya di sebuah buku.


“Berikutnya Shi Zho!”


Seorang pria muda yang berasal dari klan Shi pun maju ke depan.


Lin Yan hanya menatap murid tersebut dengan tatapan sedikit dingin karena ia tentu saja tidak menyukai sekte Shi.


“Satu..” Gumam Shi Zho.


“Shi Zho, peserta nomor satu di pertandingan pertama.” ucap Tetua Jian An dan mencatatnya.


“Berikutnya Gui Lang!”


Semua murid melihat ke arah Gui Lang. Peringkat pertama, kedua dan ketiga di pegang oleh tiga sekte terbesar.


“Tiga..”


Tetua Jian An mencatatnya.


“Berikutnya..”


“Berikutnya..”


“Dua..” ucap Jian Li dan dia bertemu dengan Shi Zho.


“Terakhir Lin Yan, karena hanya satu yang tersisa, maka kau otomatis akan mendapatkan nomor empat.” ucap Tetua Jian An dan mencatatnya.


Gui Lang melihat ke arah Lin Yan dan menaikkan sudut bibirnya. Ia tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan yang terlemah.


Lin Yan juga melirik ke arah Gui Lang dan menaikkan sudut bibirnya.


“Baiklah, semua peserta telah mengetahui lawan masing-masing. Kompetisi babak final akan dilakukan dua hari lagi. Kalian bisa bubar dan mempersiapkan diri untuk kompetisi.” ucap Tetua Jian An dan melirik ke arah Lin Yan sekilas karena ia masih kesal dengan bocah pengacau tersebut. Ia merasa bahwa Lin Yan pasti akan jatuh di pertandingan pertama karena lawannya adalah Gui Lang, salah satu jenius sekte Gerbang Surgawi.


Karena mereka dibubarkan, Lin Yan pun pergi dari lokasi itu untuk mencari Huan Caiyi. Ia ingin tau bagaimana keadaan kakaknya itu.


Lin Yan pun pergi ke tempat kediaman yang disediakan oleh sekte Seribu Pedang untuk sekte Naga Langit.


Sesampainya di sana, sudah banyak yang berkumpul, Tetua Kedua dan Tetua Ketiga juga sudah berada di taman kediaman yang disediakan untuk mereka.


“Oh? Kau akhirnya tiba. Tidak akan disangka bahwa kau akan maju ke babak selanjutnya.” ucap Tetua Ketiga yang membuat semua murid terdiam terutama untuk Ye Qian.


“Ini hanya keberuntungan, di mana Huan Caiyi?” Tanya Lin Yan kepada Tetua Ketiga.


Tetua Ketiga menghela nafas sedikit, “Huan Caiyi saat ini sedang terluka, dia berada di ruangannya. Pergilah, dia sudah menunggumu.”


Wajah Lin Yan gelap seketika mendengarnya. Ia pun langsung pergi ke ruangan tempat mereka sebelumnya untuk melihat keadaan kakaknya.


Semua murid terdiam karena ada alasan khusus semua dari mereka tidak berbicara.


Ketika mencapai ruangan, Lin Yan melihat Huan Caiyi yang dibaluti oleh banyak perban karena luka-lukanya. Wajah Huan Caiyi saat ini terlihat pucat.


“Kakak! Bagaimana ini bisa terjadi?” Lin Yan pun terkejut dan langsung menghampiri Huan Caiyi dan memeriksa kondisinya.


Huan Caiyi yang masih berwajah pucat pun hanya diam. Ia merasa bersalah saat ini karena terlalu memaksakan diri dan tidak mau menyerah lebih awal sehingga lukanya semakin parah dan membuat adiknya itu khawatir.


Karena Huan Caiyi hanya diam, Lin Yan pun langsung memeriksa tubuh kakaknya dengan qi miliknya dan wajahnya dingin seketika. “Jadi ini perbuatan klan Shi? Bagaimana bisa kalian tiba-tiba berada di grup yang sama?”


Lin Yan menggertakkan giginya karena dari sekian banyak kemungkinan, kenapa malah Huan Caiyi satu grup dengan Shi Zho.


“Sekte Seribu Pedang..” Batin Lin Yan dan tau bahwa para Tetua membuat pengaturan tentang hal ini karena mungkin di minta oleh Patriak klan Shi.


Tentu saja Patriak klan Shi tidak akan membiarkan ada anggota klan Huan tersisa setelah mendengar tentang keahlian Huan Caiyi menggunakan qi Bayangan serta teknik pamungkas klan Huan dari catatan sejarah.


“Yan'er.. jangan gegabah..” Huan Caiyi memegang tangan Lin Yan dan memperingatinya.


Mendengar suara kakaknya yang tampak sedih, Lin Yan semakin marah walaupun ia tidak menunjukkannya.


Tetapi Huan Caiyi yang sudah mengenal Lin Yan pasti tau bahwa adik kecilnya itu tidak akan tinggal diam.


Huan Caiyi juga sadar bahwa ada kecurangan dalam babak sebelumnya. Dengan kristal poin yang mampu melacak anggota satu sekte, sudah pasti Patriak klan Shi tidak akan melewatkan kesempatan untuk memusnahkan Huan Caiyi dan membuat kesepakatan dengan sekte Seribu Pedang.


“Beristirahatlah dengan baik.” Lin Yan yang menekan amarahnya hanya mengeluarkan beberapa benda untuk mempercepat proses penyembuhan kakaknya.


Saat sedang mengobati luka-luka Huan Caiyi, Lin Yan terus-menerus berbicara dalam hatinya. “Klan Shi.. kalian akan membayarnya, aku akan memusnahkan Shi Zho jika bertemu dengannya di kompetisi. Dan untuk sekte Seribu Pedang, jika memang benar kalian bekerja sama dengan Patriak klan Shi, kalian akan tau akibatnya karena ikut bagian membuat kakakku seperti ini!”