
Mata Long Bao menyipit karena melihat reaksi Huan Caiyi. Ia langsung tau siapa Huan Caiyi sebenarnya dan merasa bahwa Long Ti dan Long Zu sangat tolol melepaskan anak jenius seperti Huan Caiyi hanya demi sebuah pedang.
“Hentikan sampai di sini!” Suara Tetua Ketiga terdengar sedikit dingin yang membuat Long Bao menarik auranya.
Long Bao melirik ke arah Tetua Ketiga yang bahkan tidak menatapnya. Ia sama sekali tidak marah karena tau bahwa semuanya akan semakin memburuk jika ia berbicara lagi atau mencoba menekan Lin Yan.
“Jaga sikapmu di depan seseorang yang tidak bisa kau provokasi!” Setelah mengatakan itu, Long Bao melayang ke udara dan pergi dari tempat itu.
Long Gu masih belum bergerak dan hanya menatap Lin Yan dengan dingin.
“Kalian lah yang harus menjaga sikap! Bahkan beberapa orang kuat di sekte Naga Langit tidak berani berkata seperti itu!” Balas Huan Caiyi dingin.
Lin Yan hanya terkekeh melihat sikap Huan Caiyi yang ingin menggunakan nama kakek dan nenek mereka karena ia juga pernah melakukan hal yang sama.
“Apa maksudmu?” Tanya Long Hua tidak senang.
“Tanya kepada Master sekte Naga Langit!” Balas Huan Caiyi dingin dan langsung duduk kembali di samping Lin Yan.
Tetua Kedua menegang mendengarnya karena langsung ingat sosok tertentu.
Long Gu yang hendak pergi juga melihat tubuh Tetua Kedua kaku sejenak. Ia mengerti bahwa itu bukan hanya sekedar bualan saja. Ia pun langsung pergi menyusul Long Bao menuju sekte Seribu Pedang.
Long Hua yang bersama dengan Long Ci dan Long Cu hanya memasang wajah gelap saat mendengar kata-kata dari Huan Caiyi.
Para murid lainnya pun terkejut dengan perkataan Huan Caiyi dan melihat reaksi dari Tetua Kedua dan Ketiga. Mereka semua bingung karena kedua Tetua Utama itu hanya diam saja yang berarti apa yang dikatakan oleh Huan Caiyi adalah kenyataan.
Lin Yan hanya diam sedari tadi. Ia tidak terlalu peduli dengan semua tatapan yang diarahkan kepadanya. Namun, satu hal yang pasti, ia saat ini sudah menganggap Kerajaan Bintang sebagai musuh. Dan suatu hari, mereka akan menyesal tidak membunuhnya sekarang ketika ia sudah tumbuh sampai-sampai tidak bisa dibendung oleh mereka lagi.
Sementara Huan Caiyi terus-menerus memasang wajah gelap karena semakin membenci Kerajaan Bintang. Ia sangat tidak suka adiknya jika diancam seperti itu, ia juga langsung menggunakan nama kakek dan nenek mereka untuk mengancam balik. Itu juga merupakan satu hal yang penting agar siapapun yang ingin berurusan kepada mereka berpikir dua kali. Ini juga memberi waktu bagi mereka berdua untuk tumbuh agar bisa melawan banyak musuh dikemudian hari.
Menatap wajah Huan Caiyi yang cemberut setiap saat, Lin Yan pun menarik pipi kakaknya itu, “Jangan cemberut terus, wajahmu terlihat sangat jelek jika seperti itu.”
Wajah Huan Caiyi semakin cemberut tetapi tidak menepis tangan Lin Yan. Di dalam hati ia tentu saja sangat senang bahwa adiknya itu mencoba menghiburnya.
“Kita akan mendarat.” Suara Tetua Ketiga terdengar dan saat itu terjadi, Burung Roc melesat ke arah bawah dengan kecepatan tinggi.
Bom!
Tidak sampai semenit, Burung Roc mendarat di sebuah gerbang besar yang memiliki tulisan sekte Seribu Pedang.
Para murid pun melompat ke bawah dan melihat ke arah gerbang sekte Seribu Pedang dengan seksama.
Tetua Ketiga pun memerintahkan Burung Roc agar pergi ke suatu tempat di sekitar sekte Seribu Pedang karena tidak mungkin membawanya masuk ke dalam.
Di gerbang itu, terlihat sangat banyak orang saat ini yang berdatangan dari arah hutan. Semua dari mereka pergi menggunakan kereta kuda dan ada lambang tertentu disetiap gerbong kereta tersebut.
Di gerbang tersebut, terlihat beberapa Tetua dan banyak murid sekte Seribu Pedang untuk menyambut tamu yang datang.
“Aku tidak menyangka bahwa akan banyak penonton yang datang untuk menyaksikan kompetisi.” Huan Caiyi berkata sambil melihat kerumunan orang.
Beberapa murid melihat ke arah Huan Caiyi karena merasa bahwa wanita itu terlihat berasal dari desa. Tentu kompetisi yang diadakan setiap lima tahun sekali akan di tonton oleh banyak orang dan keluarga atau klan klan yang ada di Kerajaan Bintang.
Enam belas murid pun mengikuti dari belakang.
“Tetua, bisakah aku bertanya?” Salah satu murid wanita tingkat Alam Bumi membuka suara.
“Silahkan.”
“Apakah Master sekte dan Tetua lainnya tidak datang?” Tanya wanita tersebut.
“Master, Tetua Agung dan Tetua Pertama serta banyak Tetua akan datang beberapa hari lagi. Mereka masih memiliki urusan di sekte.” Balas Tetua Kedua.
Murid wanita tersebut mengangguk kecil dan tidak bertanya lagi.
“Selamat datang di sekte Seribu Pedang.” Salah satu Tetua pria paruh baya menyambut kedatangan kelompok sekte Naga Langit dengan senyum diwajahnya.
“Lama tidak bertemu, Tetua An..” Sapa Tetua Kedua kepada Tetua yang bernama Jian An.
“Ya Tetua Kedua, aku juga tidak menyangka bahwa Tetua Ketiga yang legendaris dari sekte Naga Langit akan datang ke sekte Seribu Pedang.” Tetua An pun membungkuk sedikit ke arah Tetua Ketiga karena tentu para Tetua semua sekte besar akan mengenali Tetua Ketiga karena menjadi sosok paling tua yang masih hidup di sekte Naga Langit.
“Aku ingin melihat generasi baru murid sekte Naga Langit untuk menunjukkan bakat mereka.” Balas Tetua Ketiga acuh tak acuh.
Beberapa murid sekte Naga Langit saat ini masih bingung kenapa banyak individu kuat sangat menghormati Tetua Ketiga bahkan mereka melihat Tetua Kedua yang memiliki status lebih tinggi juga tampak sangat menghormati Tetua Ketiga.
Sebelum Tetua An berbicara lagi, rombongan tertentu mendekat ke arah gerbang juga yang membuat Tetua Kedua menyipit sedikit.
Tetua Ketiga di sisi lain terlihat santai seperti biasa.
“Sekte Gerbang Surgawi..” Long Hua membuka suara yang membuat perhatian semua murid pun tertuju pada rombongan yang baru saja tiba.
Bahkan Lin Yan dan Huan Caiyi langsung melihat ke arah rombongan tersebut.
Dua Tetua yang memimpin murid sekte Gerbang Surgawi pun menatap ke arah Tetua Ketiga dengan waspada.
“Lama tidak bertemu, Tetua Kedua!” Tetua Mo menyapa dengan nada sedikit dingin ke arah Tetua Kedua.
“Ya, lama tidak bertemu Tetua Mo.” Balas Tetua Kedua sedikit dingin.
Adegan itu tentu membuat siapa saja berpikir bahwa pernah terjadi perselisihan antara Tetua Kedua dan Tetua Mo di masa lalu.
Sementara Tetua Yao yang menatap itu hanya menghela nafas di dalam hati karena tentu ia mengerti mengapa keduanya seperti itu. Ia pun menggenggam kedua tangannya dan memberi hormat kepada Tetua Ketiga terlebih dahulu lalu menyapa Tetua Jian An.
Salah satu Tetua pun muncul di tempat itu sambil berbicara, “Maaf membuat kalian menunggu, silahkan ikuti aku, tamu dari sekte Naga Langit dan sekte Gerbang Surgawi. Aku akan menuntun kalian ke kediaman kalian yang disediakan oleh sekte Seribu Pedang.”
Kedua rombongan pun langsung mengikuti dari belakang.
Para murid dari sekte Naga Langit dan sekte Gerbang Surgawi saling menatap dan mengukur murid dari sekte lain yang menjadi saingan mereka saat ini.
Lin Yan juga tidak akan melewatkan kesempatan dan melihat semua murid dari sekte Gerbang Surgawi. Ia pun tersenyum kecil karena barisan para murid tingkat Alam Roh memang kuat, mungkin sedikit lebih kuat dari barisan mereka.