
“Hei.. itukah murid baru yang menyelesaikan misi kelas B di pelantara luar sebelumnya? Dia masih sangat muda untuk mampu melakukan semua itu. Aku kira dia setidaknya akan berumur sekitar 18 tahun untuk mencapai prestasi seperti itu.” Salah satu murid berkata dengan nada berbisik.
“Kau benar. Dia bahkan tidak terlihat berusia 14 tahun. Juga, apa kau tidak sadar bahwa dia sudah berada di sini dalam waktu hampir sebulan setelah pemenang misi itu diumumkan? Yang artinya dia pun tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan ujian memasuki pelantara dalam.” Murid lainnya melanjutkan.
Diskusi diantara murid terjadi seketika karena kehadiran Lin Yan. Juga, semua murid di tempat itu sangat terkejut bahwa Lin Yan yang tampak sangat muda telah mencapai tingkat Xiantian tahap pertama. Sangat jarang bagi para murid melihat anak semuda itu yang mencapai level setinggi itu.
Tetapi banyak juga yang ragu dengan semua informasi itu terutama tentang misi. Sekuat apapun Lin Yan, para murid pelantara dalam mengerti bahwa kesulitan misi memasuki pelantara dalam berada di tingkat atas dan tidak mungkin dengan tingkat kultivasi Xiantian tahap pertama bisa diselesaikan dalam waktu sesingkat itu. Yang artinya, banyak murid membuat spekulasi bahwa banyak kecurangan yang terjadi dan sikap sebagian besar murid terhadap Lin Yan hanya melihatnya sebagai penyogok ataupun menggunakan kecurangan untuk mencapai prestasinya saat ini.
Lin Yan sama sekali tidak peduli dengan semua diskusi yang dilakukan oleh para murid. Ia hanya tetap menunggu apa yang akan dikatakan oleh Tetua tersebut.
Di sisi lain, Huan Caiyi memasang wajah tidak senang dengan diskusi yang sebagian besar adalah meremehkan kekuatan adik kecilnya. Jika saja Lin Yan mencoba untuk menyangkal tuduhan yang tidak benar itu, ia juga akan maju untuk membungkam mereka semua. Tetapi melihat Lin Yan bahkan tidak peduli, ia hanya tetap diam saja.
“Baiklah, karena kau adalah murid yang menyelesaikan misi, maka kau hanya perlu membawa dokumen ini kepada Aula Senjata. Di tempat itu akan ada banyak pilihan yang bisa kau ambil sesuka hatimu. Tetua yang mengelola tempat itu akan langsung memproses hadiah yang kau inginkan.” Tetua tersebut berkata dengan nada datar dan menjelaskan beberapa hal lagi serta di mana letak bangunan yang disebutkan.
“Terima kasih.” Lin Yan mengambil kembali dokumen dan token murid miliknya lalu pergi dari hadapan Tetua itu bersama dengan Huan Caiyi.
Para murid masih berdiskusi sambil menatap ke arah Lin Yan yang bergerak keluar dari Aula Misi.
Setelah bergerak beberapa menit, Lin Yan dan Huan Caiyi tiba disebuah bangunan besar lainnya dan itu adalah tempat para murid menukar poin merit dengan senjata. Dikatakan bahwa Aula Senjata sekte Naga Langit memiliki banyak jenis senjata yang menyaingi kelas senjata Kerajaan Bintang.
Setelah masuk, keduanya langsung naik ke lantai tiga yang merupakan tempat senjata paling berkualitas.
Dari pengetahuan yang Lin Yan ketahui, senjata dikategorikan menjadi sembilan juga. Senjata tingkat satu adalah yang terendah dan senjata tingkat sembilan adalah yang tertinggi.
Tombak Raja Langit milik Lin Yan bisa dikategorikan sebagai senjata tingkat keenam. Itu bisa diklarifikasi sebagai salah satu senjata terkuat di Daratan Utara. Sementara pedang yang dipegang oleh Huan Caiyi adalah senjata tingkat kelima. Empat pedang yang Lin Yan jual sebelumnya juga termasuk senjata tingkat lima walaupun senjata Huan Caiyi memiliki kelas yang lebih tinggi.
Ketika Lin Yan berada di lantai tiga Aula Senjata, ia melihat banyak senjata tingkat lima yang tampak biasa saja yang membuat Lin Yan sedikit kecewa. Karena Long Zu dan Long Ti menatap pedangnya dengan semangat sebelumnya, ia tidak terlalu berharap lagi menemukan senjata kuat bahkan di sekte Naga Langit.
Sangat disayangkan bahwa semua senjata yang diberikan oleh kakek dan neneknya di dalam cincin ruang adalah sebuah pedang sementara ia merasa lebih nyaman menggunakan sebuah tombak.
Ketika melihat berbagai jenis pedang, Lin Yan hanya bisa menghela nafas karena bahkan kelas pedang di tempat itu hanya beberapa yang menyaingi pedang yang ia jual sebelumnya.
Setelah itu, Lin Yan melihat senjata lainnya dan kualitasnya juga sama. Para murid lainnya pasti akan sangat bersemangat ketika melihat senjata tingkat lima tetapi tidak untuk Lin Yan.
Bahkan tombak yang berada di Aula Senjata juga tidak ada yang menyaingi kehebatan Tombak Raja Langit.
“Apakah tidak ada senjata yang menarik minatmu, Yan'er?” Tanya Huan Caiyi saat menatap wajah Lin Yan yang tampak kecewa.
“Ya. Tidak ada senjata yang lebih kuat dari tombak yang aku gunakan.” Balas Lin Yan saat menatap semua senjata di lantai dua.
“Lalu apa gunanya hadiah itu?” Huan Caiyi sedikit tidak puas lagi dengan sekte Naga Langit karena tidak menyediakan apa yang diinginkan oleh adik kecilnya.
Mendengar kata-kata tidak puas Huan Caiyi, Lin Yan hanya terkekeh kecil. Ia tidak membalas sama sekali dan terus melihat semua senjata di lantai dua.
“Hm? Apa ini?” Lin Yan merasakan getaran tertentu di suatu tempat. Ia pun menoleh ke arah tertentu dan perlahan berjalan ke arah sana.
Ketika mendekat, ia merasakan getaran aneh semakin kuat seolah-olah ada yang memanggilnya. Ketika mencapai tempat asal aura aneh itu, Lin Yan merasa bingung saat menatap tumpukan tombak yang sebagian besar adalah tingkat ketiga dan keempat.
“Ada apa Yan'er?” Tanya Huan Caiyi heran saat memperhatikan Lin Yan terus melihat ke sekeliling seperti orang bingung.
Lin Yan tidak menjawab dan melihat tombak satu persatu. Tidak ada getaran seperti sebelumnya yang ia rasakan yang membuatnya semakin bingung apa sebenarnya hal itu.
Setelah memeriksa tombak yang memiliki penampilan kuat, Lin Yan kecewa kembali. Ketika meletakkan tombak terakhir yang ia pedang, ia menyentuh sebuah tombak yang tampak aneh.
Kulitnya seakan sedikit mati rasa tiba-tiba tanpa sebab. Lin Yan menatap ke arah tombak itu dengan seksama.
“Tombak ini..” Wajah Lin Yan serius seketika saat melihat tombak yang sebagian besar sudah tampak berkarat. Tombak itu memiliki tiga bilah yang berbeda dan bagian tengah adalah yang terpanjang dan paling ramping.
Lin Yan langsung meraih tombak itu dan terkejut bahwa tombak itu sangatlah ringan. Kemungkinan beratnya hanyalah 10kg saja dan tidak sesuai dengan senjata jenis tombak.
Tetapi tombak itu sedikit bergetar ketika berada di tangan Lin Yan yang membuatnya semakin penasaran apa sebenarnya tombak yang terlihat berkarat itu.
“Apakah ada yang aneh dengan tombak ini? Itu tidak terlihat seperti tombak sama sekali dengan tiga bilah dan bahkan kedua sisinya tidak seimbang.” Huan Caiyi juga heran bahwa adiknya menatap tombak itu dengan seksama.
“Ayo kita temui Tetua yang mengelola Aula Senjata. Aku ingin tau apa sebenarnya asal usul tombak ini.” Lin Yan membawa tombak itu bersamanya menuju lantai pertama.
Huan Caiyi sama sekali tidak protes karena ia tau bahwa Lin Yan memiliki penilaiannya sendiri terhadap sesuatu. Dan ia hanya akan menganggap dirinya bodoh jika tidak percaya bahwa tombak itu spesial yang bisa membuat Lin Yan menjadi tampak sangat serius.