
“Dia memakannya?”
“Lihat, pemuda itu bahkan bisa menyentuh pohon sesuka hatinya saat ini. Berarti fungsi dari buah-buah itu adalah membuat seseorang tidak terpengaruh oleh qi berbahaya itu!”
Para kultivator di tempat itu pun memasang wajah gelap karena jika Lin Yan yang saat ini berada di atas pohon melakukan sesuatu yang aneh lainnya, mungkin semua kultivator yang ada di sana akan mengalami kerugian.
Tatapan semua kultivator kini tertuju pada Gu Yin yang masih diam di tempat itu dan menatap ke arah tempat Lin Yan berada.
“Hei, ayo kita tangkap wanita itu lalu mengancam pemuda itu agar dia mengambil buah-buah di pohon itu. Dengan buah pohon itu, rahasia dari danau ini akan terbongkar!”
Suara teriakan salah satu kultivator terdengar di tempat tersebut yang membuat semua mata kini tertuju pada Gu Yin.
Lin Yan menatap ke arah sumber suara dan itu berasal dari salah satu anggota kelompok Kalajengking Merah.
Semua dari mereka juga membuat pemikiran yang sama. Sudah sangat lama Situs Gunung Safir tidak bisa dibongkar misterinya. Dan dengan apa yang dilakukan oleh Lin Yan, semua prediksi dan misteri dari Situs Gunung Safir akan bisa dibongkar.
Tanpa membuang waktu, semua dari mereka mengeluarkan senjata masing-masing untuk menangkap Gu Yin tidak terkecuali untuk kelompok Long Hua, kelompok Sekte Bambu, kelompok Sekte Gerbang Surgawi, kelompok Sekte Naga Langit dan kelompok klan Shi serta klan Yi.
Gu Yin tetap tenang setiap waktu. Ia sama sekali tidak peduli dengan semua tatapan yang diarahkan padanya.
Di atas pohon pun, Lin Yan hanya menatap itu dengan datar. Ia meraih satu buah lainnya dan mengarahkannya kepada Gu Yin.
Melihat apa yang dilakukan oleh Lin Yan, semua kultivator pun langsung menerjang ke arah Gu Yin secepat yang mereka bisa untuk menangkapnya.
“Kalian ingin menangkapku dan mengancam Lin Yan? Kalian tidak akan pernah bisa bagaimana pun kalian mencoba,” ucap Gu Yin acuh tak acuh.
Uap hitam kebiruan merembes dari tubuh Gu Yin karena ia mempersiapkan teknik miliknya.
“Jangan biarkan wanita itu kabur!” Teriak anggota kelompok Kalajengking Merah saat menerjang ke arah Gu Yin.
“Butiran Salju..”
“Klone Es..”
Uap uap yang keluar dari tubuh Gu Yin melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Lin Yan tetapi terlihat tubuhnya masih tetap berada di tempat.
Zhep! Zhep! Zhep!
Semua kultivator mengelilingi Gu Yin dari segala sisi agar tidak melarikan diri.
“Wanita! Katakan kepada rekanmu agar mengambil buah-buah itu dan memberikannya kepada kami!” Perintah anggota kelompok Kalajengking Merah.
Gu Yin melirik ke arah anggota kelompok Kalajengking Merah dan membalas, “Kau berasal dari kelompok Kalajengking Merah bukan? Aku yakin tidak lama lagi kau akan mati mengenaskan.”
“Tidak hanya untukmu.” Gu Yin terhenti dan melihat semua kultivator yang mengelilinginya dan melanjutkan, “Kalian semua juga akan mengalami nasib yang sama.”
“Kau pikir dengan kalian berdua, kalian bisa melawan semua kultivator di sini?” Long Hua membuka suara dan mencemooh Gu Yin.
“Putra mahkota? Kau dianggap sebagai jenius. Tetapi dalam waktu setengah tahun ini, kultivasimu hanya meningkat satu tahap saja. Kau hanyalah sampah masyarakat.” Balas Gu Yin acuh tak acuh.
Semua yang di sana tertegun mendengar perkataan Gu Yin. Itu adalah sebuah hinaan terang-terangan terhadap putra mahkota Kerajaan Bintang.
Wajah Long Hua berbuah ungu mendengar penghinaan Gu Yin. Ia pun langsung mencabut pedangnya dan bergerak dengan kecepatan tinggi seperti sebuah petir.
“Mati!”
Sraing!
Long Hua langsung mengayunkan pedangnya yang telah diselimuti oleh qi Petir yang sangat ganas.
Srak!
Tubuh Gu Yin terpotong seketika yang membuat Long Hua merasa puas.
“Apa?” Long Hua terkejut melihat hal itu dan melihat sekelilingnya untuk mencari keberadaan Gu Yin.
“Tampaknya putra mahkota memang benar-benar seseorang yang tolol.” Suara Gu Yin terdengar di kejauhan dan itu berasal dari tengah danau.
Semua kultivator di sana langsung menoleh dan melihat ke arah kejauhan. Di kejauhan, terlihat Gu Yin yang saat ini mengangkat tangannya dan buah pun mendarat di telapak tangannya.
Gu Yin mengangkat sedikit cadarnya dan memakan buah tersebut secara perlahan seperti sedang menikmati hidangan lezat.
Srut!
“Sialan!”
Semua kultivator yang ada di sana langsung melesat ke arah Gu Yin secepat yang mereka bisa.
Tetapi Long Hua hanya membatu di tempat karena Gu Yin sudah menghinanya dua kali dalam waktu singkat. Harga dirinya membuatnya sangat marah. Wajahnya sangat merah saat ini karena amarah yang sudah hampir meledak.
Zhep!
Setelah selesai memakan buah, Gu Yin pun melompat ke sebelah Lin Yan. Setelah itu, ia pun mengeluarkan Pedang Kembar Chi, ia membuat kuda-kuda untuk menyerang lalu langsung menebas ke arah kerumunan yang sedang mendekat.
“Bilah Es Hitam..”
Sraing!
Qi Es Hitam yang membentuk bilah seperti bulan sabit pun langsung melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah air Danau Safir.
Srak!
Bilah qi tersebut mengenai air setelah itu perlahan membekukan air dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Lin Yan hanya melirik ke arah Gu Yin sejenak lalu menggelengkan kepalanya. Ia pun duduk di atas dahan untuk melihat pertunjukan yang akan segera terjadi.
Para kultivator bingung dengan apa yang dilakukan oleh Gu Yin karena itu tampak seperti Gu Yin membantu mereka semua membuat pijakan.
Gu Yin menyimpan Pedang Kembar Chi ke dalam cincin ruangnya lalu mengangkat jari telunjuknya ke atas sedikit.
Shhhhh!
Di atas jari telunjuk Gu Yin, Es Hitam seukuran biji kacang perlahan terbentuk. Kali ini, Es Hitam tersebut tampak memercikkan listrik hitam walaupun itu hanya samar.
“Kehancuran Dimensi Es..”
Gu Yin mengarahkan jari telunjuknya ke arah permukaan es di atas air lalu bola Es Hitam seukuran biji kacang tersebut langsung ditembakkan dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Zhung!
Duar!
Ketika bola Es Hitam seukuran biji kacang mengenai permukaan es, ledakan besar pun terjadi yang membuat para kultivator terkejut.
Air Danau Safir dalam jumlah yang sangat besar pun menerjang ke arah langit.
Lin Yan menatap itu dengan tatapan acuh tak acuh. Ia merasa sedikit terhibur dengan apa yang dilakukan oleh Gu Yin karena itu pasti akan mengurangi jumlah kultivator di tempat itu dalam jumlah yang sangat besar.
“Arrrrrrgggghhh!”
Teriakan keras terjadi di tempat itu ketika para kultivator di timpa oleh air Danau Safir yang meledak seperti tsunami.
Para kultivator tingkat Alam Bumi tahap kesembilan yang mampu bereaksi pun langsung mundur menjaga jarak mengabaikan rekan mereka yang lebih lemah ditelan oleh air Danau Safir.
Di sisi lain, sosok yang terus melayang di sekitar pohon, menatap adegan itu dengan kegembiraan di matanya.