
BUGH
BUGH
Mikel melampiaskan kemarahannya kepada beberapa anak buah yang berdiri seolah mereka adalah samsak. Mereka sudah mendengar yang terjadi dengan pria yang ia panggil bos itu tanpa sepengetahuan Pablo. Mikel sudah memiliki ratusan anak buah di belakang bos Loz Zetas tersebut. Tidak ada penolakan, sebab sebagian dari mereka menginginkan Mikel menggantikan Pablo, tidak terkecuali Sid.
"Mikel, tenanglah." Sid datang dan menepuk bahu Mikel, mengingatkan jika meskipun meluapkan amarah kepada anak buah mereka, tidak akan mengubah apapun.
"Bagaimana aku bisa tenang, Sid!" Mikel menepis kasar tangan Sid. "Aku tidak bisa melenyapkan wanitaku, sudah pasti Pablo akan melakukan sesuatu kepada Mei dan Nathan!" Mikel mengerang frustasi. Ia tidak pernah menduga jika akan berada di posisi sulit seperti ini. Di sisi lain ia harus menyelamatkan sang adik beserta asistennya, tetapi di sisi lain ia tidak mungkin melenyapkan wanitanya.
"Aku mengerti. Aku juga sangat terkejut jika ternyata wanitamu itu adalah putri dari Black." Benar. Saat Sid mengetahui sebuah fakta dari mulut Mikel serta mereka sudah menemukan beberapa bukti, keduanya hanya bisa dibuat terbungkam.
"Dan Ar, kau tau aku tidak mungkin melawan Ar. Dia dan keluarganya sudah aku anggap sebagai keluargaku. Bagaimana mungkin aku bisa melenyapkan mereka semua." Nada bicara Mikel melemah, menandakan jika pria itu benar-benar frustasi dan dilema hebat. "Tapi aku juga tidak mungkin membiarkan Mei dan Nathan terluka di tangan Pablo." Ya, Meisha adalah keluarga satu-satunya yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya untuk menemani dirinya. Sementara Nathan, pria muda itu yang menemani dirinya dalam mengembangkan perusahaan hingga menjadi perusahaan raksasa seperti saat ini. Nathan sudah seperti adik baginya, tidak mungkin membiarkan salah satunya terluka.
Sid turut mengerang frustasi, ia pun akan sama seperti Mikel jika dirinya berada di pilihan tersulit. "Kita pasti memiliki jalan keluar. Yang penting saat ini wanitamu berada di tempat yang aman," ucapnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan temannya.
Mendengar perkataan Sid, Mikel sontak menoleh. "Kau sudah mengetahui dimana keberadaannya Sid?" Memang dirinya menyuruh Sid agar melacak keberadaan Elie.
Sid mengangguk. "Wanitamu berada di Villa Magnolia. Dia aman, karena pasti kakaknya sudah bertindak lebih dulu."
"Kau benar, Ar pasti sudah memperketat keamanan disekitarnya."
"Untuk saat ini kau bisa tenang karena-" Perkataan Sid terputus lantaran melihat Mikel tiba-tiba saja beranjak berdiri dan berlalu pergi. "Hei, kau mau kemana?!" Dan teriakan Sid terbuang percuma lantaran Mikel melengos tanpa mengindahkan seruannya. "Ck, pasti dia ingin menemui wanitanya," gumamnya. Mikel memang sangat mudah ditebak, cintanya terhadap wanita itu begitu besar.
***
Mobil yang dikendarai oleh Mikel menepi tepat bersebrangan dengan Villa beratap biru itu. Pandangannya berpusat pada para penjaga yang berada di sekitar sana. Namun seketika sorot matanya teralihkan pada sosok wanita yang baru saja keluar menuju pelataran dan terlihat menghampiri dua anak buah yang berjaga.
"Aku membutuhkan pencuci wajah. Apa kalian bisa membelikannya untukku?" Memang Elie melupakan pencuci wajah miliknya, sebelumnya ia sudah mengirim pesan kepada Mandy, tetapi siapa yang tahu kejadiannya akan seperti ini.
"Baik Nona, sebaiknya Nona di dalam saja. Biar kami yang membelinya." Salah satu anak buah menyahut, mereka langsung bergegas menuju Mall terdekat setelah Nona mereka memberikan catatan merek pencuci wajah yang biasa di gunakan.
Elie hendak kembali masuk, akan tetapi langkahnya terhenti saat ia merasakan jika sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya. Lantas Elie menyapukan pandangannya kesana-kemari, namun tidak menemukan apapun disana.
Dua anak buah hanya berjaga diluar saja, sebab mereka tidak mungkin berani berada di dalam satu atap dengannya. Langkah Elie kemudian mengayun santai menuju kamar yang berada di lantai dua. Namun saat berada di lorong sebelum mencapai pintu kamar, seseorang menarik tangannya, lalu membekap mulutnya.
"Hmmmppphh....." Elie meronta-meronta ketika seorang pria membawanya ke dalam kamar dan segera mengunci pintunya.
"Ini aku Sweetheart," bisiknya di telinga Elie.
Sekujur tubuh Elie meremang seketika, bukan karena terkejut, melainkan hembusan napas seseorang itu mampu membuat tubuhnya berdesir.
"Se-sedang apa kau disini?" Namun Elie berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terbawa suasana yang nampak begitu intim. Bagaimana tidak, posisinya membelakangi Mikel, hembusan napas pria itu menyapu ceruk lehernya hingga benar-benar membuat bulu kuduknya merinding.
"Maaf, aku mengejutkanmu," tuturnya sebelum kemudian membalikkan tubuh Elie agar menghadap ke arahnya.
Berbeda dengan Mikel yang menatap penuh kelembutan, Elie justru menyematkan tatapan sinis. ia tidak tahu apa tujuan pria itu mendatanginya diam-diam seperti ini.
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini. Aku tidak ingin mereka memergokimu berada di kamarku." Elie mendorong dada Mikel sekuat tenaga, akan tetapi tubuh Mikel bergeming tanpa berpindah sedikitpun.
Mikel menangkap salah satu pergelangan tangan wanitanya itu. "Tidak ada yang menyadari keberadaanku disini, Sweetheart. Kau tidak perlu mencemaskanku."
"Aku tidak mencemaskanmu." Elie membuang pandangannya ke arah lain agar kontak mata mereka tidak saling menemui. "Kau terlalu percaya diri sekali," cebiknya kemudian.
Mikel mengulum senyum, wajah menggerutu wanitanya itu membuatnya sangat gemas. Hingga kemudian satu tangannya merengkuh pinggul Elie, menarik agar lebih dekat kepadanya. Tubuh mereka bahkan saling menempel, deru napas yang saling bersahutan itu menyapu wajah masing-masing.
"Aku sangat merindukanmu." Suara Mikel terdengar begitu lirih, terdapat selipan sesal jika tadi ia berhasil menghantam peluru ke tubuh wanitanya. Beruntung ia sempat melihat wajah wanitanya, sehingga ia langsung menyingkirkan condong senjatanya ke arah lain. Jemari Mikel mengusap lembut helaian rambut yang membingkai wajah Elie, lalu mulai merambat menelusuri wajah wanitanya itu. "Apa kau tidak merindukanku, hm?" tanyanya dengan menelisik wajah putih mulus milik Elie.
Lama bergeming, Elie memberanikan diri membalas tatapan Mikel. Entah bagaimana kini ia mulai berani melingkarkan kedua tangannya di leher Mikel. "Jika aku mengatakan merindukanmu, apa kau akan senang, hm?" Kemudian mengulas senyum manis yang mampu membuat darah Mikel berdesir hebat.
"Apa kau sedang menggodaku, hm?" Mikel sedikit terkekeh, untuk pertama kalinya, Elie bersikap seperti ini padanya. Tetapi ia sangat menyukainya.
"Tanpa aku menggoda, kau juga akan tergoda padaku." Elie menatap dengan penuh sensual, terlebih ia hanya mengenakan tangtop, sehingga kulit mereka saling bergesekan.
"Kau benar, tapi jika kau seperti ini, aku tidak mungkin bisa menahannya Sweetheart."
Elie tertawa ringan, tawa yang selalu membuat Mikel terpana. "Kalau begitu kau harus mencoba menahannya karena aku akan semakin merapatkan tubuhku padamu." Dan benar saja, Elie mencondongkan tubuhnya, hingga dada yang membusung itu menempel pada dada Mikel yang masih terbungkus pakaian, dada bidangnya terlihat menyembul lantaran hanya mengancingkan kemejanya setengah saja.
Mikel meneguk salivanya yang nyaris tercekat di kerongkongan. Apa wanitanya itu memang pandai menggoda seperti ini? pikirnya.
"Jangan lakukan ini kepada pria manapun. Jika tidak-"
"Jika tidak apa?" Elie memotong ucapan Mikel, ia terkekeh gemas di dalam hati karena telah berhasil memancing hasrat pria di hadapannya. "Apa kau akan menghukumku, hm?" Dan bahkan dengan sengaja jari telunjuknya menyelusup di celah kemeja Mikel, lalu menari-nari di dada bidang pria-nya.
"Sweetheart, apa kau sengaja hm?" Sedari tadi Mikel bersusah payah menahan diri agar tidak tergoda, tetapi justru wanitanya dengan sengaja memang memancing hasratnya yang tertahan itu.
"Entahlah, apa kau mulai tergoda?" Elie tersenyum nakal, ia bahkan mencoba membuka kancing kemeja Mikel.
"Kau akan menyesal karena sudah menggodaku." Persetan dengan menahan diri, Mikel menggebu-gebu mendekap dan bahkan bibirnya membungkam bibir Elie.
Elie membalas pangutan Mikel, tidak kalah liar dari pagutan bibir pria-nya. Mereka tenggelam dalam ciuman penuh kerinduan dan saling meluapkan perasaan dalam ciuman mereka.
Mikel yang sudah terjerat dalam hasratnya, memutar arah tubuhnya hingga kini punggung Elie membentur dinding dan sudah berada dalam kungkungannya. Elie tidak memikirkan apapun selain desiran hebat yang menjalar dalam darahnya. Sehingga kini ia menyakini dirinya sendiri bahwa memang ia benar-benar sudah jatuh ke dalam pesona Presdir dari MJ Corp dan ia jatuh sedalam-dalamnya.
Ya, ternyata aku mencintainya dari dulu sampai saat ini.
"Sweetheart, apa yang kau lakukan?" Mikel mengakhiri ciuman panas mereka, lalu menangkap pergelangan tangan Elie yang tengah meraba-raba tatto bintang yang tercetak di perut bawah miliknya. Entah sejak kapan kancing kemejanya sudah terlepas semua.
"Aku hanya mengelusnya saja, apa tidak boleh hm?" Bola mata itu nampak polos menyirat.
"Tidak, aku-"
"Kenapa hm?" Elie menarik tangannya dari genggaman telapak tangan Mikel, lalu kembali mengusap tatto itu lebih intens, telapak jarinya merasakan sebuah goresan panjang yang tertutupi oleh tatto tersebut. "Apa kau masih ingin bersembunyi dariku, Mike?"
Deg
Tubuh Mikel mendadak membeku mendengar bibir ranum sang wanitanya menyebut nama Mike, nama panggilan dirinya di masa silam.
To be continue
Babang Mikel
Elie
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...