
Terhitung sudah dua hari Licia di rawat di rumah sakit. Dokter Oscar selalu memeriksa keadaan Licia dan menyuntikan obat penawar yang pernah dibuat bersama Arthur. Saat ia meminta penawarnya, dengan suka rela Arthur memberikan padanya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nona Licia akan kembali seperti semula." Dokter Oscar menerangkan dengan seulas senyum. Hal itu membuat Mommy Angela dan Daddy Zayn bernapas penuh kelegaan. Mereka sempat berpikir efek dari obat yang berada di dalam tubuh putri mereka akan membahayakan.
"Karena belum terlambat diobati, sehingga ingatan Nona Licia tidak hilang secara permanen. Sistem otaknya tidak dipaksa bekerja seperti jika mengkonsumsi Spocolamine secara berlebihan," lanjutnya kemudian. Memang jika tidak segera ditangani dengan cepat, perlahan akan membuat memori otak menghilang secara bertahap. Dan yang terparah adalah kehilangan nyawa.
"Terima kasih, Dokter." Mommy Angela hanya bisa mengucapkan rasa terima kasih. Beberapa hari ini Dokter Oscar sudah bekerja dengan baik, membuktikan jika dokter muda itu mampu mengatasi masalah yang diderita setiap pasiennya.
"Sama-sama Nyonya. Aku sudah berjanji akan melakukan yang terbaik." Terkenal ramah, sehingga Dokter Oscar selalu menebarkan senyuman.
Karena sudah diwakili oleh sang istri, sehingga Zayn tidak perlu mengucapkan terima kasih. Itu menurutnya dan Dokter Oscar memahami.
"Kalau begitu aku permisi dulu, masih ada pasien yang harus ditangani." Masih dengan senyumnya, Dokter Oscar berpamitan. Sebenarnya ia hanya merasa harus segera pergi dari sana, lantaran tatapan Zayn yang mendelik padanya. Memang apa salahnya? Entahlah.
Setelah diiyakan oleh Mommy Angela, Dokter muda itu segera berlalu dari ruangan. Zayn bisa bernapas lega setelah Dokter Oscar sudah pergi dari sana, sebab ia sungguh tidak hanya setiap melihat dokter itu tersenyum kepada istrinya. Menegur pun tidak mungkin, karena sudah pasti sang istri tidak menyukainya.
Zayn menatap Licia yang masih terlelap di atas pembaringannya. Dua hari ini putrinya hanya tertidur setelah mengisi perut dengan semangkuk bubur. Dan pagi ini belum bangun, sehingga ia merasa rindu dengan celotehan gadis kecilnya itu. Meski Licia kadangkala membuatnya kesal, tetapi ia sangat menyayangi gadis kecilnya itu.
***
Matahari sudah terlihat meninggi. Terik sinar siang ini tidak mengurungkan langkah Zayn memasuki Markas yang sudah lama sekali tidak ia datangi. Karena dirinya sudah menyerahkan Markas Red Dragon kepada penerus-penerusnya. Saat sudah berada di salah satu ruangan, Zayn mendapati Roy duduk melutut di hadapan Demon, memastikan keadaan pria tua itu. Sementara Jeff terlihat tengah menumpahkan satu botol air mineral di wajah Maxime.
"Bangun anak muda. Apa kau tidak melihat matahari sudah meninggi." Kalimat Jeff membangunkan Maxime yang sangat berat membuka mata. Wajahnya penuh dengan luka lebam dan sudah membiru. Bisa dibayangkan bagaimana Albern, Beryl dan Maxwell menghajar pria malang itu.
Maxime mengerjap berulang kali, silau akan sinar matahari yang membias masuk melalui jendela ruangan tersebut.
Zayn segera menghampiri Roy yang tengah menepuk-nepuk wajah Demon. "Apa dia tewas?"
Roy mendongak, kemudian menggeleng. "Belum. Nadinya sangat lemah. Mungkin beberapa hari kedepan dia akan tewas."
Mendengar perkataan Roy, Zayn berdecak sinis. "Semudah itu dia mati setelah apa yang dia perbuat." Kemudian ia menumpu satu lututnya pada lantai. Lalu menarik rambut Demon dengan kasar. "Jangan pernah berpikir kau akan dengan mudah mati setelah apa yang kau lakukan pada putri dan istriku!"
Demon terkekeh kecil, sehingga membuat darah menyembur keluar dari mulutnya. "Istrimu hampir menjadi milikmu. Apa kau pikir selama dia terkurung, aku tidak menyentuhnya."
Wajah Zayn menegang seketika. Ia tersulut amarah. Demon dengan sengaja ingin memancingnya.
Demon melihat bagaimana wajah Zayn berubah menegang. Pria itu termakan oleh perkataan yang tentu saja sebuah dusta. Saat itu ia belum sempat menyentuh tubuh Angela, waktunya tidak tepat karena anak buah mengganggu kegiatannya mengagumi wajah serta tubuh Angela.
"Istrimu memiliki wajah cantik dan tubuh yang sangat bagus. Bagaimana mungkin aku diam saja saat dia pingsan dan-"
BUGH
Tanpa menunggu Demon menyelesaikan kalimatnya, Zayn meninju wajah pria tua itu. Darah semakin menyembur keluar dan nyaris mengenai wajah Zayn.
"Sekali lagi kau membicarakan istriku, detik ini juga kau akan kehilangan lidahmu!" geramnya penuh dengan ancaman yang bukan main-main.
Namun alih-alih merasa terancam, Demon kembali terkekeh dan detik kemudian kilatan matanya memancarkan api amarah yang mendalam.
"Bagiku aku sudah mati setelah kematian istriku." Perkataan Demon yang menyimpan kesedihan itu membuat Zayn mendelik tajam. "Jika saat itu kau dan Red Dragon tidak menggagalkan operasiku, aku tidak akan kehilangan istriku. Karena kalian, istriku tidak bisa dioperasi dan harus merenggang nyawa! KARENA KALIAN, ISTRIKU MENINGGALKANKU. KALIAN MEMBAWA UANG YANG SEHARUSNYA AKU GUNAKAN UNTUK BIAYA OPERASINYA!" Demon kehilangan kendali. Ia mencoba bangkit dan hendak menerjang Zayn, tetapi Roy serta satu anak buah berhasil menahan Demon lebih dulu.
Ingatan Zayn mulai menerawang ke masa lalu. Kemudian teringat 11 tahun yang lalu kala Red Dragon menyerang Bloods Dead ditengah-tengah menjalankan aksi mereka. Bukan tanpa sebab yang tak berarti, karena apa yang dilakukan oleh Demon berdampak pada Red Dragon yang digadang-gadang menjadi kelompok yang memperjualbelikan organ tubuh manusia. Zayn harus berurusan dengan pihak kepolisian saat itu, jika saja Xavier tidak membantunya memberikan laporan dan bukti nyata bahwa kelompok mereka tidak terlibat, sehingga Zayn dibebaskan secara bersyarat. Zayn dan Red Dragon tidak bisa bergerak bebas seperti sebelumnya. Itulah yang membuat Zayn murka dan menyerang Demon dan kelompoknya pada saat itu.
"Aku tidak pernah mengambil uangmu," ujarnya menyanggah. Namun percuma saja Demon tidak akan percaya. "Kau percaya tau tidak, tapi aku benar-benar tidak mengambil uang yang bukan milikku. Seharusnya kau menyelidiki dengan benar, dengan begitu kau bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah seharusnya disini aku yang marah padamu, heh. Karena kau melakukan operasi ilegal, polisi mencurigai Red Dragon ikut terlibat. Aku harus memberikan keterangan kepada mereka. Kau pikir aku akan membuang-buang waktu menyerang kelompokmu tanpa alasan, hah!" Kini bergantian Zayn yang menghardik. Mengingat kejadian saat itu membuat emosinya memuncak. "Kau pikir kau saja yang kehilangan uang?" Saat itu ia dan kelompoknya tidak bisa beroperasi seperti biasa. Semua gerak-gerik diawasi oleh pihak kepolisian.
Zayn mengatur napas, agar emosinya segera mereda. Wajahnya sedikit melunak. "Untuk istrimu, aku minta maaf. Tapi percaya atau tidak, aku benar-benar tidak melakukan sesuatu yang kau tuduhkan." Suaranya bahkan terdengar rendah, sebab bisa ia bayangkan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dicintai. Dan ia tidak ingin merasakan kehilangan istrinya. Karena istrinya itu adalah dunianya.
Roy dan Jeff tercengang di tempat. Bahkan tangan Roy yang sedang menahan lengan Demon sedikit mengendur.
Zayn meminta maaf? Wow, diluar dugaan. Teman mereka itu memang sudah banyak berubah. Pengalaman hidup benar-benar mengajarkan mereka hingga ke titik seperti saat ini.
"Roy, lepaskan dia. Dia tidak akan lagi menyerangku," ujar Zayn melirik singkat ke arah Demon yang mulai melemas. "Berikan dia makan dan minum. Dia akan tewas dengan perlahan." Lalu hendak melangkah pergi, tetapi ia urungkan sejenak. Tanpa menoleh, Zayn kembali berkata, "Aku memaklumi perbuatanmu, tapi tidak dengan tindakanmu yang ingin merebut istriku. Kau akan menerima akibatnya karena berani menginginkan milikku!" ujarnya sambil berlalu pergi.
Usai sepeninggalnya Zayn, Demon terduduk dilantai. Apa ia menyesali perbuatannya itu? Entahlah.
"Tinggalkan dia," perintah Roy pada beberapa anak buahnya.
"Lalu bagaimana dengan pemuda itu, Tuan Roy?" Ia menunjuk Maxime yang masih lemah tidak berdaya.
"Serahkan dia pada Jac, Al dan Beryl." Ya, Roy teringat akan perkataan Jacob yang menginginkan Maxime. Mereka ingin mengeksekusi Maxime dengan cara mereka sendiri.
Beberapa anak buah mengangguk mengerti. Setelahnya Roy dan Jeff segera keluar dari ruangan itu. Dan di pelataran Markas, mereka melihat Zayn duduk di atas kap mobil.
"Ada apa?" tanya Roy berjalan mendekati disusul oleh Jeff.
"Memangnya ada apa denganku?" Justru Zayn balik bertanya.
"Wajahmu seperti itu. Kau pasti memikirkan sesuatu." Mungkin tebakan Roy tepat sasaran. Tetapi Zayn hanya mengangkat kedua bahunya.
"Aku hanya merindukan istriku."
Baik Roy dan Jeff memutar bola mata mereka jengah. "Bukankah kau baru saja bertemu dengan istrimu, Master?" kata Jeff mengetahui jika Masternya itu baru saja datang dari rumah sakit.
Zayn mendengkus kesal. "Memangnya salah aku merindukan istriku sendiri?!" semburnya.
"Tidak salah. Yang salah itu jika kau merindukan istri orang lain." Dan perkataan Jeff mengundang gelak tawa Zayn serta Roy.
"Sudahlah, bawa mobilnya. Aku sudah sangat merindukan istriku." Zayn melompat turun dari atas kap mobil, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi bersisian dengan kemudi.
Jeff berdecak, tetapi tetap menurut. Roy hanya terkekeh, lalu menyusul Zayn masuk ke dalam mobil, mengambil tempat di kursi belakang kemudi. Sedangkan Jeff akan menjadi sopir kemanapun dua pria itu pergi. Sejak masih muda hingga tua seperti ini, ia adalah sopir yang sangat setia.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...