The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Aku Yang Mengantarmu



Keempat pasangan pengantin itu sudah kembali dari honeymoon. Pesawat pribadi yang ditumpangi mereka tidak mendarat di landasan perbatasan Kota Westminster pada malam hari dan terlambat dari jadwal mereka penerbangan mereka, karena cuaca sempat memburuk sehingga pesawat pribadi mereka harus mendarat dadakan di Bandar Udara Berlin Tempelhof, Jerman. Keempatnya kembali menuju Kota London dini hari dan mendarat pukul 8 pagi.


Mike dan Elie memutuskan untuk pulang ke Mansion terlebih dahulu dan Mike akan ke perusahaan setelah makan siang. Berbeda dengan Arthur yang tidak pulang ke Mansion maupun ke penthouse miliknya, saat ini mobil yang ditumpanginya menuju perusahaan dengan membawa serta Helena. Ia harus memeriksa beberapa dokumen dan menandatanganinya karena Darren sudah berangkat di pagi-pagi buta menuju Jepang.


Dan sepanjang melangkah menyusuri lobby, Arthur menggandeng tangan Helena, mengimbangi langkah istrinya itu sehingga membuat para karyawan Romanov Group begitu heboh. Mereka memuji sikap Arthur yang begitu lembut kepada istrinya, sementara jika berhadapan dengan yang lain, maka pimpinan mereka itu akan begitu dingin. Kedatangan mereka tentu sudah disambut oleh Austin yang sebelumnya di hubungi oleh Arthur terlebih dahulu.


"Selamat datang kembali Kak Ar dan Kakak Ipar." Austin menyambut hanya untuk berbasa-basi saja, meskipun nampak berlebihan. Tetapi ia mendapatkan senyuman dari Helena, berbeda dengan Arthur yang hanya berdehem pelan. Lebih tepatnya malas menanggapi adiknya itu.


Arthur membimbing istrinya untuk duduk di sofa berbahan kulit. Sementara Arthur duduk di kursi kebesarannya, sehingga Austin segera membenamkan tubuhnya di salah satu kursi yang berhadapan dengan meja kerja sang kakak.


"Bagaimana As, apa kau sudah mendapatkan hasil mediasinya?" Arthur bertanya di sela-sela ia memeriksa salah satu dokumen.


"Besok sudah dipastikan akan menerima hasil akhir mediasinya. Aku sudah membagi dua tim agar tidak membuang-buang waktu, karena beberapa staf, manager dan kepala bagian lapangan ingin segera membangun ruko dengan atau tidak persetujuan kepala desa." Austin melaporkan apa yang ia kerjakan dan beberapa kendala yang terjadi beberapa hari ini.


Arthur diam berpikir, nampak kentara jika ia tidak setuju dengan beberapa para bawahannya itu. "Kita tidak akan membangun ruko disana tanpa persetujuan Kepala Desa dan penduduk desa. Romanov Group akan tercemar jika mereka menyebarkan luaskan tindakan perusahaan kita yang semena-mena," sahutnya tegas.


Austin mengangguk, ia pun sependapat dengan kakaknya. Lalu keduanya berlanjut berdiskusi, mengabaikan Helena yang terkantuk-kantuk menunggu suaminya itu. Jika sedang bekerja, Arthur memang begitu fokus dan mengabaikan sekitarnya. Sehingga setengah jam berlalu, ia baru menyadari jika sang istri terlelap dengan kepala yang bersandar pada sandaran sofa.


"Tunggu sebentar As." Arthur menjeda diskusi mereka. Ia kemudian beranjak berdiri, melangkah menuju Helena. Dengan berhati-hati ia menggendong istrinya itu menuju ruangan pribadinya yang di dalamnya terdapat ranjang king size, lemari, televisi dan kamar mandi. Dengan mendorong sedikit dinding hingga bergeser, Arthur masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk membaringkan istrinya di atas ranjang. Dan apa yang dilakukan oleh Arthur tidak luput dari perhatian Austin. Jujur saja Austin mengagumi sosok kakaknya itu, meski nampak dingin diluar tetapi begitu hangat pada orang-orang yang disayangi oleh kakaknya.


Apa ia bisa seperti kakaknya itu, mengingat ia begitu acuh pada sekitarnya?


***


Sore harinya, Austin harus menyelesaikan pekerjaannya setelah Arthur dan Helena pulang terlebih dulu. Kini ia keluar dari lobby menuju mobilnya yang terpakir. Malam ini ia memang tidak kembali ke Mansion, melainkan ke penthouse untuk mendiskusikan suatu misi. Yang lain mungkin sudah menunggunya dan ia memang mengatakan akan terlambat, tetapi saat di tengah perjalanan mobilnya terpaksa menepi ketika lagi-lagi ia mendapati sosok yang tidak asing.


"Licia?" gumamnya menelisik sosok gadis mungil yang duduk di antara meja cafe. Jika kemarin ia nampak acuh dan melajukan mobilnya kembali, kali ini Austin memilih untuk memperhatikan dari dalam mobil, sehingga tanpa sadar ia sudah menunggu selama lima belas menit. Jengah menunggu, kemudian Austin memutuskan keluar dari mobil tanpa jas dan dasi yang melekat di tubuhnya. Dengan melangkah bak cassanova, ia berjalan melewati beberapa meja pengunjung, lalu semakin dekat ke arah meja Jolicia dengan seorang pria. Yang menjadi pertanyaannya, sejak kapan mereka saling kenal hingga terlihat begitu akrab?


Jolicia yang tengah bercengkrama dengan pria di hadapannya, membulatkan matanya ketika mendapati sosok Austin yang mendekat ke arahnya.


"Astaga, kenapa As bisa berada disini?" gumamnya tidak percaya. "As, sedang apa kau disini?" tanyanya kemudian begitu Austin sudah berada di hadapannya. Pria yang duduk berhadapan dengan Jolicia segera menoleh dan sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang dimaksud oleh Jolicia.


Austin dan pria yang tidak diketahui namanya itu saling menelisik. Hingga kemudian pergelangan Austin ditarik oleh Jolicia agar pria itu duduk di salah satu kursi yang tersedia, sebab ketampanan Austin menjadi pusat perhatian para pengunjung wanita.


"Kau sendiri sedang apa disini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Jolicia, Austin justru balik bertanya.


"Aku sedang makan bersama temanku." Sembari dagunya menunjuk pria yang berada di antara mereka.


"Ehm, kenalkan dia ini temanku Maxime saat di senior high school, kami hanya berbeda satu tahun," katanya memperkenalkan pria yang bernama Maxime itu kepada Austin. "Dan Max, ini As teman baikku sejak kecil, kami tumbuh bersama. Hanya saja karena dulu aku masih menetap di Los Angeles, sehingga jarang bertemu."


Kedua pria itu mengangguk, tanpa ingin saling berkenalan lebih lanjut ataupun berjabat tangan. Meski pria yang bernama Maxime itu tampan, tetapi siapapun yang melihatnya, maka akan lebih memilih Austin, karena Austin memiliki ketampanan di atas Maxime.


Jadi pria ini yang bernama Maxime? batin Austin menelisik penampilan pria yang berpenampilan badboy itu.


Suasana tiba-tiba membeku, Jolicia tersenyum canggung pada keduanya. Entahlah, kenapa keduanya memasang aura permusuhan?


"As...."


"Apa kau tidak dicari Paman Zayn? Lihatlah sudah hampir jam tujuh malam." Austin menyela perkataan Jolicia, ia memperlihatkan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tidak, sebelumnya aku sudah meminta izin pada Daddy dan Daddy mengizinkan," jawab Jolicia santai. Ia memang sudah meminta izin terlebih dahulu sebelumnya. Sebab itu ia berada di Cafe bersama Maxime.


Austin tidak menjawab. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan ada atau tidaknya bodyguard yang ditugaskan oleh Paman Zayn. Ternyata ia menemukan dua pria berpakaian serba hitam, yang sudah pasti mereka adalah anak buah Paman Zayn.


"Kau sudah selesai makan?" tanyanya melihat beberapa piring yang tersapu bersih dilahap oleh Jolicia.


"Sudah. Sebentar lagi aku akan pulang dan-"


"Kalau begitu biar aku yang mengatarmu, kebetulan aku ingin bertemu dengan Paman Zayn untuk memberikan sesuatu dari Daddy." Lagi-lagi Austin menyela, sehingga membuat Maxime berdecak kesal di dalam hati.


"Heh, benarkah?" Entahlah, Jolicia merasa percaya dan tidak percaya. Memangnya sejak kapan Paman Vier bersedia menitipkan sesuatu untuk Daddy-nya? Aneh, pikirnya.


To be continue


Yoona lagi kurang sehat, up sedikit dulu ya. Besok up lagi 🤗


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...