The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tidak Akan Diam Saja



Sebuah tangan menarik lengannya dengan sedikit kasar, hingga membuat tubuh Aurelie nyaris terjungkal ke arah pria itu.


"Kau....? Untuk apa kau menemuiku lagi?!" Suara Aurelie menggema di sudut lorong tangga darurat yang jarang dilalui para staf. Dengan kasar Aurelie segera menepis tangan kekasihnya yang sejak tadi menggenggam erat lengannya.


Ya, pria itu tidak lain ialah Brandon. Setelah tidak menampakkan dirinya selama berminggu-minggu. Kini Brandon sudah berada di hadapannya.


"Baby, aku hanya ingin minta maaf padamu. Maaf selama satu minggu ini aku berada di luar kota," ucapnya berupaya meyakinkan kekasihnya itu.


Aurelie berdecak sinis, tangannya menyilang di depan dada. "Aku tidak peduli!" sahutnya ketus. "Apa kau lupa jika hubungan kita sudah berakhir!" Kini Aurelie tidak lagi bersikap ramah terhadap pria pengecut itu. Untuk apa ia mempertahankan pria yang tidak memiliki pendirian seperti Brandon. Dari sifatnya saja sangat berbeda jauh dengan Arthur dan juga adiknya Austin.


"Baby, jangan seperti ini. Aku tidak pernah memutuskan hubungan kita." Brandon mencoba mencari kehangatan di manik mata wanita itu, seperti sebelumnya ketika menatap dirinya. Namun yang ia temukan justru hanya sebuah kebencian untuknya.


"Hubungan kita sudah berakhir ketika di pesta malam itu. Jadi tidak perlu lagi menemuiku seperti ini. Jika tidak, mungkin kekasihmu yang sebenarnya akan mencari masalah lagi denganku." Aurelie hendak pergi melewati Brandon. Baginya hanya buang-buang waktu saja berbicara dengan Brandon.


Namun Brandon masih menghalangi langkah Aurelie yang ingin berlalu melewati dirinya. Tidak semudah itu Brandon membiarkan kekasihnya pergi dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Baby. Aku tidak terima kau memutuskan hubungan kita begitu saja. Sampai kapanpun kau hanya milikku!" Brandon tidak terima, wanita yang masih menempati hatinya itu memutuskan hubungan mereka tanpa beban. Tatapannya mendalam seolah menekankan perkataannya tidak-lah main-main.


"Lalu kau ingin bagaimana? Apa kau ingin menikahiku dan menentang kedua orang tuamu? Dan apa kau sudah siap akan kehilangan harta yang kedua orang tuamu berikan kepadamu? Apa kau bisa meninggalkan semua itu demi diriku, hm? Katakan!" Aurelie tidak lagi memiliki sisa-sisa kesabaran jika terus-menerus harus mengerti akan hubungan mereka yang sudah tidak dapat lagi dilanjutkan. Menurutnya hanya akan membuang-buang waktu jika Brandon saja tidak berjuang untuknya.


Lalu apa ia harus berada di ruang lingkup keluarga yang hanya memandang dari segi materi dan kekuasaan saja? Jika memang iya, untuk apa selama ini ia menyembunyikan jati dirinya yang berasal dari Keluarga Romanov. Aurelie bisa saja menjual nama keluarganya demi mendapatkan seorang pria. Tetapi ia tidak ingin melakukannya, sebab ia ingin sekali memiliki pria tulus dan mencintai dirinya seperti Daddy Xavier yang mencintai Mommy-nya. Selama ini setiap pria yang mendekati dirinya akan meninggalkannya hanya karena alasan ia bukanlah berasal dari kalangan yang berada. Ck, Jika mereka hanya memandang status sosial dirinya yang berasal dari Keluarga Billionare, lebih baik ia melajang seumur hidupnya. Karena baginya sudah cukup memiliki kedua orang tua seperti Daddy Xavier dan Mommy Elleana. Keluarga baik seperti Uncle Edward, Aunty Olivia, Uncle Jack dan juga Aunty Millie. Berada di tengah-tengah Keluarga Brandon yang hanya memikirkan harta dan status sosialnya saja mungkin hanya akan memperpendek usianya karena terlalu banyak makan hati.


Aurelie hanya tersenyum masam ketika Brandon memilih membungkam mulutnya ketimbang menjawab pertanyaan yang mungkin bagi pria yang benar-benar tulus mencintai dirinya akan dengan suka rela meninggalkan semua itu. Tapi kini ia mengerti cinta saja tidak cukup, meskipun Aurelie dapat melihat cinta di mata Brandon, akan tetapi pria itu hanya diam ketika orang tuanya menginginkan mereka berpisah. Lalu untuk apa hubungan mereka dilanjutkan? Terlebih Brandon tidak bisa melindungi dirinya dari keluarga Sandler yang terpandang itu. Dan apa ia harus selalu melindungi dirinya sendiri seumur hidupnya? Tidak, ia juga membutuhkan sosok yang akan menjadi sandaran ketika lelah, melindunginya ketika dalam bahaya. Dan menghujaninya dengan cinta yang besar, hingga nyawa pun mampu diberikan untuknya.


Ya, Aurelie tidak munafik menginginkan pria yang seperti itu. Dan keinginan sederhana itu tidak ia dapatkan selama menjalin hubungan dengan Brandon setelah satu tahun lamanya.


"Elie... aku...." Brandon tidak dapat lagi berkata. Sejujurnya tidak pernah ada dalam bayangannya jika ia harus meninggalkan harta yang kelak akan menjadi miliknya begitu saja. Ia tentu tidak bisa hidup tanpa kemewahan. Meski dirinya sangat mencintai Elie, tapi jika harus meninggalkan seluruh hartanya. Ia harus mempertimbangkan ucapan wanita itu berulang kali.


"Kau tidak bisa meninggalkan hartamu, bukan?" Sudah dapat diduga oleh Aurelie, jika pria itu hanya ingin bersamanya tanpa ingin memperjuangkannya. "Sudahlah, lebih baik kau pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku ingin bekerja dengan tenang disini tanpa gangguan dari Carmela yang begitu tergila-gila padamu."


"Elie, aku...." Brandon berusaha menjangkau telapak tangan Aurelie, tetapi wanita itu dengan segera menepisnya.


"Brandon please, yang kau berikan untukku bukanlah cinta namanya. Kau hanya menginginkanku tanpa ingin memperjuangkan ku." Kali ini suara Aurelie sedikit direndahkan. Sungguh ia terlalu lelah berteriak hingga nyaris menguras tenaganya. Ia harus menyisakan tenaga untuk ke Perusahaan MJ Corp di saat kondisi tubuhnya yang sepertinya sedang drop karena tidak berisitirahat dengan baik.


Pandangan Brandon tertunduk ke bawah. Ia tidak bisa menatap manik mata wanita yang ia cintai itu. Mungkin yang dikatakan Aurelie benar, jika ia hanya menginginkan saja tanpa ingin memperjuangkannya.


"Maaf, Elie... aku hanya ingin bersamamu. Berikan aku kesempatan." Brandon memberanikan diri menatap wajah cantik Aurelie.


"Tidak Brandon!" tolaknya tegas. "Perlu kau ketahui, aku bukan wanita lembut seperti yang kau bayangkan selama ini. Aku memang selalu memberikan kesempatan pada seseorang yang sudah menyakitiku untuk memperbaiki sikapnya. Tapi aku juga tidak akan diam terlalu lama jika seseorang itu justru terus-menerus ingin menyakitiku. Aku akan melawannya bahkan jika orang itu adalah kau sekalipun. Jadi jangan menguji kesabaranku lebih dari ini, Brandon!"


Brandon dibuat terperangah dengan penuturan wanita di hadapannya yang ia kenal sangat lembut. Tetapi tidak pernah menyangka jika wanita itu dapat membuat lawan bicaranya mati kata. Bahkan tidak mampu membalas sorot mata tegas yang sulit di artikan itu. Entah kenapa manik mata hazel yang lembut itu menyimpan sisi lain dari seorang Elie yang ia ketahui sebagai wanita murah senyum dan humble. Selama mereka menjalin hubungan saja Brandon hampir tidak pernah melihat Elie marah kepadanya. Baru kali ini ia tidak dapat dibuat berkutik atas ucapan Elie.


"Aku...."


"Brandon, kau dimana?" Ucapan Brandon menggantung lantaran diluar sana, baik dirinya serta Aurelie dapat mendengar suara Carmela yang mencari keberadaan Brandon.


Aurelie berdecak sinis, ketika melihat raut wajah Brandon yang nampak panik. "Pergilah, kau pasti tidak ingin dia tau kalau kau baru saja menemuiku, bukan?" Aurelie menepuk-nepuk lengan Brandon, memberikan dorongan keberanian untuk mantan kekasihnya itu.


"Kau dari mana saja, Brandon? Sejak tadi aku mencarimu!" tanyanya yang terselip rasa kesal, lantaran Brandon hilang begitu saja ketika mereka baru tiba di perusahaan.


"Ak-aku ada urusan. Sebaiknya kita pergi dari sini." Brandon tidak ingin Carmela mendapati Elie yang masih berada di dalam ruangan tangga darurat. Ia merengkuh pinggul wanita itu, dan membawanya berlalu dari sana. Tetapi tanpa di sadari oleh Brandon, gerak-gerik pria itu mudah terbaca oleh Carmela.


"Aku akan ke toilet. Kau tunggu saja di ruanganku." Sebelum meninggalkan Brandon, Carmela memberikan kecupan di pipi pria itu.


Brandon yang sudah mengiyakan segera melangkahkan kakinya menuju lift untuk mencapai ruangan Carmela. Sementara langkah Carmela bukan tertuju pada toilet, melainkan melangkah menuju ruang tangga darurat dimana Brandon terlihat keluar dari sana.


Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. Benar dugaannya jika pria itu diam-diam bertemu dengan Elie. Terbukti wanita jalaang itu baru saja keluar dari sana, pikirnya.


"Ternyata kau masih saja tidak tau malu ingin mengambil Brandon dariku!" Carmela dengan angkuh melayangkan tatapan meremehkan.


Aurelie berdecak malas, baru saja ia meladeni buaya pengecut dan saat ini ia harus kembali meladeni ular betina. "Apa Nona Carmela lupa siapa yang mengambil lebih dulu?" Dan Aurelie membalikkan serangan Carmela dengan nada yang tenang.


"Kau...!!" Dan hal itu menyulutkan kekesalan Carmela. "Dasar jalaang tidak tau malu! Sudah tau Brandon hanya milikku, kau masih saja ingin menggodanya!" teriaknya.


Mendengar perkataan Carmela, Aurelie tiba-tiba tertawa renyah. Ya, ucapan wanita itu sungguh menggelitik perutnya.


"Aku tidak membutuhkannya, jadi kau bisa mengambilnya atau mengurungnya menjadi bonekamu!" Masih dengan tawanya, Aurelie melewati Carmela begitu saja. Hingga membuat Carmela tidak terima.


"Kau....." Tangan Carmela terulur ke atas untuk menarik rambut Aurelie, namun dengan tanggap Aurelie menahan pergelangan tangan Carmela.


"Maaf Nona Carmela, jangan mengotori rambutku. Meski perawatan rambutku tidak semahal perawatan yang kau lakukan untuk rambutmu, tetapi rambutku tidak mudah disentuh oleh siapapun, termasuk kau!" Kemudian Aurelie melemparkan tangan Carmela dengan kasar, sehingga sukses membuat wanita itu memekik. Tangannya nyaris saja terkilir akibat hentakan wanita itu.


Meninggalkan Carmela yang memekik kesakitan. Aurelie melenggang pergi dengan perasaan penuh kepuasan. Kali ini ia tidak akan diam saja seperti sebelumnya. Terlebih wajah kesal Carmela menjadi hiburan tersendiri baginya. Dan dengan tidak tau malu wanita itu mengatai dirinya jalaang. Jalaang teriak jalaang, sungguh menggelikan. Di sepanjang melangkah, Aurelie terus saja bergumam dan mengutuk Carmela serta Brandon.


"Aku pasti akan membalasmu, wanita jalaang!" Kepergian Aurelie menyisakan rasa dendam di hati Carmela. Wanita itu tidak akan membiarkan Elie hidup dengan tenang.


To be continue


Brandon Sandler



Carmela Born



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...