The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Aku Saja Yang Mendekat



Untuk seketika Mikel dibuat tidak bisa berkedip saat melihat wanitanya yang tertawa begitu lepas kepadanya. Ia menikmati wajah cantik tanpa cacat itu yang masih tidak menyurutkan tawanya.


"Perutku sakit sekali." Hingga pada akhirnya tawa Aurelie benar-benar memudar. "Ah, sudah waktunya aku harus pergi. Aku tidak peduli kau izinkan atau tidak, jadi sampai jumpa lagi Tuan Mikel." Dengan sengaja Aurelie menyulutkan kekesalan pria itu, ia melambaikan tangan sebelum kemudian melangkah.


Namun Mikel tidak kunjung melepaskan wanitanya itu disertai senyum yang terpatri di wajahnya. "Tidak Sweetheart, tetaplah disini!" Perkataannya itu seolah mengandung sebuah perintah.


"Kau benar-benar membuatku kehilangan kesabaranku!" Aurelie mengeram amarahnya, antara kesal dan gemas sekaligus. Ingin sekali menjambak bulu-bulu di rahang Mikel. "Jangan salahkan aku jika nantinya aku melukai salah satu bagian tubuhmu!" serunya lantang.


"Kalau begitu aku ingin melihat bagaimana caramu melukaiku." Tentu Mikel menanggapinya dengan senang hati. Ia ingin merasakan langsung ilmu bela diri wanitanya, tidak peduli jika nantinya akan mengacaukan ruangan kerja yang selalu tampak rapih dan bersih.


"Baiklah, jika kau menantangku." Aurelie melemparkan tasnya ke atas sofa, ia kemudian mendekat lebih maju.


Sungguh, Mikel tidak sabar ingin segera melihat aksi wanitanya. Bahkan ia begitu semangat menggulung meja kerjanya hingga sikut dan mengendurkan dasinya.


"Come on Sweetheart, aku akan menangkapmu," gumamnya tersenyum.


Aurelie memicingkan matanya, meskipun ilmu bela dirinya tidak sebanding dengan Arthur dan Austin. Akan tetapi jika hanya melawan satu pria tidaklah begitu sulit. Aurelie lalu melayangkan tinjunya tepat ke wajah Mikel dan dengan cepat Mikel menghindarinya.


"Wow, kau sangat seksi, Sweetheart." Mikel mengagumi kecepatan serangan untuk ukuran seorang wanita anggun seperti wanitanya.


"Cih, dasar mesum!" pekik Aurelie kesal. Dan di tanggapi kekehan oleh Mikel.


Dan Aurelie kembali menyerang, kini serangannya diberikan secara bertubi-tubi. Mikel cukup mengakui gerakan lihai Aurelie, beruntung wanita itu mengenakan celana jeans sehingga memudahkannya bergerak menyerang Mikel yang masih nampak tenang. Tidak ada perlawanan dan ia hanya cukup menerima tanpa membalikkan serangan, karena khawatir akan melukai wanitanya.


Aurelie kesal lantaran serangannya selalu gagal mengenai wajah atau perut pria itu. Bahkan serangan pada kakinya pun melesat.


"Kau....." Kepalan tinjunya kini terarah pada sisi kiri Mikel, pria itu reflek mundur tetapi justru membuat Aurelie kehilangan keseimbangan dan nyaris terjungkal ke sofa.


Dengan satu tangannya, Mikel menarik lengan wanitanya. Namun ternyata Aurelie kembali menyerangnya hingga jujur saja Mikel gemas bukan main, sebab gerakan wanitanya begitu lincah.


"Sweetheart, apa kau tidak lelah?" tanyanya menepis kepalan tinju Aurelie.


"Jangan banyak bicara!" Aurelie tidak peduli, yang ia pikirkan ia harus bisa menghajar bagian tubuh pria menyebalkan itu. Hingga satu pukulannya nyaris mengenai hidung Mikel, namun lagi-lagi Mikel menangkap hingga berhasil mengunci kedua tangan Aurelie di punggung wanita itu.


"Kau...." Sekuat apapun Aurelie meronta dan berupaya melepaskan tangannya, Mikel tidak semudah itu membiarkannya.


"Bagaimana Sweetheart, apa kau sudah puas menyerangku, hm?" katanya menyeringai penuh. Aurelie dapat merasakan hembusan napas Mikel ketika pria itu berbisik tepat di belakang telinganya. "Kau bebas menyerangku, tapi tidak seperti ini," bisiknya sensual. Menyerang dalam arti saling bergulat di atas ranjang, pikirnya.


Tubuh Aurelie bergetar seketika, merasakan bibir Mikel mendarat di tengkuk lehernya yang jenjang. Terekspose begitu sempurna, putih dan mulus sehingga membuat Mikel tidak tahan untuk tidak menerjang leher jenjang wanitanya itu.


"Kau..... Apa yang baru saja kau lakukan?!" serunya pada saat Mikel baru saja menjauhkan wajah dari lehernya setelah meninggalkan bekas kemerahan disana.


"Tentu saja memberikan tanda kepemilikan," sahut Mikel terkekeh.


"Kau sudah gila?!" Dan Aurelie semakin meronta-ronta minta di lepaskan. Bahkan kakinya sengaja menerjang kaki Mikel, namun sayangnya pria itu berhasil menghindar tanpa melepaskan kedua tangannya yang masih terkunci. "Pria mesum, sialan!" umpatnya kesal. Tidak peduli yang sedang ia hadapi adalah seorang presdir.


Mikel terkekeh, tidak mengindahkan wanitanya yang mengumpati dirinya berulang kali. Justru terdengar merdu dan indah menurutnya. Hampir 11 tahun ia merindukan makian dan gerutu wanitanya setiap kali sedang kesal dengannya.


Drrttt


Drrttt


Suara ponsel yang tiba-tiba berdering, mengguncang telinga keduanya. Sudut mata Aurelie serta Mikel tersita ke arah sana, dimana ponsel itu teronggok pasrah di atas sofa. Karena tas yang terbuka membuat isinya berhamburan, termasuk ponsel miliknya.


"Ck, biarkan aku mengambil ponselku," pintanya lirih. Ia yakin jika yang menghubunginya adalah Sang Daddy.


"Tidak." Mikel menggeleng.


"Please.... Daddy pasti mencariku." Memohon penuh dengan suara yang nyaris panik. Karena jika panggilan Daddy Xavier tidak terjawab olehnya, maka seisi dunia akan gempar akan perintah Daddy-nya untuk mencari keberadaan dirinya. Berlebihan bukan? Tapi itulah Daddy tercintanya.


Mikel terlihat tengah menimbang-nimbang. Ia tidak tau pasti kenapa Paman Xavier menghubungi Aurelie. Tetapi jika mengingat karakter pria setengah baya yang masih tampan itu membuat Mikel bergidik ngeri, bisa-bisa wanitanya dikurung di menara jika sampai mengabaikan panggilan Daddy-nya, pikirnya.


"Tunggulah, aku akan mengambilkannya," ujar Mikel pada akhirnya mengalah.


Senyum Aurelie melebar, selain bisa menjawab panggilan tersebut. Ia juga memiliki kesempatan untuk mencuri satu pukulan untuk Mikel. Namun dugaan wanita itu melesat, Mikel meraih ponselnya tanpa melepaskan tangan wanita itu. Ia ikut turut membawa serta Aurelie mundur satu langkah menuju sofa.


Dengan cepat, Mikel meraih benda pipih itu. Ia nampak melihat nama yang di layar ponsel wanitanya. Ternyata benar, yang menghubungi adalah Paman Xavier.


"Dad...." katanya memberitahu.


Ponsel yang sebelumnya sunyi kini kembali berdering. Rupanya Daddy Xavier tidak menyerah jika sang putri belum menjawab panggilan darinya.


Mikel membantu menggulir tombol hijau pada layar ponsel wanitanya itu. "Hallo Dad...." ujar Aurelie begitu ponsel itu berada di daun telinganya.


"Dimana hm? apa kau sedang sibuk?" tanya Daddy Xavier lembut.


"Tidak Dad. Elie sedang di MJ Corp, baru saja menyelesaikan pemotretan," sahutnya kembali. Sedikit berbohong. Karena pemotretan itu sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Waktunya berlalu begitu saja karena pria mesum itu telah menahan dirinya.


"Pulanglah ke mansion. Mommy mu merindukanmu," ucapnya to the point.


"Baik Dad." Aurelie mengiyakan. Karena rencananya setelah kembali ke agensi, ia pun akan pulang ke Mansion.


Tiba-tiba saja Mikel menjauhkan ponsel tersebut dari daun telinga Aurelie. "Hallo Paman. Perkenalkan aku Mikel, menantu Paman. Aku sungguh tidak sabar ingin segera menikahi putrimu."


Deg


Jantung Aurelie seolah mencelos dari tempatnya, ketika dengan gilanya Mikel memperkenalkan diri. Terlebih dengan perkenalan yang dibuat-buat, menyebut dirinya sebagai menantu.


"Kau....! Kenapa kau bicara seperti itu?!" bentak Aurelie.


"Apa? Memang sudah jelas bukan, jika aku akan menjadi menantunya dan sudah pasti menjadi suamimu." Mikel menyematkan senyuman percaya diri.


"Ck, kau benar-benar tidak waras!" Aurelie yang berusaha sekuat tenaga meronta, akhirnya berhasil meloloskan diri. "Kenapa bicara seperti itu, astaga.... Kau!!!" Sungguh rasanya ingin mencakar wajah tampan itu menjadi tidak berbentuk sempurna seperti sebelumnya.


Aurelie nampak kelimpungan, pasalnya jika sampai Daddy-nya itu sampai mengintrogasi dirinya. Tamatlah riwayatnya, selama ini Arthur yang selalu menyelamatkan dirinya. Dan kali ini, pria bodoh di hadapannya justru menjerumuskannya dalam masalah.


"Aku hanya bercanda! Lihatlah, panggilannya sudah terputus sejak tadi." Mikel menunjukkan ponsel Aurelie yang memang benar-benar sudah tidak terhubung dengan Daddy Xavier.


Entah Aurelie harus lega atau justru merasa kesal. Presdir gila sekaligus mesum itu benar-benar membuat darahnya mendidih berulang kali. "Menyebalkan cih!" Dan Aurelie mendorong dada Mikel, namun dengan segera Mikel menangkap lengannya lalu menariknya dengan kuat.


Cup


Kecupan singkat mendarat di bibir Aurelie, hingga membuat wanita itu mematung seketika. "Ini ponselmu," ujarnya sembari meletakkan ponsel di tempat tangan Aurelie. "Kau boleh pergi, Sweetheart. Maaf telah menahanmu terlalu lama disini," sambungnya tersenyum.


Namun Aurelie masih diam mematung, seolah jiwanya terlah tertarik ke alam lain. Perlakuan Mikel terhadapnya benar-benar tidak bisa ia tebak.


"Kenapa diam saja?" Kening Mikel berkerut dengan penuh teguran. "Pergilah, jangan membuat Daddy-mu mencemaskanmu." Kemudian tangannya dengan lembut memberikan usapan di puncak kepala Aurelie.


Tidak ada jawaban dari Aurelie. Wanita itu mengerjap berulang lagi. Nyaman? Atau ia hanya terlalu terkejut? Karena saat kecupan singkat itu membuat jantungnya berdesir. Namun seketika Aurelie kembali tersadar.


"Ba-baiklah...." Memang itu yang ia inginkan, segera keluar dari terkaman macan mesum. Buru-buru Aurelie memasukan kembali barang-barang yang berhamburan ke dalam tas miliknya, termasuk ponsel.


"Bawa kembali kotak berlian itu. Aku memberikan khusus untukmu. Jika kau menolak, maka aku akan membuat teman-temanmu untuk mengganti rugi." Mikel melayangkan sebuah ancaman. Tangannya menyilangkan di depan dada. Ia tidak peduli, karena benda berkilauan itu harus kembali kepada pemiliknya.


Dengan kesal, Aurelie pun memasukkan benda kotak berwarna pink ke dalam tasnya. Lalu tanpa berpamitan atau pun menoleh, ia melenggang keluar dan segera lenyap dari pandangan Mikel yang masih menatap jejak kepergiannya.


"Ck, menggemaskan sekali." Tiada hentinya senyum itu disematkan oleh Mikel. Sosok wanitanya sudah menghilang pun, senyum itu masih bertahan.


"Dasar mesum... tidak waras!" Aurelie harus menahan malu saat Laura menatap penuh selidik akan penampilan dirinya. Ia menggerutu sejak menekan tombol lift, bercermin pada pintu lift yang samar-samar memantulkan bayangannya. Namun tetap saja tidak bisa melihat dengan jelas penampilannya saat ini.


Ting


Pintu lift terbuka dan Aurelie nyaris bertabrakan dengan seorang wanita cantik serta seksi. Untuk sejenak mereka saling memandang, saling meneliti penampilan wanita yang berdiri di hadapan mereka. Aurelie tersenyum tipis sebagai bentuk sapaan, meskipun tidak dibalas oleh wanita itu. Tidak peduli, Aurelie segera masuk ke dalam lift begitu wanita angkuh itu menapaki kakinya menuju ruangan entahlah. Disana hanya ada ruangan presdir mesum serta ruangan asisten pria itu, pikirnya.


***


Tanpa menebarkan senyum, Helena berjalan anggun menuju ruangan Mikel. Ia sempat bingung berpapasan dengan seorang wanita yang ia akui kecantikannya. Tetapi yang mengganggu pikirannya adalah, untuk apa wanita itu berada di lantai yang dikhususkan presdir serta karyawan tertentu saja.


"Laura....." Dengan terpaksa Helena menghentikan langkahnya. Tidak ada salahnya jika ia harus bertanya kepada Laura.


Laura yang sudah menyadari keberadaan Helena, mengumbar senyumnya. "Ada apa Nona?" tanyanya.


"Siapa wanita tadi?" Helena langsung bertanya tanpa menyapa.


"Wanita cantik itu Nona?" Laura kemudian mengikuti telunjuk Helena yang terarah pada lift.


"Y-ya...." Sebenarnya malas sekali mengakui jika wanita itu cantik.


"Ah, dia adalah Nona Elie, model yang sedang bekerjasama dengan MJ Corp."


Helena mengangguk seolah paham. "Lalu kenapa dia berada di lantai khusus presdir? Ada kepentingan apa wanita itu datang kemari?" tanyanya mendesak.


Laura mengangkat kedua bahunya. Ia teringat akan perkataan Asisten Nathan, bahwa ia tidak perlu mencampuri urusan Tuan Mikel jika tidak ingin dipecat. "Maaf, saya tidak tau Nona. Kalau begitu saya ingin kembali melanjutkan pekerjaan saja," jawabnya menghindari masalah yang akan terjadi nanti.


Helena berdecih, lalu menghentakkan kaki, sebelum kemudian diayunkan kembali menuju ruangan Mikel. Tangannya sudah mendorong pintu, hingga perlahan tubuhnya melesat masuk ke dalam sana.


"Mikel...." Suaranya mengalun indah, tetapi tidak bagi pria yang meluruskan pandangan ke bawah. Lebih tertarik pada pekerjaan ketimbang meladeni wanita cantik yang selalu membuat pria-pria diluar sana bertekuk lutut, kecuali Mikel.


Mikel begitu enggan melihat wanita itu. Terlebih menyapa, fokusnya hanya tertuju pada setumpukan dokumen yang ia abaikan karena adanya Aurelie.


"MIKEL...!!" panggilnya kembali ketika tidak diberikan respon oleh Mikel dengan suara yang meninggi.


"Apa kau tidak bisa melihat jika aku sedang sibuk, hm?!" sahutnya mendongak sejenak hanya agar mulut wanita itu tidak membeo.


"Aku tau." Dan Helena tersenyum, ia kemudian melangkah menuju sofa, lalu membenamkan tubuhnya disana. "Kalau begitu aku akan menunggumu disini. Kita akan makan siang bersama."


"Kau mau menungguku atau tidak itu terserah. Aku masih banyak pekerjaan. Sebaiknya jangan menggangguku!" ujarnya dingin.


"Aku tidak akan mengganggumu Mikel. Aku tetap akan menunggumu disini," cicit Helena. Jauh-jauh datang dari Paris, tetapi sampai saat ini mereka bahkan belum pernah makan siang bersama.


Mikel menghela napasnya kasar. Ia memijat sejenak pangkal hidungnya. Terlalu lelah mendengar segala ocehan wanita itu.


"Terserah. Kalau kau tidak mau pergi dari sini, maka biar aku yang pergi!" Mikel beranjak dari duduknya. Langkahnya mengayun penuh amarah yang tertahan. Baru saja ia merasakan senang, sudah terusik oleh wanita menyebalkan.


"Mikel tunggu! Kau mau kemana?" Percuma saja Helena berteriak karena Mikel mengabaikannya. Bahkan melenggang keluar ruangan begitu saja tanpa ingin menatap dirinya. Wanita itu tersenyum getir melihat pintu yang baru saja tertutup rapat.


"Ck, jika kau terus menjauhiku, maka aku saja yang mendekat," gumamnya penuh tekad. Tidak peduli pria itu menganggap dirinya seperti apa, karena apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan.


To be continue


Babang Mikel



Elie



Helena



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...