The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tidak Terjadi Apapun



Keesokan paginya



Veronica yang tertidur pulas mengerjapkan kedua matanya. Ia berusaha menerima cahaya yang menyilaukan pandangannya. Dapat dilihat dari jendela kabin jika matahari sudah meninggi. Wanita itu berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi karena seingat dirinya, ia berada di Bar dan entah kenapa pagi ini ia justru sudah berada di kabin.


"Kenapa aku disini?" tanyanya pada diri sendiri dengan heran. Hingga kemudian potongan ingatan akan dirinya bersama Darren melintas. Seketika kedua matanya membola penuh. "Astaga, apa yang sudah aku lakukan?" Veronica menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan ia terpekik karena hanya mengenakan pakaian dalam saja. "Apa yang terjadi denganku? Apa seseorang sudah memperkosaku?" Wanita itu menjadi frustasi, menjambak rambutnya yang berantakan.


"Tidak ada yang terjadi, Nona."


Suara seorang pria yang duduk di sofa mengalihkan perhatian Veronica, wanita itu kembali menerima serangan kejutan di hari sepagi ini.


"Tuan Darren, apa yang kau lakukan padaku?" seru Veronica tidak terima. Ia menuntut penjelasan akan keberadaan pria itu di dalam kabin bersamanya dengan tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Terlebih pria itu pun bertelanjang dada. "Kenapa kau tidak memakai pakaian? Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku?"


Darren meringis. Sepagi ini ia sudah mendengar suara seorang wanita yang begitu cerewet. Ia kemudian beranjak berdiri. "Apa Nona tidak ingat apapun?" tanyanya dan dijawab gelengan kepala oleh Veronica. Wajah wanita itu semakin kacau saja, ia cemas jika memang mereka benar-benar telah melakukannya.


"Pertama, tidak ada yang terjadi. Kedua, Nona muntah dan mengenai pakaianku. Yang ketiga, Nona membuka gaun Nona sendiri karena merasa tidak nyaman dan sesak. Hanya itu yang terjadi." Darren menjelaskan dengan gamblang. Ia berkata jujur tanpa ada yang terlewati.


Kedua mata Veronica mendelik, tidak percaya begitu saja. Sehingga membuat Darren menghela napas jengah.


"Lalu kenapa kau disini? Kau bisa langsung pergi setelah mengantarku." Ya, Veronica sebenarnya ingat pada saat ia muntah dan mengenai pakaian pria itu, hanya saja ia tidak ingat apapun lagi setelahnya.


"Aku berniat pergi setelah meminjam toilet untuk membersihkan diri. Tapi Nona menarikku dan tanpa sengaja kancing kemejaku terlepas. Ponselku tertinggal di kabin, sehingga tidak bisa menghubungi salah satu orangku untuk membawakan pakaian ganti," jelasnya. "Lalu apa pandangan orang-orang saat melihatku keluar dari kamar seorang wanita dengan bertelanjang dada? Tidak hanya akan mencoreng nama baik Nona tetapi nama baikku sebagai orang kepercayaan Keluarga Romanov akan dipertanyakan."


Veronica berusaha mencerna. Benar, apa yang dikatakan oleh Darren. Kabin miliknya dapat dilintasi oleh penghuni lainnya. Berbeda jika berada di kabin khusus VIP yang hanya dikhususkan untuk keluarga pemilik acara.


"Ta-tapi kau bisa menggunakan ponselku untuk menghubungi orangmu." Sepertinya Veronica masih tidak bisa menerima alasan Darren.


"Kode sandi. Aku tidak mengetahuinya."


"Ah....." Veronica tidak dapat berkata kembali. Ponselnya memang terpasang kode sandi tanpa sidik jarinya.


"Berikan ponselmu, aku akan menghubungi orangku untuk membawakan pakaian ganti," ujar Darren.


Veronica mengangguk. Ia menarik selimutnya lebih tinggi untuk menutupi bagian dadanya, kemudian ia meringsut untuk meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. "Ini. Cepat hubungi orangmu." Wanita itu menyodorkan ponsel miliknya, rasanya ia semakin kesulitan bernapas berada di dalam satu ruangan dalam keadaan dirinya yang nyaris naked.


Buru-buru Darren menghubungi seseorang begitu ponsel wanita itu berada di dalam genggamannya. Kemudian memberikan ponselnya kembali kepada Veronica setelah sudah berbicara pada anak buahnya di seberang sana.


Hening


Hanya itu yang melingkupi dalam kabin yang tidak begitu besar. Veronica membuang pandangannya ke arah lain, rasanya ia tidak ingin ketahuan jika jantungnya tengah berdetak tidak seirama.


Mendengar suara grasak-grusuk di atas ranjang, Darren hanya menoleh sekilas.


"Aku ingin ke kamar mandi, kau berbaliklah." Baru saja Darren ingin bersuara, tetapi Veronica lebih dulu berbicara.


Darren mengerti, ia segera membalikkan tubuhnya membelakangi wanita itu. Dan seketika Veronica buru-buru beranjak dari ranjang, namun ia memasang kewaspadaan jika mungkin saja Darren akan berbalik badan.


BRAK!


Mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup sudah dapat dipastikan jika wanita itu sudah berada di dalam sana. Darren dapat bernapas lega, jujur saja berada di dalam ruangan yang sama dengan wanita itu membuatnya tidak nyaman.


Dan di dalam kamar mandi, Veronica nampak cemas, ia ragu untuk meminta tolong kepada Darren. Tetapi tidak ada pilihan lain, tidak mungkin ia keluar dalam keadaan tanpa pakaian.


Darren segera menoleh ketika mendengar suara Veronica. "Ada apa?"


"Hm, aku ingin minta tolong padamu." Tidak ada pilihan lain, akhirnya ia memutuskan untuk meminta tolong kepada pria itu.


"Ya, katakan saja," sahut Darren datar.


"Tolong ambilkan pakaian dalamku disana." Sorot mata Veronica menunjukkan dimana letak keberadaan pakaian dalamnya.


Darren mengikuti arah pandang wanita itu. Ia mendadak kehilangan oksigennya. Terlihat jelas pakaian dalam wanita itu yang berada di atas meja bersisian dengan tas milik wanita itu. Dan wait? Ia harus menyentuh benda yang seumur hidupnya tidak pernah ada dalam bayangannya.


Jari telunjuk Darren menunjuk underwear wanita itu, lalu menunjuk dirinya sendiri. Sebagai ungkapan, apa harus dirinya yang mengambil benda itu?


Veronica menghela napas. "Jika bukan kau siapa lagi? Apa aku harus bertelanjang untuk mengambilnya?"


Mendengar kata telanjang, tubuh Darren mendadak menegang. Underwear dan wanita telanjang adalah sesuatu yang tidak pernah masuk ke dalam list pengalamannya. Selama menjadi tangan kanan kepercayaan Arthur, ia tidak pernah mendapatkan perintah untuk dua hal tersebut, sebab Arthur dan dirinya tidak jauh berbeda.


"Aku akan mengambilnya." Darren melangkah untuk mengambil benda itu. Ia menyentuhnya. Oh God, tangannya yang selalu memegang senjata tajam dan senjata berbahaya lainnya kini ternodai oleh benda berbentuk kacamata itu dengan cup yang lumayan besar. Dengan wajah datarnya, Darren memberikan benda tersebut kepada Veronica.


Wanita itu segera mengambilnya lalu kembali menutup pintu kamar mandi. Di dalam sana ia terus terkekeh. "Kenapa dia segugup itu? Apa dia tidak pernah menyentuh ini?" Ia memandangi underwear sepasang itu. Sejak tadi Veronica memang memperhatikan gelagat Darren yang nampak tidak biasa menyentuh pakaian dalam wanita.


"Cih, ternyata di jaman seperti ini masih ada pria yang tidak tergiur dengan wanita." Entahlah, Veronica merasa aneh jika pria itu tidak tergoda dengan wanita yang bertelanjang. Bahkan mereka semalaman di ruangan yang sama tanpa melakukan apapun. "Astaga, sadarlah Vero. Kenapa kau ingin dia melakukan sesuatu pada tubuhmu?" Wanita itu menepuk kedua pipinya ketika tersadar apa yang telah ia pikirkan. Entah sejak kapan dirinya berubah menjadi wanita mesum.


Setelah berpakaian lengkap dan menyisir rambut dengan jemarinya, Veronica bergegas keluar dari kamar mandi. Samar-samar ia mendengar suara seseorang yang sedang berbicara, itu artinya orang suruhan Darren sudah datang membawakan yang diinginkan pria itu.


Baru saja melangkah, Veronica dibuat terpaku dengan tubuh tegap Darren. Ah, sedari tadi ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, sehingga tidak begitu menikmati keindahan tubuh kekar pria yang menghabiskan malam bersama tanpa melakukan apapun. Tentu tidak terjadi apapun dengan mereka, Veronica tidak sebodoh dan sepolos itu. Bagian intinya tidak sakit dan tidak tercium aroma bekas percintaan.


"Bagaimana bisa aku melupakan perasaanku jika pria itu seindah ini." Otak liar Veronica mulai menari-nari. Terlebih hanya melihat punggung kekar berotot Darren sudah membuat otaknya bertraveling kemana-mana.


"Apa yang kau lihat, Nona?"


Veronica masih tercengang menatap Darren, wanita itu belum sadar jika kini pria di hadapannya sudah mengenakan pakaiannya. "Tentu saja melihat tubuhmu yang berotot." Seperti wanita bodoh, Veronica tidak dapat menyembunyikan rasa kekagumannya. Namun seperkian detik kemudian ia tersadar apa yang baru saja ia katakan. "Eh, ah... maksudku, kau sudah berpakaian. Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Aku tidak ingin ada orang lain yang melihatmu keluar dari kabin-ku."


"Memang itu yang ingin aku katakan," jawab Darren masih memasang wajah datar, tetapi pandangnya tidak sengaja meneliti penampilan Vero. "Sebaiknya benarkan pakaian Nona sebelum keluar." Setelah mengatakan hal itu, Darren segera berlalu dari sana.


Veronica terkesiap, ia melihat pakaian yang dikenakannya. Seketika wajahnya merona malu, ternyata ia belum memasang kancing dress dengan benar sehingga memperlihatkan dua gundukan yang menyembul. "Haahh, aku malu sekali." Ia mendesahkan napas kasar. Bagaimana nanti ia harus menunjukkan wajahnya di hadapan pria itu.


To be continue


Darren




...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...