The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Hallo Love?



Siang ini Arthur tampak lebih segar setelah hampir dua minggu terlihat muram dan penuh aura kegelapan. Apa yang baru saja diutarakan kepada Daddy-nya cukup melegakan hati, ternyata tidak seburuk itu berkata dengan jujur mengenai perasaannya. Terbukti jika Daddy Xavier menghargainya dan bahkan mendukung penuh, tidak peduli wanita itu berasal dari mana. Kaya dan miskin, kedua orang tuanya tidak memandang demikian.


"Ar, Mr. Okada baru saja datang." Suara Darren yang berjalan di belakangnya membuyarkan lamunan Arthur. Darren baru saja mendapatkan pesan singkat dari sekretaris Mr. Okada.


Arthur tidak menyahut, hanya kepalanya terlihat mengangguk sebagai jawaban. Langkahnya dipercepat begitu tiba di depan private room. Arthur masuk terlebih dulu di susul Darren, kedatangannya disambut antusias oleh pria paruh baya dari Jepang tersebut.


Pembicaraan bisnis bisa dikatakan berjalan dengan lancar. Mr. Okada tidak seburuk yang dipikirkan. Meskipun berulang kali mereka adu pengetahuan mengenai sebuah proyek yang akan perusahaan mereka jalani. Namun pada akhirnya Mr. Okada menerima usulan dari Arthur. Sudut mata yang dihiasi guratan kasar terlihat membetuk garis tipis, menandakan jika Mr. Okada tersenyum di balik wajahnya yang sedikit angkuh dan alot.


Dua jam lamanya bersama Mr. Okada dan menyelesaikan makan siang. Kedua pria berbeda generasi itu saling pamit undur diri. Mr. Okada harus kembali ke Jepang hari ini juga, tetapi ia berjanji akan kembali mengunjungi London dan meminta Arthur untuk menemani dirinya. Arthur menyanggupi, seperti itulah Mr. Okada jika sudah menyukai kepribadian seseorang, maka akan terus berusaha menempel. Akan tetapi jika sudah membenci, pria tua itu akan menolak mentah-mentah kerjasama antar perusahaan, meskipun akan menguntungkan kedua belah pihak.


Darren mengantarkan Mr. Okada hingga ke pintu, sementara Arthur memilih berada di balkon untuk sejenak menyegarkan pikirannya. Langkah Darren yang menghampirinya menyelinap di indera pendengaran Arthur.


"Der, kau sudah mendapatkan nomor ponsel Helena?" tanyanya tanpa menoleh, menatap indahnya Pusat Kota London dari ketinggian Gong Restaurant, Shangri-La The Shard Hotel. Bahkan dari posisinya saat ini menyuguhkan London Bridge yang di bawahnya mengalirkan Sungai Thames dengan arus yang menenangkan.


Memang sejak pagi, Darren ditugaskan untuk menghubungi anak buah yang tengah berusaha mencari nomor ponsel wanita itu. Berharap jika mereka berhasil dan tidak perlu melihat Arthur yang uring-uringan dengannya setiap saat.


Darren merogoh ponsel di dalam saku jasnya, bertepatan dengan notifikasi pesan masuk dari satu anak buah. Senyum Darren tersungging di sudut bibir, Dewi Fortuna berpihak pada Arthur, sebab anak buah mereka berhasil mendapatkan nomor ponsel Helena.


"Anak buah kita baru saja mengirim pesan. Mereka berhasil mendapatkan nomor ponsel Nona Helena yang baru." Tidak hanya Darren, sudut bibir Arthur pun nampak melengkung tipis.


"Berikan padaku." Sungguh, Arthur sudah tidak sabar ingin mendengar suara wanita itu.


"Mereka mengatakan jika Nona Helena hanya menggunakan nomor ponsel itu ketika siang dan malam hari. Sepertinya Nona Helena benar-benar tidak ingin dilacak keberadaannya oleh siapapun." Itulah yang Darren tangkap dari pesan salah satu anak buah. Darren kemudian menyodorkan ponselnya kepada Arthur. Pria itu meneliti nomor ponsel tersebut, sebelum kemudian menyalin di dalam ponselnya dan mengembalikan ponsel tersebut kepada Darren.


"Aku akan mencoba menghubunginya, Der. Mungkin dia mengaktifkan nomornya." Arthur benar-benar melakukannya, menekan nomor yang baru saja ia save. Terdengar nada tunggu pada sambungan teleponnya, bertanda jika nomor ponsel wanita itu dalam keadaan aktif. Buru-buru Arthur mengaktifkan loudspekear


"Kau dengar Der, panggilanku terhubung," ucapnya mengulas senyum tipis. Darren hanya mengangguk dan berada pada posisinya sembari memperhatikan sekitar. Ia tidak ingin menelinga pembicaraan mereka.


Arthur menatap hamparan Sungai Thames di bawah sana, menunggu seseorang segera menjawab panggilannya. Hingga pada nada tunggu keempat terdengar seseorang di sebrang sana mengangkat panggilannya. Arthur nyaris dibuat kesal karena wanita itu terlalu lama menjawabnya. Namun setelah dijawab, tidak ada sahutan selama beberapa saat.


"Hallo Love...?" Arthur lebih dulu mengeluarkan suara. Entah siapa yang mengangkatnya, ia tidak peduli. Namun ia sangat yakin jika yang menjawab tidak lain ialah Helena.


"Who is this?" Terdengar suara parau dan lembut menanyakan siapa yang tengah menghubunginya. Benar, Arthur sudah menduga jika suara yang terdengar adalah suara Helena. Suara khas wanita itu sangat berbeda di telinganya.


"Ouch, apakah benar-benar sudah selama itu?" Kesal rasanya, ternyata wanita itu tidak mengenali suaranya. Padahal Arthur sudah sengaja memanggil wanita itu dengan 'Love' seperti sandiwara yang pernah mereka lakukan. Namun lihatlah, hanya dalam kurun waktu dua minggu saja wanita itu sudah melupakan dirinya.


Diam sejenak. Mungkin mendengar suara yang dikenalnya membuat wanita itu sedikit terkejut. "Arthur....?" gumamnya. Terselip nada tidak percaya jika yang menghubungi adalah Arthur.


"Ehm, akhirnya kau ingat padaku."


Lama menunggu jawaban, namun tidak ada sahutan kembali di seberang sana. Kening Arthur mengernyit dalam, ia melihat layar ponselnya yang sudah dalam keadaan mati. Wanita itu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Shiit!! Dia mematikannya, Der!" umpatnya kesal. Arthur mencoba menghubungi Helena sekali lagi, namun sialnya nomor ponsel wanita itu sudah tidak aktif. Darren hanya menoleh sekilas, lalu ia bisa apa jika wanita itu tidak ingin bicara dengan siapapun.


"Mungkin Nona Helena terkejut, Ar. Dia dalam masa pemulihan, psikisnya belum pulih benar." Hanya itu kalimat untuk menenangkan Arthur. Setidaknya Arthur bisa mengerti dan meredam amarahnya.


"Dia tidak gila, Der!" seru Arthur tidak terima.


"Dan aku tidak mengatakan jika Nona Helena gila. Dia dalam pengaruh obat halusinasi yang tinggi dan butuh pemulihan selama beberapa minggu."


Arthur menghela napas kasar, meskipun yang dikatakan Darren benar. Tetapi ia sudah terlanjur meradang. Untuk mengatur napasnya yang memburu kesal, Arthur mencengkram kuat pembatas balkon. Mencoba mengerti dan memberi waktu wanita itu dalam masa pemulihan.


"Sebarkan beberapa anak buah untuk mengawasinya!" titahnya tanpa bisa dibantah.


"Sudah aku lakukan, Ar." Benar, sudah banyak anak buah yang menyebar hampir di seluruh penjuru Kota Paris dan sekitar rumah sakit, tempat Helena di rawat disana. Dan itu atas perintah Arthur beberapa hari yang lalu.


"Dan satu hal lagi, awasi Jorge. Apapun yang dia lakukan harus dilaporkan padaku!"


"Ehm, saat ini mereka sedang mengawasi kediaman Jorge," sahut Darren.


Arthur tidak akan melepaskan Jorge dan Margareth begitu saja. Jika semua penyelidikannya terbukti keterlibatan mereka, ia tidak akan tinggal diam dan akan memberikan mereka pelajaran.


"Tuan Arthur?" Dan wanita itu memanggil Arthur yang baru saja melintasi dirinya.


Arthur dan Darren menghentikan langkah mereka. Lalu keduanya menoleh serentak. Kedua alis Arthur bertaut dalam ketika melihat sosok wanita di hadapannya itu. Sangat tidak asing.


"Akhirnya kita bertemu lagi."


Arthur tidak menyahut sapaan wanita yang berseru senang itu. Nyatanya ia gagal mengingat wanita di hadapannya.


"Kita pernah bertemu di The Foyer At Claridge's Restaurant," serunya mengingatkan Arthur akan pertemuan mereka kala itu. Namun Arthur tidak bergeming, ia masih tetap tidak mengingat wanita itu.


"Dia Caroline Bonham, adik dari Nona Helena," bisik Darren di belakang Arthur ketika teman sekaligus atasannya itu gagal mengingat.


Arthur bereaksi setelah mendengar bisikan Darren. Ternyata wanita di hadapannya adalah adik dari Helena. "Ada apa?" Namun ia sangat tidak tertarik dengan pertemuan mereka kala itu.


Caroline terkesiap, suara Arthur yang tegas itu membuktikan jika pria itu benar-benar bersikap dingin kepada siapapun, termasuk kepada wanita cantik seperti dirinya.


"A-aku... aku hanya ingin menyapa Tuan saja." Dan pada akhirnya nyali Caroline menciut, tidak berani kembali bersikap seolah mereka kenal dekat.


"Carol? Kau kemana saja...?" Dua wanita tiba- tiba menghampiri Caroline. Namun keduanya terkesiap lantaran terkejut mendapati pria yang tidak asing.


"Tuan Arthur?" Keduanya nyaris tidak percaya dapat melihat sosok pria yang mereka kagumi berada dalam jarak yang begitu dekat.


Arthur bergeming, meladeni Caroline saja ia malas. Terlebih jika ditambah dua wanita lainnya. "Kita pergi, Der!" Dan pada akhirnya Arthur memilih berlalu pergi meninggalkan ketiga wanita yang terperangah karena pesona Arthur.


"Carol? Kenapa kau bisa bersama Tuan Arthur? Apa yang kalian bicarakan?"


"Iya, cepat katakan! Apa kalian saling mengenal?"


Pertanyaan yang memberondong itu membuat Caroline tertawa ringan. Ia masih menatap jejak bayangan Arthur bersama asistennya itu yang perlahan lenyap dari pandangannya.


"Aku akan buktikan kepada kalian jika aku bisa mendapatkannya," seru Caroline berbangga diri. Ia yakin jika sebenarnya Arthur memiliki ketertarikan padanya, hanya perlu gencar mendekati pria itu.


"Apa? jadi kau benar-benar mengenalnya?" cerca kedua temannya sulit percaya.


"Iya, aku mengenalnya," sahut Caroline terkekeh dan berdusta.


"Kalau begitu cepat atau lambat kau akan menjadi Caroline Romanov."


Mendengar marga Romanov tersemat di nama belakangnya membuat angan-angan Caroline semakin melambung tinggi.


"Kalian benar, sebentar lagi namaku akan berubah menjadi Caroline Romanov!"


To be continue


Babang Arthur



Sekuel videonya ada di Instagram Yoona ya 🤗


...Jangan bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...