The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Apa Dia Baik-Baik Saja?



"Orang yang akan mati, tidak berhak mengetahui siapa pembunuhnya!"


Kedua mata Alan Born membeliak, sulit mempercayai apa yang di dengarnya. Jadi kedatangan pria itu untuk membunuh dirinya?


Wajah yang terdapat kerutan disana seketika menampakkan kegusaran, ekor matanya melirik ke arah sekitar. "Kalian kemarilah!" Dan kemudian berteriak memanggil beberapa anak buah yang memang ia tugaskan berada diluar.


Mendengar panggilan dari tuan mereka tentu saja segerombolan para anak buah berlari tergopoh-gopoh menghampiri.


"Ada apa tuan?" tanya salah satunya. Mereka belum menyadari jika terdapat seseorang disana selain mereka.


"Habisi pria itu bagaimana pun caranya!" ujarnya memberi perintah. Sontak saja para anak buah serentak menolehkan kepala, pria tinggi tegap mengenakan menutup mulut melihat mereka satu persatu dengan tatapan dingin.


Para anak buah Alan Born saling pandang dan mengangguk. Sebelum kemudian membentuk garis melingkar mengepung pria berpakaian serba hitam yang tidak lain ialah Arthur.


"Kau berani sekali datang ke wilayah kami!" Perkataan salah satu pria yang nyaris memiliki luka di wajahnya seolah tengah memperingati Arthur jika dirinya mendatangi tempat yang salah.


Arthur tidak menanggapi, hanya melihat mereka satu persatu dengan sengit. Satu lawan 20 tidak masalah baginya, ia akan menghabisi mereka. Sedari tadi pandangan Arthur pun tidak teralihkan dari Alan Born, ia tidak akan membiarkan pria tua itu melarikan diri dengan mudah.


Jleb


"Arrghhhh....." Pisau yang dilemparkan Arthur tepat mengenai bahu kiri Alan Born, pria tua itu memekik kesakitan.


"Aku tidak akan membiarkanmu melarikan diri!" ujar Arthur. Ia melihat jika Alan Born hendak pergi dari sana ketika beberapa anak buah sudah mengepungnya dan mengalihkan perhatiannya. Namun sepertinya dugaan Alan Born salah, Arthur tidak berpaling sedikitpun dari posisi pria tua itu.


"Keparat! Habisi dia!" Sembari menarik pisau yang tertancap di bahunya itu, Alan Born memberikan perintah kepada para anak buahnya.


Mereka mengangguk serentak. Sungguh pergerakan Arthur sangat cepat sehingga mereka tidak bisa membaca saat Arthur melemparkan pisau ke arah tuan mereka.


Suara kegaduhan benda-benda yang jatuh di lantai menggema di dalam sana. Beberapa dari mereka berhasil di tumbangkan. Dan Arthur pun tidak membiarkan Alan Born pergi dari sana.


"Berengsek!" Alan Born kesal lantaran setiap kali dirinya melangkah Arthur selalu melemparkan pisau padanya. "Berapa banyak dia membawa pisau?" Pisau yang baru saja melesat nyaris saja tertusuk pada wajahnya, beruntung wajahnya hanya tergores sedikit saja dan meneteskan darah segar.


Napas Arthur nampak terengah-engah. Ia yang seorang diri tentu saja lebih banyak bergerak untuk menghindari serangan bahkan menumbangkan beberapa anak buah Alan Born dengan pisau miliknya. Ia memang membawa beberapa pisau tanpa membawa senjata api dan itu sudah cukup untuknya. Sebab membunuh Alan Born, menggunakan tangan kosong saja mampu ia lakukan.


BUGH


BUGH


Dua serangan mengenai wajah dan punggung Arthur, ia kehilangan keseimbangan sejenak sehingga sedikit lengah dan memberikan ruang kepada beberapa anak buah Alan Born untuk menghantamnya. Akan tetapi serangan tersebut tidak seberapa, ia mampu menahan dan membalikan serangan. Sedari tadi Arthur tidak membiarkan mereka menggunakan senjata dan menendang beberapa anak buah pria tua itu yang hendak memuntahkan peluru ke arahnya. Namun kali ini ia lengah sehingga peluru itu berhasil melesat mengenai bahu kanannya.


"Shiitt!!! KU BUNUH KAU!!" Arthur berlari lalu menjatuhkan tubuhnya, melakukan sliding tackle, menendang dari arah samping musuhnya dengan kekuatan kaki, persis seperti seseorang yang merebut bola. Namun bukan bola, melainkan kaki musuhnya itu yang menjadi tujuan Arthur, sehingga berhasil membuat satu anak buah Alan Born yang sudah menembaknya terpelanting dan senjata yang di genggamnya terlempar cukup jauh.


Jleb


Tanpa membuang waktu, Arthur menghantam pisau tepat mengenai jantung anak buah Alan Born sialan itu. Menghantam berulang kali, ia menyaksikan jika anak buah yang berhasil di tikam itu sudah merenggang nyawa.


Melihat kebrutalan Arthur membunuh teman mereka, seketika menghentikan pergerakan mereka. Beberapa dari mereka yang tersisa memperhatikan dengan bergidik ngeri. Sungguh mereka tidak ingin memiliki nasib yang sama seperti teman mereka yang sudah tewas karena hantaman benda tajam tersebut.


"Tunggu apalagi, habisi pria keparat itu!!!" Alan Born tidak tahan lagi, ia ingin segera keluar dari sana. Ternyata apa yang dilakukan oleh Arthur tidak hanya membuat para anak Alan Born bergidik takut, pria tua itu pun menyiratkan ketakutan. Tubuh yang sudah renta, tentu akan kalah melawan pria itu, pikirnya.


"Aku harus segera pergi dari sini." Alan Born bergumam. Selama pria itu masih di sibukkan dengan beberapa anak buahnya, ia harus segera keluar dari sana untuk menyelamatkan diri. Ia kemudian berlari kecil menuju peti senjata, di raihnya dua benda senjata api, lalu segera berbalik arah dan melangkah menjauh.


Arthur kembali melihat Alan Born yang hendak melarikan diri. Tidak tinggal diam, Arthur menyambar kerah pakaian satu anak buah Alan Born yang sudah memegang senjata api, lalu mengarahkannya tepat ke punggung pria tua itu.


Dor!


Namun sialnya melesat karena berhasil digagalkan oleh anak buah tersebut. Alan Born kembali berlari untuk menghindari serangan susulan. Arthur mengejarnya begitu ia menendangi beberapa anak buah Alan Born. Namun tanpa ia sadari jika satu dari mereka tengah memegang pisau dan sudah mengarahkannya tepat ke arahnya.


Srek


Dan pisau tajam itu berhasil mengenai perut Arthur, sontak Arthur memekik, pakaiannya yang tergores itu mengeluarkan darah segar yang kental. Akan tetapi seolah tidak merasakan sakit, Arthur membiarkan lukanya itu dan merebut benda tajam tersebut.


Jleb


Arthur menikam leher pria yang berhasil menikam perutnya. Berulang kali melakukan penusukan pada leher pria itu hingga memastikan sudah tewas. Arthur kembali berlari dengan kepalan tangan yang menggenggam senjata tajam berlumuran darah, mengejar Alan Born yang masih berada dalam jangkauan matanya. Detik itu juga Arthur kembali melayangkan pisau itu kepada kaki Alan Born.


Jleb


"AARRGGHH......!!" Teriakan Alan Born membuat Arthur menyunggingkan senyum menyeringai. Setidaknya benda tajam itu mampu menghentikan langkah Alan Born.


"Kau akan keluar dari sini tapi saat kau sudah menjadi mayat!" seru Arthur tanpa menyurutkan seringai senyumnya.


"Keparat kau! Sialan!" umpat Alan Born tidak terima. Ia berusaha mencabut pisau yang menancap itu dari kakinya. Rasa perih dan nyeri menjalar hingga ke seluruh tubuhnya, belum hilang rasa sakit pada bagian bahunya, kini ia menerima luka pada kakinya.


Langkah Alan Born menjadi melambat, mencoba memaksakan diri menghindari Arthur.


"Aku tidak boleh mati," gumamnya menggeleng. Peluh keringat dingin sudah membasahi keningnya, tetapi ia tidak ingin mati di tangan pria itu.


Alan Born berpikir jika dirinya masih memiliki senjata, sehingga ia mengeluarkan senjata itu, lalu memuntahkan isi pelurunya secara bertubi-tubi. Sinyal bahaya seolah memberi pertanda, Arthur segera melesat menghindari namun masih terdapat satu peluru yang mengarah ke arahnya.


Peluru itu tepat mengenai bahu kiri Arthur, seketika membuat Arthur kian menjadi murka.


"AARGHHH... KAU HARUS MATI!!!" Arthur berlari dengan mata merah menyala sembari mengayunkan pisau yang tersisa satu buah saja, ia lemparkan ke arah punggung pria tua itu dan kemudian,


Jleb


Berhasil, Alan Born kembali menerima serangan senjata yang mengenai punggung rentanya. Pria tua itu memekik, berbalik badan dan kemudian kembali memuntahkan peluru.


Tentu Arthur tidak bergeming, bahkan kembali berlari mengejar Alan Born yang menjauh, tidak pedulikan peluru yang kembali mengarah ke arahnya.


BRAK


Namun seseorang menangkap Arthur untuk menghindari peluru itu. Keduanya berguling ke lantai, peluru itu melesat ke udara dan mengenai dinding yang sudah rapuh.


"Apa kau bodoh! Sebelum kau berhasil membunuhnya, kau sudah mati lebih dulu!" Ya, Darren. Yang datang menyelamatkan Arthur adalah tangan kanan kepercayaannya.


Arthur tidak menyahut, ia memegangi dadanya yang menjadi sesak karena efek dari peluru yang di terimanya. Arthur tetaplah manusia biasa, tubuhnya tidak mampu menahan beberapa hantaman peluru. Terlebih luka yang baru kemarin belum pulih, sudah di tambah luka yang lainnya.


"Kalian ledakan tempat ini! Bawa Alan Born kepadaku dalam keadaan hidup ataupun mati!" seru Darren memberi perintah kepada beberapa anak buah yang datang bersamanya. Mereka mengangguk serentak dan berlari keluar. Ternyata pria tua itu mampu melarikan diri dalam keadaan yang sudah terluka parah, akan tetapi ia yakin jika Alan Born masih berada di sekitar wilayah ini dan tidak akan bertahan lama menahan lukanya, mengingat tubuhnya sudah tua dan rapuh.


"Bodoh! Lihatlah jika kau terlalu gegabah. Killer bodoh itu hanya mengantarmu pada kematian!" Darren memapah tubuh Arthur sembari menggerutu. Tentu saja kesal, lantaran selama ini Arthur selalu menggunakan strategi dan mengandalkan otak. Bukan emosi semata yang dilakukan oleh sosok yang bernama Killer itu.


"Berisik! Apa kau ingin aku mengirimmu ke Afrika, heh?!" ucapnya lirih namun terdengar begitu tegas.


Kedua alis Darren nampak menyatu. "Hah, kau sudah sadar rupanya." Ya, kata-kata andalan Arthur kembali, sepertinya Arthur sudah kembali ke dirinya sendiri.


"Aku sudah melukainya Der. Apa dia baik-baik saja?"


Dan gumaman Arthur membuat kerutan kening Darren kian dalam. Pria itu tentu saja bingung siapa 'dia' yang dimaksud oleh atasan sekaligus temannya itu. Tidak mungkin Arthur mencemaskan Alan Born, pikirnya.


"Kau sedang membicarakan siapa?" Namun pertanyaan Darren tenggelam begitu saja, sebab Arthur tidak menjawab dan sudah tidak sadarkan diri.


To be continue


Babang Arthur



Babang Darren



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...