The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tamu Tidak Diundang



Derap langkah kaki menyelinap indera pendengaran Zayn serta yang lainnya. Tak berselang lama, muncullah satu anak buah yang tergesa-gesa menghampiri.


Anak buah tersebut nampak ragu untuk menyampaikan, sebab Masternya sudah berpesan jika tidak ada satupun yang dapat mengganggu dirinya jika sedang bersama teman-teman yang sudah ia anggap sebagai keluarga.


"Ada apa?" Zayn paham jika anak buahnya itu merasa ragu. Meski ia memang marah, tetapi tugas mereka memang harus menyampaikan apa yang terjadi di kediamannya.


"Ma-maaf Master, di depan Tuan Muda Jacob sedang menghajar seorang pria yang mengaku teman Nona Muda Licia."


Apa yang disampaikan oleh anak buahnya membuat Zayn mengerutkan kening. Seorang pria yang mengaku sebagai teman Licia? Dan putranya sedang menghajar pria itu. Oh, malang sekali dia.


Alih-alih cepat menanggapi, Zayn berulang kali menyunggingkan senyum. Hingga membuat anak buahnya merasa heran dibuatnya.


"Master..." Dan ia harus memastikan jika Masternya mendengar laporan yang baru saja ia sampaikan.


"Aku dengar, kau kembalilah. Aku akan melihatnya." Zayn mengibaskan tangannya tanda mengusir, yang segera dilakukan oleh anak buahnya hingga benar-benar melesat pergi.


Xavier dan Edward saling berpandangan. Meskipun bukan ranah mereka, tetapi mereka penasaran siapa yang membuat masalah di kediaman Zayn. Tanpa banyak bertanya keduanya segera beranjak berdiri setelah Zayn lebih dulu berlalu.


"Sepertinya kali ini aku akan menonton pertunjukan yang menarik," ujar Edward bicara rendah agar Zayn tidak dapat mendengar perkataannya. Meskipun langkah Zayn sudah menjauh dari jangkauan matanya, akan tetapi ia yakin jika Zayn memiliki pendengaran yang cukup bagus.


"Hem..." Xavier menyahut dengan deheman. Ia juga merasa akan akan pertujukan yang menarik. Sudah lama ia tidak menyaksikan hal menarik seperti ini, sebab Elleana selalu mengekori dirinya kemanapun ia pergi. Memastikan jika dirinya tidak terlibat perkelahian apapun.


BUGH


"Bedebah sialan! Berani-beraninya kau datang kemari!" Jacob kembali memberikan pukulan pada wajah pria di hadapannya itu. Ia belum puas jika pria itu masih tampan tanpa celah. Sejujurnya sejak awal ia tidak menyukai pria itu. Ia heran kenapa akhir-akhir ini adiknya begitu dekat dengan bajingan ini.


Pria itu mengusap sudut bibirnya yang kembali mengeluarkan darah segar. Tidak cukupkah Jacob menghajarnya berulang kali? pikirnya.


"A-aku datang kemari hanya ingin menemui Licia." Meskipun gugup, tetapi ia menyampaikan niatnya datang ke kediaman Zayn.


"Heh, jangan kau pikir bisa bertemu dengan adikku!" seru Jacob menatap nyalang. Mana mungkin ia membiarkan bajingan ini menemui Licia.


"A-aku hanya ingin memberikan dompet miliknya yang tertinggal di mobilku."


"Cih..!!" Jacob berdecih, bahkan nyaris meludah. "Tidak perlu beralasan." Dan ia tidak ingin percaya begitu saja. Tetapi meskipun benar, tentu tanpa harus menemui adiknya, pria itu bisa memberikan dompet milik Licia padanya. "Berikan saja padaku!" ujarnya kemudian menengadahkan tangan kanan.


"Tidak bisa!" Dengan keberanian penuh, pria itu menolak apa yang dikatakan oleh Jacob, pria yang ia ketahui memiliki sikap arogan.


"Jadi kau berbohong, heh?!" Sudah Jacob duga jika pria itu hanya mencari alasan saja.


"Tidak, aku tidak berbohong. Aku benar-benar ingin mengembalikan dompet milik Licia. Tapi aku harus memberikannya secara langsung." Ia memberanikan diri menatap Jacob yang menatap tajam padanya.


"Bedebah! Kau ingin mati, heh?!" Jacob menyahut kerah pakaian pria itu.


"Tidak, aku hanya-"


"Hentikan Son, kau menakutinya!" Suara Zayn mengalihkan perhatian Jacob serta pria itu. "Lepaskan dia, biar aku yang bicara," lanjutnya kemudian memberikan perintah agar putranya melepaskan pria tidak berdaya itu.


Jacob menghela napas, mau tidak mau ia melepaskan bajingan ini. Meskipun ia belum puas menghajarnya, akan tetapi ia tidak ingin membuat Daddy-nya marah karena mengabaikan perkataannya. Jacob kemudian mendorong dada pria itu, lalu segera menyingkir dari posisinya, membiarkan Daddy-nya yang mengambil alih.


Zayn bergerak maju, ia menatap penampilan pria itu dari atas hingga ujung kaki. "Kau siapa? Kenapa datang mencari keributan disini?!" tanyanya dengan mengintimidasi.


"Ma-maaf Paman, aku tidak bermaksud membuat keributan di tempat Paman. Aku datang dengan niat baik, tapi putra Paman menghalangiku," sahutnya berusaha tenang disusul lirikan matanya yang mengarah pada sosok Jacob yang tidak terima.


Mendengar perkataan pria muda di hadapannya membuat Zayn menarik sudut bibirnya. "Kau berani sekali." Datar tetapi mampu membuat lemas tubuh seseorang yang bergidik ngeri melihat tatapan pria paruh baya di hadapannya.


"Lalu siapa yang kau cari?" Zayn bertanya kembali, ia ingin mendengar secara langsung dari mulut pria muda itu.


"Licia. Bolehkah aku bertemu dengannya, Paman."


Tiba-tiba saja Zayn terkekeh, padahal tidak ada yang sedang melucu. "Memangnya kau siapa, heh?!" tanyanya kembali usai kekehannya mereda.


"Maxime," sahutnya memperkenalkan diri. "Aku dan Licia sudah sangat dekat sejak di senior high school." Dan dengan percaya diri, ia memberitahukan yang sebenarnya mengenai hubungannya dengan Licia.


Wow, Zayn cukup terkesan dengan keberanian pria yang bernama Maxime itu. "Oh, jadi kau yang akhir-akhir dekat dengan putriku." Sebenarnya Zayn sudah mencari tahu siapa yang belakangan ini dekat dengan putrinya. Namun ia tidak pernah menduga jika pria itu berani mendatangi kediamannya.


Maxime tidak mengerti, tetapi kemudian ia mengangguki saja. "Aku harus bertemu dengan Licia, Paman."


"Lancang sekali! Memangnya kau pikir aku akan mengizinkanmu bertemu dengan putriku, heh?!" Zayn mengikis jarak, hingga benar-benar berhadapan dengan Maxime. Sebelum kemudian mencengkram leher pria itu. "Pergi dari sini atau kau akan mati malam ini juga!"


"Pa-paman....." Suaranya benar-benar tercekat, ia seperti sudah kehabisan pasokan oksigen.


"Kenapa dia seram sekali. Kasihan pria muda itu, Vier." Edward yang menyaksikan bersama dengan Xavier hanya bisa meringis dengan tatapan iba, punggungnya bersandar pada dinding. Ia bergidik ngeri dengan Zayn yang seperti itu, padahal selama ini ia selalu membuat masalah dengan Zayn, tetapi untung saja nyawanya masih aman.


"Kau diam saja, Ed." Xavier menegur. Saat ini ia sedang menikmati sebuah pertunjukan menarik. Tidak pandang siapa lawannya, Zayn akan membuat perhitungan pada pria malang itu.


"Baiklah." Mendapat teguran dari adik iparnya, Edward mengunci rapat bibirnya.


"Astaga Zayn. Apa yang kau lakukan?!" pekik Mommy Angela terkejut mendapati pemandangan mengerikan. Suaminya itu tengah mencekik leher seorang pria muda. Tidak hanya Angela saja yang terkejut, Mommy Elleana serta Mommy Olivia tak kalah terkejut.


"Maxi??!!" Disusul suara lainnya lagi yang tidak kalah terkejut. Jolicia buru-buru berlari menghampiri Daddy-nya itu. "Daddy, lepaskan Maxi!"


Mommy Angela sudah berdiri tepat di sisi sang suami. Ia cemas bukan main karena tidak ingin Zayn membunuh seseorang lagi. "Lepaskan dia, Zayn."


"Damn!!" Zayn mengumpat dalam hati, ia reflek melepaskan cengkeramannya dari leher Maxime.


Akhirnya Maxime bisa kembali bernapas, pria itu terbatuk-batuk dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Licia menghampiri temannya itu dengan raut wajah penuh kecemasan. "Maxi, kau baik-baik saja?"


Maxime mengangguk. Tenggorokannya masih terasa panas sehingga ia sulit untuk bicara.


"Sebaiknya kita masuk, kau harus diobati."


Mendengar perkataan Licia, Zayn dan Jacob nampak tidak terima. "Licia, jangan coba-coba mengobatinya," seru Jacob tidak sudi dan cukup mewakili penolakan Zayn yang juga tidak setuju.


"Tapi dia terluka karena Kak Jac dan Daddy," lirihnya. Ia tidak tega dengan keadaan Maxime. Karena perbuatan kakak serta Daddy-nya, wajah Maxime penuh dengan memar.


"Licia...." Geraman Zayn tertahan lantaran Angela menahan lengannya. Ia tahu betul jika sang istri menginginkan dirinya untuk mengalah.


"Licia, bantu obati lukanya," tutur Mommy Angela pada akhirnya. Ia tidak ingin ada yang tewas di Mansion mewahnya.


Licia mengangguk. "Baik Mom." Lalu dengan perlahan memapah tubuh Maxime masuk ke dalam Mansion.


Zayn menghela napas panjang. Kesal sudah pasti, tetapi ia tidak ingin melampiaskannya pada sang istri. Tanpa menatap istrinya, Zayn berlalu dari sana. Angela mengerti jika Zayn sedang kesal sekaligus marah, ia akan memberi waktu pada suaminya itu.


Jacob berjalan mendekati Mommy Angela. "Daddy tidak marah pada Mommy. Mommy tidak perlu khawatir." Ia merangkul pundak Mommy tercinta dan mengusapnya dengan lembut. Sebenarnya ia juga kesal dengan tamu tidak diundang itu, inginnya menghajar hingga tidak bernyawa. Akan tetapi ia masih memiliki batas di hadapan Mommy-nya.


Melihat suasana menjadi tegang, Mommy Elleana serta Mommy Olivia menghampiri suami mereka masing-masing.


"Hubby, apa sebaiknya kita pulang saja?" Elleana sadar benar jika saat ini keadaan tengah mencekam. Terlebih melihat Zayn yang menahan amarah demi Angela, tetapi ia tahu jika pria itu ingin sekali melampiaskan amarahnya.


"Ya, sebaiknya kita pulang saja." Xavier berpikir jika Zayn butuh waktu untuk menenangkan dirinya.


Edward dan Olivia pun mengangguk setuju. Mereka lantas berpamitan kepada Angela serta Jacob.


"Maaf, aku dan Zayn jadi mengabaikan kalian," ucap Mommy Angela penuh sesal.


"Tidak apa." Elleana mengusap bahu Angela. "Sampaikan salam kami untuk Zayn."


Angela mengangguk, akan ia sampaikan jika amarah Zayn sudah mereda. Sedangkan Jacob lebih dulu masuk ke dalam tetapi langkahnya terhenti seketika saat berpapasan dengan Freya. Tatapan Freya seolah menyimpan banyak arti. Sejak tadi ia memang menyaksikan bagaimana Jacob dan Zayn memberikan pelajaran kepada Maxime. Jujur saja ia merasa kasihan kepada Maxime, tetapi hanya sebatas itu saja. Ia tidak sepenuhnya menyukai pria itu.


"Lain kali kau harus berpikir lebih dulu sebelum bertindak." Perkataan Freya mengusik pendengaran Jacob yang cukup terguncang.


"Kau membelanya?" cetus Jacob tidak suka.


"Tidak. Aku hanya kasihan pada Licia. Dia pasti merasa bersalah pada Maxime dan dia pasti memanfaatkan kebaikan Licia." Ya, hanya sebatas itu saja. Yang ia cemaskan adalah Licia.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Tidak. Jacob tidak akan tinggal diam. Ia boleh mengalah, tetapi tidak untuk kalah. Come on, siapapun tidak akan lepas dari pantauannya. Dan jika ia sudah menandai seseorang, maka tidak akan ia lepaskan. Seperti wanita di hadapannya ini, yang sudah ia tandai sejak lama.


"Ya, semoga saja dia benar-benar pria yang baik." Setelah mengatakan hal itu, Freya berpamitan. "Aku pulang dulu."


"Hem, berhati-hatilah."


Freya hanya mengangguki perkataan Jacob dan segera berlalu pergi menyusul kedua orang tuanya dan Paman Xavier serta Bibi Elleana yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


To be continue