The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Kutukan Untuk Darren



Ketiga pria tampan menjadi pusat perhatian banyak mata disana. Para pengunjung tentu sangat tahu sosok ketiganya, Arthur Kennard Romanov beserta asistennya Darren Casey Hamilton dan mereka pun tidak asing dengan pria yang merupakan Presdir sekaligus pemilik dari MJ Corp, Mikel Jhonson.


Joli dan temannya bergidik ngeri melihat tatapan tajam ketiga pria itu yang seolah mampu menghunus ke dalam jantung mereka. Keduanya berusaha saling melindungi, terlebih ketika Pewaris Keluarga Romanov itu mengatakan istri dan adiknya. Apa mereka telah melakukan kesalahan? Tiba-tiba saja perasaan kedua wanita itu menjadi tidak nyaman, mereka mencemaskan perbuatan mereka yang memperlakukan wanita itu dengan buruk sehingga menjadi boomerang untuk mereka.


"Joli, bagaimana ini, sepertinya kita akan terkena masalah," bisiknya kepada Joli. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuktikan jika kedua wanita yang dihina itu memiliki hubungan dengan Arthur dan Mikel, dua pebisnis hebat.


"Diamlah, aku juga tidak tau," sahut Joli balas berbisik. Tatapannya tidaklah berpindah dari Helena yang di rangkul erat oleh Arthur. "Jangan-jangan wanita itu benar-benar istrinya? Bagaimana ini? Carol benar-benar sudah membodohi kami dengan mengarang cerita," batinnya gelisah, ekor matanya melirik ke arah meja, dimana teman-temannya menatapnya pasrah. Dan Carol, wanita bodoh itu sudah tidak berada di tempat.


"Apa kau baik-baik saja, hm? Dimana mereka melukaimu?" Suara Arthur membelah ketegangan yang terjadi. Ia meneliti keadaan Helena yang mungkin saja terdapat luka di tubuhnya.


"Aku baik-baik saja. Justru aku yang sudah menamparnya." Helena menceritakan apa yang ia lakukan kepada wanita itu.


"Jadi kau sudah menamparnya?" Arthur bertanya memastikan dan sebagai jawabannya Helena menganggukkan kepala.


Arthur tidak merespons, setidaknya ia merasa sedikit tenang karena istrinya tidak mudah ditindas.


"Mike, mereka menghinaku dan Helen. Mereka mengatakan jika kami berdua lebih pantas menjadi pengemis dan tidak pantas berada di restauran mewah seperti ini." Elie mengadu, tangannya bergelayut manja di lengan Mikel.


"Mereka menghinamu dan Helen seperti itu?" Mikel tentu tidak terima. Dirinya, Arthur dan Darren memang mendengar hinaan tersebut. Kemudian pandangannya beralih menatap tajam Joli dan teman wanita itu yang melangkah mundur.


"Kami.... kami tidak sengaja. Kami hanya bercanda." Joli melakukan pembelaan. Seandainya ia tahu jika kedua wanita itu adalah wanita mereka, tentu ia tidak akan gegabah.


"Bercanda kau bilang? Kau bahkan sengaja mendorong bahuku!" Helena ikut bersuara. Jika saja keduanya meminta maaf lebih awal mungkin ia akan membiarkannya saja.


"Dia mendorongmu, Love?" Arthur memastikan. Dapat dilihat wajahnya mendadak menggelap.


"Benar. Bahuku sakit." Telapak Helena mengusap bahu yang di dorong oleh wanita itu.


"I-itu berlebihan. A-aku tidak sengaja mendorongnya dan itu hanya pelan." Joli semakin bergidik ngeri. Pelipisnya sudah dibasahi oleh keringat. Ia menggenggam tangan temannya. "La-lagi pula dia menghalangi jalanku lebih dulu." Memutar balikan fakta, Joli hanya berharap ia akan selamat dengan perkataannya itu.


Veronica dan Darren hanya menjadi penonton saja. Terlebih Veronica, ia tidak tahu menahu kronologi yang sebenarnya. Ia serta Ellie menghampiri ketika Helena dan wanita itu sudah bertengkar.


Arthur berdecak. Ia tidak percaya begitu saja dengan perkataan wanita di hadapannya. "Der, panggil Manager restauran!" perintahnya.


"Baik." Darren mengangguk. Ia segera berlalu untuk memanggil manager.


Para pengunjung disana saling menggunjing dan menatap kasihan kepada Joli dan temannya. Mereka berpikir jika kedua wanita itu sungguh sedang sial karena berani mencari masalah dengan wanita-wanita dari dua pria yang terkenal dingin dan tiada ampun untuk memberikan pelajaran.


Tidak berselang lama, Darren kembali dengan manager restauran. Manager tersebut nampak gagah dan usianya tidak terpaut jauh dengan Mikel.


"Tuan, ada apa sebenarnya?" Manager restoran itu gugup. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi sehingga restauran miliknya di datangi oleh Pewaris Keluarga Romanov dan Tuan Mikel Jhonson.


"Jadi kau manager restauran ini?" Arthur bertanya tanpa menjawab pertanyaan pria itu terlebih dulu.


"Benar Tuan." Manager tampan itu menyahut sopan, ia semakin bingung sekaligus penasaran. "Maaf jika saya tidak mengerti maksud kedatangan Tuan Arthur dan Tuan Mikel. Apa ada staf saya yang membuat kesalahan?" tanyanya kemudian.


"Aku hanya ingin kau menunjukkan CCTV dan mengirimkannya kepada asistenku."


"Maksud Tuan?" Manager tersenyum kian menampakkan wajah bingung. Terlihat jelas keningnya yang berkerut dalam.


"Wanita ini sudah menghina istri dan adikku." Arthur menunjuk Joli melalui sorot matanya, sehingga manager restauran tersebut mengikuti arah pandang Arthur. Wajahnya menegang seketika, ia mengenali wanita yang tertunduk tidak berani menatap dirinya. "Jika kau sebagai manager sekaligus pemilik restauran ini tidak ingin menunjukkan CCTV disini, maka jangan menyalahkan kami yang akan dengan senang hati meratakan tempat ini!" Peringatan Arthur yang bagaikan sebuah ancaman membuat fokus manager itu kembali kepada Arthur.


"Tidak Tuan. Saya akan segera menunjukkan CCTV disini. Silahkan asisten Tuan mengikuti staf saya ke ruangan khusus." Pasrah. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh manager tersebut. Ia tidak ingin bisnisnya yang secara turun temurun dihancurkan dalam sekejap mata oleh pria berkuasa seperti Arthur maupun Mikel.


Darren paham, ia mengikuti staf pria yang sudah berada di sisi Manager restauran tersebut. Ia mengikuti langkah staf itu menuju ruangan khusus.


Sepeninggalnya Darren dan staf restauran. Manager restauran tersebut meminta maaf berulang kali. "Sekali lagi saya minta maaf jika membuat Nona-Nona merasa tidak nyaman dengan pengunjung kami yang lain."


Arthur jengah mendengarnya. Kata maaf sudah ia dengar berulang kali dan manager itu tidak kenal lelah.


"Siapa namamu?" tanya Mikel tiba-tiba. Sejujurnya ia menyukai sikap manager itu yang bersikap tenang dan sesekali melirik singkat ke arah wanita yang membuat masalah dengan Elie dan Helena.


"Nama saya Freddy Russel."


Mike mengangguk mengerti. "Apa kau mengenal wanita ini? Sejak tadi kuperhatikan kau terus memperhatikannya?"


Freddy terdiam sejenak. Ia seolah ragu untuk menjawab pertanyaan Mike. Tetapi rasanya percuma ia menutupi kebenaran. "Sebenarnya dia kekasih saya, Tuan. Kedatangannya kemari karena merayakan keberhasilannya bersama teman-temannya. Tetapi saya tidak pernah mengira jika dia akan membuat masalah dengan Nona-"


"Helena, dia istriku dan Elie adikku." Arthur lebih dulu menyela. Memberitahukan identitas kedua wanita yang direndahkan oleh kekasih dari manager restauran tersebut. "Kau seharusnya bisa menjaga kekasihmu dengan baik agar tidak perlu melakukan sesuatu yang mempermalukanmu!"


"Saya mengerti Tuan. Sekali lagi maafkan saya atas perbuatannya." Freddy membungkuk sebagai permintaan maaf.


"Apa dia tidak memiliki mulut, heh? Sehingga kau yang harus menggantikannya meminta maaf?" ujar Arthur sarkasme. Padahal sejak tadi Helena sudah berusaha menenangkan Arthur dengan mengusap lengannya.


"Maaf Tuan..." Freddy kembali membungkuk. Lalu pandangannya beralih kepada Joli, kekasihnya. "Kemarilah. Kau harus bertanggung jawab atas kesalahanmu."


"Tidak sengaja atau tidak akan terbukti di rekaman CCTV." Freddy menyahut datar. Tidak terlihat jika manager itu akan membela kekasihnya.


"Tapi Fred...." Joli mengurungkan protesnya, wanita itu kembali tertunduk kala Freddy menatapnya tajam.


"Ar, rekaman CCTV sudah aku dapatkan. Kau bisa melihatnya sendiri." Darren kembali dengan membawa bukti rekaman dan segera memberikan ponselnya kepada Arthur.


Tanpa menunggu lama lagi, Arthur memutar rekaman video tersebut. Wajahnya nampak datar hingga durasi video tersebut telah selesai.


Joli dan temannya menelan saliva mereka dengan susah payah. Terutama Joli, ketakutannya paling nampak kentara. Sebab ia tidak hanya berurusan dengan dua pria berkuasa, tetapi ia pun harus berurusan dengan kekasihnya sendiri. Menyesal pun percuma, ia sudah berada dalam masalah besar.


Freddy baru saja melihat rekaman CCTV yang di sodorkan oleh salah satu staf-nya. Pancaran kekecewaannya tertuju kepada Joli.


Bruukkk


Tubuh Joli melemas. Ia tidak dapat menahan bobot tubuhnya lebih lama lagi. "Nona, aku benar-benar minta maaf. Saya tidak sengaja." Joli, wanita cantik itu menangkupkan kedua tangannya, bersimpuh di hadapan Helena dan yang lainnya. "Aku mendengar cerita dari Carol jika kau sudah mengambil semua hartanya dan kau juga sudah tidak waras dengan mengaku-ngaku menjadi istri dari Tuan Arthur."


"Benar, kami sudah termakan perkataan Carol. Kami benar-benar minta maaf." Teman dari Joli menimpali, ia tentu tidak ingin Joli menanggung semua kesalahan. "Sebelumnya Carol berada disini bersama kami, tetapi saat ini dia sudah melarikan diri."


Helena sudah yakin jika Caroline, adik tirinya itu sudah mengarang sebuah cerita. Wanita itu kemudian mendongak menatap Arthur.


"Sepertinya adik tirimu itu belum jera," ucap Arthur melembut.


"Hm, aku tidak pernah menduga jika dia masih saja membuat cerita yang menyudutkanku." Suara Helena terdengar lirih, membuat darah Arthur menjadi mendidih. Seharusnya ia bisa memberikan kebahagiaan berlipat, tetapi ternyata keluarga dari istrinya itu menginginkan penderitaan lebih dari yang ia lakukan sebelumnya.


"Kau....." Sorot mata Arthur tertuju pada Freddy. "Urus wanitamu! Setelah ini jangan harap wanitamu akan bebas menikmati semuanya!"


Freddy terdiam. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kekasihnya. Dan Joli semakin ketakutan mendengar ancaman seperti itu.


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini Ar," kata Mike memecah ketegangan yang terjadi. Ia merasa sudah tidak memiliki urusan lagi setelah semua terselesaikan.


"Hm...." Arthur merangkul pinggang Helena, kemudian melenggang pergi menyusul langkah Mike dan Elie yang sudah lebih dulu melangkah keluar.


Darren serta Veronica yang diam saja turut mengekori. Kini yang harus di garisbawahi adalah jangan pernah mencoba menyentuh wanita-wanita dari kedua pria dingin seperti Arthur dan Mikel, jika tidak ingin berkahir seperti kedua wanita itu.


"Aaww...." Veronica memekik ketika kepalanya terbentur dengan punggung tegap Darren, lantaran pria itu berhenti mendadak.


"Der, tolong kau antar Vero ke apartemennya." Perkataan Elie tidak langsung di jawab oleh Darren, pria itu melirik singkat ke arah Arthur yang terlihat mengangguk.


"Baiklah....." Setelah diiyakan oleh Darren, mereka bergegas masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Darren bersama dengan Veronica.


Wanita itu masih mengusap keningnya dan Darren tidak pedulikan hal itu, meski hanya sekedar berbasa-basi.


"Masuklah Nona." Darren membukakan pintu untuk Veronica.


"Ck, tidak perlu bersikap manis seperti ini. Aku bisa membukanya sendiri." Meski berkata demikian, Veronica tetap masuk ke dalam mobil. "Lagi pula aku memiliki kekasih yang akan menjemputku kapanpun dan-"


Brak


Kalimat Veronica terputus lantaran Darren menutup pintu mobil tanpa mempedulikan wanita itu yang masih berbicara.


"Astaga, dia benar-benar keterlaluan. Semoga nanti dia jatuh cinta dengan wanita yang merepotkan dan menyebalkan!" gumamnya kesal dengan membubuhi kutukan untuk Darren.


Veronica kembali menutupi rapat mulutnya ketika Darren sudah masuk ke dalam mobil dan melihatnya dengan dingin. Sebelum kemudian Darren segera melajukan mobilnya setelah memberikan tekanan untuk Veronica.


To be continue


Babang Arthur



Babang Mikel



Darren



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...