
Dua hari kemudian
Arthur nampak sibuk dengan pekerjaannya sedari pagi. Sehingga tidak menyadari jika waktu jam makan siang sudah terlewat 10 menit. Pintu yang terbuka pun tidak membuatnya bergeming, pandangannya hanya di tundukkan pada beberapa dokumen. Bahkan sudah lima menit Darren berdiri di hadapannya, menunggu Arthur menyadari keberadaannya. Tetapi tetap saja perhatian Arthur hanya tersita pada lembaran dokumennya.
"Sudah waktunya makan siang Ar. Sebaiknya kita makan, setelah itu bertemu dengan klien di Four Season Hotel." Suara Darren yang mengingatkan jadwal atasannya, seketika mengalihkan sejenak perhatian Arthur dan pria itu segera mengangkat wajahnya menatap Darren.
"Kenapa kau baru mengatakannya Der?" Sedikit kesal karena ia baru diingatkan, sedangkan saat ini mereka hanya memiliki waktu kurang dari satu jam untuk makan siang. Terlebih mereka harus menempuh perjalanan menuju hotel setidaknya 15 menit.
"Ck..." Darren mendecakan lidahnya. "Aku sudah dua kali mengingatkanmu Ar, tapi kau mengatakan aku harus menunggu sebentar lagi."
Napas kasar terdengar dari bibir Arthur begitu mendengar ucapan Darren. Sepertinya tadi ia tidak sadar apa yang dikatakan oleh asistennya itu karena terlalu fokus bekerja.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Kau pesankan makanan dan tempat terlebih dulu." Arthur membereskan dokumen yang berhamburan di atas meja, lalu beranjak dan menyambar jas yang terlampir di kursi kebesarannya.
"Aku sudah memesan sejak 10 menit yang lalu," sahut Darren. Tentu jika menyangkut pekerjaan dan Arthur, Darren selalu cekatan dan tidak pernah lelah memberikan solusi di saat Arthur sangat sibuk.
Arthur mengangguk, lalu ia berjalan mendahului Darren yang sudah mengekor di belakang. Keduanya menyusuri loby dan lagi-lagi menjadi pusat perhatian para karyawan yang juga ingin makan siang. Ketampanan keduanya memang tidak pernah diragukan. Membuat mereka berlomba-lomba berpenampilan cantik hanya agar Pewaris Keluarga Romanov itu melirik mereka. Atau berharap kecantikan mereka dapat meluluhkan hati Darren yang kaku itu.
Namun sayangnya, Arthur tidak pernah mempedulikan penampilan para bawahannya selama seluruh karyawan bisa menempatkan diri. Ia hanya akan menghargai kreatifitas dan kinerja seluruh para karyawan perusahaannya. Dan Darren tentunya tidak tertarik dengan wanita manapun, karena meskipun diluar nampak dingin, akan tetapi ia sudah menyimpan satu nama di hatinya.
Begitu keduanya sudah berada di dalam mobil, supir kepercayaan Keluarga Romanov bergegas meninggalkan Romanov Group.
"Der, kau sudah siapkan semua keperluan selama kita berada di Istanbul?" Suara Arthur sejenak memecah keheningan selama beberapa menit di perjalanan.
"Kau tenang saja, semua sudah aku siapkan. Dan karena kita tidak lama berada disana, aku hanya membawa yang dibutuhkan saja," sahut Darren menoleh sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.
Arthur mengangguk. Kali ini mereka memang melakukan perjalanan bisnis hanya tiga hari saja. Dan tempat mereka tinggal selama beberapa hari di Istanbul sudah disiapkan oleh rekan bisnisnya Can Roderick.
Keheningan kembali memenuhi kabin mobil, hingga tidak berselang lama, mobil yang mengangkut mereka sudah tiba di depan Four Season Hotel London. Arthur segera turun dari mobil disusul oleh Darren setelahnya. Keduanya segera mengayunkan langkah mereka memasuki hotel.
***
Sementara di waktu yang sama, seorang wanita cantik duduk di dalam mobil dengan pandangan yang di pusatkan pada satu titik, yaitu memperhatikan Four Season Hotel London. Dimana ia baru saja mendapatkan kabar jika wanita yang membuatnya kesal dua hari ini sedang berada di dalam sana.
Lamunannya membuyar tatkala seseorang mengetuk-ngetuk kaca mobil miliknya. Buru-buru wanita itu membuka kaca mobil tanpa melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Apa kau yakin jika wanita itu berada di dalam?" tanyanya memastikan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ingin menunjukkan wanita seperti apa yang di inginkan oleh Mikel.
"Benar Nona. Wanita itu baru saja masuk lift menuju lantai 8," sahut seorang pria yang ditugaskan mengawasi seorang wanita.
"Apa kau yakin jika dia hanya sendirian saja?" Kembali wanita itu bertanya memastikan.
"Benar Nona. Saya tidak melihat ada seseorang di sampingnya."
"Ck, dia pasti ingin bertemu dengan seseorang yang menjadikannya simpanan," gumamnya tersenyum sinis. "Ini bayaranmu." Lalu menyodorkan satu amplop cokelat kepada pria tersebut karena sudah melakukan tugas dengan baik.
"Terima kasih Nona." Karena tugasnya sudah selesai, lantas pria itu segera pergi dari sana.
"Kau lihat saja Mikel, aku akan menunjukkan wanita seperti apa yang kau inginkan. Kau berulang kali menolakku tapi lihatlah kau juga akan merasa jijik dengannya."
Ya, wanita yang baru saja memberikan sejumlah uang kepada seseorang suruhannya adalah Helena Bonham. Selama dua hari ini Helena berusaha mencari informasi mengenai wanita yang ternyata begitu diinginkan oleh Mikel Jhonson, pria yang selalu memandang rendah dirinya, pria yang selalu tidak menganggap dirinya, ternyata diam-diam menginginkan wanita lain dan berusaha menyingkirkannya.
Helena akan memastikan bahwa rencananya akan berhasil, memergoki Elie Cassandra yang merupakan wanita panggilan. Dari yang ia ketahui, wanita itu sering datang ke Four Season Hotel London. Serta dari desas desus yang beredar, wanita itu menjadi simpanan salah satu pengusaha.
"Aku tidak akan tinggal diam jika kau ingin merebut Mikel dariku."
Masih samar di ingatannya ketika Helena tidak sengaja melihat Mikel menarik seorang wanita ke dalam salah satu ruangan. Ia yang ingin mencari keberadaan Mikel, justru dikejutkan sesuatu yang tidak ia ketahui selama ini. Dengan bersembunyi di balik pintu, ia mendengar semua yang dikatakan Mikel kepada wanita itu.
Detik itu juga, ingin sekali Helena mendobrak pintu dan menampar wajah wanita itu. Akan tetapi ia berusaha menahan diri karena tidak ingin membuat Mikel semakin membencinya.
Helena berjalan anggun memasuki loby hotel. Langkahnya tertuju pada pintu lift menuju kamar yang berada di lantai 8, dimana wanita yang bernama Elie Cassandra itu masuk ke dalam sana. Namun sejenak langkahnya di urungkan karena mendengar suara keributan di area halaman kolam renang hotel, disusul suara histeris seorang wanita.
Karena rasa penasarannya itu, Helena menuntun tubuhnya ke arah sana. Kakinya baru saja menapaki halaman kolam renang, seketika matanya dibuat membelalak tatkala mendapati pria tampan melompat untuk menangkap seorang balita berusia sekitar 2 tahun yang nyaris saja tenggelam. Tidak lama, para staf hotel berbondong-bondong membantu pria itu dengan mengambil alih balita laki-laki tersebut.
Arthur segera naik ke atas dengan celana yang setengah basah.
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya salah satu staf hotel tersebut. Wajahnya serta wajah staf lainnya nampak memucat, pasalnya mereka mengetahui siapa pria yang suka rela melompat ke dalam kolam renang.
"Seharusnya kalian lebih ekstra memberikan pengawasan di sekitar sini. Tutup pintunya dengan benar agar anak kecil sepertinya tidak bisa masuk ke dalam area sini," ujarnya dingin disertai tatapan menajam. Yang menyelamatkan balita tersebut tidak lain adalah Arthur. Ia yang cepat tanggap, tanpa berpikir panjang langsung menerobos area halaman kolam renang.
Darren menerima handuk dari salah satu staf, lalu memberikannya kepada Arthur. Sehingga kemudian Arthur menerimanya lalu mengusap wajah yang sedikit basah dengan handuk tersebut. Arthur segera melepaskan jas yang dikenakannya, memberikannya kepada Darren.
"Ba-baik Tuan, kami benar-benar minta maaf karena tidak memastikannya terlebih dahulu." Pria setengah baya yang merupakan manager hotel, menunduk meminta maaf.
"Tu-tuan..." Dan suara seorang wanita yang usianya lebih tua mendekati Arthur. "Saya benar-benar berterima kasih karena Tuan karena sudah menyelamatkan anak saya." Wanita tersebut tengah menggendong seorang balita yang baru saja ditolong oleh Arthur. Pandangan Arthur tertuju pada balita kecil yang mendekap erat leher ibunya.
"Lain kali jangan lalai menjaga anak anda Nyonya. Kali ini anak anda selamat, tapi mungkin tidak ada lain kali jika anda masih lalai menjaga anak anda dan hanya sibuk dengan ponsel."
Mendengar perkataan Arthur yang menusuk tetapi benar adanya, membuat wanita tersebut menunduk. Ia memang salah karena tidak memperhatikan dan menjaga balitanya dengan benar.
"Maafkan saya...." Hanya kata maaf yang mampu diucapkan oleh wanita tersebut.
Arthur tidak menanggapi, pandangannya beralih kepada Darren.
"Siapkan satu kamar dan bawakan pakaian ganti untukku Der," pintanya datar tanpa menoleh kembali kepada para staf disana serta wanita yang balitanya baru saja diselamatkan olehnya.
"Tuan, kami sudah menyiapkan kamar untuk Tuan," ujar Manager tersebut merasa bersalah sekaligus cemas, jika hotel mereka berurusan dengan Arthur, Pewaris Keluarga Romanov.
Arthur tanya malas menanggapi berjalan melewati Manager Hotel dan wanita tersebut. Darren lantas mengikuti langkah Arthur, hingga para staf siap mengekor Arthur atas perintah Manager mereka.
Untuk sesaat pandangan Arthur serta Helena saling bertemu, wanita itu berdiri di depan sebuah pintu dimana akses keluar masuk berada di belakang punggung Helena.
"Menyingkirlah Nona. Kau menghalangi jalanku!" Arthur berujar begitu dingin.
Helena terkesiap, tubuhnya spontan menyingkir dari sana. Hingga Arthur kembali melanjutkan langkah diikuti oleh Darren dan mengabaikan tatapan para staf hotel juga para penghuni hotel tersebut.
"Iisshh, pria itu sudah seperti malaikat maut!" cebik Helena. Sejenak ia melupakan tujuannya datang ke Four Season Hotel London karena aksi heroik seorang pria tampan yang tidak asing menurutnya. "Ck, aku harus cepat-cepat menemukan wanita itu!" ucapnya. Sebelum kemudian berjalan tergesa-gesa menuju lift.
To be continue
Babang Arthur
Helena Bonham
Babang Darren
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...