The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Menuntut Balas



Gelak tawa menggelegar di dalam sebuah bangunan tua yang disebut sebagai Markas. Tempat itu terbiasa dijadikan tempat mereka berkumpul dan menyusun rencana. Terdapat tiga pria setengah baya dan satu pria muda duduk di atas kursi yang membentuk lingkaran. Mereka saling bersulang untuk merayakan keberhasilan rencana mereka yang berjalan dengan mulus.


"Benar apa yang kukatakan, bukan? Rencana kita berhasil karena merencanakannya dengan matang." Salah satu pria setengah baya itu mulai membuka percakapan. "Jika beberapa bulan yang lalu kalian gegabah, rencana kita tidak akan berhasil seperti ini," imbuhnya.


"Kau benar, Alan. Akhirnya mereka lengah dan aku memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Helen." Pria tua yang tidak lain ialah Jorge Bonham terkekeh diakhir kalimatnya. Sudah lama sekali ia menantikan kesempatan ini, bertemu dengan Helena dan membuat putrinya itu menandatangani surat pengalihan.


"Kalau begitu tidak perlu mengulur waktu lagi, kau temui putrimu itu, lalu memaksanya untuk menandatangani surat pengalihan saham Bonham, sebelum keberadaan kita ditemukan."


Jorge mengangguk mengerti. "Aku sudah menyiapkan berkasnya. Tapi kita tidak boleh meremehkan keturunan Romanov. Mereka lebih cerdik dari kita."


Alan manggut-manggut sembari mengusap dagunya. "Dengan kekuasaan yang dimiliki, keturunan Romanov bisa melakukan apapun, termasuk menghancurkan Perusahaan Born." Seketika kedua mata Alan memancarkan kilatan amarah. Ia begitu dendam pada Arthur karena kita pria itu menghancurkan perusahaannya hingga tak tersisa. Bahkan seluruh karyawan yang berkualitas diambil oleh pria itu untuk dipekerjakan di Romanov Group.


Beberapa bulan yang lalu Alan Born selalu memantau kegiatan Arthur dan Helena, hanya sekedar untuk mencari celah kelengahan mereka. Namun sialnya kesempatannya selalu saja gagal, salah satunya saat di Bristol Harbour Hotel, anak buahnya gagal mencelakai Helena ketika wanita itu sedang berada di toilet, lantaran adik dari Arthur lebih dulu mendatangi Helena. (Ada di bab 240).


Mendengar penderitaan Alan Born, Jorge tersenyum miring. "Yang kau rasakan belum seberapa, pria sialan itu mengambil alih saham milikku dan membakar Mansion beserta lahan yang kumiliki. Aku tidak memiliki apapun kecuali gubuk kecil yang ditempati oleh Margareth dan Carol."


"Tapi setidaknya kau memiliki Margareth dan Carol yang selalu mendukungmu!" seru Alan Born tidak terima. Menurutnya nasib Jorge masih lebih baik darinya, karena masih memiliki tempat tinggal yang layak dihuni, sedangkan dirinya tidak. Putrinya Carmela mengabaikannya dan hidup bahagia bersama Brandon dan putri kecil mereka, meskipun harus hidup dalam kesederhanaan. Dan ia tidak ingin melibatkan Carmela, biar bagaimanapun karena kesalahannya putrinya harus kehilangan hak atas kekayaan yang ia miliki. Jangankan untuk memberikan aset kekayaannya, bangunan mewah yang dahulu menjadi tempat hunian mereka telah disita oleh bank karena ia memiliki hutang yang cukup besar. Dan sejak insiden perusahaannya yang terbakar, ia melarikan diri guna mengamankan aset-asetnya. Namun sialnya aset yang susah payah ia amankan disita oleh polisi dan pihak bank. Karena itu hingga detik ini, ia belum pernah menunjukkan batang hidungnya di hadapan Carmela, karena semasa mereka hidup bersama, ia selalu mengabaikan putrinya itu dan jujur saja ia merasa sangat malu. Biarlah putrinya itu menganggap jika dirinya sudah tiada.


"Sudahlah, kalian tidak perlu bertengkar." Pria paruh baya yang lainnya menengahi keduanya. Sejak tadi ia hanya diam mendengarkan sembari menikmati sebotol sampanye. "Ingat, tujuan kita adalah bekerja sama untuk menghancurkan Keluarga Romanov!" Dan ia mencoba mengingatkan tujuan awal mereka berkumpul seperti ini, apalagi jika bukan untuk melancarkan rencana dan menghancurkan Keluarga Romanov.


"Ah, kau benar Ben." Jorge nyaris saja tersulut emosi, untung saja ia bisa mengendalikan diri.


Berbeda dengan ketiga pria paruh baya yang masih terlibat percakapan, pria muda berwajah tampan itu sedari tadi hanya duduk dan menegak minumannya. Tetapi pandangannya hanya terpusat pada layar ponsel yang terhubung dengan CCTV di salah satu ruangan, dimana terdapat wanita yang sedang hamil besar yang terlelap di atas ranjang. Hanya melihat dari layar ponsel saja mampu membuat hatinya berdesir. Tidak bisa ia pungkiri pesona wanita hamil itu. Beruntung sekali Arthur memiliki istri secantik wanita itu. Dan sialnya ia sudah merasa kalah lebih dulu, seperti kekalahannya dua tahun silam. Namun kali ini ia dan Kartel Sinaloa sangat yakin jika tidak akan bisa dikalahkan oleh pria itu seperti beberapa tahun silam. Selain menuntut balas atas kehancuran kelompoknya saat itu, ia pun akan merebut istri pria itu.


"Vasco, ada apa?" Telinga Vasco tersentak ketika Alan memanggil namanya. Ia mendongak dan memberikan tatapan tajam. Tidak terima jika kegiatannya diganggu oleh siapapun itu.


"Jangan mengurusi urusanku! Aku membebaskan kalian untuk tinggal disini, tapi tidak untuk mencampuri urusanku!" Vasco yang kesal beranjak dari duduknya, lalu segera berlalu dari sana.


Alan dan Jorge saling melemparkan pandangan. Mereka lupa sesaat jika Vasco Escobar bersedia membantu mereka lantaran memiliki dendam pada orang yang sama. Untuk selebihnya Vasco tidak ingin tahu mengenai apapun. Meskipun sebelumnya Alan Born dan Vasco memiliki bisnis rumah bordil, tidak membuat hubungan keduanya dekat layaknya teman.


"Vasco adalah pria yang mengerikan. Apa kau tidak takut jika terjadi sesuatu dengan Carol, Jorge?" Alan mencoba memperingati yang sebenarnya hanya ingin tahu apa jawaban Jorge. Mengingat pria tua itu memiliki ambisi yang sama seperti dirinya, meskipun harus mengorbankan sesuatu.


"Aku tidak tau. Tapi aku berharap Carol bisa menjinakkan Vasco, karena aku membutuhkan dukungannya. Selagi dia menyokong kehidupanku, dia bebas melakukan apapun pada Carol." Diiluar dugaan, Jorge menjawab begitu santai. Seolah perkataan Alan tidak mengusik hati nuraninya sebagai seorang ayah.


"Ck, kau licik sekali." Alan mendecakkan lidah sembari menggelengkan kepalanya. Ternyata dirinya masih lebih baik karena tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada Carmela.


***


"Aaahhhh..... fuuuckk!!"


Suara desahaan terdengar memenuhi ruangan. Vasco tengah memacukan kejantanan pada liangg kewanitaan Caroline. Tubuh wanita itu sudah dinikmati oleh Vasco sejak satu tahun lalu. Dan jujur saja permainan Vasco sangat memuaskan, sehingga Caroline selalu dibuat mendesahh karenanya.


Awalnya Caroline menolak keinginan ayahnya saat ia diberitahu jika ada seorang teman yang ingin bertemu dengannya. Tetapi karena paksaan dari Jorge dan uang yang pria itu berikan, sehingga Caroline mencoba untuk menuruti keinginannya. Siapa yang akan menduga jika Caroline akan menjadi pemuas napsu Vasco. Bisa dikatakan pria itu beruntung karena menjadi pria pertama yang memasuki tubuh Caroline. Wanita itu cukup baik dalam menjaga kesuciannya. Tetapi saat ini tidak ada yang bisa dibanggakan dari wanita itu selain permainan di atas ranjang. Caroline harus bisa memuaskan Vasco dengan berbagai cara. Sehingga wanita itu bertekad untuk menaklukkan Vasco, meski bukan seorang pengusaha, tetapi dari uang yang diberikan oleh pria itu mampu mencukupi gaya hedon dirinya serta Sang Mommy.


"Aahhhhhh.... faster Tuan...." Caroline mendesaah berulang kali. Kejantanan Vasco begitu sesak di dalam intinya. Selain tampan, Vasco memang memiliki bentuk tubuh yang ideal sebagai seorang pria. Miliknya yang besar benar-benar membuat Caroline merasa puas.


Biasanya Vasco merasa hasratnya sudah tersalurkan dengan melakukan hubungan sekss bersama Caroline. Tetapi entah kenapa, kali ini terasa ada yang berbeda, ia menjadi tidak bersemangat. Namun saat wajah wanita yang ada di layar ponselnya melintas, Vasco menjadi semangat kembali, sehingga memompa tubuhnya lebih cepat agar dirinya. Tak menunggu waktu lama, ia merasakan cairan kental akan segera keluar, lalu menumpahkan cairannya itu di dalam, tidak peduli wanita itu akan hamil atau tidak.


Napas keduanya terengah-engah usai melakukan percintaan yang menguras tenaga itu. Vasco ambruk di sisi Caroline. Wanita itu menghadap Vasco yang sedang kelelahan. Saat mata mereka bertemu, Vasco tertegun karena ternyata Caroline memiliki manik mata berwarna perak kebiruan seperti wanita itu.


"Menungginglah!" Vasco kembali merangkak. Ternyata istri dari musuhnya itu memiliki pengaruh besar untuk gairahnya. Terbukti hanya mengingat wajah wanita itu, mampu membangkitkan kejantanannya yang sebelumnya layu. Dan pada akhirnya Caroline kembali memuaskan Vasco hingga pria itu benar-benar merasa puas.


To be continue


Vasco Escobar



Yang lupa siapa Vasco Escobar bisa baca ulang di bab 84 - 85


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...