
Tubuh Veronica mematung seketika. Meski dalam jarak jauh pun sorot mata tajam pria itu seolah mampu menembus ke dalam jantungnya. Sejenak ia kehilangan jiwanya, namun segera kembali dalam kesadaran penuh.
"Astaga, kenapa dia bisa berada disini?" Buru-buru ia memutuskan kontak mata dengan Darren. Pria yang lebih dingin dari lemari es. Kemudian ia membenarkan posisi duduknya agar tidak kembali bertemu pandang dengan pria itu.
"Vero, ada apa?" Joana melihat Veronica yang tiba-tiba saja bicara sendiri dengan raut wajah yang tiba-tiba panik. "Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau baru saja melihat pria tampan? Dimana?" Karena penasaran, ia pun menolehkan kepala kesana kemari, mencari sosok tampan yang dilihat oleh temannya itu. Tentu ia tidak ingin melewatkan pria tampan tersebut.
"Bodoh, jangan lihat kebelakang." Veronica langsung merangkul pundak Joana sebelum temannya itu berhasil menoleh kebelakang.
"Ish Vero, sebenarnya kau ini kenapa? Aku hanya ingin melihat pria tampan." Bibir Joana mencebik kesal.
"Joana, kenapa isi kepalamu hanya ada pria tampan saja?" Baru kali ini Veronica kesal dengan isi kepala Joana yang selalu menyangkut seorang pria tampan. Biasanya ia tidak peduli dengan Joana yang seperti itu. "Sudah, sebaiknya kita pergi saja dari sini," sambungnya kemudian, lalu mengambil tas miliknya untuk membayar pesanan minuman mereka.
"Levin, aku akan membayar minuman kami. Ini ambillah." Veronica meletakkan beberapa lembar uang kepada Levin di atas meja bar.
"Terima kasih Nona Vero dan Nona Joana. Sering-seringlah datang kemari." Levin segera mengambil beberapa lembar uang tersebut. Seperti biasa Levin selalu bersikap ramah kepada para pengunjung.
"Ya, kami pasti akan sering datang kemari untuk bertemu dengan pria tampan sepertimu," sahut Joana menggoda Levin. Tidak lupa kedipan matanya itu terlewat.
Bartender tampan itu terkekeh. Ia sudah sering digoda oleh banyak wanita, akan tetapi tingkah Joana dalam menggodanya sungguh menggemaskan.
"Ayo cepat pergi." Veronica segera menarik tangan Joana. Terlalu lama jika menunggu temannya itu selesai menggoda pria.
"Iya... Iya...." Meski kesal, Joana menurut saja. Ia mengikuti langkah temannya itu menjauhi meja bar. "Sebenarnya kau ini kenapa? Kenapa tiba-tiba kita harus pergi? Apa yang baru saja kau lihat?" cercanya penasaran.
"Sebaiknya kau diam saja, Joana. Aku melihat seseorang yang menyeramkan lebih dari hantu. Jadi kau jangan melihat kebelakang, ok?!" Terpaksa Veronica menakuti temannya itu agar tidak terlalu banyak bicara.
"Hantu? Dimana kau melihatnya?" Tiba-tiba saja bulu kuduk Joana merinding. Karena hingar bingar suara musik, yang terdengar dari perkataan Veronica hanya hantunya saja.
"Di belakang, karena itu kita harus pergi sebelum dia menghampirimu." Veronica menjawab di sela-sela mereka berjalan keluar. Biarlah temannya itu berpikir demikian.
Meski merinding, tetapi Joana sangat menyayangkan mereka harus pergi secepat ini, padahal waktu baru menunjukkan pukul 9 malam. "Sayang sekali, padahal aku belum berhasil menggoda pria." Dan menghembuskan napas kasar.
Baru saja keluar dari Club, pandangan Joana yang lurus ke depan itu menangkap sosok pria yang dikenal oleh mereka.
"Oh astaga Vero, malam ini sepertinya kau sedang sial. Lihatlah, bukankah itu si mantan berengsek?!" Dagu Joana menunjukkan posisi Cade yang berdiri dengan bersandar di sisi mobil milik Veronica.
Veronica mendengkus jengah. Sungguh ia tidak ingin bertemu dengan pria berengsek itu lagi. "Untuk apa dia berdiri di samping mobilku?"
Joana mengangkat kedua bahunya. "Mana aku tau, mungkin dia ingin mengajakmu rujuk," katanya asal.
Mendengar perkataan Joana yang asal bicara membuat wanita itu mendapatkan tatapan tajam dari Veronica. "Jangan bicara sembarangan. Aku tidak mungkin kembali padanya!" serunya membantah tegas.
Joana hanya terkekeh melihat kekesalan di wajah Veronica. "Lalu bagaimana? Apa kau ingin mendatanginya dan bicara baik-baik padanya?"
"Omong kosong. Lebih baik kita kembali masuk ke dalam." Veronica menyeret tangan Joana untuk kembali melangkah ke dalam Club.
"Eh, tunggu dulu. Bukankah kau bilang di dalam ada hantu yang menyeramkan?" seru Joana teringat hantu menyeramkan yang dikatakan oleh Veronica. Ia mengira jika temannya itu benar-benar melihat hantu sungguhan.
"Lebih baik bertemu dengan hantu dari pada harus bertemu dengan mantan!" Veronica kembali mendengkus kasar.
Joana cekikikan mendengar jawaban Veronica. "Kau benar." Dan ia tetap mengangguk setuju.
Namun terlambat, sebelum melesat masuk ke dalam Club, Cade sudah mendapati Veronica dan berlari penuh mengejar mantan kekasihnya itu.
"Tunggu Vero." Lalu berhasil menyahut pergelangan tangan Veronica.
Dengan terpaksa wanita itu menghentikan langkahnya ketika tangannya di genggam erat. Dan Joana tidak mungkin meninggalkan Veronica seorang diri bersama Cade. Bisa saja pria itu bertindak kasar kepada temannya, sehingga ia memutuskan untuk menunggu di depan pintu masuk.
"Lepaskan tanganku?!" Veronica berusaha untuk menepis tangan Cade. Tetapi percuma saja Cade lebih kuat darinya.
"Tidak. Sebelum kita bicara!" Cade bersikeras dengan tujuannya mendatangi Veronica. Apalagi jika bukan untuk memberikan penjelasan kepada wanita itu.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Jadi lepaskan tanganku dan pergilah dari sini!" Dan wanita itu pun bersikeras tidak ingin bicara dengan Cade. Ia masih berupaya meloloskan pergelangan tangan dari genggaman tangan mantan kekasihnya.
"Ada banyak yang harus kita bicarakan. Salah satunya, aku tidak ingin putus denganmu. Jika kau marah karena aku berselingkuh dengan Barbara, aku benar-benar minta maaf dan aku tidak akan mengulanginya lagi." Cade memasang wajah penuh penyesalan, tetapi terlihat memuakkan di pandangan Veronica.
"Ck menggelikan," serunya memasang wajah jijik. "Aku tidak peduli kau ingin mengulanginya lagi atau tidak. Kalian terlihat sangat cocok, jadi lebih baik tidak perlu menggangguku lagi!"
"Tidak. Aku tidak akan berhenti mengganggu sebelum kau kembali padaku!"
"Aku tidak peduli. Aku sudah bosan padamu!" seru Veronica menegaskan.
Cade menggelengkan kepala tidak percaya. Mana mungkin Veronica bosan kepadanya. Selama ini ia selalu memanjakan wanita itu dengan fasilitas yang ia berikan.
"Kau tidak mungkin bosan padaku. Apa kau lupa jika aku memberikan apartemen dan barang-barang mewah untukmu."
"Ck, jika hanya itu aku bisa mengembalikan semuanya. Aku akan tinggalkan apartemen itu malam ini juga!" Puncak emosi Veronica berada di ubun-ubun ketika pria itu sepertinya tengah perhitungan padanya. Padahal selama ini ia tidak memintanya dan pria itu yang memaksanya untuk menerima semua pemberiannya.
"Kenapa memangnya? Apa karena aku belum memberikan tubuhku padamu?"
Seketika perkataan wanita itu membuat Cade terbungkam.
"Ck, benar bukan? Kau tidak bisa melepaskanku karena kau belum merasakan tubuhku?" Veronica tersenyum sinis.
Cade menggeleng. Buru-buru membantahnya. "Tidak, bukan seperti itu, tapi...."
"Cade, lepaskan dia. Apa yang kau lakukan?" Wanita cantik dan seksi menghampiri Cade.
"Barbara?" gumam Cade terkejut mendapati wanita itu berada disini.
Veronica semakin jengah dibuatnya. "Kekasihmu yang sebenarnya sudah datang, jadi tinggu apalagi, lepaskan tanganku sekarang juga!"
"Tidak!" Cade menegaskan.
"Cade, lepaskan tangannya. Kau seorang pebisnis yang kaya, tidak perlu memohon pada wanita sepertinya." Barbara yang tidak tahu malu itu berusaha membujuk Cade.
"Diam! Aku tidak bicara denganmu!" Merasa kesal dan semakin kacau akan kedatangan wanita itu, akhirnya Cade membentak Barbara. Dan wanita itu menciut, tidak berani mengeluarkan suara kembali.
"Baiklah jika kau tidak ingin melepaskan tanganku! Jangan salahkan diriku jika aku bertindak kasar!"
BUGH
Veronica benar-benar merealisasikan perkataannya dengan menendang belalai Cade. Hingga membuat Cade terpekik kesakitan.
"Wanita jalaang. Apa aku yang kau lakukan pada Cade?!" teriak Barbara. Lalu mendekati dan membantu Cade.
"Upss.... Aku hanya menendangnya dengan pelan." Veronica memasang wajah tidak bersalah.
Sedangkan sedari tadi Joana menyaksikan, ia berseru senang dan memberikan dua jempol di udara kepada Veronica. Temannya itu benar-benar menendang belalai Cade sesuai keinginannya di dalam Club tadi.
"Sialan!" Cade meradang. Padahal sejak tadi ia sudah mencoba mengalah, tetapi wanita itu benar-benar bersikap bar-bar. "Kemari kau sialan! Kau sudah benar-benar membuatku kesakitan!" Cade menepis tangan Barbara dan melangkah mendekati Veronica.
Merasa terancam, Veronica berpikir harus segera pergi. Lebih baik ia kembali masuk ke dalam Club sebelum Cade membalas perbuatannya.
BRUGH
Namun tubuhnya menabrak dada bidang seorang pria. Ketika wanita itu mendongak, ia meneguk salivanya.
"Tuan Darren?"
Pria itu pun menatap tajam Veronica yang terkejut seolah sedang melihat hantu.
"Kau ingin berlindung pada pria ini, heh?!" seru Cade. Memecahkan perhatian Darren, sehingga ini pria itu menatap ke arah Cade.
Merasa tersudut, Veronica tidak memiliki pilihan lain selain berlindung kepada Darren. "Maafkan aku sebelumnya, tapi tolong bantu aku." Setelah berbisik pelan, wanita itu segera bersembunyi di balik punggung kekar Darren.
"Berikan wanita itu padaku!" ujar Cade yang sudah memupuk emosi.
Darren masih diam tanpa kata. Tetapi sorot matanya itu begitu mematikan.
"Jika aku tidak ingin memberikannya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Darren dengan tenang.
"Cih, apa kau kekasih barunya?" Entah kenapa Cade menyimpulkan demikian. Tetapi dari cara pria itu melindungi mantan kekasihnya, sehingga ia sudah bisa menebaknya. "Jadi karena pria keparat ini, kau ingin putus dariku? Karena kau sudah memiliki target baru, heh?!"
"Astaga, dia itu bicara apa sih?" gumam Veronica tidak percaya apa yang dikatakan oleh Cade. Dan Darren dapat mendengar gumaman Veronica, ia hanya melirik singkat ke arah wanita itu.
Lalu pusat perhatian Darren kembali terarah kepada pria di hadapannya. "Setidaknya dia tidak salah memilih. Dari pada pria sepertimu yang hanya cangkang kosong dan tidak berotak!"
"Astaga, Ya Tuhan! Mulutnya tajam sekali! Ternyata pria pendiam itu menyimpan banyak racun yang mematikan." Dan lagi-lagi Veronica bergumam dan tentu saja Darren dapat mendengarnya.
Darren mendesaah kasar di dalam hati. Sepertinya ia sedikit menyesal ikut campur masalah orang lain dan wanita itu selalu saja dalam masalah, sehingga membuat dirinya selalu terjebak untuk membantu.
To be continue
Darren
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...