The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Terkecoh Menilai



Sudah terlalu lama Arthur meninggalkan adiknya dengan Mikel di dalam satu ruangan. Ia bergegas kembali ke dalam ruangan usai sambungan teleponnya terputus. Sorot matanya kembali menajam begitu Mikel terlihat berangsur menjauh dari ranjang. Kedua alisnya saling bertaut disertai matanya yang menyipit, menduga-duga jika ada yang sesuatu yang terjadi selama ia meninggalkan ruangan.


Dengan sengaja Mikel berdehem, ia menyadari jika Arthur menatapnya dengan penuh selidik. Beruntung saat Arthur masuk kembali ke dalam ruangan, ia sudah melepaskan pelukannya. Jika tidak, ia pasti akan membuat Arthur semakin kesal padanya.


"Sepertinya aku harus pergi." Mikel baru saja melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, ia sudah terlalu lama meninggalkan kantor.


"Pergilah, tidak ada yang mengharapkan kehadiranmu disini!" Arthur menyahut dengan sinis, ia melangkah menuju sofa dan melemparkan ponselnya di atas sana.


Mikel menahan diri agar tidak menimpali ucapan Arthur. Entah mengapa sikap Arthur sama menyebalkannya seperti Paman Xavier, pikirnya.


"Kak Ar...." Tentu Elie memprotes sikap kakaknya itu. Tidak seperti biasanya kakaknya bersikap begitu kekanak-kanakan. Kentara sekali jika kakaknya itu tidak bersahabat dengan Mikel.


Arthur menulikan telinganya, ia lalu membenamkan tubuhnya di atas sofa. Nampak kedua pria itu sama-sama membekukan suasana sehingga membuat aura ketegangan mulai dirasa.


"Aku pergi dulu. Aku akan datang lagi jika memiliki waktu luang," ujar Mikel dengan tatapan penuh kelembutan kepada Elie.


"Ya, terima kasih."


Bibir Mikel membentuk sebuah lengkungan, ia merasa jika Elie sudah semakin dekat dengannya. Bahkan wanita itu tidak bersikap ketus padanya seperti sebelumnya. Bukankah ini adalah awal yang baik, sedikit demi sedikit ia akan membuat wanitanya itu tidak bisa berjauhan dengannya.


Mikel masih menebarkan senyumnya itu, sebelum kemudian menoleh sekilas pada Arthur yang nampak enggan mendongak menatap ke arahnya.


"Aku pergi dulu. Jaga wanitaku baik-baik." Perkataan Mikel tentu saja bagaikan bom molotov di telinga Arthur. Bagaimana bisa pria itu benar-benar sudah mengklaim sang adik sebagai wanita pria itu?


Mikel pergi begitu saja setelah mengundang peperangan. Biarlah, salahnya sendiri kenapa calon iparnya itu begitu menyebalkan, batinnya.


"Hei kau....!" Baru saja Arthur hendak mengumpati Mikel, tubuh pria itu sudah lebih dulu lenyap dari pandangannya. "Pria sinting!" umpatnya. Arthur menyugar rambutnya dengan kasar. "Elie, bagaimana bisa kau berurusan dengan pria sepertinya?!" Arthur tidak habis pikir ada pria yang menyebalkan seperti itu yang berkeliaran di sekitar sang adik.


"Bukankah Kak Ar juga sudah tau bagaimana aku bisa bertemu dengannya?" Sebenarnya Elie berusaha menahan kekehannya, sebab untuk kali pertama ada seseorang yang berhasil membuat Arthur begitu kesal. Biasanya kakaknya yang selalu membuat siapapun kesal dengan sikap yang tidak ingin dibantah, tak terkecuali dirinya.


"Jangan bertemu dengannya lagi! Aku akan mematahkan kakinya jika dia berani menemuimu!" seru Arthur penuh dengan ketegasan.


Elie malas menanggapi, ia memutar bola matanya jengah. Entah mengapa Arthur yang biasanya membebaskan dirinya berhubungan dengan pria siapapun itu, kali ini begitu bersikeras menentangnya. Padahal ia sudah sedikit menemukan kenyamanan saat bersama Mikel. Entahlah Elie merasa jika dirinya sudah mengenal lama pria itu.


***


Arthur mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Ia memutuskan pergi dari rumah setelah menunggu kedua orang tuanya kembali. Sedari tadi napasnya yang masih memburu emosi itu perlahan berangsur menyurut, ia tidak ingin mengemudikan mobil dalam keadaan emosi yang tidak stabil. Terlebih jika ia akan membangkitkan Killer dalam dirinya akan sangat berbahaya bagi sekitarnya.


Arthur sedikit mengurangi kecepatan mobilnya ketika suara dering ponsel memecah fokusnya, ia lantas segera menepikan mobilnya lalu mengambil ponsel yang ia letakkan di kursi sisinya.


"Ada apa Der?" tanyanya saat sudah memasang earphone pada daun telinganya. Perlahan ia kembali menancapkan gas dengan kecepatan sedang.


"Tidak ada apapun di sini Ar. Sepertinya mereka sudah mengetahui rencana kita."


"Apa kau dan Chris yakin tidak salah tempat, Der? Apa itu adalah Club dan rumah bordir yang dijalankan oleh pria tua itu?" tanyanya memastikan.


"Aku tidak menemukan kejanggalan, tidak ada kegiatan prostitusi di Club ini."


Arthur nampak diam berpikir. "Kalau begitu kau dan Crish pergilah dari Manchester. Mereka pasti melakukan sesuatu saat kalian pergi dari sana!"


"Baiklah! Mungkin memang mereka sudah mengetahui kedatanganku dan Chris."


"Hem...." Arthur menyahut dengan berdehem. Pandangannya seketika teralihkan sejenak keluar jendela, disusul keningnya yang membentuk sebuah kerutan dalam. "Nanti aku akan menghubungimu lagi!" Dan segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


Arthur menatap satu persatu bangunan sederhana yang berjajar. Ia bahkan baru mengetahui jika ada sebuah bangunan di jalan ini, yang ia mengira jika hanya sebuah jalan biasa menuju suatu tempat tertentu. Namun nyatanya banyak bangunan kelas bawah yang sudah nampak lusuh.


Langkah Arthur terhentikan, sebab sosok yang ia ikuti berhenti di salah satu bangunan berlantai dua bercat putih gading. Bagian bawah bangunan itu dipenuhi dengan Stationary Window atau jendela yang tidak bisa di buka tutup karena di pasang mati pada kusen.



"Damn! Kenapa aku seperti penguntit?" Arthur menyugarkan rambutnya ke belakang. Benar ia merasa jika dirinya seperti seorang penguntit dan seketika ia meruntuki apa yang baru saja ia lakukan. Sadar akan tindakan bodohnya Arthur memutar arah tubuhnya hendak berlalu. Namun suara yang beramai-ramai memanggil nama seseorang yang tentu saja sangat dikenalnya membuat langkahnya terurungkan.


"Bibi Helena....." Beberapa anak-anak kecil setengah berlari dan berhamburan menghampiri wanita yang baru saja menapi kakinya di lantai batu bata tersebut.


Ya, wanita itu adalah Helena. Entah untuk apa kedatangan Helena ke tempat bangunan sederhana yang nampak lusuh itu, karena bukan mencerminkan wanita itu yang terlihat glamor dan anggun. Namun sesuatu yang tertangkap kacamatanya yaitu kedekatan wanita itu dengan beberapa anak-anak disana. Arthur baru menyadari tempat itu adalah sebuah panti asuhan setelah membaca papan nama yang membelintang di pinggir halaman.


"Hai kalian." Helena bertumpu lutut, mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak berbeda-beda usia itu. "Hanya beberapa Minggu saja tidak bertemu, tubuh kali sudah tumbuh lebih dari sebelumnya," katanya kemudian dengan mengulas senyum.


"Tentu saja karena kami banyak makan. Bibi selalu mengirimkan banyak uang kepada kami sehingga kami bisa makan makanan lezat," seru salah satu dari mereka dengan polos hingga mendapatkan anggukan tanda setuju oleh anak-anak yang lain.


"Baguslah jika kalian banyak makan. Bibi akan mengirimkan uang yang lebih banyak agar kalian bisa setiap hari makan makanan lezat dan bergizi," sahut Helena tak kalah antusias.


"Tidak perlu Nona. Selama satu tahun ini kami sudah sangat banyak terbantu dan uang yang Nona kirimkan masih tersisa banyak." Seorang wanita setengah baya dengan dress lengan panjang selutut menghampiri Helena dan turut bergabung dalam percakapan tersebut.


Mendengar perkataan wanita setengah baya itu, Helena bangkit berdiri. "Tidak apa-apa, Meena. Lagipula aku tidak bisa menghabiskan uangku seorang diri," sahutnya terkekeh kecil. Selama ini ia memang selalu menyisihkan uang dari omset butiknya yang berada di Paris selama satu tahun ini.


"Terima kasih, Nona benar-benar penyelamat kami." Meena nampak terharu, kedua matanya bahkan sudah mengembun. Ia ingat benar bagaimana satu tahun panti asuhannya kekurangan penyokong, karena tiba-tiba saja satu per satu dari penyokong panti asuhannya tidak lagi mengirimkan mereka uang.


Helena tersenyum, ingatannya berputar pada satu tahun lalu. Dimana saat kedatangannya dari Paris ke London ia diabaikan oleh Mikel. Padahal ia tidak memiliki tujuan selain tempat pria itu. Tidak mungkin dirinya menemui ayahnya yang sudah tidak peduli dengannya. Ia dalam keadaan hidup ataupun mati, tidak ada keluarga yang peduli padanya. Namun hidupnya sedikit berubah ketika pertama kali tidak sengaja bertemu dengan beberapa dari mereka yang berkeliaran di pinggir jalan. Beruntung saat itu Helena sigap menangkap salah satu anak yang nyaris terhantam oleh mobil. Sejak saat itu Helena mulai akrab dengan anak-anak itu, namun ia masih merasa kesepian meskipun berada di tengah-tengah mereka.


***


Arthur kembali menuju mobilnya, ia tidak langsung masuk ke dalam mobil. Melainkan menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil. Pikirannya berputar tidak menentu, ternyata tidak semua yang terlihat buruk akan selalu buruk. Terbukti ia menemukan sebuah fakta yang sangat mencengangkan, dimana wanita arogan yang terlihat manja itu memiliki sisi lain di balik sikapnya yang menyebalkan dan penampilan yang seksi itu, sehingga membuatnya terkecoh menilai. Arthur tersenyum masam, sungguh diluar dugaan, karena sejauh ini ia selalu bertemu dengan wanita-wanita yang penuh dengan tipu muslihat.


Lama Arthur tercenung, ia kemudian masuk ke dalam mobil. Baru saja ingin menghidupkan mesin mobilnya, sorot matanya menangkap sosok Helena yang baru saja keluar dari gang tersebut, namun matanya mendelik begitu melihat dua pria tiba-tiba menarik tas wanita itu.


Helena tentu saja terkejut, ia gagal mempertahankan tas miliknya. "Perampok kurang ajar!" Namun wanita itu berusaha mengejar perampok tersebut. Jika seorang wanita akan berteriak jika barang miliknya di rampas, Helena justru mengejar dengan kaki yang berbalut high heels. "Kembalikan tasku, sialan!"


Dua preman itu berlari menuju arah mobil Arthur, sehingga detik itu juga Arthur membuka pintu mobilnya dan kemudian.....


BUGGH


Satu dari preman itu jatuh terjerembab lantaran menghantam pintu mobil yang terbuka secara tiba-tiba.


To be continue



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...