The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Welcome To The World)



Delapan bulan kemudian


Roda brankar yang bergerak cepat membentur lantai menimbulkan bunyi nyaring yang menggema di lorong rumah sakit. Sehingga membuat suasana dua kali lipat menjadi lebih tegang. Sang pria yang ikut mendorong brankar terlihat menggenggam erat tangan wanita yang dicintainya. Wanita yang tak lama lagi akan membuat dirinya menjadi seorang ayah.


"Bertahanlah sayang, kau pasti bisa." Tak terhitung kalimat menenangkan yang sudah diucapkan berulang kali sejak dalam perjalanan. Berharap perkataannya itu mampu merasuk ke dalam relung hati yang akan membangkitkan semangat sang istri tercinta.


Wanita yang sudah dipenuhi oleh keringat itu mengangguk lemah. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan putra mereka ke dunia.


Setibanya di dalam ruangan persalinan, para perawat tak hentinya memberikan dorongan untuknya agar terus menarik napas dalam dan membuangnya secara perlahan. Mengikuti instruksi dua perawat, wanita itu menggenggam tangan suaminya yang sedari tadi setia menemani.


Merasa tidak tega dengan sang istri, pria itu mengalihkan perhatian dari istrinya dan menatap tajam dua perawat wanita yang berada di hadapan brankar.


"Lakukan apapun agar istriku tidak kesakitan seperti ini!" Suara pria itu memberikan tekanan sehingga dua perawat tersebut bergidik ngeri.


"Tapi Tuan, untuk wanita yang akan melahirkan, hal seperti ini adalah sesuatu yang wajar." Dengan tertakut-takut, salah satu perawat tersebut menyahut.


"Wajar katamu, heh?! Kau tidak melihat jika-"


"Der, sudahlah. A-aku tidak apa-apa." Perkataan pria itu teralihkan dan membuat kalimat hardikannya terputus lantaran suara istrinya. "Me-meskipun sangat sakit tapi aku masih bisa menahannya, demi bayi kita." Terdengar rintihan diakhir kalimatnya itu.


Ya, pria yang sedari tadi dalam keadaan tegang sekaligus panik adalah Darren. Ia tidak menduga jika istrinya akan melahirkan lebih cepat dari perkiraan. Bibir Darren terbuka, hendak memprotes.


"Aakkhh, sudahlah. Perutku sakit sekali." Veronica merintih keras sehingga membuat Darren kembali membungkuk di sisi sang istri.


"Panggilan Dokter Emilia! Aku tidak mau tau lagi!" teriaknya pada dua perawat wanita itu. Dengan keadaan panik, siapapun tidak ada yang bisa mengendalikan diri. Terlebih saat melihat sang istri yang merintis kesakitan.


Salah satu perawat buru-buru pergi dari ruangan untuk memanggil Dokter Emilia yang merupakan dokter kandungan terbaik, sekaligus yang menangani kehamilan Veronica. Tetapi langkah perawat wanita tersebut tertahan oleh beberapa orang yang nyaris mengerumuni.


"Suster, bagaimana keadaan menantuku?" tanya wanita setengah baya yang tidak lain ialah Mommy Millie.


"Apa bayinya sudah lahir, suster?" Sosok wanita setengah baya lainnya menimpali dan tidak lain adalah Mommy Olivia. Padahal pertanyaan Mommy Millie saja belum dijawab oleh perawat tersebut.


"Kalau sudah, kenapa kami tidak mendengar suara tangisan bayi?" Kali ini terdengar suara Daddy Jack yang melayangkan pertanyaan.


Perawat tersebut menarik napas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Nyonya dan Tuan, harap tenang. Saya akan menjawab pertanyaan kalian satu per-satu." Untunglah perawat tersebut begitu sabar, sehingga tidak mempermasalahkan sikap mereka. Melihat mereka mengangguk, perawat tersebut berkata, "Nyonya Veronica baru memasuki pembukaan lima, sehingga harus menunggu pembukaan lengkap agar bayinya bisa dilahirkan."


"Heh, kenapa lama sekali? Menantuku pasti sangat kesakitan?!" ujar Daddy Jack memprotes tidak terima.


"Lakukan yang terbaik untuk menantu dan cucu kami, suster." Berbeda dengan suaminya, Mommy Millie terlihat lebih tenang.


"Hm, Baiklah Tuan dan Nyonya. Karena itu saya harus memanggil Dokter Emilia untuk segera datang ke ruang persalinan."


"Kalau begitu tunggu apalagi, cepat panggilkan Dokternya." Daddy Jack yang tidak sabar dan tentunya memikirkan keadaan menantu serta calon cucunya, mendorong suster tersebut agar cepat berjalan.


Bukankah sedari tadi mereka yang menahanku? batinnya sembari melangkah disertai gelengan kepala heran.


Tak berselang lama, Dokter Emilia terlihat melangkah tergesa-gesa melewati kerumunan anggota keluarga yang berada di depan ruang persalinan. Diikuti oleh perawat sebelumnya, Dokter kandungan tersebut masuk dan mendekati brankar. Ia memeriksa keadaan Veronica dan setelahnya memeriksa dinding rahim untuk mengetahui jalannya lahir sang bayi.


"Baiklah, pembukaan sudah lengkap. Nyonya Veronica harus mengejan kuat-kuat," ucap Dokter Emilia memberitahu, sehingga beberapa perawat di dalam sana siaga untuk membantu.


Dalam keadaan menahan rasa sakit, Veronica mengangguk lemah. Berbeda dengan Darren yang lebih dulu mengangguk mantap.


Veronica mulai mengejan, wanita itu menarik napas kuat-kuat, sebelum kemudian mengejan.


"Der, perutku sakit sekali. Aku sepertinya ti-tidak kuat."


Genggamannya kian diperkuat, Darren merasa tidak terima dengan perkataan istrinya. "Sssttt, jangan bicara seperti itu. Kau pasti bisa, istriku adalah wanita yang kuat. Saat itu kau tidak menyerah mengejar dan berusaha menarik perhatianku, karena itu jangan menyerah seperti dulu. Kau pasti bisa melahirkan putra kita."


"Aaakhhh....." Veronica berteriak. Alih-alih merasa lebih lebih baik saat mendengar perkataan suaminya yang mengingatkan akan masa lalu mereka, justru wanita itu bertambah sakit sekaligus malu. Malu karena Dokter Emilia dan beberapa perawat mendengar perkataan Darren, terbukti mereka mengulum senyum menahan tawa.


"Lebih kuat lagi Nyonya, sebentar lagi bayinya akan terlihat." Dokter Emilia memberikan dorongan agar pasiennya itu lebih semangat untuk mengejan.


Sungguh, Veronica ingin mengumpat untuk menjabarkan rasa sakit. Ternyata untuk bayinya menemukan jalan lahir tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya.


"Akkkhh, kenapa membuatnya sangat nikmat, tetapi tidak saat melahirkan? Akkhh.... uuhh... uhhh... uhhh...." Veronica kembali berteriak usai berkata asal yang benar ia rasakan. Saat membuatnya terasa begitu nikmat hingga seperti terbang ke langit. Tetapi saat melahirkan justru membutuhkan perjuangan dengan menahan rasa sakit.


Mendengar perkataan vulgar sang istri, telinga Darren memerah. Disaat keadaan genting seperti ini, sempat-sempatnya istrinya itu memikirkan saat mereka membuat baby.


Dokter Emilia kembali mengulum senyum. Selama mengenal Veronica sebagai pasiennya, ia sudah cukup mengetahui sifat wanita itu yang selalu bicara secara terang-terangan tanpa tahu malu. Bahkan pihak wanita yang menanyakan perihal posisi yang baik saat berhubungan suami istri. Sedangkan pihak pria, nampak datar seolah enggan untuk bertanya.


"Ayo sayang, lebih kuat lagi." Darren lebih memilih abai dengan perkataan sang istri. Saat ini yang lebih penting adalah ia harus memberikan semangat.


"Ah, syukurlah bayinya sudah lahir." Dokter Emilia segera memberikan bayi tampan itu kepada salah satu perawat untuk segera dibersihkan. "Selamat Nyonya... Tuan... bayi kalian berjenis kelamin laki-laki dan sangat sehat."


Dalam seketika, hembusan napas Darren penuh dengan kelegaan. Ia baru saja menyaksikan putranya dilahirkan dengan tubuh yang dipenuhi oleh darah. Dan yang berjuang adalah istri tercintanya. Kemudian dikecupnya kening Veronica berulang kali.


"Terima kasih sayang... terima kasih." Rasanya tiada kata yang mampu diutarakan untuk menjabarkan rasa terima kasihnya kepada sang istri. Rela mengandung dan melahirkan bukanlah hal yang mudah dan ia benar-benar berterima kasih karena istrinya itu sudah berjuang keras selama ini.


Napas Veronica masih memburu, tetapi terdengar lebih teratur. Bibirnya tersenyum tipis lantaran melihat kebahagiaan di wajah suaminya.


***


Di dalam ruangan perawatan begitu ricuh dengan kehadiran beberapa anggota keluarga. Lion Boys dan Dragon Boys terlihat antusias menyambut keponakan mereka. Tetapi sayangnya mereka tidak diizinkan menggendong baby boy, lantaran para orang tua sudah lebih dulu saling memperebutkannya.


"Tampan sekali. Sangat mirip dengan Darren," ujar Mommy Millie merasa terpesona dengan ketampanan cucu pertamanya.


"Tentu mirip dengan Darren, karena dia yang menanam benih," seloroh Daddy Jack asal.


"Sstt, kau ini. Jangan bicara yang tidak-tidak dihadapan anak-anak." Mommy Millie menegur sang suami. Ia tidak ingin baby twins Arthur dan Helena mendengarnya. Terlebih baby twins Elie dan Mike yang baru berusia empat belas bulan.


Semua yang di dalam ruangan menyemburkan tawa. Sedari tadi anak-anak justru terlihat sibuk bermain dan tidak menghiraukan para orang dewasa.


"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk baby, hm?" tanya Mommy Elleana kepada Veronica serta Darren. Sontak saja pertanyaannya itu mengundang rasa penasaran anggota keluarga yang lain.


Sebelum menjawab, Darren dan Veronica saling melemparkan pandangan. Kemudian mereka tersenyum karena tentunya mereka sudah menyiapkan nama untuk putra pertama mereka.


"Jorrel Hamilton. Saat ini dan seterusnya akan selalu dilimpahkan kebahagiaan. Dan saat dewasa nanti, putraku Jo akan tumbuh menjadi pria yang pintar dan teguh dengan pendiriannya." Perkataan Darren mengenai nama putranya membuat semua yang mendengarnya begitu terkesima. Mereka takjub akan arti nama Baby Jorrel.


"Baiklah Baby Jo, welcome to the world," seru Elie yang sedang memangku Baby Lucy.


"Ya, selamat bergabung anggota baru." Mike turut menimpali.


Gelak tawa memenuhi ruangan tersebut, sehingga membuat baby Jorrel tiba-tiba saja menangis dan Mommy Millie segera memberikan Baby Jorrel kepada Veronica untuk segera diberikan ASI kembali.


Para pria bergegas keluar dari kamar dan bergabung dengan lainnya, duduk di kursi ruang tamu. Ruangan VVIP tersebut dapat menampung banyaknya anggota keluarga yang berdatangan.


"Ah, setelah ini aku ingin menggendong Baby Jo," seru Licia antusias.


"Buatlah bayimu sendiri, Licia. Bukankah kau dan As akan menikah sebentar lagi, hm?" Dengan sengaja Veronica menggoda Licia hingga sukses membuat wajah gadis itu menyembulkan semburat kemerahan.


"Heh, jangan mengajarinya yang tidak-tidak." Elie menepuk bahu Veronica. Untung saja tidak mengenai kepala Baby Jo. Elie tidak terima jika Licia diracuni oleh sahabat baiknya itu.


Bibir Veronica mencebik maju. "Ck, kenapa? Tidak masalah jika membuat baby lebih dulu."


Kali ini kepala Veronica yang menjadi sasaran tepukan tangan Elie. "Seperti kau dan Der? Begitu?" serunya mencerca. "Apa kau lupa, sepulang kalian berbulan madu, kau pingsan dan ternyata sudah mengandung empat minggu."


Veronica hanya terkekeh-kekeh. "Aku hanya memberinya saran saja."


"Licia, jangan dengarkan Vero. Kakakmu yang satu itu sedikit bergeser otaknya." Tiba-tiba Helena menyambar disertai kekehan kecil.


"Astaga Helen. Mulutmu semakin tajam seperti suamimu." Veronica memasang wajah memelas. Sedangkan Helena hanya terkekeh saja.


"Aku tidak akan mudah diracuni. Aku bisa menahan diriku." Licia berucap bangga. Selama ini ia dan Austin hanya berciuman saja.


"Bagus.... bagus...." Elie mengacungkan dua ibu jarinya. Membuat Veronica mencebikan bibirnya lantaran merasa tersindir.


Para orang tua hanya saling tersenyum mendengar perkataan para wanita muda.


See you next bonus chapter


Yang berkenan cuss mampir ke novel teman Yoona yang kece ini ya 🤗



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...