The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Hanya Berteman



Helena menjalani perannya sebagai wanita hamil. Wanita itu begitu bahagia karena setiap harinya ia diperlakukan bak seorang ratu. Arthur selalu menyempatkan waktu menemani Helena. Lebih tepatnya menuruti masa mengidam sang istri, seperti beberapa hari yang lalu, Arthur tidak bekerja hanya sekedar untuk menemani Helena sepanjang hari. Istrinya itu ingin selalu berada di dekatnya dan selalu mengekori kemanapun dirinya berada. Sebab jika mereka berdekatan, Helena tidak sekalipun merasakan mual dan perut yang selalu bergejolak untuk memuntahkan apapun yang baru saja masuk ke dalan perut terasa begitu damai ketika menghirup aroma tubuh Arthur.


"Kau mau kemana?" Kelopak mata Helena tiba-tiba terpisah, kedua matanya berkaca-kaca saat mendapati suaminya akan meninggalkan dirinya.


"Hm, aku hanya ingin ke kamar mandi, Love," Arthur menoleh dengan seulas senyum khasnya. Padahal ia sudah berusaha tidak menimbulkan suara saat ingin beranjak dari ranjang.


"Aku ikut...." Helena memandang sendu, nyaris menangis.


Arthur mendesahkan napas pelan. Akhir-akhir ini Helena selalu manja padanya dan tidak ingin berjauhan, meskipun sekedar pergi ke kamar mandi saja.


"Baiklah...." Meski sulit di mengerti, tetapi Arthur tidak mungkin menolak keinginan Helena. Ia tidak mungkin tega melihat wajah istrinya yang berubah mendung jika ia menolak.


Senyum Helena mengembang, ia segera beranjak berdiri setelah Arthur sudah lebih dulu bangkit berdiri. Bahkan sangking semangat, Helena nyaris terjungkal.


"Hati-hati, Love." Beruntung reflek Arthur sangat bagus, sehingga ia bisa menangkap pinggul ramping istrinya.


Helena hanya terkekeh. Ia kerap kali ceroboh dan melupakan jika di dalam perutnya ada dua janin yang akan terus berkembang. Arthur kemudian menuntun Helena masuk bersama-sama ke dalam kamar mandi. Meski tidak masalah, tetapi rasanya aneh saja jika ke kamar mandi harus diikuti seperti itu. Akan tetapi Arthur tidak akan pernah mempermasalahkannya.


Setelah keduanya mandi bersama tanpa melakukan penyatuan. Mereka segera turun ke bawah untuk sarapan bersama. Saat ini mereka berada di Mansion Daddy Xavier, sehingga di meja makan sudah di tunggu oleh pasangan paruh baya yang menunggu putra serta menantu mereka. Bahkan terlihat Austin yang juga sudah bergabung disana.


"Pagi Mom... Pagi Dad... Pagi As." Seperti biasanya, Helena akan menyapa keluarga suaminya itu. Berbeda dengan Arthur yang nampak acuh. Memang seperti itu sifatnya dan mereka sudah memakluminya.


"Pagi juga sayang," sahut Mommy Elleana menyambut dengan senyuman. "Bagaimana pagi ini, apa kau merasa mual lagi?"


Helena mengambil kursi dan membenamkan dirinya di kursi tepat bersisian dengan Arthur. "Tidak Mom. Mereka sangat baik jika di dekat Daddy-nya."


Mommy Helena dan Daddy Xavier saling melemparkan pandangan dan tersenyum. "Sepertinya mereka sangat menyayangi Daddy-nya. Karena itu mereka tidak ingin berjauhan," kata Mommy Elleana. Ia paham benar bagaimana selama satu minggu ini, Helena akan selalu menempeli Arthur.


Helena mengangguk membenarkan. "Mom benar. Bahkan hanya ditinggal ke kamar mandi saja aku langsung merasakan mual," jawabnya sembari mengusap perutnya.


Mommy Elleana terkekeh gemas. Wanita hamil memang ada-ada saja tingkahnya.


"Makanlah yang banyak. Mereka akan cepat tumbuh dengan baik." Arthur meletakkan beberapa lauk pauk ke atas piring Helena.


"Tapi ini terlalu banyak, Honey. Berat badanku akan bertambah naik," keluh Helena memprotes.


"Tidak perlu pikirkan hal itu. Yang terpenting kau dan kedua bayi kita selalu sehat." Arthur memberikan usapan lembut di kepala Helena, hingga membuat wanita itu menyembulkan rona merah di wajahnya.


Dan sikap Arthur itu membuat Mommy Elleana serta Daddy Xavier sedikit terperangah. Putra mereka yang minim ekspresi itu menunjukkan sisi manisnya di hadapan Helena. Berbeda dengan Austin yang menjadi merinding.


Seseorang yang jatuh cinta memang ajaib. Setelah membatin sikap sang kakak, Austin mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya.


***


Seperti Helena dan Arthur yang nampak semakin dekat dan tidak terpisahkan. Elie serta Mike tidak kalah mesra dan menikmati sebagai pengantin baru. Setiap kali ada kesempatan, maka Mike akan menggempur istrinya itu. Seperti pagi ini, Elie baru saja selesai mandi, tetapi Mike menyerangnya hingga wanita itu harus mandi untuk yang kedua kalinya. Bibirnya mengerucut sebal lantaran ia harus terlambat datang ke agensi, padahal pagi ini ia ada pemotretan dan terpaksa diundur untuk memuaskan hasrat suaminya yang tidak pernah puas itu.


"Mike, lepaskan. Aku benar-benar sudah terlambat." Mike masih melingkari kedua tangannya di perut Elie.


Alih-alih melepaskan, Mike justru semakin menelusupkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Ia selalu gila dengan aroma tubuh Elie yang benar-benar memabukkan.


"Tubuhmu benar-benar harum, Sweetheart. Aku menyukainya."


Tubuh Elie meremang kala Mike menyapukan bibirnya di lehernya. Oh tidak, jangan sampai Mike kembali bergairah dan pada akhirnya mereka akan berakhir di ranjang dengan bertukar keringat sepanjang hari.


Elie menggeliat untuk melepaskan pelukan suaminya itu. "Tapi Mike, jika seperti ini terus kita kapan akan berangkat? Aku harus ke agensi dan kau juga harus ke perusahaan. Ini sudah hampir jam 10 Mike."


Mike mengeluhkan napasnya ke udara. "Ck, tidak bisakah kita seharian saja di kamar, Sweetheart?"


Elie menggeleng tegas dan sudah cukup mewakili jawaban untuk sang suami. "Kau harus bekerja jika tidak ingin perusahaanmu jatuh bangkrut."


Mendengar perkataan Elie, Mike terkekeh. "Perusahaanku tidak mungkin bangkrut Sweetheart. Ada banyak orang-orang kepercayaanku yang kompeten di perusahaan. Meskipun aku tidak datang ke perusahaan, mereka bisa mengatasinya."


"Aku tau, tapi tetap saja kau harus bekerja dan aku juga harus bekerja." Jika percakapan mereka hanya berputar-putar saja, maka semakin banyak waktu yang akan terbuang. Setelah berupaya melepaskan lilitan tangan Mike, akhirnya Elie terbebas. Wanita itu segera bergerak kesana-kemari untuk menyempurnakan penampilannya setelah berpakaian.


"Mike, cepat ganti pakaianmu." Elie menyodorkan kemeja putih dan setelan jas serta celana berwarna hitam kepada Mike, sehingga membuat Mike tersentak karena sang istri sudah berdiri di hadapannya. Ah, rupanya ia baru saja termenung.


Tidak ingin membuat istrinya itu semakin kesal, Mike segera meraihnya. "Baiklah Sweetheart. Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu." Sebelum berganti pakaian, Mike mencuri kecupan di bibir Elie.


***


"Elie, astaga! Kau lama sekali datangnya. Aku hampir saja mati berdiri menunggumu." Baru saja datang, Elie sudah disambut oleh celotehan Veronica.


Elie memutar malas bola matanya. "Jika kau mati berdiri, kau tidak mungkin ada disini, sudah pasti kau akan berada di rumah sakit." Lalu membenamkan tubuhnya di salah satu sofa yang tersedia disana.


"Astaga Elie, kau menyumpahiku masuk rumah sakit?" Bibir Veronica mencebik kesal.


"Tidak. Kau sendiri yang bilang jika kau hampir mati." Elie mengingatkan akan perkataan teman baiknya itu.


Veronica menanggapi dengan kekehan. Sebab Elie memang benar dan ia justru begitu heboh.


"Elie, hm.... apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Veronica mengambil tempat duduk tepat di hadapan Elie. Ia ingin bertanya sesuatu yang sungguh telah mengganggunya akhir-akhir ini.


"Apa? Tidak biasanya kau seperti ini. Biasanya kau langsung bertanya." Mata Elie memicing penuh selidik. Selama ini ia tahu betul sifat temannya yang selalu to the point.


Veronica hanya tersenyum menanggapi. Elie memang benar-benar tahu mengenai kebiasaannya itu.


"Hm, itu... kudengar wanita yang bernama Keiko itu akan datang ke London." Veronica bertanya dengan ragu-ragu. Sabab ia cemas jika Elie akan mencurigai dirinya.


"Heh, Keiko?" Kening Elie berlipat dalam. Ia merasa aneh dengan pertanyaan Veronica yang tiba-tiba. "Ada apa kau menanyakannya?"


Ditatap penuh selidik seperti itu semakin membuat Veronica gugup. Tetapi ia harus pintar menyembunyikan ekspresinya bukan?


"Hm, saat itu aku tidak sengaja mendengar jika mereka akan datang ke London. Jadi dari pada aku mati penasaran, bukankah lebih baik jika aku bertanya padamu saja." Entahlah, Veronica sendiri tidak yakin perkataannya tidak akan menimbulkan kecurigaan Elie.


"Hm, sepertinya memang seperti itu. Aku mendengar jika mereka akan datang ke London dua hari lagi." Elie teringat akan percakapan kedua orang tuanya saat ia berkunjung ke Mansion. "Tapi aku mendengar dua hari yang lalu, itu artinya mungkin saat ini mereka sudah berada di London."


"Apa?" Kedua mata Veronica melebar mendengarnya. Belakangan ini ia memang mengambil job pemotretan di luar kota dan bahkan ia tidak mengganggu pria itu dengan pesan-pesan spam yang biasa ia kirimkan.


"Aish, kau ini kenapa?" Elie tentu saja terkejut dengan respon Veronica yang begitu berlebihan. "Atau jangan-jangan kau menyukai Darren?" tanyanya dengan mata yang memicing tajam dan menuntut akan jawaban dari temannya itu.


"Kau ini bicara apa. Aku... aku hanya bertanya saja," sahutnya mengelak. Entah kenapa ia tidak bisa jujur kepada Elie, sebab jika Elie tahu mengenai dirinya memiliki perasaan terhadap Darren, mungkin Elie akan menganggapnya tidak pantas. Sebab ia dengan pria itu memang memiliki perbedaan yang sangat jauh.


Wanita itu berusaha menghindari kontak mata dengan Elie yang terus saja menatapnya penuh selidik. Ia yang mulai gelagapan menghela napas kecil ketika dering ponselnya menyita perhatian mereka.


"Ah, aku terima telepon dulu." Veronica meraih ponselnya yang terletak di atas meja, lalu segera menjawab panggilan yang ternyata dari Larry. "Ada apa, Larry?" jawabnya begitu menempelkan ponsel pada daun telinga. "Ah baiklah, kau harus menjemputku, kita akan berangkat bersama." Setelah mengatakan hal demikian, Veronica segera mengakhiri panggilan tersebut


Dilihatnya Elie yang masih tidak mengalihkan pandangan darinya. "Elie, sepertinya aku harus pergi. Larry akan menjemputku."


"Apa kau dan Larry akan berkencan?" Bukan tanpa alasan Elie bertanya seperti itu, sebab hubungan Veronica dengan Larry semakin dekat.


"Jangan bicara omong kosong!" dengkusnya kesal. "Kami hanya berteman saja. Lagi pula dia sudah memiliki kekasih." Veronica heran kenapa bisa-bisanya Elie berpikir demikian, padahal temannya itu tahu benar bagaimana hubungannya dengan Larry.


Elie terkekeh. Padahal ia hanya menggoda Veronica saja, siapa tahu memang mereka memiliki hubungan selain pertemanan.


"Ah sudahlah. Aku pergi dulu. Salah kau sendiri kenapa datangnya begitu lama sehingga jadwalmu harus diundur." Veronica menyambar tasnya, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas miliknya itu. "Nanti kuhubungi lagi, bye." Veronica menempelkan pipinya pada pipi Elie secara bergantian sebelum berlalu dari sana.


Elie hanya menatap punggung Veronica yang tertelan di balik pintu dengan menyimpan banyak pertanyaan untuk teman baiknya itu.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...