
Beberapa hari ini Austin sudah terbiasa dengan pekerjaannya. Ia menikmati posisinya sebagai salah satu Direktur, terlebih ketika harus mendebat beberapa staf ketika ia menjadi pemimpin rapat. Ya, Austin yang cepat tanggap diberikan kesempatan oleh Darren untuk memimpin rapat pagi ini.
Aura tegas yang menguar mampu membungkam beberapa staf yang tidak sependapat dengan gagasan yang ia berikan, sehingga Austin meminta mereka untuk memberikan pendapat masing-masing. Namun sialnya rasa percaya diri beberapa staf dibantai habis-habisan oleh Austin yang tidak sependapat dengan mereka. Biar bagaimanapun gagasan yang mereka berikan akan berdampak pada masyarakat sekitar yang merasa akan dirugikan oleh Perusahaan karena masalah sengketa tanah.
"Yang kita hadapi adalah penduduk asli Desa Broadway. Menurut kalian apa yang akan mereka lakukan jika perusahaan kita tetap mendirikan beberapa ruko disana?!" Dengan penuh kesabaran, Austin mencoba membuka pikiran beberapa staf yang tetap ingin melanjutkan proyek pembangunan perusahaan.
"Tapi Tuan Muda, kita memiliki sertifikat asli kepemilikan tanah, sudah pasti sertifikat yang di miliki oleh kepala desa adalah sertifikasi palsu." Salah satu staf tetap pada pendapatnya, jika proyek yang sudah mereka rencanakan tidak dapat ditunda hanya karena masyarakat disana mereda keberatan karena mereka akan membangun beberapa ruko di atas tanah kepala desa.
Austin menghela napas kasar, lalu menatap tajam staf tersebut. "Kepala desa Broadway juga memiliki sertifikat yang asli dan mengatakan jika sertifikat Perusahaan Romanov Group yang palsu. Lalu apa kau pikir mereka akan diam saja?!"
Staf tersebut menunduk, dalam hati ia membenarkan. Karena ia sempat melihat dengan mata kepala sendiri jika sertifikat milik kepala desa tersebut nampak asli.
"Tetap pada keputusan di awal. Lakukan mediasi dan dua di antara kalian melapor pada kantor pertanahan. Proyek di tunda sampai masalah sengketa tanah selesai." Pandangan Austin mengitari semua peserta rapat yang merasa belum puas dengan rapat kali ini. Karena dengan kekuasaan Perusahaan Romanov akan dengan mudah membereskan kepala desa beserta penduduknya. "Rapat kali ini kita akhiri sampai disini!" sambungnya. Tegas dan tidak terbantahkan. Jiwa kepemimpinan Austin membuat para peserta rapat bergidik ngeri. Ternyata kakak beradik itu memiliki kesamaan, yaitu tegas dalam mengambil keputusan tanpa merugikan pihak lainnya.
Para peserta rapat berbondong-bondong keluar dari ruangan rapat, kecuali Austin, Darren dan Bastian yang tetap berada di ruangan rapat. Semua yang keluar dari ruangan rapat memasang wajah lesu, mereka tidak bisa membantah keputusan Tuan Muda Austin. Hingga membuat Gabriela yang berjalan menuju ruangan rapat mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa mereka seperti baru saja keluar dari kandang singa?" batin Gabriela bertanya-tanya. Lalu acuh kembali hingga masuk ke dalam ruangan rapat.
"Tuan Darren, maaf jika saya mengganggu. Tapi saya harus menyampaikan laporan penting ini." Sebenarnya Gabriela bisa saja menunggu Darren saat sudah berada di ruangannya. Tetapi yang baru saja menghubungi mengatakan jika Tuan Darren harus segera menghubunginya usai rapat.
"Ada apa?" tanya Darren penasaran.
"Beberapa menit yang lalu Tuan Jack menghubungi saya, beliau mengatakan jika Tuan Darren harus segera menghubunginya."
"Dad?" sahutnya bergumam yang hanya ia sendiri yang dapat mendengarnya. "Baiklah, aku akan segera menghubunginya, ponselku tertinggal di ruangan."
Usai menyampaikan pesan dari Tuan Jack, Gabriela pamit undur diri.
Austin menatap Darren. "Jika tidak penting, Paman Jack tidak mungkin menghubungi Gabriela. Sebaiknya kau segera kembali ke ruanganmu, aku juga akan ke ruanganku," katanya dan segera di angguki oleh Darren. Keduanya beranjak bersamaan dan keluar dari ruang rapat diikuti oleh Bastian.
***
Begitu berada di ruangan, Darren segera menghubungi Daddy Jack, tidak membutuhkan waktu lama menunggu, Daddy-nya itu sudah menjawab panggilannya.
"Ada apa Dad?" tanyanya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Pergilah malam ini ke Jepang. Paman Brian membutuhkan bantuanmu." Daddy Jack berucap pada intinya.
"Bukan. Kakek Yushio baik-baik saja, hanya saja Klan Shogun Young mendapatkan teror. Beberapa anak buah yang tewas tanpa diketahui penyebabnya. Karena itu kau harus segera kesana membantu Pamanmu. Kau sudah tau jika Paman Brian tidak bisa mengambil alih Klan karena dia hanya tau berbisnis." Penjelasan panjang Daddy Jack membuat Darren mengangguk-anggukan kepala tanda paham. Memang selama ini Klan Shogun Young di serahkan oleh Daddy Jack, akan tetapi Daddy-nya kini tidak bisa terbang ke Jepang lantaran akhir-akhir ini kesehatan Mommy Millie sedang tidak baik dan tentu saja Daddy-nya itu akan mungkin meninggalkan istri tercintanya.
"Baiklah, malam ini aku akan terbang ke Jepang. Ar akan kembali malam ini, jadi tidak masalah jika beberapa hari aku tidak datang ke perusahaan." Darren menyanggupi. Selain dirinya, ia tidak akan bisa mengandalkan siapapun. Terlebih Paman Brian yang sejak dulu menolak menjadi ketua Klan Shogun Young dan hanya ingin hidup bebas sebagai pengusaha.
"Ehm, aku akan menyiapkan keperluanmu disana."
"Ya, Dad. Jangan katakan apapun pada Mom, dia pasti akan mencemaskanku." Darren teringat akan kejadian tiga tahun lalu ketika dirinya mengunjungi negeri sakura itu, beberapa kelompok menyergap dirinya, sehingga membuatnya terluka karena kurangnya kewaspadaan. Dan hal itu membuat Mommy Millie menangis tersedu-sedu memikirkan dirinya.
"Aku akan merahasiakannya. Lagi pula apa kau pikir aku rela jika Mommy-mu hanya memikirkanmu sepanjang hari. Big No!" sungut Daddy Jack kesal. Meski putranya sendiri, tetap saja ia tidak rela jika sang istri memikirkan putra mereka yang lebih tampan darinya.
"Astaga Dad, kau cemburu pada putramu sendiri." Meski heran, tetapi itulah sikap Daddy-nya dan Darren sudah terbiasa.
Daddy Jack mendengkus. "Kau atau siapapun itu aku tidak peduli!"
"Ck, sepertinya aku tau dari mana aku mewarisi sikap menyebalkan," cetusnya dengan decakan lidah. Ia teringat tentang seorang wanita yang selalu mengatakan jika dirinya sangat menyebalkan.
"Apa? Kau ingin bilang jika akulah yang mewarisi sikap menyebalkan padamu?!" Daddy Jack berseru tidak terima.
Darren reflek menjauhkan ponselnya. "Sorry Dad, ada panggilan masuk, aku tutup teleponnya." Tanpa menunggu jawaban dari Daddy Jack yang sudah pasti bersungut-sungut kesal di seberang sana, Darren sudah memutuskan sambungan teleponnya lebih dulu. Ia malas meladeni Daddy-nya jika dalam mood menyebalkan, tidak jauh berbeda dengan Paman Xavier.
Darren kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu memandangi setumpukan dokumen, helaan napasnya terdengar berat. Sepertinya hari ini harus menyelesaikan beberapa dokumen yang urgent terlebih dahulu dan meletakkannya di meja Arthur. Dua jam yang lalu, Arthur memberi kabar padanya jika besok pagi sudah kembali bekerja.
***
Langit berganti warna. Kini petang menyambut perjalanan Austin yang sepulang dari perusahaan lebih memilih mengendari mobilnya seorang diri. Perjalannya nampak mulus tanpa hambatan. Namun tiba-tiba saja mobilnya mendadak berhenti ketika pandangannya terganggu pada sosok Jolicia yang berada di outdoor cafe.
"Siapa dia?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri yang jelas-jelas tidak tahu. Sebab pria itu nampak asing. Ah, ternyata beberapa minggu difokuskan pada pekerjaannya, membuatnya lupa akan dunia luar yang lepas dari pantauannya.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...