The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Aku Menemukanmu, Love



Darren diam seribu bahasa, tatapannya justru mengitari ketiga pria paruh baya yang juga menunggu jawaban darinya.


"Der!!" Kesabaran Arthur semakin menipis. Ia tidak ingin menunggu jawaban terlalu lama, sehingga memutuskan untuk mencari Helena.


"Dia tidak berada disini, Ar."


Langkah Arthur terpaksa terhenti saat mendengar perkataan Darren. "Apa maksudmu?!" Lalu menuntut penjelasan.


"Istrimu tidak berada di manapun. Ada kemungkinan Vasco sudah membawanya pergi." Dengan berat hati, Darren mencoba menyampaikannya. Meskipun ia sangat yakin jika setelah ini, Arthur tidak akan bisa lagi mengendalikan dirinya.


Benar saja, Arthur mengeraskan rahangnya. Bahkan satu tangannya terkepal kuat. Sedangkan Jorge, Alan Born serta Benjamin terkekeh. Sebab mereka mengetahui jika Vasco sudah membawa Helena pergi dari Markas.


"Lihatlah, istrimu tidak ada disini Tuan. Kau mencari ditempat yang salah!" seru Alan Born mencoba menutupi yang sebenarnya terjadi. Meskipun sebenarnya ia sangat takut jika Arthur akan menghabisi mereka karena terlibat dalam penculikan istri pria itu.


Grep


Arthur mencengkram kuat leher Alan Born, entah sejak kapan ia berjalan mendekat, hingga sudah berada di hadapan pria tua itu.


"Katakan, dimana bajingan itu membawa istriku??!!" tanyanya dengan cengkraman yang kian diperkuat. Ia tidak akan membiarkan siapapun lolos dari genggamannya sebelum mereka mendapatkan ganjaran darinya.


Alan Born mencoba melepaskan tangan Arthur dari lehernya. Namun yang terjadi, semakin ia memberontak, cengkraman tangan pria itu semakin kuat dan nyaris membuatnya sesak napas. Bahkan wajah Alan Born begitu merah karena aliran darahnya tertahan disana.


"Le-lepaskan aku...." ucapnya memohon dengan suara yang tersendat-sendat.


"Dimana istriku?! Kemana bajingan itu membawa istriku, heh?!" Arthur mengabaikan perkataan Alan Born yang memohon ingin dilepaskan. Lima jemarinya menekan titik syaraf pada leher Alan Born. Jika semakin ditekan, maka hanya perlu beberapa menit saja Alan Born akan kehilangan nyawa.


Jorge dan Benjamin yang menyaksikan kemarahan Arthur, nampak bergidik ngeri. Tubuh mereka bahkan tiba-tiba menjadi bergetar. Seharusnya mereka segera pergi dari sana.


Ya, mereka harus melarikan diri, sebelum bernasib sama seperti Alan Born. Keduanya kemudian melangkah menjauh untuk menyelamatkan diri masuk ke dalam salah satu ruangan. Namun keduanya sontak berhenti dan berjalan mundur ketika Darren sudah berdiri di hadapan mereka sembari menodongkan senjata. Tidak. Mereka tidak boleh mati dengan cara seperti ini.


"A-aku tidak tau apapun. Aku tidak tau kemana Tuan Vasco membawa Helen." Benjamin mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Saat ini ia terlihat tidak berdaya. Berbeda dengan beberapa waktu lalu, yang percaya diri jika mereka dapat menghancurkan Arthur dan kelompoknya.


Jorge melirik Benjamin. Apa adik iparnya itu mencoba menyelamatkan dirinya sendiri? pikirnya. Dan ia tidak bisa seperti ini, sudah melangkah terlalu jauh dan tidak mungkin menyerah begitu saja. Terlebih ia sudah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Kalian tidak akan bisa menemukan Helena!" Seperti kehilangan akal sehat, Jorge tergelak. Tentu ia akan puas jika sampai kapanpun Arthur tidak akan bisa menemukan keberadaan istrinya. Karena sejujurnya ia sendiri pun tidak mengetahui kemana Vasco akan membawa pergi Helena.


Dor!


"Aarghhh!!" Jorge memekik kesakitan ketika kakinya dihantam oleh peluru dan pelakunya tidak lain ialah Arthur. Tangan kanan Arthur masih mencengkram leher Alan Born, sedangkan tangan kirinya baru saja memuntahkan peluru tepat di kaki Jorge.


Benjamin bergerak mundur. Kakinya seperti mati rasa, seolah kakinya yang baru saja ditembak. Ia harus segera melarikan diri dari sana, terlalu berisiko menantang Arthur dan kelompoknya. Bahkan pria yang bersama Arthur itu tidak jauh berbeda. Sangat menyeramkan.


Baru saja berbalik badan, bahunya lebih dulu di cengkram oleh Darren.


"Mau lari kemana kau?!" Tentu Darren tidak akan membiarkan siapapun lolos. Mereka harus mendapatkan ganjaran karena berani mengusik.


"A-aku akan mengatakan keberadaan Vasco, tapi tolong lepaskan aku." Bohong! Tidak ada siapapun di antara mereka yang mengetahui tujuan Vasco membawa Helena. Benjamin berdusta agar dirinya dilepaskan. Ia rela memohon ampun dan merendahkan dirinya. Sebab ia masih ingin hidup untuk menikmati uang, bukan untuk menantang maut.


"Ck...." Arthur berdecak. Ia tertarik dengan perkataan Benjamin. Dilepaskannya leher Alan Born, lalu mendorong pria tua itu hingga tersungkur di lantai. Kemudian Arthur berjalan mendekati Benjamin dan melintasi Jorge yang mengerang kesakitan akibat ulahnya.


Melihat Arthur yang semakin berjalan mendekat ke arahnya, Benjamin berupaya melepaskan tangan Darren dari bahunya, tetapi Darren tidak mengindahkan. Dan justru menekan bahu Benjamin agar tidak bisa bergerak.


Tatapan Arthur yang mematikan itu membuat Benjamin tidak bisa berkutik. Ia berusaha menghindari pandangan agar tidak bersitatap dengan Arthur.


"Benar kau, bukan?" Arthur menyeringai tipis. Ya, ia mengetahui jika Benjamin-lah yang sudah melenyapkan Mommy Anna.


Benjamin sontak mengangkat wajahnya, hingga tatapan mereka bertemu. Bola mata Arthur seolah memancarkan kegelapan, membuat Benjamin seolah tenggelam di dasar neraka.


"A-aku...." Sangking terkejutnya, Benjamin tidak dapat mengeluarkan suara. Arthur sudah mengetahui segalanya dan tidak ada gunanya mengelak.


Grep


Arthur mencengkram leher Benjamin. "Bukankah seperti ini caramu mencekiknya, heh?!"


Napas Benjamin tercekat karena cengkraman Arthur. Kedua tangannya menarik tangan Arthur agar terlepas. Namun tenaganya kalah kuat.


"Seharusnya kalian tidak berkeliaran di sekitarku. Tapi kalian sendiri yang mengantarkan nyawa!" ujarnya dingin. Ya, selama ini Arthur membiarkan mereka hidup untuk melihat mereka sengsara. Bahkan ia selalu memantau kehidupan Jorge beserta keluarganya setelah kehilangan seluruh harta kekayaan. Ternyata sudah tidak memiliki apapun, mereka tetap menjadi manusia yang tamak.


Benjamin menggelengkan kepala. Matanya memerah seiring ia meneteskan air mata lantaran kesulitan bernapas. Apa malam ini adalah akhir hayatnya? Jika begitu, ia akan tewas sebelum merasakan harta kekayaan Helena. Padahal mereka berhasil mendapatkan tanda tangan pengalihan saham sebelum Vasco membawa Helena pergi. Tetapi justru kekayaan itu hanya angan saja bagi mereka.


Perlahan pandangan Benjamin memudar, tubuh pria itu benar-benar sudah tidak bertenaga lagi. Namun tiba-tiba saja pria tua itu merasakan pasokan udara kembali dirasakan saat Arthur melepaskan cengkramannya. Didorong begitu kuat sehingga Benjamin terjerembab di lantai dan terbatuk-batuk.


Bukan tanpa sebab Arthur melepaskan Benjamin, padahal sedetik lagi Benjamin akan kehilangan nyawa.


"Bawa mereka semua ke Markas! Dan pastikan masih hidup sebelum aku kembali!" ujar Arthur menatap Darren, sebelum kemudian berlalu pergi.


Darren terlihat kebingungan usai menatap kepergian Arthur. Apa yang terjadi? Kenapa Arthur tiba-tiba saja pergi?


Beberapa anak buah mulai berdatangan, mereka menghampiri Darren.


"Bos Der, kita harus menghancurkan tempat ini dan membawa mereka ke Markas!" ucap salah satunya. Ya, sebelum pergi, Arthur memerintahkan mereka untuk menghancurkan Markas Kartel Sinaloa.


Darren mengangguk mengerti. "Bawa mereka dan jangan sampai melarikan diri!" Dan mereka menyeret paksa ketiga paruh baya yang terlihat tidak berdaya itu.


***


Arthur mengendarai mobil milik salah satu anak buah. Di dalam mobil tersebut sudah dilengkapi oleh beberapa sistem canggih, termasuk melacak keberadaan seseorang melalui kode chip yang sudah terhubung. Jari-jarinya menari di atas layar berukuran kecil di antara dashboard. Lalu mengetik sebuah kode dan beberapa detik kemudian, nampaklah sebuah lokasi seperti berbetuk peta dan terdapat titik merah yang berkedip-kedip.


"Aku menemukanmu Love," gumamnya terlihat menghembuskan napas lega setelah mengetahui keberadaan Helena. "Sebentar lagi... aku mohon bertahanlah." Arthur menekan pedal gas hingga mobil yang dikendarainya melesat lebih cepat.


Sebelumnya Arthur tidak dapat melacak keberadaan Helena karena ia kehilangan ponsel miliknya saat kecelakaan di Dubai. Ia kembali ke London dan mengendarai mobil seadanya tanpa sistem canggih seperti salah satu mobil Black Lion yang sudah di desain khusus untuk melacak. Selama ini ia menyimpan alat pelacak di dalam tubuh Helena, lebih tepatnya di lengan kiri istrinya itu. Ternyata yang dilakukannya sangat bermanfaat, terbukti ia menemukan keberadaan Helena dengan kode chip yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...