The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Aku Mengandalkanmu



Baik Helena dan Elie saling bertemu pandang. Bertukar pikiran melalui sorot mata mereka, sebab kedua pria tampan itu tiada hentinya menguarkan aura tidak bersahabat. Helena menjadi tidak enak hati, pasalnya ia mengetahui jika Arthur tidak menyukai dirinya yang bersama dengan Mikel. Terbukti selama ini pria itu selalu merusak rencana dirinya untuk memberikan pelajaran terhadap Elie.


Siapa yang akan rela jika adiknya disakiti oleh pria yang masih bersama dengan wanita lain. Selama ini baik media dan orang-orang terdekat mereka mengetahui hubungannya dengan Mikel, padahal yang sebenarnya hubungannya dengan Mikel jauh dari kata baik dan harmonis. Mikel selalu menjauhi dirinya, sebagaimana pun ia mencoba mendekat, tetapi pria itu semakin mendorongnya jauh.


Sepertinya aku harus meluruskan sesuatu sebelum kembali ke Paris, batinnya. Helena berpikir semua terjadi karena dahulu ia selalu menggembar-gemborkan hubungannya dengan Mikel.


"Untuk apa kau datang kemari?!" Akhirnya suara Arthur terlebih dulu memecah berdebatan batin melalui sorot mata mereka.


Mikel menyunggingkan senyum sinis. "Apa ada larangan untukku datang ke rumah sakit? Ini adalah tempat umum jika kau lupa." Senyum tipis Mikel penuh ejekan.


"Kami tidak memerlukan kehadiranmu. Sebaiknya kau pergi saja!" Seruan Arthur membuat kedua wanita itu terkesiap.


"Kau memang tidak, tapi dia membutuhkanku!" Jari telunjuk Mikel menegaskan jika dia yang dimaksud adalah Helena, akan tetapi justru matanya tertuju pada Elie, wanitanya.


Tentu saja Arthur semakin salah paham, bukankah hubungan mereka sudah berakhir dan pria itu berniat untuk mendekati adiknya. Lalu apa ini? Mikel menegaskan kedatangannya kemari adalah untuk wanita itu, Helena.


"Luar biasa, kau benar-benar pemain ulung yang licik. Tapi aku tidak akan membiarkanmu!"


"Ck, siapa yang kau sebut pemain? Aku tidak seperti yang kau tuduhkan!" Mikel membantah tidak terima.


"Hei, sudahlah. Sebenarnya kalian ini kenapa?" Elie berdiri menengahi Mikel dan Arthur. Entah bermula dari mana kedua pria itu tidak pernah bersahabat jika bertemu.


"Dia yang mulai lebih dulu!" seru Mikel seolah mengadu kepada wanitanya itu.


"Heh, kau yang mulai!" bantah Arthur tidak terima. "Melihat wajahmu saja membuatku muak!"


"Hei kau....." Geraman Mikel tertahan, tetapi ingin rasanya ia meledakan emosinya lantaran Arthur berhasil memancing emosi. Akan tetapi tatapan Elie yang memelototi dirinya dengan tajam, seketika menciutkan amarahnya.


Helena hanya bisa menyaksikan berdebatan dua pria itu. Tanpa tau harus melakukan apa, ia membiarkan Elie yang menengahi keduanya.


"Elie, kemarilah. Jangan dekat-dekat dengan pria sepertinya." Tangan Arthur menjangkau lengan Elie, lalu menarik ke sisinya.


"Kau tidak berhak melarangnya! Elie bebas memilih siapa saja." Mikel hendak maju, tetapi diurungkan ketika melihat kepala Elie menggeleng.


"Dan kau tidak berhak mengaturku!" Semakin marah saja Arthur, sebab Mikel berhasil menyulutkan emosinya itu.


Astaga, kenapa dengan mereka? Seandainya Kak Ar tau jika Mikel adalah Mike, dia tidak akan memusuhi Mikel.


Serba salah, itulah yang dirasakan Elie. Ia tidak bisa membela keduanya dan juga tidak bisa memberitahu yang sebenarnya kepada Arthur. Sehingga pada akhirnya membiarkan kedua pria itu berdebat tidak penting. Elie kemudian melirik Helena yang terpaku di tempat, kentara sekali jika wanita itu merasa tidak nyaman.


"Mikel sudahlah, hentikan. Apa kau lupa jika ini di rumah sakit." Suara lembut Helena menyita perhatian Mikel dan Arthur, kedua pria itu menoleh bersamaan.


"Dia yang mencari masalah lebih dulu!" Mikel kembali mengadu, tetapi kali ini kepada Helena.


"Tapi tetap saja kau tidak perlu seperti itu," sahut Helena menegur. Tentu saja ia hanya berani kepada Mikel. Jika menegur Arthur, ia merasa begitu enggan, mengingat hubungan mereka selama ini. Terlebih Arthur selalu bersikap dingin padanya.


Melihat betapa perhatiannya Helena kepada Mikel membuat darah Arthur seolah mendidih. Tangannya mengepal hingga kuku-kukunya nampak memucat.


Elie merasakan tubuh sang kakak yang kembali menegang. Lalu tertunduk dan mendapati satu tangan Arthur yang mengepal kuat. Sungguh gawat jika kakaknya itu terpancing, maka pergulatan tidak akan bisa terhindari. "Sudahlah, apa kalian tidak kasihan dengan Helena? Lihatlah, wajahnya menjadi pucat," ujarnya menegur, sehingga kedua pria itu menatap Helena.


Benar saja Helena nampak meringis memegangi lengannya yang di perban kassa halus itu. Wanita itu tidak sengaja menyenggol salah satu lengannya yang penuh luka itu.


Arthur spontan mendekati ranjang, entah kenapa amarahnya perlahan menguap ketika melihat Helena meringis menahan rasa sakit. "Kau baik-baik saja?" tanyanya melembut dan dijawab gelengan kepala oleh Helena.


"Sedikit perih," lirihnya. Bahkan Helena terlihat meniup lengan yang dibalut perban tersebut.


Arthur meraih sebuah map di atas nakas, mungkin map tersebut hasil pemeriksaan Helena. Tangannya mengulurkan benda tipis itu kepada Helena. "Gunakan ini untuk mengipasi lenganmu."


"Tidak bisa, kedua tanganku di perban. Apa kau tidak melihatnya." Suara Helena kentara sekali jika wanita itu tengah menahan rintihannya.


Arthur mendesahkan napas ke udara dengan berat. "Kalau begitu biar aku saja." Dan kemudian Arthur benar-benar membantu mengipas lengan Helena yang dirasakan perih menurut wanita itu.


Perlakuan Arthur tidak luput dari penglihatan Mikel serta Elie. Kedua pasangan kekasih diam-diam itu saling melemparkan pandangan.


Aneh, Kak Ar bisa menjadi lembut seperti itu dan sejak kapan Kak Ar mau bersusah payah mengipasi seperti itu?


Nampak aneh memang di mata Elie, sebab selama hidup puluhan tahun bersama dengan Arthur tidak biasanya sang kakak rela bersusah payah membantu seseorang, kecuali jika ada timbal baliknya.


Berbeda dengan Elie yang terlihat kebingungan, Mikel menarik kedua sudut bibirnya yang nyaris tidak terlihat. Ia bisa melihat jika hubungan Helena dengan Arthur tidaklah biasa. Entah kapan mereka saling kenal dan nampak lebih dekat seperti itu, Mikel tidak ingin peduli. Langkahnya justru mendekat kepada Elie yang masih membeku di tempatnya.


"Sweetheart, ikut denganku," bisiknya. Bulu tipis Elie tiba-tiba saja merinding ketika hembusan napas Mikel mengenai kulit lehernya.


"Aku merindukanmu Sweetheart." Sebelum Elie memprotes tindakannya itu, Mikel terlebih dulu mendekap tubuh wanitanya. Berhari-hari tidak berjumpa membuat rindunya semakin memupuk.


"Mikel, apa yang kau lakukan? Bagaimana jika ada yang melihat?" Elie tidak menolak dan juga tidak membalas pelukan Mikel. Ia hanya bersikap waspada jika seseorang memergoki mereka.


"Tidak ada yang melewati jalan tangga darurat, Sweetheart." Mikel semakin mendekap erat, bahkan menghirup aroma tubuh wanitanya yang selalu membuatnya candu.


Kening Elie berkerut. "Bagaimana kau tau?"


"Kenapa kau ingin sekali membahas yang tidak penting?" Mikel nyaris dibuat kesal, seharusnya Elie bisa lebih bersikap romantis. Minimal dengan membalas pelukannya.


"Aku hanya cemas jika ada yang melihat kita," cicitnya. Pada akhirnya kedua tangan Elie melingkar untuk membalas pelukan Mikel.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Sweetheart." Tentu saja yang Mikel lakukan adalah menutup mulut seseorang yang berani melihat kemesraan mereka.


Elie mengangguk, ia memejamkan mata untuk menyalurkan rasa rindunya kepada Mikel. Jujur saja ia pun merindukan Mikel, hanya saja mereka harus berhati-hati jika ingin bertemu dan selama ini hanya berhubungan melalui ponsel saja.


"Mike?" panggil Elie kemudian.


"Hem...?" Mikel berdehem, ia terlalu menikmati pelukan mereka.


"Dari mana kau tau jika Helena dan aku berada di rumah sakit?"


"Dari anak buahku," jawabnya jujur. "Aku terkejut ketika mereka mengatakan Helena menemuimu. Apa dia berbuat sesuatu yang buruk padamu, hm?"


"Tidak, Helena hanya meminta maaf padaku atas semua sikapnya padaku."


"Baguslah jika dia benar-benar sudah sadar." Mikel tersenyum tipis, merasa bangga dengan sikap Helena yang sudah berubah menjadi lebih dewasa.


"Dia hanya butuh sandaran Mike, jangan menilainya begitu rendah."


"Kau benar, tapi tetap saja aku kesal dengan sikapnya yang seperti wanita murahan." Jika teringat akan sikap Helena itu, sungguh Mikel sangat jijik.


"Dia seperti itu hanya kepadamu saja." Dan Elie tetap membela Helena. Sebagai wanita, ia paham kenapa wanita itu berlaku demikian.


"Tetap saja dia tidak boleh seperti itu. Bagaimana jika saat itu aku tergoda."


Mendengar perkataan Mikel, Elie melepaskan pelukan mereka, lalu mendorong dada Mikel dengan kasar. "Jadi kau sempat tergoda, heh?" Kedua mata Elie memicing tajam dan hendak menikam Mikel melalui sorot matanya itu.


Mikel terkekeh, ia hanya menggoda Elie, akan tetapi wanitanya itu menanggapi dengan serius.


"Tidak! Aku bersumpah!" sahutnya dengan tegas. "Aku hanya tergoda padamu Sweetheart," bisiknya kemudian.


Bibir Elie mencebik, ia tidak suka mendengar perkataan Mikel itu. "Jangan menggodaku seperti itu. Aku benar-benar akan marah jika kau berkata seperti itu lagi."


"Baiklah." Mikel melabuhkan kecupan di puncak kepala Elie. "Aku tidak mungkin berpaling darimu Sweetheart. Kau wanita terbaik, bahkan kau tidak cemburu dengan Helena."


"Kau sudah menceritakan hubungan kalian, jadi tidak ada alasan untukku cemburu padanya. Justru aku kasihan dengan Helena, dia mengalami kehidupan yang sulit dan menyakitkan."


Mikel gemas ketika melihat bibir Elie yang mengerucut, kemudian telapak tangannya merangkum kedua pipi Elie. "Kami berdua mengalami sesuatu yang menyakitkan Sweetheart. Bedanya aku bisa bertahan berkat bantuan dari Paman Josh yang membawaku dan Mei meninggalkan Amsterdam, kami menetap di Turki. Dan ketika aku memutuskan pindah ke Inggris, aku bertemu dengan Sid dan Nathan, mereka membantuku selama ini. Tidak dengan Helen, wanita itu seorang diri melawan keluarganya dan dia hanya memilikiku saat pertemuan kami pertama kali. Itu yang membuatnya selalu menempel padaku. Dia merasa jika hanya aku yang bisa melindunginya."


"Aku mengerti." Kedua mata Elie kembali berkaca-kaca mendengar cerita masa lalu Helena. "Mike, kita harus kembali. Kak Ar pasti marah karena kita pergi diam-diam."


"Tidak, berikan waktu untuk mereka." Mikel kembali merengkuh tubuh Elie.


Kepala Elie mendongak, rahang Mikel yang dipenuhi bulu-bulu halus itu menjadi pusat perhatiannya. "Apa maksudmu?" Mikel tidak menjawab kebingungan Elie, pria itu hanya tersenyum tipis dan membatin.


Aku mengandalkanmu Ar.


To be continue


Babang Arthur



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...