
Arthur berjalan tergesa-gesa menyusuri lobby apartement. Langkahnya yang tegas berbenturan dengan lantai granit hingga samar-samar menimbulkan suara ketukan. Ekor matanya tidak sengaja menangkap siluet seseorang yang tidak asing. Sejenak sorot matanya mengikuti bayangan langkah seseorang yang entah siapa itu, hingga benar-benar lenyap dari pandangannya. Sebelum kemudian Arthur kembali melanjutkan langkahnya memasuki lift menuju lantai 12.
Tepat di depan pintu unit apartment sang adik, punggung tangan Arthur mengentuk sebanyak dua kali dan tidak lama kemudian pintu dibukakan oleh seseorang yang tidak lain ialah Darren.
"Dimana Elie?" tanyanya ketika tubuhnya masuk sempurna usai Darren menutup pintu kembali.
"Di kamarnya," sahutnya.
Kedua mata Arthur memicing tajam, menelisik curiga karena hanya ada mereka berdua saja di dalam apartemen tersebut.
"Aku tidak mungkin melakukan sesuatu dengan Elie, Ar." Seolah mengetahui apa yang dipikirkan oleh Arthur, Darren lebih dulu menegaskannya.
Arthur berdecak lidah. "Aku tau." Lalu melepaskan jas yang dikenakannya dan melemparkan jas itu ke atas sofa. "Kau sama sepertiku yang tidak mungkin berani melakukan sesuatu yang akan menyakitinya." Sungguh, perkataan Arthur membuat Darren mengernyit dalam. Seolah temannya itu mengetahui sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat apik.
"Kau sedang membahas apa Ar?" Pertanyaan Darren mewakili perasaannya yang kini tidak menentu. Sungguh, ia hanya tidak ingin jika Arthur salah paham kepadanya dan membuat hubungan kekeluargaan mereka menjadi rumit.
"Menurutmu?" Dan Arthur tidak langsung menjawab. Pandangannya kini hanya tersita ke arah pintu dan membiarkan Darren mencari jawaban akan ucapannya. Arthur kemudian melangkah menuju pintu kamar Aurelie, ia lalu mengetuk pintu kamar adiknya itu. "Elie, bisa kita bicara sebentar?" katanya lembut.
Aurelie yang sejak tadi bergelung di atas tempat tidur dengan memeluk boneka Teddy Bear kesayangannya, sudah menyadari kedatangan Arthur. Wanita itu tengah menyusun jawaban ketika nanti kakaknya akan membondong berbagai pertanyaan yang menjebak.
"Elie??" Di balik pintu Arthur kembali memanggilnya diiringi ketukan pintu ketika tidak memberikan respons apapun. "Kau ingin buka pintunya atau Kak Ar akan-"
Suara Arthur menggantung lantaran pintu kamar terbuka sebagian, hingga kemudian nampak Elie yang menyembulkan kepalanya terlebih dahulu.
"Kak...." Wajah Elie nampak polos disertai sorot matanya yang redup lantaran sedari tadi ia tidak bisa memikirkan apapun selain dua pria yang kini mengganggu pikirannya, yaitu Arthur dan Mikel.
"Kak Ar hanya ingin bicara sebentar. Keluarlah." Arthur tidak bermaksud membuat adiknya itu tertekan, sebab itu ia berusaha bicara selembut mungkin.
Aurelie menganggukkan kepalanya patuh. Ia kemudian menyusul Arthur yang lebih dulu berjalan menuju sofa, mendaratkan tubuhnya di atas sofa, disusul olehnya.
Darren yang berada di sana memilih untuk tidak ikut campur. "Aku akan ke balkon," ucapnya. Ia lebih memilih menunggu mereka berbicara di balkon. Selain membiarkan privasi di antara mereka, ia juga tidak ingin mendengar pernyataan yang pasti akan menggores hatinya lebih dalam lagi.
Arthur mengangguki dan memperhatikan singkat temannya yang sudah berjalan menuju balkon. Sorot matanya sulit di artikan, membuat Aurelie mengamati sang kakak lebih lama. Hingga kemudian wanita itu membuang pandangannya ke arah lain begitu perhatian Arthur kembali tertuju padanya.
"Kau tau apa yang akan Kak Ar tanyakan?" Seperti biasa, Arthur akan membuat siapapun seolah seperti terdakwa.
Bagaikan seorang anak kecil yang polos, Aurelie mengangguk kecil.
"Lalu apa ada yang ingin kau jelaskan, hm?" Masih dengan nada penuh kelembutan, namun terdapat desakan di dalamnya.
Sejenak Aurelie menarik napas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Sebelum kemudian memberanikan menatap Arthur, hingga kini kedua mata mereka bertemu.
Arthur memilih diam mendengarkan alih-alih menyela perkataan adiknya. Meskipun sebenarnya ada rasa tidak senang ketika adiknya menjelaskan hubungannya dengan pria yang bernama Mikel. Saat menemui pria itu, ia bisa melihat sorot mata yang menyala. Tidak pernah ia melihat pancaran mata seseorang yang begitu menggebu-gebu menginginkan seorang wanita, kecuali sorot mata teman semasa kecilnya Michael. Ya, Arthur merasa jika keduanya memiliki sorot mata yang sama. Terlebih warna mata juga nampak sama.
"Kau tidak perlu bertemu dengannya lagi." Bukan tanpa alasan Arthur menentang jika adiknya berdekatan dengan pria itu. Padahal selama ini ia membiarkan Aurelie menjalin hubungan dengan pria manapun.
"Tapi aku tidak yakin jika dia tidak akan menemuiku. Belakangan ini dia selalu membantuku dan berada di sekitarku." Meskipun selama ini ia menolak kehadiran Mikel, tetapi entah kenapa pada saat kakaknya memintanya untuk tidak menemui pria itu, mendesirkan rasa sedikit tidak rela.
"Kau hanya perlu menghindarinya Elie," pungkas Arthur memberi saran. "Kau tau jika selama ini ada wanita yang menempel padanya."
"Aku yakin jika wanita itu tidak akan tinggal diam saat tau kau sudah mengambil pria miliknya," ujar Arthur berusaha membuka pikiran sang adik yang keras kepala itu.
"Aku bisa mengurusnya kak. Lagi pula aku bukan wanita lemah yang selama ini dipikirkan oleh mereka." Karena percuma saja ia menghindar, Mikel akan selalu menghantui dirinya setiap saat. Dan wanita itu juga sudah bergerak mengganggu dirinya.
"Hem, tapi Kak Ar tidak ingin mendengar apapun. Kau harus tetap menghindarinya. Lagi pula kau belum tau dia pria seperti apa."
"Tapi kak...." Aurelie berusaha menahan Arthur yang hendak beranjak. "Aku pikir dia pria yang baik dan dia mirip seperti-"
"Mike?" sela Arthur menyentak telinga Aurelie. "Kau berpikir pria itu seperti Mike?" Ya, Arthur tau apa yang dipikirkan oleh adiknya. Karena ia pun berpikir demikian saat bertemu dengan pria itu. "Mereka berbeda, Elie. Kita semua sudah mengenal Mike seperti apa, tapi tidak dengan pria itu!" Bahkan dirinya dan Darren saja sulit menyelidiki pria itu. Sudah pasti pria yang bernama Mikel itu bukanlah pria sembarangan seperti pria yang selama ini mendekati adiknya.
"Bu-bukan kak," bantahnya diiringi gelengan kepala. Aurelie berusaha untuk menutupi apa yang ia rasakan saat ini. Karena ia sendiri tidak tau kenapa membiarkan pria itu berkeliaran disisinya, padahal ia bisa saja mengusir pria itu secara kasar, seperti yang ia lakukan kepada pria lainnya. "Aku hanya merasa dia pria yang baik."
Arthur menggeleng tidak percaya. Sejak kapan adiknya itu mudah percaya kepada pria yang baru dikenalnya.
"Kak Ar datang menemuimu karena hanya ingin mendengar penjelasanmu saja. Jadi sudah cukup pembicaraan kita." Arthur kemudian beranjak dari tempat duduknya. Apapun yang dikatakan adiknya, sungguh ia tidak ingin peduli. Pandangnya beralih pada Darren yang berdiri di balkon sembari membiarkan udara menyapu wajahnya. "Der, kita pergi dari sini!" ujarnya kemudian menyambar jas yang tergeletak di atas sofa.
Darren nampak bingung, tetapi ia mengangguk dan menghampiri Arthur.
"Kak...?" Aurelie berupaya menahan kepergian Arthur. Nampaknya ia tidak puas dengan keputusan kakaknya itu.
"Mom dan Dad menunggumu di Mansion, jadi sebaiknya kau pulang malam ini. Mereka sudah tau jika kau tidak bekerja di agensi itu lagi." Arthur tidak ingin membahas pria itu lagi. Ia teringat akan ucapan Mommy Elleana tadi pagi yang menyuruh adiknya untuk pulang.
"Baiklah...." Aurelie memilih menurut alih-alih membantah. Terlebih kini ia juga harus menjelaskan kepada orang tuanya mengenai dirinya yang sudah tidak bekerja di agensi itu dan bersedia jika mereka akan memintanya untuk bekerja di perusahaan aunty Jennifer.
Aurelie memaksakan senyumnya ketika Darren memperhatikan wajahnya yang nampak murung. Hingga Arthur dan Darren berlalu dari sana dan perlahan jejak bayangan mereka lenyap dari pandangannya.
Pandangannya tertunduk diiringi mata yang terpejam singkat. Semakin tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini, padahal sebelumnya ia nampak biasa saja dan tidak memikirkan Presdir mesum itu. Namun justru kali ini ia teringat akan pria itu.
"Ck, sadarlah Elie." Kedua telapak tangannya menepuk wajahnya berulang kali. Berharap dapat menyingkirkan pria itu dari pikirannya.
To be continue
Arthur
Elie
...Jangan lupa dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...