
Kedua mata Elie mengerjap berulang kali, nyaris tidak dapat mempercayai apa yang ia dengar. Ternyata dugaannya benar jika Mikel adalah Mike, teman masa kecil sekaligus cinta pertama yang telat ia sadari. Kehilangan Mike bertahun-tahun lamanya membuat dirinya sadar akan arti pria itu di dalam hidupnya. Hampa yang ia rasakan, sebab Mike selalu mewarnai hari-harinya dengan kata-kata manis. Di masa lalu ia selalu membuat kesalahan kepada pria itu, mengusir bahkan membenci sikap posesif Mike yang mengklaim jika dirinya adalah milik pria itu.
"K-kau benar-benar Mike?" Elie kesulitan berbicara, apa yang di dengarnya membuatnya tidak dapat menguraikan apa yang ingin ia sampaikan saat ini.
Mikel mengangguk sebagai jawabannya dengan seulas senyum hangat. Ternyata melegakan, batu yang seolah menimpa dadanya mendadak terkikis.
"Iya sayang, ini aku. Apa saat ini kau senang, hm?"
Elie mengangguk penuh haru dengan uraian air mata yang terus membanjiri wajahnya tanpa henti. Sebelum kemudian memeluk erat tubuh pria yang selama ini begitu ia rindukan. Sudah lama sekali ia tidak mendengar panggilan sayang dari bibir Mikel yang sedari dulu disematkan pria itu padanya.
Mikel tentu membalas pelukan wanita pujaannya itu, bibirnya berulang kali dilabuhkan di puncak kepala Elie. Mikel tersenyum disertai sudut matanya yang basah, tetapi buru-buru ia menyekanya saat menyadari Elie melepaskan pelukannya.
Kedua tangan Elie mengayun di udara, hendak menangkup wajah Mikel, namun belum sempat telapak tangannya mendarat di wajah Mikel, wanita itu mendesis ketika merasakan nyeri yang teramat pada kedua telapak tangannya.
Melihat wanitanya kesakitan seperti itu, Mikel segera meraih kedua tangan Elie. "Lihatlah, kau melukai dirimu sendiri, Sweetheart." Memasang wajah cemas, Mikel meniup luka bakar di telapak tangan kanan dan kiri Elie secara bergantian. "Pasti sakit sekali," lirihnya kemudian, hingga kembali meniup luka itu berulang kali.
"Rasanya memang sakit." Terdengar rintihan suara Elie yang menahan rasa sakit. "Tapi melihatmu berada disini bisa mengurangi rasa sakitnya." Elie menundukkan kepala, dengan tersipu malu ia berkata demikian.
Mikel yang mendengarnya tersenyum simpul, ia menyudahi kegiatannya meniup telapak tangan Elie dan meneliti kedua manik mata hazel wanitanya. Jemari tangannya sibuk menyelipkan sulur anak rambut ke belakang telinga Elie. Sebelum kemudian Mikel mencium singkat bibir wanitanya itu.
"Aku akan mengobati lukamu. Dimana kotak obatnya?" ucapnya.
Perlakuan Mikel menimbulkan semburat kemerahan di wajah Elie, sehingga membuat Mikel terkekeh gemas.
"Di lemari sana." Elie menunjukkan letak kotak obat. Meskipun Villa Magnolia jarang di singgahi, tetapi tata letak barang selalu pada tempatnya dan tidak pernah berpindah.
Mikel menuntun Elie untuk duduk di tepi ranjang, sementara dirinya mengambil kotak obat di dalam lemari. Begitu sudah menemukan kotak obat tersebut, Mikel mengayunkan langkah kembali menuju ranjang, pria itu kemudian turut membenamkan tubuhnya di tepi ranjang. Dengan telaten Mikel mengobati luka Elie, sesekali wanita itu meringis tatkala kassa lembut itu mengenai kulitnya dengan alkohol.
"Tahan Sweetheart, sakitnya tidak akan bertahan lama." Dan Mikel membantu mengurangi rasa nyeri pada telapak tangan wanitanya dengan meniupnya. Lalu mulai kembali mengoles dengan salep luka bakar. Setelah hampir kering, Mikel membalutkan perban mulai dari telapak kiri, hingga kemudian telapak tangan kanan Elie.
"Jangan terkena air." Mikel meletakkan kedua telapak tangan Elie di atas paha wanita itu.
Elie tidak menyahut, ia hanya menelusuri wajah Mikel mulai dari mata hingga bibir pria itu. Memang wajahnya nampak berbeda dari sebelas tahun yang lalu, kecuali mata itu. Manik mata berwarna hazel hijau yang sedari dulu selalu menatap penuh kehangatan dan bahkan penuh cinta di dalamnya.
"Kenapa kau mengubah wajahmu?" Pertanyaan Elie tentu saja membuat Mikel bergeming. Namun seperkian detik kemudian ia mampu mengatur dadanya yang kembali bergemuruh jika diingatkan akan peristiwa kelam sebelas tahun yang lalu.
Kini keduanya duduk di atas ranjang, menyandarkan punggung pada headboard. Kepala Elie terlihat bersandar di bahu kanan Mikel, mendengarkan cerita mengenai masa lalu Mikel. Sesekali Elie menyeka air matanya, begitu pedih dan menyakitkan yang dirasakan oleh Mikel beserta keluarganya.
"Kenapa kau tidak pernah datang menemui kami? Kau tau, Daddy dan Kak Ar tidak akan tinggal diam melihat kalian menderita seperti itu." Elie mengatur napasnya yang berubah menjadi sesak. Ia tidak dapat membayangkan hidup Mikel kala itu yang harus kehilangan kedua orang tuanya, hingga harus mengubah wajah untuk bersembunyi dan membalaskan dendam.
"Tidak Elie, aku tidak ingin melibatkan siapapun. Sudah cukup untukku melihat orang-orang yang kucintai terluka dan tewas." Entahlah, melihat orang-orang yang ia cintai harus tewas dan meninggalkan dirinya untuk selamanya, membuatnya merasakan trauma yang mendalam. Dan ia tidak ingin kejadian itu kembali terulang jika melibatkan Keluarga Romanov. Terlebih Arthur pernah mengalami koma, sehingga semakin membuat dirinya tidak ingin melibatkan mereka.
"Tapi kau tidak tau jika Daddy dan Kak Ar bukan pria biasa. Mereka-"
"Aku tau siapa Ar dan Paman Vier. Karena sudah mengetahui siapa mereka, membuatku semakin tidak ingin melibatkan mereka. Aku akan membalaskan kematian kedua orang tuaku dengan caraku sendiri." Mikel menyela perkataan Elie, ia sudah tahu apa yang ingin disampaikan oleh wanitanya itu. Meski kemampuannya tidak dapat dibandingkan dengan Paman Vier dan Arthur, tetapi Mikel percaya diri dengan kemampuan yang ia miliki. Terbukti selama ini ia mampu bertahan, berbekal kemampuan otak dan fisiknya menyingkirkan para musuh. Hanya saja ia belum bisa mengalahkan paman beserta kelompoknya itu.
Elie membenarkan posisi duduknya menjadi tegak agar dapat leluasa menatap lekat wajah Mikel. "Aku mengerti, tapi ku mohon untuk kedepannya berbagilah bebanmu padaku. Meskipun tidak banyak yang bisa kubantu, tapi setidaknya aku bisa berada di dekatmu sepanjang hari dan menyemangatimu."
Seulas senyum Mikel tersemat, meneliti dengan seksama wajah Elie. Kemudian menyelipkan jemarinya di sela-sela rambut wanitanya itu. "Terima kasih. Aku sangat senang bisa berada di dekatmu seperti ini dan dari dulu sampai saat ini aku selalu mencintaimu, aku tidak bisa-"
Kalimatnya terputus saat Elie tiba-tiba saja membenamkan tubuhnya di dalam pelukan Mikel. Hingga membuat Mikel terkesiap namun membalas pelukan wanitanya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Mike."
Bibir Mikel membentuk sebuah lengkungan lebar ketika mendengar ungkapan perasaan wanita itu. Sederhana tetapi begitu berarti untuknya, sejak dulu Elie tidak pernah mengatakan jika wanita itu mencintai dirinya. Ia berpikir jika Elie tidak akan pernah menyambut cintanya dan hanya menganggap dirinya tidak berbeda dengan Arthur. Namun kali ini secara terang-terangan, wanita itu mengungkapkan perasaannya tanpa ragu.
Mikel memejamkan kedua matanya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Elie. Menghirup aroma tubuh wanitanya yang begitu menenangkan. Ia semakin merapatkan tubuhnya, mendekap lebih erat lagi, karena tidak ingin pelukan itu terlepas. Mikel teramat takut jika hari ini hanyalah sebuah mimpi indah.
To be continue
Babang Mikel
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...