The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Meluluhkan Arthur



Arthur masih belum menyadari jika Elie serta Mikel tidak berada di sana. Ia terlalu fokus dengan wanita di hadapannya yang tiada henti merintih kesakitan. Padahal setahu dirinya, Helena sudah mendapatkan perawatan yang terbaik. Dan dari yang ia dengar, jika efek samping dari obatnya memang meninggalkan perih yang cukup dirasa.


"Bertahanlah, sakitnya tidak akan lama. Ini hanya efek dari obat yang kau minum." Seperti biasa Arthur berucap datar, namun sedikit menyelipkan kelembutan pada nada bicaranya.


"Apa itu artinya obatnya sudah bekerja?" cicit Helena tanpa berhenti meniupkan kassa halus yang membalut lukanya itu.


"Ya sepertinya," sahut Arthur. "Aku sudah bayar mahal, seharusnya memang sudah bekerja dengan baik. Jika tidak, aku akan menuntut rumah sakit ini karena tidak kompeten memberikan perawatan," imbuhnya. Terdapat nada penuh penekanan. Arthur yang perfeksionis ingin semuanya berjalan dengan semestinya. Karena rumah sakit dengan perawatan mahal, tentunya harus mendapatkan timbal balik.


Mendengar perkataan Arthur, Helena mengangkat wajahnya agar pandangannya menemui pria di hadapannya itu. Ia tidak heran jika Arthur dapat melakukan hal demikian. Tampan, berkuasa, pandai di dunia bisnis dan digilai banyak wanita. Anehnya Helena tidak pernah mendapati skandal apapun mengenai Pewaris Keluarga Romanov itu. "Ya, kau bisa melakukan apapun dengan kekuasaanmu. Terima kasih sudah perhatian padaku seperti ini." Lebih baik Helena mengikuti jalan pikiran Arthur, ia tidak ingin mendengar apapun dari mulut pedas pria itu, karena faktanya Arthur bisa melakukan apa saja.


"Perhatian?" Satu alis Arthur terangkat. "Besar kepala memang sudah menjadi ciri khasmu. Apa kau lupa jika kau telah menyelamatkan adikku, sudah sewajarnya aku memastikan perawatan yang terbaik untuk penyelamat adikku."


Helena hanya bisa berdecih di dalam hati , entah kenapa ia kesal mendengarnya. Akan tetapi ia seperti sudah terbiasa dengan sikap Arthur dan mencoba memakluminya. "Ya, baiklah. Aku adalah penyelamat adikmu. Jadi apa kau akan mengatakan terima kasih padaku, hm?" Mata Helena mengerjap berulang kali. Ia ingin mendengar ungkapan rasa terima kasih dari bibir pria itu. Helena sangat yakin jika hal itu tidak akan diucapkan oleh pria seperti Arthur.


"Ya, terima kasih." Dengan raut wajah datar tetapi penuh ketulusan pada sorot mata Arthur.


Diluar dugaan, Helena tercengang. Mulutnya sedikit terbuka sangking terkesima dengan apa yang ia dengar. Semudah itukah pria itu mengatakan terima kasih? Dirinya pikir, Arthur akan bersikap lebih arogan dan tidak ingin menurunkan martabatnya dengan merendah di hadapan orang lain.


"Apa? Kenapa melihatku seperti itu?" Tatapan Arthur menghujam kesal disertai hembusan napas kasar yang terdengar lebih panjang.


"Kau begitu mudah mengatakan terima kasih, aku pikir kau-"


"Aku bukan pria arogan yang tidak tau terima kasih. Aku akan berterima kasih jika seseorang itu sudah melakukan sesuatu yang luar biasa, dan aku juga akan mengucapkan maaf jika aku melakukan kesalahan fatal. Lalu dimana salahnya? Kau pikir aku alien yang tidak bisa mengucapkan kalimat seperti itu!" serunya menyela. Ia tahu apa yang ada di dalam otak kecil Helena. Tentu saja ia harus mempertegasnya agar wanita itu tidak sembarangan menilai.


Helena terlihat mengangguk. Ya, setidaknya Arthur berbeda dari kebanyakan pria yang mengaku kaya raya tetapi bersikap seolah raja yang semena-mena dengan tidak memandang ke bawah.


"Maafkan aku sudah menilai buruk tentangmu." Dan Helena tertunduk menyadari kesalahannya.


"Hem....."


Pintu yang diketuk menyita perhatian mereka. Tidak lama setelahnya seorang perawat terlihat masuk melalui pintu yang sedikit terbuka. Berjalan menghampiri dengan memegang sebuah baki yang diatasnya terdapat beberapa makanan khas rumah sakit.


"Selamat siang. Maaf jika saya mengganggu, saya hanya mengantarkan makanan siang untuk Nona Helena." Perawat dengan rambut di gelung ke atas itu tersenyum ramah kepada Arthur serta Helena. Meski di dalam benak perawat tersebut tersimpan pertanyaan mengenai Arthur yang menemani pasien bernama Helena. Tetapi ia tidak akan gegabah dengan melayangkan pertanyaan ataupun menyebarkanluaskan gosip demi mengamankan pekerjaannya.


"Terima kasih Suster. Letakan saja disana," tutur Helena balas tersenyum.


Perawat tersebut mengangguk, meletakkan baki tersebut di atas nakas lalu pamit undur diri.


Ekor mata Helena mengamati pintu yang baru saja tertutup dengan rapat. Matanya kembali menemui Arthur yang bergeming pada tempatnya.


"Makanlah selagi hangat," ucap Arthur melirik singkat makanan untuk Helena tersebut.


"Iya, aku akan makan nanti."


"Kenapa harus nanti? Apa kau ingin lebih lama dirumah sakit, heh?"


"Bu-bukan begitu. Tapi lihatlah kedua tanganku sulit untuk bergerak, bagaimana aku bisa makan." Helena mengangkat sedikit tangannya ke udara, memperlihatkan kedua tangan yang benar-benar penuh luka itu.


"Aku akan minta Elie untuk menyuapimu." Arthur kemudian menoleh ke arah posisi sang adik sebelumnya, namun ia tertegun ketika tidak mendapati Elie di belakangnya. "Kemana dia?" gumamnya. Arthur pun menyadari jika Mikel pun tidak berada di tempat. Tidak menutup kemungkinan jika mereka berdua melarikan diri darinya. Arthur mendesahkan napas kesal di udara. Elie benar-benar sulit diberitahu. "Aku akan mencari Elie. Diamlah disini." Bermaksud mencari Elie, Arthur baru saja ingin melangkahkan kakinya.


Sungguh heran dengan wanita di hadapannya itu. Kenapa senang sekali membuatnya kesal. "Apa kau tidak bisa diam dan hanya mendengarkanku?


Helena mengangguk patuh dengan menundukkan pandangan. "Maaf," cicitnya lalu memberanikan diri menatap Arthur kembali. "Boleh aku minta tolong?" katanya kemudian.


"Apa?" Arthur menyahut cepat.


"Bisakah kau menyuapiku? Aku lapar sekali. Jika menunggu Elie, mungkin akan lama sedangkan aku sudah kelaparan," pintanya penuh harap. Ia sungguh kelaparan, karena di cafe beberapa jam yang lalu hanya memesan minuman saja.


Tubuh Arthur mendadak membeku, bergeming dengan permintaan Helena. Menyuapi wanita itu? Apa ia bisa melakukannya?


"Kau tidak mungkin membiarkanku kelaparan, bukan?" Kedua mata Helena memicing, merasa jika Arthur akan menolak permintaannya. "Kalau kau keberatan, lebih baik aku minta tolong kepada asistenmu saja. Dia pasti tidak masalah menyuapiku."


"Baiklah." Pada akhirnya Arthur menyanggupi. Ia bergerak maju untuk meraih cream sup tomat dan omelette di piring yang berbeda. Kemudian mengikis jarak antara dirinya dengan Helena. "Makanlah cream sup tomat lebih dulu, lalu omelette ini." Helena hanya mengangguk saja. Ia berusaha mengulum senyum ketika Arthur meletakkan piring kecil untuk wadah omelette itu dan mulai mengaduk cream sup tomat.


"Duduklah. Apa kakimu tidak pegal berdiri seperti itu? Ayo duduklah." Helena menepuk-nepuk tepi ranjang, ia sangat tidak nyaman ketika Arthur hanya berdiri tegak seperti itu.


Arthur mendengkus kesal dan dapat dirasakan oleh Helena. Wanita itu kembali mengulum senyum mendapati wajah Arthur yang tertekuk. Meskipun enggan, Arthur tetap mengikuti perkataannya dan itu sangat manis menurut Helena.


Sepertinya aku sedikit bisa meluluhkannya.


"Kenapa tersenyum?" Arthur mengernyit ketika wanita itu terlihat tersenyum seorang diri. "Buka mulutmu," lanjutnya bernada perintah. Dan Helena membuka mulutnya, suapan pertama itu sungguh nikmat. Mungkin karena yang menyuapinya adalah Arthur sehingga terasa lebih lezat.


Helena kembali membuka mulutnya dengan lebar. Suapan demi suapan dilakukan Arthur dengan telaten. Kali ini ia membiarkan wanita itu memerintah dirinya sesuka hati.


"Aku ingin omelette." Mengunyah sembari menunjuk omelette menggugah itu dengan menggunakan dagunya.


Kedua mata Arthur sempat memicing tajam, tetapi ia tetap menuruti keinginan Helena. Mengambil sepotong omelette setelah meletakkan kembali mangkuk cream sup yang telah kandas. Arthur kemudian menyodorkan omelette itu ke dalam mulutnya. Dengan suka cita Helena membuka mulut selebar-lebarnya. Benar apa yang dikatakan orang jika makanan akan lebih terasa nikmat jika disuapi dari tangan orang yang kita cintai. Wait....? Apa yang baru saja ia pikirkan. Helena menepuk-nepuk pelan kepalanya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba menepuk kepalamu?" Arthur bahkan menahan pergelangan Helena saat wanita itu tidak sadar apa yang dilakukannya.


Helena terkekeh. "Tidak apa-apa. Cepat suapi aku lagi." Entah sadar atau tidak, terdengar manja di telinga Arthur. Pria itu membiarkannya saja dengan tangan yang kembali bergerak menyuapi Helena.


Sementara Arthur yang telaten mengurusi Helena, Darren terlihat duduk di kursi besi yang berada di depan ruang perawatan. Sudah sedari beberapa menit yang lalu Darren menunggu disana, hanya karena tidak ingin mengganggu Arthur dengan Helena yang terlihat semakin dekat itu.


To be continue


Helena



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...