
Setelah mengunjungi makam Mommy Anna dan Daddy Jonathan, Arthur tidak membawa Helena kembali ke penthouse, pria itu menepikan mobilnya di depan bangunan yang tidak asing bagi Helena. Meskipun sudah lama tidak wanita itu datangi, tetapi ingatannya akan semua penghuni bangunan sederhana itu sangat membekas di hatinya.
Arthur membukakan pintu untuk sang istri yang tengah tercenung dan tidak menyadari jika suaminya itu sudah berada di luar mobil.
"Apa yang sedang kau pikirkan, hm?" Suara Arthur menyentak lamunan Helena, membuat wanita itu menoleh.
"Aku hanya berpikir, berapa banyak lagi kejutan yang akan kau berikan padaku?" tutur Helena menuntut jawaban, sebab sejak tadi Arthur banyak memberinya sebuah kejutan, dan kini ia kembali dikejutkan dengan tindakan suaminya yang membawa ke panti asuhan yang bernama Happy Children's Orphanage.
Arthur tersenyum mendengarnya. "Hanya sedikit kejutan." Lalu membantu istrinya itu keluar dari mobil.
"Bukan hanya kejutan kecil, Honey. Bagiku semua yang kau lakukan ini adalah kejutan besar. Kau mengabulkan semua keinginanku." Sungguh tiada kata yang mampu ia jabarkan untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.
"Sudah pernah kukatakan sebelumnya jika aku akan mengabulkan apapun keinginanmu." Tangan Arthur terulur menyentuh wajah Helena dan mengusapnya dengan lembut.
Oh God. Helena terharu, lalu menghambur ke dalam pelukan Arthur. Ia adalah wanita beruntung yang mendapatkan pria tampan sebaik Arthur.
Sudut bibir Arthur tertarik tipis, ia tidak mengira jika respons Helena seperti ini. Padahal ia hanya melakukan hal kecil dan seolah telah melakukan sesuatu yang besar bagi istrinya itu.
"Mau sampai kapan kau memelukku seperti ini? Lihatlah, mereka semua sudah menunggu kita." Tatapan Arthur mengarah pada semua penghuni panti yang tengah menunggu kedatangan mereka.
Helena mengikuti arah pandang sang suami. Ketika melihat semua penghuni panti yang menatapnya dengan saling menahan senyum, lantas Helena segera mengurai pelukannya, lalu berdehem kecil untuk mengurangi rasa malunya terhadap mereka semua yang memperhatikannya tengah berpelukan dengan suaminya.
"Ayo, kita kesana." Begitu tidak sabar sehingga Helena menggandeng tangan Arthur dan keduanya melangkah menuju semua penghuni panti yang antusias menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Tuan Arthur dan Nyonya Helena." Meena, kepala pengurus panti menyambut dengan ramah, disusul sambutan dari yang lainnya, termasuk Sofia dan Maria yang selama ini turut membantu mengurus panti asuhan. "Kami sangat senang bisa melihat Nyonya Helena lagi," sambungnya terharu. Sebenarnya ingin sekali ia memeluk Helena tetapi Meena harus menempatkan diri, sebab wanita yang telah banyak membantu panti asuhan miliknya telah menikah dan menjadi menantu Keluarga Romanov.
"Aku juga senang bisa bertemu lagi denganmu Meena dan kalian semua." Tidak lupa Helena menyapa anak-anak panti yang terlihat tumbuh dengan baik.
Meena mengangguk. "Kalau begitu silahkan masuk." Lalu mempersilahkan tamu istimewanya untuk masuk ke dalam. Hingga saat kedua pasangan suami istri itu membenamkan tubuh mereka di sofa, beberapa anak-anak panti beriring-iringan mengepung ruang tamu lantaran ingin melihat sosok Tuan Arthur yang terkenal di kalangan bisnis dan selalu masuk di berbagai media.
"Kalian masuklah, jangan membuat Tuan Arthur dan Nyonya Helena merasa tidak nyaman." Meena menegur beberapa anak panti, ia menjadi tidak enak karena sikap mereka yang berlebihan ingin tahu lebih dekat sosok pria yang menjadi donatur selama ini.
Beberapa anak panti mengangguk dan menuruti perkataan kepala panti. Mereka satu persatu membubarkan diri. Padahal mereka hanya ingin melihat sosok Arthur yang selama ini hanya bisa mereka lihat di televisi, tetapi mereka berusaha mengerti dan tidak ingin bertindak tidak sopan yang akan membuat Tuan Arthur maupun Nyonya Helena menjadi tidak nyaman.
"Maafkan sikap mereka, Tuan. Selama ini mereka hanya bisa melihat Tuan dari televisi, sehingga saat mengetahui kedatangan Tuan, anak-anak sangat senang dan tidak sabar ingin melihat Tuan Arthur secara langsung. Apalagi Tuan Arthur sudah banyak membantu panti asuhan kami dengan menjadi donatur setiap bulannya dan mereka semakin mengagumi Tuan." Tutur kata Meena begitu lembut dan menghormati pria muda do hadapannya. Tidak terdengar nada bicara yang dibuat-buat untuk menarik simpatik Arthur, sorot mata wanita paruh baya itu penuh ketulusan.
Helena yang baru saja mengetahui jika Arthur sudah menjadi donatur di panti asuhan Happy Children's Orphanage terperangah tidak percaya. Tanpa sepengetahuan dirinya suaminya itu melakukan banyak hal.
"Bantuan Tuan benar-benar sangat bermanfaat bagi kami. Sekali lagi terima kasih banyak Tuan." Meski menurut pria itu bantuan yang diberikan hanya bantuan kecil, tetapi menurut dirinya dan penghuni panti adalah bantuan yang sangat besar. Karena dari dana yang di berikan oleh Tuan Arthur, mereka bisa hidup berkecukupan dan bisa membayar sekolah tepat waktu.
"Ya..." Arthur mengiyakan saja. Jika dana yang ia sumbangkan bisa membantu banyak anak-anak disini, tentunya ia juga turut senang.
Meskipun tidak tahu menahu, Helena tetap mengangguk ketika Meena mengucapkan terima kasih padanya. Sebelum kemudian wanita itu mendekatkan wajahnya di telinga Arthur dan berbisik, "Honey, kau harus menjelaskan hal ini padaku."
Arthur menoleh ke arah sang istri sehingga tatapan mereka bertemu. Seulas senyum yang disematkan oleh Arthur menandakan jawabannya. Tentu, apapun yang ingin diketahui oleh istrinya, ia tidak keberatan untuk memberitahu.
Selama satu jam mereka berbincang disana, hingga Arthur harus mengakhiri kunjungan mereka saat ini juga.
"Jaga kesehatanmu, Meena. Aku akan berkunjung dilain waktu." Helena memberikan pelukan singkat pada Meena, sehingga membuat wanita paruh baya itu terkesiap.
"Hati-hati kandungannya, Nyonya," Meena menjadi was-was, karena tiba-tiba Nyonya Helena memeluknya. Saat mengetahui jika Nyonya Helena tengah mengandung ia begitu senang. Tidak hanya dirinya saja, Sofia, Maria pun turut senang akan kebahagiaan Nyonya Helena yang berlipat-lipat hadir.
"Ah, terkadang aku lupa jika sedang hamil." Helena menepuk keningnya disusul dengan kekehan kecil.
Meena hanya tersenyum. Meskipun sudah menjadi istri dari Tuan Arthur dan menjadi bagian dari Keluarga Romanov tidak Merta membuat wanita itu berubah. Helena yang ia kenal masihlah Helena yang dulu.
Selepas berpamitan, Helena dan Arthur masuk ke dalam mobil dan tak lama mobil yang dikendarai Arthur berlalu dari sana.
Karena mobil mewah itu sudah lenyap dari pandangan mereka, Meena, Sofia dan Maria serta anak-anak panti segera masuk ke dalam. Tanpa mereka sadari jika sejak tadi terdapat sepasang mata yang memperhatikan dari kejauhan.
"Setelah berhasil menghancurkan perusahaanku, rupanya kau hidup dengan baik bersama istrimu." Pria itu tersenyum licik. Guratan kemarahan nampak jelas kentara. Lalu ia mulai mengubungi seseorang di seberang sana.
"Kita akan menemui pria tamak itu dan memberikan penawaran yang menarik. Aku sangat yakin jika dia tidak akan bisa menolak untuk bekerjasama." Pria misterius yang tidak diketahui wajahnya karena tertutupi oleh kain penutup wajah itu menampilkan seringai licik. Ia tidak sabar untuk segera memberikan pelajaran kepada dalang yang menyebabkan kehancurannya.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA...