
Setelah mengantarkan Dokter Bradley dan memastikan kondisi Helena baik-baik saja. Darren segera berlalu meninggalkan hotel yang tentu saja sudah mendapatkan persetujuan dari Arthur. Pria itu tidak akan mencampuri urusan Darren, teman sekaligus tangan kanan kepercayaannya itu berhak menjalani kehidupannya selain mengurusi perusahaan dan para musuh Black Lion yang tidak akan pernah ada habisnya.
Entah apa yang membuat Darren begitu menggebu-gebu mengendarai mobilnya setelah mendapatkan laporan terbaru yang mengatakan jika wanita itu ditinggalkan teman pria-nya dan justru ada pria lainnya lagi yang sedang mencoba mendekat. Ponselnya kembali mendapatkan notifikasi pesan, tanpa mengurangi kecepatan laju mobil, Darren membuka pesan di ponselnya.
Dan dua sisi alisnya menyatu seketika saat menerima sebuah potret seorang pria yang sedang bersama dengan wanita itu. Tidak asing menurutnya dan ia mencoba mengingat-ingat wajah pria itu sembari meremass ponselnya.
"Oh shiitt!!!!" Ya, Darren ingat. Pria keparat itu adalah mantan kekasih Veronica yang kedapati bercinta dengan wanita lain, sehingga wanita itu mengakhiri hubungan mereka. Dan saat ini ia memiliki firasat yang tidak baik, sehingga kemudian Darren melemparkan ponselnya di kursi samping kemudi, ia menambah kecepatan laju mobilnya hingga benar-benar melesat bagaikan angin.
Ckiit
Decitan suara rem mobil melengking udara sebab Darren menghentikan mobilnya dengan kasar tepat di depan bangunan bertiga lantai dengan papan nama Be At One Bar. Pria itu segera turun dari mobil dan mendapati dua anak buah berjalan mendekat ke arahnya.
"Bos Der, Nona Veronica baru saja dibawa pergi oleh pria itu." Perkataan salah satu anak buah berhasil membuat Darren melayangkan tatapan tajam. Mau bagaimana lagi, memang itu yang harus mereka laporkan. "Dante dan Tiago sudah mengejar mobil pria itu," sambungnya kemudian. Untunglah kalimat tersebut menghindarkan dua anak buah dari umpatan Darren.
"Bos Der." Panggilan dari salah satunya mengurungkan langkah Darren yang baru saja berbalik badan.
"Ada apa lagi?!" sahutnya kesal. Sudah tahu dirinya harus mengejar Veronica, tetapi mereka masih saja menahannya.
"Ini ponsel Nona Veronica yang terjatuh." Sembari menyodorkan ponsel milik Veronica yang sedari tadi mereka awasi dari kejauhan.
Darren melihat sekilas ponsel Veronica, lalu segera menyambar ponsel tersebut dari tangan anak buahnya. Tanpa menoleh lagi, Darren kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat menyusul ketinggalannya.
Di dalam mobilnya terdapat monitor pelacak, terlihat titik tanda merah sebagai posisi mobil yang dikendarai entah oleh Dante atau Tiago. Tanpa harus bertanya pun Darren tahu kemana arah tujuan mobil mereka.
Ternyata memang tidak terlalu sulit untuk Darren menemukan keberadaan mobil dua anak buahnya. Dengan menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan, ia melintasi mobil Dante dan Tiago.
Kedua anak buahnya itu jelas tahu siapa yang menyalip mobil mereka, memang sejak tadi mereka menyadari keberadaan mobil Darren di belakang mobil mereka. Dan tak berselang lama, mobil dua temannya yang lain berada tepat di belakang mobil mereka.
Darren menyipitkan matanya ketika mendapati mobil pria keparat itu menepi. Entah apa yang akan pria itu lakukan kepada Veronica, tetapi ia sudah dapat menebaknya.
BRAK
Darren yang tentunya sudah diliputi oleh amarah menghantam mobil Cade. Hingga membuat mobil pria itu terguncang dan bergeser dari posisi sebelumnya. Ia segera keluar dari mobil dan menghantam kaca mobil pria itu menggunakan kepalan tangannya. Dengan satu tarikan saja ia berhasil membawa keluar pria bajingan itu dari dalam mobil dan memberikan pukulan bertubi-tubi.
Sungguh ia merasakan cemas dan sesak secara bersamaan. Di satu sisi ia begitu ingin membunuh Cade yang dengan lancang ingin memanfaatkan keadaan Veronica. Tetapi keadaan wanita itu lebih penting menurutnya sehingga ia membiarkan empat anak buahnya itu yang memberikan pelajaran kepada Cade. Dan setelah malam ini, pria itu akan menyesali perbuatannya sendiri. Ia pastikan hal itu.
Darren menghela napas, sudah ia duga jika Cade sudah melakukan sesuatu kepada Veronica. Hanya sekali lihat saja ia sudah dapat menyadari jika wanita itu dalam keadaan dikuasai obat perangsang. Dalam keadaan sadar saja wanita itu selalu membuatnya kerepotan. Lalu bagaimana jika dalam keadaan seperti ini, mungkin wanita itu akan bertindak lebih gila dari sebelumnya. Dengan mengeram pelan ia segera membopong wanita itu di pundaknya dan memasukkannya ke dalam mobil dan segera berlalu.
***
Di sepanjang perjalanan Darren harus menahan dirinya agar tidak mengumpat, terlebih hasrat untuk mencekik wanita itu. Bagaimana tidak, Veronica meraba-meraba dada serta pahanya yang masih terbungkus pakaian.
"Sebaiknya singkirkan tanganmu, Nona Vero." Dengan geraman pelan ia sekali lagi memperingati Veronica agar berhenti meraba-raba bagian tubuhnya. Come on, diraba-raba oleh seorang wanita seperti dirinya tengah dilecehkan. Sebab selama ini tidak ada wanita yang berani menyentuh tubuhnya. Dan wanita itu dengan sengaja menyentuh dan menggodanya.
"Ck, kau menyebalkan." Veronica mencebik kesal. Lagi-lagi ia ditolak, padahal tubuhnya sejak tadi sudah merasa sangat kepanasan. "Tubuhku sangat panas. Kau melarangku membuka pakaianku sendiri tapi kau tidak membiarkanku menyentuh tubuhmu." Sejak tadi wanita itu memang meraba-raba tubuh Darren, sebab suhu tubuh pria itu sangat dingin. Dan ia sungguh tersiksa dengan rasa panas yang semakin menjalar.
Helaan napas kasar kembali dihembuskan oleh Darren, ia tidak memberikan respons. Hanya membiarkan Veronica menggeliat gelisah di tempatnya. Sesungguhnya ia merasa kasihan, tetapi salahkan saja wanita itu yang terlalu bodoh masuk ke dalam perangkap mantan kekasihnya.
"Damn it! Hentikan Vero!!!" Dan kesabaran Darren sudah diambang batas, pria itu menghardik Veronica dan menyingkirkan tangan wanita itu, yang semakin berani menyentuh bagian bawahnya. Ah, ia benar-benar tengah dilecehkan. Dan entah kenapa perjalanan menuju Villa sungguh sangat panjang, padahal jaraknya hanya empat puluh menit saja.
Akhirnya penderitaan Darren sedikit berkurang lantaran mobilnya sudah tiba di tempat tujuan. Sebuah Villa mewah yang biasanya di singgahi oleh dirinya serta Arthur jika sedang berada di Bristol.
Buru-buru Darren keluar dari mobil dan bertepatan dengan dua mobil anak buah yang menepi di pelataran Villa. Darren mengabaikan keempat anak buahnya itu dan lebih memilih menggendong Veronica yang masih menggeliat gelisah. Masuk ke dalam Villa, hingga mengundang pertanyaan keempat anak buah.
"Menurutmu apa yang akan terjadi?" bisik Tiago pada Dante. Pandangannya memang tidak ia alihkan dari sosok tangan kanan kepercayaan bos mereka yang perlahan lenyap di balik pintu yang sudah tertutup rapat.
Pria tampan dengan luka goresan di bagian pelipis kirinya itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Dante terlihat tidak terlalu peduli dengan apa yang akan terjadi pada Bos Darren. Lagi pula mereka sudah dewasa, apapun yang akan terjadi bukan menjadi urusan mereka. Namun berbeda dengan Tiago yang sepertinya sangat penasaran, sebab selama belasan tahun ia dan Dante menjadi anak buah kepercayaan, baru kali ini menyaksikan Darren begitu mempedulikan seorang wanita selain Nona Elie. Tetapi tentunya rasa penasarannya harus ia tahan lantaran ia masih ingin bernyawa.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...