The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Cara Penyiksaan Yang Baru



Isla De Sa Ferradura, Ibiza Spanyol


Arthur duduk bersandar di sofa yang berada di hadapan ranjang, sehingga mempermudahkan dirinya memandangi lamat-lamat wajah Helena yang damai menyelami alam mimpi, wajah wanita yang sudah menemaninya sejak enam hari yang lalu. Wanita itu baru saja tertidur setelah meminum obatnya. Rasa cemas yang sedari tadi melanda dirinya berangsur memudar seiring ia tiba di pulau pribadi miliknya. Meksipun banyak sekali penjaga yang di tugaskan di sekitar pulau untuk meminimalisir kedatangan penyusup yang tidak diundang. Tetap saja kecemasan itu melingkupi dirinya.


Ponsel Arthur yang berdering menyentakkan lamunannya. Dengan malas beranjak menuju ponselnya yang tidak berhenti bergetar di atas meja. Nama Daddy Xavier tersemat di layar ponsel, buru-buru Arthur menjawab panggilan dari Daddy-nya itu di balkon agar tidak membangunkan Helena yang tertidur pulas.


"Ada apa Dad?" tanyanya begitu menempelkan ponsel pada daun telinga. Menanyakan tujuan menghubungi dirinya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


Meksipun Arthur tidak melihatnya, kening Xavier mengerut dalam. Sebab putranya itu benar-benar tidak merasa jika telah melakukan kesalahan.


"Kau baru saja tiba di London dan sudah kembali lagi ke Spanyol? Kau seharusnya menemui kami terlebih dulu! Apa kau lupa padaku yang sudah menitipkanmu di rahim istriku hingga kau terbentuk seperti ini?!" Seketika mood menyebalkan dan cerewet Xavier menguar hebat, membuat Arthur terpaksa menjauhkan ponsel dari daun telinga mendengar suara Xavier yang melengking di seberang sana.


Arthur meringis mendengarnya. Karena terlalu sibuk menyusun rencana membalaskan perbuatan Jorge, sehingga dirinya lupa untuk kembali ke Mansion mengunjungi Mommy Elleana, terutama pria tua yang saat ini tengah mengeluhkan sikapnya.


"Sorry Dad, ada beberapa hal yang harus aku urus begitu tiba di London. Dan aku harus kembali ke Spanyol karena mencemaskan istriku!" Arthur menekankan kata 'istriku'. Dengan sengaja ingin menyindir Daddy-nya yang selama ini selalu mengklaim Mommy Elleana sebagai istrinya saja, tanpa membiarkan dekat-dekat dengannya, meski ia hanya seorang putra sekalipun.


Xavier berdecih. Semenjak menikah, Arthur sudah bisa membalas serangan kalimatnya. Dan yang baru saja dikatakan oleh putranya itu, seolah menegaskan jika saat ini putranya itu memiliki tanggung jawab yang juga perlu diutamakan.


"Ck, sekarang kau bisa bicara seperti itu sampai terakhir aku menyuruhmu menikah, kau menolak semua wanita yang ingin kukenalkan padamu."


"Aku menolak karena wanita-wanita itu bukan Helena. Apa kau puas dengan jawabanku, Dad?!" Arthur mendengkus kesal, ia tahu jika Daddy-nya itu sengaja ingin mengejeknya.


Benar saja, tawa Xavier meledak di ujung telepon hingga kembali membuat Arthur menjauhkan ponselnya dengan helaan napas kasar lantaran kesal.


"Kau semakin pandai, Son." Dan Xavier memuji sikap Arthur yang kini berubah dan bisa mengimbangi perkataannya. Jika dahulu Arthur lebih sering menghindari percakapan sensitif seperti ini, tetapi tidak saat ini yang justru menimpali.


"Karena aku putramu!" seru Arthur menegaskan dari mana dirinya berasal.


"Haha benar," sahut Xavier disela-sela tawanya yang masih bertahan. "Karena itu aku bangga padamu, kau tidak main-main dalam bertindak. Tapi kenapa kau membakar Mansion pria tua itu?! Bukankah Mansion itu adalah peninggalan mertuamu untuk putrinya?" Ya, Xavier merasa bingung dengan cara Arthur. Bukankah yang akan merugi adalah Helena yang harus kehilangan harta peninggalan kedua orang tuanya.


"Aku hanya menyingkirkan hama yang tidak ingin pergi dari sarangnya, Dad. Hama seperti itu hanya akan merepotkan dan membuang-buang waktu. Aku mengusir hingga ke akarnya dan sekarang mereka sudah kehilangan tempat tinggal. Tidak mungkin mereka masih ingin berada disana. Sudah pasti pria itu bersama keluarganya akan mencari tempat tinggal yang baru." Bukan tindakan gegabah tanpa dipikirkan panjang terlebih dahulu. Jauh-jauh hari, Arthur sudah memprediksikan jika Jorge tidak mungkin angkat kaki dari sana. Terlebih Jorge memiliki salinan sertifikasi palsu beberapa aset harta kekayaan Jonathan.


Xavier menanggapi dengan mengangguk disertai deheman tanda mengerti. "Ya, aku mengerti. Tapi bagaimana jika suatu hari nanti istrimu mengetahui kau yang sudah membakar kediaman kedua orang tuanya?"


Arthur sejenak terdiam. Sebenarnya ia tidak memikirkan hal itu dan tidak memusingkan jika pada suatu hari nanti Helena mengetahui pemilik kekayaan Bonham yang sebenarnya.


"Aku hanya perlu membangun Mansion yang lebih dari Mansion Bonham." Done. Itulah makna dari perkataannya yang tidak ingin terlalu mengambil pusing. "Lagi pula tidak akan ada seseorang yang ingin tetap tinggal di tempat yang banyak kenangan buruk dan menyakitkan," imbuhnya tidak menyesali perbuatannya. Baginya ia hanya perlu menghilang asal mula penderitaan Helena dimulai dan akan menggantinya dengan kenangan yang lebih baik dan indah tentunya.


"Kau benar. Keluarga Romanov bisa membangun ratusan Mansion seperti itu!" Xavier terkekeh, ia sempat melupakan seberapa kaya Keluarga Romanov. Jika menghancurkan Mansion dan perusahaan adalah hal yang sangat mudah, terlebih hanya Mansion yang begitu diinginkan oleh Jorge.


"Bawalah istrimu untuk menemui kami jika keadaannya sudah membaik. Kau tau Son, istriku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya dan merencanakan resepsi pernikahan kalian."


"Baik Dad. Sampaikan permintaan maafku kepada Mom karena tidak bisa menemuinya."


"Kau tenang saja, dia adalah Mommy yang pengertian. Lagi pula istriku tidak akan kesepian karena aku selalu menemaninya 24 jam, di ranjang dan bahkan kamar mandi, aku-"


Tut


Arthur memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Sungguh jengah jika Daddy Xavier selalu tidak tahu malu menjabarkan setiap yang dilakukan pria tua itu dengan Mommy-nya.


Kemudian Arthur memutar arah tubuhnya, hendak kembali ke dalam. Namun begitu terkesiap karena Helena sudah berada di hadapannya.


"Kau sudah bangun?" Pertanyaan bodoh macam apa itu. Arthur meruntuki dirinya. Tentu saja Helena sudah bangun. Jika belum, maka istrinya itu masih berada di atas ranjang.


Helena mengangguk pelan dengan mata yang masih sayup-sayup itu mengerjap berulang kali. "Aku takut kau tidak ada di sisiku. Jadi aku mencarimu," sahutnya lirih dan terdengar suaranya sedikit bergetar.


Ah, sikap wanita itu seketika mampu memporak-porandakan kewarasan Arthur.


"Masuklah, diluar sangat dingin." Arthur menuntun pundak Helena untuk kembali ke dalam, lalu mendudukkannya di tepi ranjang. "Apa kau butuh sesuatu, hm?" tanyanya kemudian menatap Helena menunduk karena berposisi duduk.


"Tidak ada," jawabnya disertai gelengan kepala. "Aku hanya bermimpi buruk dan saat aku bangun tidak melihatmu dimana pun. Aku takut."


Arthur menyelipkan senyuman tipis di sudut bibirnya. "Aku tidak akan pergi kemana pun. Aku hanya menerima telepon." Bahkan Arthur menunjukkan ponsel yang masih dalam genggamannya.


Helena kembali mengangguk. Seketika ketakutannya lenyap karena berada di sisi suaminya. "Aku ingin memelukmu," cicitnya merona malu.


Arthur tertegun. Setiap kali Helena meminta ingin dipeluk, tubuhnya menegang seketika. Bukan karena enggan memberikan pelukan, baginya sudah terbiasa memeluk Helena. Akan tetapi entah kenapa belakangan ini ia merasakan tubuhnya yang seketika menjadi aneh. Seolah menuntut sesuatu yang lebih dari sekedar pelukan.


"Berbaringlah. Aku akan meletakkan ponselku lebih dulu." Helena menurut, ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Arthur meletakkan ponselnya dia atas meja dan mulai merangkak naik ke atas ranjang.


Arthur membaringkan tubuhnya ke samping, menghadap Helena dan kini posisi mereka saling berhadapan. Wanita itu segera memeluk Arthur dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arthur yang tidak terbungkus sempurna oleh kemejanya. Tanpa di sadari oleh Helena, Arthur tengah berjuang menahan diri agar tidak menyentuh bagian tubuh Helena yang lain.


Dalam posisi memeluk Helena, tentunya membangkitkan sesuatu yang sudah terasa sesak di balik celananya. Sebagai pria normal, tentu miliknya perlahan bangkit. Hanya saja selama ini ia bisa menahan diri dan tidak berminat bermain wanita.


Apa ini cara penyiksaan yang baru? batinnya menghela napas panjang. Tidak berselang lama, Arthur merasakan napas Helena yang terhembus teratur dan sudah bisa ditebak jika istrinya itu kembali terlelap.


Arthur memindahkan kepala Helena di atas bantal dengan berhati-hati. Sebelum kemudian beranjak duduk, memastikan Helena tidak terbangun dengan pergerakannya. Hingga Arthur beranjak berdiri dan berlalu ke kamar mandi. Berdiri di bawah shower dengan pakaian lengkap dan mengacak rambutnya frustasi.


Selama ini kau bisa menahannya Ar dan kali ini kau juga juga sudah berhasil menahannya.


Jika saja tidak memikirkan Helena yang akan ketakutan, mungkin ia sudah menerkam wanita yang sudah sepantasnya ia nikmati. Namun selama menjadi istrinya, Arthur baru menikmati bibir Helena saja.


Arthur menarik napas dalam-dalam dan kemudian tangannya terulur menghidupkan kran shower. Ia membiarkan rintikan air shower itu jatuh di atas kepalanya, hingga menghujani seluruh tubuhnya. Setidaknya ia bisa mendinginkan tubuhnya dengan air dingin.


To be continue


Babang Arthur



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...