The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Ketakutan Akan Kembali Merasakan Kehilangan



Mikel meraih jas yang terlampir di kursi kebesaraannya dan ia pun segera membalut jas tersebut ke tubuhnya. Dengan diikuti oleh Nathan, Mikel keluar dari ruangan. Ia melebarkan langkah kakinya memasuki lift, hingga kemudian keduanya sudah berada di depan gedung perusahaan yang sudah terdapat mobil miliknya disana. Mikel masuk ke dalam mobil disusul oleh Nathan, sejak keluar dari ruangan senyum Mikel tersemat dan itu membuat para karyawan yang melihatnya terheran-heran, bahkan bergidik ngeri.


Sedari tadi pun Nathan diam-diam mengamati, memang sejak menerima telepon yang memberitahukan keberadaan wanita model itu, wajah tuannya yang semula diliputi kemarahan, perlahan melunak dan bahkan terukir senyuman disana.


"Nath, batalkan semua jadwalku untuk hari ini," ujar Mikel tanpa menyurutkan senyum tipisnya.


Nathan yang sedang mengemudikan mobil mengangguk paham. "Baik Tuan." Dan dirinya pun kembali fokus mengemudi, hingga beberapa menit kemudian tiba di tempat tujuan.


Host Cafe yang berlokasi di St Mary Aldemary London, menjadi persinggahan Aurelie untuk menikmati secangkir coffee, namun sialnya ketika Mikel tiba disana, wanita itu sudah tidak berada di tempat. Mikel berlari kecil sembari menyapukan pandangannya ke setiap sudut untuk mencari keberadaan wanitanya, tetapi hasilnya tetap tidak menemukan wanita itu dimanapun. Nathan pun mencari keberadaan wanita itu diluar cafe, namun sama seperti Mikel, Nathan tidak mendapati Aurelie disana.


"Tuan, saya tidak menemukan Nona Elie dimanapun." Nathan tergopoh-gopoh menghampiri Mikel yang nampak gusar dan mengedarkan pandangan kesana-kemari mencari keberadaan wanitanya itu.


"Dimana anak buahmu?" tanya Mikel. Terselip amarah di dalam pertanyaannya.


"Disana tuan." Nathan menunjuk keberadaan seseorang yang ia tugaskan untuk mengamati kediaman Romanov dan ketika melihat targetnya keluar dari Mansion besar itu, pria itu segera melaporkan kepadanya.


Mikel berjalan dengan diliputi kekesalan karena tidak berhasil menemukan wanitanya. "Aku tidak menemukan wanitaku. Apa kau tidak salah melihat, heh?!" serunya dingin.


Pria tersebut tersentak kaget dan segera membalikkan tubuhnya menghadap Mikel dan juga Nathan. "Tu-tuan...." sahutnya tergagap. "Saya benar-benar melihat Nona disini, bahkan saya juga memotretnya. Jika Tuan tidak percaya, saya bisa membuktikannya, Tuan." Dan pria itu segera menyodorkan ponsel miliknya, beruntung ia sempat memotret wanita Tuannya. Sehingga ia dapat terhindar dari amukan Tuannya itu.


Mikel mengambil ponsel tersebut, menatap seksama hasil potret anak buah dari Nathan. Benar, wanita itu memang benar-benar Elie, wanitanya. Mengenakan dress selutut berwarna lilac atau ungu muda pucat dengan rambut yang dibiarkan terurai indah.


"Jika memang berada disini, lalu dimana dia?" Dengan kasar, Mikel menyerahkan kembali ponsel itu kepada anak buah itu.


"Sa-saya benar-benar tidak tau, Tuan. Sejak tadi saya berada disini dan tidak melihat jika Nona keluar dari cafe," jawabnya bergidik takut. Bahkan tanpa mereka sadari jika keringat dingin mulai menjalar di keningnya.


"Ck, bodoh!" umpat Mikel kesal.


Nathan tidak tinggal diam, ia mencoba bertanya kepada beberapa pelayan yang bekerja di host cafe tersebut. Dan jawaban mereka sama, wanita itu keluar dari cafe melalui pintu belakang cafe karena merasa jika ada yang sedang mengawasi dirinya.


Mendengar hal itu, Mikel kembali meradang. Ia menatap anak buah Nathan yang bodoh itu dengan tatapan tajam. "Kau menakutinya bodoh! Kenapa tidak mengawasinya dari jauh, heh?!" hardiknya.


Anak buah itu tertunduk takut. "Maafkan saya Tuan." Dan hanya kata maaf yang terlontar, ia tidak bisa mengelak ataupun membela diri, karena memang murni kesalahannya.


"Ck, kau memperkerjakan seseorang yang tidak becus Nath!" seru Mikel mendengkus kesal. Nathan turut tertunduk karena lagi-lagi menjadi sasaran kemarahan Mikel.


Mikel melangkahkan kaki meninggalkan Nathan dengan anak buahnya itu. Ia masuk ke dalam mobil seorang diri untuk mencari keberadaan Aurelie yang ia yakini masih berada di sekitar cafe. Nathan menatap nanar mobil Tuannya yang sudah berlalu, namun ia tidak tinggal diam. Menepuk bahu anak buahnya dan menyetop taksi yang baru saja akan melintas di hadapan mereka. Begitu masuk ke dalam taksi, Nathan meminta supir taksi itu untuk mengikuti mobil Tuannya.


***


Mobil yang dikemudikan Mikel melaju dengan kecepatan tinggi. Pandangannya di edarkan ke segala arah tanpa mengurangi kecepatan. Ia begitu cemas dan gusar setengah mati, rasa ingin menemui dan memeluk wanita itu sungguh menggebu-gebu. Hingga suara dering ponsel yang menyentakkan telinga membuatnya terpaksa mengurangi kecepatan mobilnya. Kening Mikel berkerut dalam saat melihat panggilan masuk dari salah satu anak buahnya yang selama ini diam-diam ia tugaskan untuk memantau pergerakan musuh-musuhnya dan menjaga Aurelie dari kejauhan.


Tanpa membuang waktu lagi, Mikel segera menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya tersebut.


"Ada apa?" tanyanya dengan desakan penuh.


"Bos, kami melihat wanitamu sedang diikuti oleh beberapa mobil di Perbatasan Jurassic."


"Apa??!" Mikel yang terkejut mendengar penuturan anak buahnya di seberang sana menginjak pedal rem karena nyaris kehilangan keseimbangan.


"Kami sedang berusaha mengejar mereka bos. Cepatlah datang!"


"Habisi mereka! Jangan sampai mereka melukai wanitaku!" seru Mikel. Lantas ia menambah kecepatan laju mobilnya tanpa pedulikan keselamatan dirinya.


"Baik...."


Begitu sambungan teleponnya terputus, Mikel melemparkan asal ponselnya. Ia melesat cepat menuju lokasi Elie berada. Tempat itu merupakan tebing yang terhubung dengan Pantai Jurassic. Perlu waktu lama untuk mencapai kesana, akan tetapi Mikel hanya mampu menembusnya dalam waktu 15 menit saja.


Mobilnya menepi tepat di barisan beberapa mobil milik anak buahnya. Sorot matanya menajam ketika beberapa anak buahnya sedang terlibat baku hantam. Mikel melepaskan jas yang dikenakannya lalu membuangnya asal, ia menghampiri beberapa anak buahnya yang sudah nyaris tumbang.


Bugh


Mikel melayangkan tinjunya tepat di wajah satu musuhnya. Entah kali ini musuh dari mana yang berani-beraninya mengganggu wanitanya. Ia pun begitu marah mendapati anak buahnya di tikam habis oleh mereka.


"Bos, jangan hiraukan kami. Cepat selamatkan Nona Elie." Satu dari anak buahnya berteriak sembari berusaha menangkis serangan senjata tajam yang dilayangkan ke arahnya.


"Benar bos, Nona Elie dalam bahaya. Mereka membawa Nona Elie menuju tebing," sambar yang lainnya.


Masing-masing tangan Mikel terkepal kuat, rahangnya mengeras. Ia segera berlari menuju tebing curam yang paling tinggi. Napasnya memburu penuh amarah ketika tidak mendapati Elie, dan hanya ada dua musuhnya yang sedang tertawa puas.


Bugh


Bugh


Dua pria itu limbung dan nyaris saja terpental ke bawah tebing jika masing-masing dari mereka tidak mampu menjaga keseimbangan tubuh mereka.


"Siall! Sepertinya pria ini kekasih dari wanita itu," ujar salah satunya.


"Kami sudah mengurus wanita itu. Kau mau apa, heh?!" Dan satu dari dua pria itu berseru begitu angkuh.


"Kau!" Mikel menyahut pakaian salah satu pria tersebut. "Dimana dia, hah?!"


Bugh


Bugh


Dan Mikel menghajar dengan membabi buta. Tidak terima temannya di hajar begitu brutal, pria yang memiliki bekas luka di wajahnya berusaha menyerang Mikel dengan senjata tajam. Sehingga punggung Mikel nyaris saja tertusuk jika tidak dengan lihai menghindar.


"Wanitamu sudah mati! Kami membuangnya ke bawah dan menenggelamkannya haha." Kesal karena serangannya melesat, pria itu membeberkan keberadaan Aurelie.


"Kau!!" Siapa yang bisa terima jika wanita yang dicintainya dalam keadaan tidak berdaya seperti itu. Bahkan mereka dengan keji membuangnya. Mikel mendorong dada pria yang baru saja dihajar olehnya hingga membuat pria itu jatuh tersungkur.


Baru saja Mikel hendak melompat untuk menyelamatkan Elie, bahunya lebih dulu di tarik sehingga tubuhnya limbung ke belakang.


"Kau tidak akan bisa menyelamatkannya. Karena kau juga akan mati sepertinya haha!" Dengan tawa yang menggelegar meremehkan Mikel.


Emosi Mikel sudah tidak dapat di kendalikan lagi, ia melangkah dengan mata yang menyala siap untuk menghabisi pria yang tengah membawa senjata tajam itu.


"Kau yang akan mati di tanganku!" seru Mikel. Giginya bergemeletuk disertai kedua tangannya yang terkepal.


Pria itu mengayunkan senjata tepat ke arah Mikel, namun lagi-lagi Mikel berhasil menghindar dan menyahut lengan pria itu lalu memelintirnya.


"Arrghhh..." Terdengar remukan tulang akibat Mikel terlalu kuat memelintir pria itu, hingga senjata tajamnya terlepas dan beralih berada di telapak tangan Mikel. Lantas Mikel segera menikam perut pria itu menggunakan senjata tajam tersebut.


"Nikmati kematianmu!" Mikel menekan benda tajam itu semakin menebus ke dalam. Bahkan pria itu sudah mengeluarkan darah dari mulutnya.


Mikel tersenyum lalu mendorong pria tersebut, jatuh tersungkur dengan senjata tajam yang masih menancap di perutnya.


Samar-samar Mikel dapat mendapatkan suara seseorang yang meminta tolong. "Elie?" gumamnya. Ia sangat yakin jika yang ia dengar adalah suara wanitanya. "Siall!" Mikel berlari menuju tepi tebing, matanya menyipit tajam begitu melihat seseorang yang mengapung di bawah sana, namun perlahan mulai tenggelam.


Byur


Tanpa berpikir panjang, Mikel melompat ke bawah sana. Menyelam untuk menyelamatkan wanita yang teramat ia cintai. Pikiran buruknya menari-nari, seolah ia benar-benar akan kehilangan wanita itu untuk selamanya. Tidak. Mikel tidak akan pernah membiarkan wanitanya itu pergi meninggalkannya.


Sweetheart, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku.


Mikel menyelam lebih dalam lagi begitu sudah menemukan wanitanya. Ternyata kaki Elie terikat dengan tali yang terhubung baling-baling yang bergerak semakin dalam ke dasar sehingga tubuh wanita itu pun turut terseret ke bawah. Tangan Mikel berhasil menjangkau kaki Elie dan berusaha melepaskan tali yang membelit pergelangan kaki kiri wanitanya.


Tali itu berhasil terlepas dari kaki Elie, dengan segera Mikel merengkuh tubuh Elie dan membawa ke dalam dekapannya. Wajah Mikel berubah panik ketika melihat Elie dengan mata yang terpejam. Kemudian Mikel berenang sembari merengkuh pinggul Elie menuju ke permukaan.


Napas Mikel tersengal-sengal begitu berhasil menyembulkan kepalanya di permukaan air. Ia menghirup udara sedalam mungkin dan berenang menuju ke tepian. Meski tubuhnya sedikit bergetar, tetapi Mikel mampu menggapai tepi batu besar. Ia mengangkat tubuh Elie dan membaringkannya di batu besar yang membentang luas. Kemudian ia menumpu kedua tangannya untuk naik ke atas.


"Sweetheart, sadarlah." Mikel berlutut di sisi Elie, mengguncang tubuh wanitanya. Namun tidak ada respons apapun dari Elie. Hingga kemudian Mikel memastikan keadaan wanita itu dengan memeriksa denyut nadi Elie. Wajah yang memucat itu menghembuskan napas penuh kelegaan karena wanitanya masih bernapas.


Mikel segera memberikan napas buatan sebagai bentuk pertolongan pertama, berharap jika wanitanya akan segera tersadar. Namun Elie tetap memejamkan matanya. Wanita itu seolah tidak pedulikan seruan Mikel yang bergetar, bahkan sudut matanya terlihat sesuatu yang menetes. Ya, itu adalah lelehan air mata. Mikel meneteskan air mata, karena ia begitu ketakutan akan kembali merasakan kehilangan seseorang yang berarti di dalam hidupnya.


To be continue


Babang Mikel



...Jangan lupa dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...