
Setelah menyelesaikan pertemuannya dengan dosen pembimbing, Licia memutuskan singgah ke cafe karena ia sudah merasa lapar. Selain itu dirinya juga memiliki janji dengan Freya siang ini. Sehingga ia memutuskan menunggu teman baiknya itu di Cafe.
Selama menunggu pesanan, Licia memainkan ponselnya. Sesekali ia menyelipkan tawa kala melihat banyak chat di group dragon boys. Sepupu-sepupunya itu selain tampan, mereka juga sangat lucu.
Tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel, meskipun waitters sudah meletakkan pesanannya di atas meja.
"Terima kasih." Tetapi Licia tetap mengucapkan terima kasih hingga disambut anggukan kepala oleh waitters wanita itu dan segera meninggalkan meja setelah tugasnya selesai.
Karena aroma sedap yang menguar membuat Licia pada akhirnya meletakkan ponsel di atas meja dan mengabaikannya begitu saja. Menu yang ia pesan adalah duck breast, French onion soup dan strawberry juice. Apapun menu makanannya, ia akan selalu memesan minuman yang berbau strawberry.
Tanpa membuang waktu lagi, Licia segera menyantap makanannya. Ia begitu lahap tanpa menatap sekitarnya, tidak menyadari jika di meja yang lain terdapat seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.
Tepat di seberang sana, lebih tepatnya di sebuah Restauran yang bersebrangan dengan Turtle Bay Oxford Cafe, Austin bersama dengan Bastian baru saja keluar dari Restauran tersebut. Bertepatan dengan Licia yang secara reflek menoleh ke arah dimana Austin berada. Seketika ia menghentikan suapannya yang tersisa sedikit itu.
"As....?" gumamnya lirih. Sungguh ia sangat merindukan pria itu. Belakangan ini ia menyadari jika hubungannya dengan Austin kian menjauh. Pria itu pun tidak datang menemuinya hanya sekedar untuk meminta maaf. Dan entah kenapa ia pun merasa jika ada yang salah dengan dirinya. Tidak seharusnya ia menjauhi Austin. Jika Austin keras kepala, maka tidak ada salahnya jika ia yang harus sedikit lebih melunak.
Ya, ia harus meminta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan Austin. Sebab ia tidak ingin berlarut-larut saling mendiamkan. Licia kemudian menyeka bagian area bibirnya dengan napkin. Lalu memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan setelahnya ia bangkit berdiri. Bahkan ia lupa jika sedari tadi tidak menyentuh strawberry juice yang disukainya itu. Saat ini yang lebih penting adalah menemui Austin sebelum pria itu masuk ke dalam mobil dan kembali ke London.
Namun tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan kedatangan seorang pria. Begitu mendongakkan wajah, ia terkejut mendapati Maxime berdiri di hadapannya.
"Maxi, kau disini?" tanyanya tidak menduga.
"Ya, kebetulan sekali bukan?" Maxime mengembangkan senyum. Tentu ia senang bertemu dengan Licia.
"Hm, ya...." Licia merasa jengah. Entah kenapa ia tidak menyukai keberadaan Maxime kali ini. "Tapi maaf Max, aku harus pergi." Licia hendak mendorong bahu Maxime agar menyingkir dari jalannya. Sehingga membuat kening Maxime berkerut begitu dalam.
Ada apa ini? Licia mengabaikannya? Oh, ini tidak benar. Dan segera ia menahan pergelangan tangan Licia.
"Temani aku makan, Licia. Aku sangat lapar." Maxime memasang wajah pias seperti biasa.
"Tidak Max, lain kali saja. Aku harus menemui As." Licia berusaha melepaskan genggaman tangan Maxime. Namun yang dilakukan Maxime justru memperkuat cengkeramannya. Ia merasa aneh dengan penolakan Licia kali ini. Hingga kemudian matanya menyorot pada kedua telinga Licia yang tidak mengenakan giwangnya seperti sebelumnya.
Ah, ia paham saat ini. Hingga kemudian ia berkata, "Licia, sebaiknya kau menghabiskan juice yang kau pesan. Bukankah kau sangat menyukai strawberry juice? Aku berjanji setelah kau menghabiskannya, aku akan mengantarmu bertemu dengan Tuan Muda Austin." Dengan senyum penuh kehangatan, Maxime mengambil gelas strawberry juice yang belum tersentuh itu. Tatapan matanya berusaha meyakinkan Licia.
Gadis itu meragu. Ia memang merasa haus karena sejak tadi belum sempat meminum minumannya. Tanpa berpikir panjang dan menaruh curiga, ia menerima gelas strawberry juice dari tangan Maxime dan meneguknya hingga menyisakan setengah saja.
"Aku sudah cukup kenyang, Max. Sebaiknya kau segera mengantarku untuk menemui As." Licia meletakkan gelas itu ke atas meja.
"Baiklah, aku akan mengantarmu kemanapun kau ingin pergi." Licia hanya mengangguki perkataan Maxime dan pria itu memanggil waitters untuk meminta bill. Setelah melakukan pembayaran, keduanya segera keluar dari cafe.
Tatapan kecewa Licia mengedar pada sekitar karena tidak menemukan keberadaan Austin atau asistennya. Bahkan mobilnya tidak terlihat terpakir seperti sebelumnya.
"Sepertinya Tuan Muda Austin sudah pergi. Apa kau tetap ingin berada disini atau ingin aku mengantarmu ke perusahaannya?" Maxime mengurai senyum. Ia menawarkan bantuan kepada gadis di hadapannya itu.
"Max, lepaskan. Aku harus segera pergi." Licia menepis tangan Maxime meskipun sulit. Bahkan ia nyaris meninju wajah Maxime jika pria itu tidak lihai menghindar.
"Sudah cukup Licia, kau harus mendengarkanku seperti sebelumnya!" Kali ini suara Maxime menyentak tinggi. Kedua tangannya bahkan menekan bahu Licia.
"Maxi...." Nada suaranya menjadi bergetar, Licia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Untuk melangkah saja terasa sulit.
"Dengar, kau tidak perlu menemuinya. Dia jahat dan dia egois, dia menyakitimu, dia tidak percaya padamu. Tidak ada yang peduli padamu seperti aku yang peduli padamu, mengerti?" Ditekankan kalimat-kalimat yang terucap darinya dan berharap jika obat itu mulai bereaksi.
Tatapan mata Licia seketika menjadi kosong, ia seperti baru saja menangkap sinyal yang merasuk ke dalam tubuhnya. Bak kerbau dicocok hidungnya, Licia mengangguk patuh. Maxime tersenyum, inilah Licia-nya yang sudah kembali seperti biasanya.
"Baiklah, aku harus pergi. Bukankah kau akan bertemu dengan temanmu?"
Licia mengangguk, lalu menjawab, "Kau berhati-hatilah."
"Tentu." Maxime mengusap puncak kepala Licia. "Ingat, kau hanya boleh peduli padaku. Tidak ada yang lain, mereka hanya peduli pada dirinya sendiri. Aku yang akan selalu menemanimu." Lagi-lagi Licia mengangguk mendengar perkataan Maxime yang terasa sangat sulit untuk dibantah.
"Dan jangan pernah lagi melepaskan anting yang kuberikan." Lalu Maxime merogoh kantung celananya. Ia sudah menduga jika giwang berlapis emas putih yang ia pasangkan sebelumnya dilepas oleh Licia tanpa sadar. Sehingga ia sudah menyiapkan gantinya. Maxime segera mengenakan giwang darinya itu secara bergantian di cuping telinga Licia.
"Habiskanlah candy yang kuberikan. Bukankah kau menyukai rasanya?"
Licia mengangguk dengan senyuman. "Ya, aku sangat menyukainya."
Respons Licia membuatnya kembali tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai berjumpa nanti."
Setelahnya Maxime berlalu pergi. Ia harus melarikan diri sebelum gadis yang bernama Freya itu datang. Ia jelas sangat menyadari jika Freya tidak menyukai dirinya. Tidak hanya gadis itu saja, keluarga dari Licia tidak menyukainya. Mengingat hal itu saja membuat tangannya mengepal kuat. Tapi apa pedulinya, ia hanya menginginkan Licia dan membuat gadis itu hanya patuh kepadanya, perlahan akan meninggalkan kedua orang tuanya dan ikut bersamanya.
Maxime mengambil benda kecil dari saku celananya, kemudian mendekatkan ke bibirnya. "Licia sayang, masuklah ke dalam cafe. Aku akan mengawasimu dari dalam mobil." Setelah mengatakan hal itu melalui benda yang terhubung dengan giwang yang ia kenakan di telinga Licia, Maxime segera masuk ke dalam mobil. Dari posisinya kini ia dapat melihat jika Licia sudah kembali memasuki cafe.
Matanya tak lepas mengawasi Licia hingga gadis yang bernama Freya itu datang. Dan tak lama kemudian keduanya segera pergi meninggalkan cafe. Maxime tidak cemas ketika Licia bersama dengan Freya atau ketika sudah berada di kediaman gadis itu karena saat ini Licia hanya akan mendengarkan perkataannya saja.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...