
Dentuman musik menghentak di dalam The Cavern Club. Semua pengunjung menikmati malam mereka dengan balutan musik yang menghipnotis sehingga sebagian dari mereka meliuk-liukkan tubuh bersamaan dengan irama musiknya.
Darren dan Arthur sudah berada di The Cavern Club sejak setengah jam yang lalu. Tidak ada yang keduanya lakukan selain duduk menikmati wine. Berbeda dengan Lions Boys dan Dragon Boys yang sudah turun ke lantai dansa sekedar untuk bersenang-senang di bawah sana. Malam ini, kedatangan mereka ke club untuk merayakan hari wisuda Austin dan Devano yang diadakan pagi tadi.
"Der, kau lanjutkan saja. Aku akan pulang sekarang." Arthur sedikit berteriak kepada Darren karena irama musik yang nyaris menenggelamkan suaranya tersebut.
"Baiklah, aku akan berada disini lebih lama lagi," sahutnya dengan mengitari pandangan ke arah lain.
"Hm...." Arthur berdehem. Sebelum meninggalkan Club, ia menghabiskan satu tegukan wine yang terisi penuh di dalam gelas kristal. Ia tidak ingin berlama-lama di Club, karena tidak bisa meninggalkan Helena di penthouse seorang diri. Ia mencemaskan istrinya itu, sebab sang istri menolak untuk diantar ke Mansion kedua orang tuanya.
"Aku pergi." Kemudian Arthur bangkit berdiri. "Kau bersenang-senanglah," sambungnya sambil menepuk bahu Darren. Ia membebaskan teman sekaligus tangan kanannya itu untuk bersenang-senang dan melupakan sejenak pekerjaan.
Darren mengangguk dengan mengacungkan ibu jari tanda setuju. Ia pun akan bersenang-senang malam ini dan melupakan permasalahan yang terjadi sejak pagi. Ia tidak akan pulang malam ini karena menghindari Keiko dan kedua orang tua wanita itu yang bermalam di mansion. Pagi tadi ia tidak sempat berbicara serius dengan wanita itu, sebab setelah makan siang, ia harus menghadiri rapat dadakan lantaran Arthur tidak bisa datang untuk menghadirinya.
Sepeninggalnya Arthur dari Club, Darren kembali menyapukan pandangannya ke sekitar. Ia memperhatikan adik serta sepupu-sepupunya yang asik menari di bawah sana dengan hentakan musik yang semakin menggelegar. Ia tidak berniat bergabung, minuman yang ada di hadapannya lebih menarik di nikmati.
Namun sebuah siluet tubuh wanita yang tidak asing menjadi pusat perhatiannya. Kedua matanya menyipit tajam untuk memperjelas penglihatannya. Seperkian detik kemudian ia mengenali siluet tersebut. Wanita yang menurutnya menyebalkan dan cerewet itu berada di The Cavern Club bersama teman wanita. Keduanya jika diperhatikan sering ia jumpai di Club malam.
Apa dia sering datang ke club?
Pertanyaan yang sungguh aneh. Wajar saja jika wanita yang berjiwa bebas seperti Veronica mencari kesenangan di Club malam. Wajah Darren yang datar itu tiba-tiba menegang kala objek yang sejak tadi di perhatikannya di peluk dari belakang oleh seorang pria. Pria yang tadi siang ia lihat berada di restauran dengan wanita itu.
Satu kesimpulan yang menjadi pertanyaan Darren. Apa pria itu kekasih barunya?
Semakin lama diperhatikan, keduanya nampak begitu dekat dan tidak canggung untuk saling memeluk. Hingga membuat Darren membuang pandangannya ke arah lain, ia meneguk minumannya lalu meremass gelas yang di genggamnya. Menyalurkan kemarahan yang entah karena apa.
"Wow, kau mendapatkan mangsa baru lagi, Lim." Suara Elden yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi menyentakkan telinga Darren. Disusul lainnya yang juga sudah mendudukkan diri masing-masing di tempat semula.
"Dimana Kak Ar? Apa dia sudah pulang?" Austin bertanya pada Darren. Ia tidak melihat keberadaan kakaknya, dapat ia pastikan jika sang kakak sudah meninggalkan Club.
"Hm...." Darren berdehem sebagai jawabannya. Suasana hatinya memburuk setelah menyaksikan pemandangan yang tidak mengenakan itu.
Austin memilih mengabaikan Darren. Kali ini ia tidak bisa menebak isi hati Darren, karena baginya minuman alkohol dihadapannya lebih menggiurkan ketimbang menatap wajah Darren.
Darren semakin tenggelam dalam pikirannya. Objek yang tidak lepas dari perhatiannya kini sudah menghilang entah kemana. Lama berpikir, ia kemudian beranjak berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Devano yang duduk tepat di sisinya.
"Aku ada pekerjaan yang belum kuselesaikan," sahut Darren asal. Padahal ia hanya ingin keluar sebentar. Setidaknya menjernihkan pikiran.
"Tapi Der-"
Belum sempat Devano menyelesaikan kalimatnya, Darren sudah lebih dulu berlalu. Devano mengangkat keduanya bahunya acuh. Seperti itulah Darren, jika dalam mood yang serius tidak ingin di ganggu.
Dragon boys baru kembali ke tempat duduk. Mereka terheran dengan Darren yang hanya melintasi mereka begitu saja. Sehingga membuat Jacob bertanya kepada Devano maupun Austin, tetapi keduanya kompak menggeleng tidak tahu.
***
Gelak tawa menggelegar bersahutan dengan dentuman musik yang begitu keras. Veronica tidak berhenti mentertawakan Larry karena mendapatkan hadiah tamparan dari seorang wanita yang merasa dilecehkan.
"Sial! Apa wajahku seperti pria mesum yang suka meraba-raba bokong wanita?" Kembali Larry menggerutu kesal, ia tidak terima karena wanita itu menamparnya atas kesalahan yang tidak ia lakukan. "Jelas-jelas pria berengsek itu yang merabanya." Semakin bertambah kesal wajah Larry, semakin kencang tawa Veronica dan Joana.
"Sudahlah Larry, lupakan saja. Lagi pula wanita itu sudah meminta maaf padamu," ujar Veronica saat tawanya sudah mereda.
"Ck, minta maaf saja tidak cukup. Dia sudah mempermalukanku." Benar, ia dipermalukan oleh wanita itu hanya karena salah sasaran.
"Lalu kau ingin bagaimana? Apa kau ingin balas menamparnya?" Veronica memastikan. Ia juga tidak tahu bagaimana caranya untuk mengeram kekesalan Larry.
"Karena itu lupakan saja. Dia juga tidak sengaja."
"Hm, aku akan melupakannya meskipun kesal." Mendengar jawaban Larry, Veronica kembali terkekeh kecil.
Joana yang berada di antara mereka hanya diam menyaksikan dan sesekali meneguk minuman. Ia nampak menerka-nerka akan hubungan Veronica dengan Larry, sehingga ia berkata, "Kalian berdua sangat cocok, tapi kenapa kalian tidak berpacaran saja?"
Hah? Larry dan Veronica serentak menoleh ke arah Joana. Itu adalah pertanyaan yang tidak mungkin, yang pernah mereka dengar.
"Kau gila, Joana!" pekik Veronica merasa tidak masuk akal dengan penuturan Joana.
"Aku dan Vero hanya cocok menjadi teman." Larry mengoreksi, mempertegas akan hubungannya dengan Veronica.
"Benar. Aku bukan tipenya dan dia juga bukan tipe pria idamanku," timpal Veronica setuju dengan ucapan Larry. Sejak dulu ia dan Larry hanya nyaman sebagai teman baik.
"Ck...." Joana berdecih. Keduanya kompak saling mengelak. "Lalu memangnya seperti apa tipe pria idamanmu, Vero?"
"Tentu saja yang tampan dan pekerja keras. Yang memiliki sikap lembut dan juga bisa bersikap dingin." Entah kenapa yang Veronica bayangkan adalah sosok Darren. "Kaya raya, memiliki uang yang banyak dan juga akan mengajakku berkeliling eropa."
"Wow, kau sangat materialistis," seru Joana tercengang.
"Ck, tidak ada salahnya jika aku bermimpi seperti itu. Jika memang ada pria yang seperti itu, aku tidak akan menolaknya." Senyum Veronica melebar. Ia merasa tidak ada yang salah dengan keinginannya itu. Jika memang ada ia akan terima dengan senang hati, tetapi ia pun tidak masalah jika mendapat pria yang dari kalangan biasa sepertinya.
"Kau dengar Larry, kau memang bukan tipenya. Vero hanya menginginkan pria yang kaya." Joana menyindir Larry secara terang-terangan. Dan di tanggapi kekehan oleh Larry.
"Aku sudah tau," sahutnya. Veronica memang selalu bercerita mengenai tipe pria idamannya dan menurutnya tidak salah jika menginginkan pria yang dapat menunjang kehidupan wanita itu, mengingat temannya itu mengandalkan dirinya sendiri untuk mencari uang.
Veronica tersenyum, ia memberikan kedipan mata kepada Larry, yang dibalas kedipan mata juga dari pria itu. Selama berteman dengan Larry, pria itu mampu mengerti dirinya. Dan Joana yang menyaksikan interaksi antar teman itu hanya menggelengkan kepala.
Mendengar ponselnya berdering, Veronica ingin segera menjawab panggilan tersebut. Nama Leyla sang manager sekaligus asistennya itu menghubungi dirinya.
"Di dalam sulit sinyal, aku akan keluar sebentar untuk menelepon Leyla." Veronica memberikan kode tangan ke arah pintu keluar kepada Larry dan Joana.
Keduanya mengangguk bersamaan, hingga Veronica berjalan menuju keluar Club, membelah kerumunan orang-orang yang menghalangi jalannya.
Begitu sudah berada diluar Club, wanita itu mencoba menghubungi Leyla. Tidak menunggu lama, Leyla menjawab panggilannya dan di seberang sana, sang asisten memberitahu jika besok pagi ada jadwal pemotretan dan ia tidak boleh minum berlebihan.
"Aku mengerti, Leyla. Lagi pula aku hanya baru minum beberapa gelas saja." Jika Leyla dalam mood cerewet, Veronica hanya bisa mengiyakan saja. "Hm yasudah, aku tutup dulu. Bye." Ia lantas memutuskan sambungan teleponnya begitu saja sebelum diceramahi oleh Leyla.
Veronica yang baru saja mengakhiri teleponnya, hendak berbalik badan. Namun ia dikejutkan dengan sosok pria yang entah sejak kapan berdiri disana dengan punggung yang disandarkan pada dinding. Sosok pria yang sejak tadi siang mengusik pikirannya.
"Kenapa dia berada disini?" gumamnya. Veronica dan tatapan pria itu saling bertemu, karena itu tidak mungkin ia berpura-pura tidak melihat pria itu dan pergi begitu saja. "Oh astaga, aku tidak tau kau juga berada disini," sapanya memasang wajah terkejut yang dibuat-buat.
Pria yang tidak lain ialah Darren tidak menjawab, pria itu hanya diam dengan mata tajamnya dan sukses membuat Veronica menelan saliva dengan berat.
"Ada apa dengannya? Sudah wajahnya dingin, tidak tersenyum, sekarang mendadak tidak bisa bicara. Bukankah terlihat lebih menyeramkan? Astaga Vero, kenapa kau bisa memiliki perasaan kepada pria lemari es sepertinya? "
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...