
Helena melangkah kecil menuruni tangga. Dengan lampu temaram wanita itu berjalan membelah kegelapan menuju dapur. Begitu sudah berada di dapur, Helena mengambil pitcher yang berisi air putih, lalu menuangkan ke dalam botol miliknya. Helena melupakan mengisi botol minum yang diletakkan di atas nakas di sisi ranjang. Dan ia kembali melanjutkan langkah menuju kamar. Namun matanya teralihkan kepada pintu ruangan yang sedikit memberikan celah, cahaya di dalam ruangan tersebut tentu saja lebih dominan dari sekitarnya yang gelap.
Helena berjalan mengendap-endap. Ia ingin tahu apa yang dilakukan Mommy-nya di dalam sana di waktu tengah malam seperti ini. Setahu dirinya Mommy Anna sudah tertidur, tetapi melihat lampu masih menyala membuat langkah Helena kian pasti mendekati pintu. Hingga kemudian Helena sedikit mendorong pintu, mengintip dari celah pintu untuk memastikan apa yang Mommy Anna lakukan. Namun matanya membeliak ketika mendapati pemandangan yang mengejutkan.
"Jangan! Kumohon...."
Suara rintihan itu terdengar mengiris hati Helena. Salah satu telapak tangannya berusaha menutupi mulutnya agar tidak berteriak pada saat menyaksikan leher Mommy Anna yang dicengkeram kuat oleh sosok pria. Dengan dilanda ketakutan, Helena menyipitkan mata, berusaha melihat wajah pria yang hanya menampakkan punggungnya saja.
"Kau semakin lama sudah semakin gila. Bukankah sudah sebaiknya kau mati saja!"
Dan Helena terpekik, mendengar jelas suara seseorang wanita yang menyuruh Mommy-nya itu mati. Matanya mengedar untuk mencari sumber suara wanita tersebut. Dan begitu sorot matanya menangkap sosok seorang wanita cantik berdiri dan hanya memperhatikan Mommy Anna dicengkram begitu kuat lehernya tanpa berniat menolong.
"Lepaskan tanganmu dari Anna. Dia bisa mati!" Seorang pria lainnya yang duduk di atas sofa dengan menumpu satu kaki di atas paha berseru mengingatkan.
Keduanya sontak menoleh dan sang wanita menatap dengan mendengkus kesal. "Kau melindunginya?" serunya tidak terima sembari berkacak pinggang. Sakit hati dan cemburu, itu yang dirasakannya.
"Belum saatnya dia mati, biarkan Anna hidup sampai kita berhasil menguasai harta Jonathan," seru pria itu masih dalam posisi duduk.
Dengan ragu-ragu, pria yang mencengkram leher Mommy Anna mengendurkan cengkramannya hingga benar-benar terlepas. Lemas dan terkulai di lantai, ketiga orang itu membiarkan wanita yang membutuhkan pertolongan itu tidak sadarkan diri.
Brug
Suara benda terjatuh menyentakkan telinga mereka. Ketiganya serentak menoleh ke arah pintu yang ternyata sudah memiliki celah lebih lebar dari sebelumnya.
"Siapa disana?!" Wanita itu berteriak kepada seseorang yang entah mungkin berhasil menelinga pembicaraan mereka. "Biar aku yang melihatnya!" Melangkah menuju pintu dan melihat sekelebat siluet seseorang menaiki tangga.
"Helen?" Karena panik, wanita itu mengejar Helena yang berlari ketakutan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. "Sialan! Pasti Helen melihatnya!" dengkusnya, lalu berlari lebih cepat mengejar Helena.
Wanita itu berhasil menjangkau lengan Helena di tangga atas terakhir dan menariknya dengan kasar. Namun karena kehilangan keseimbangan pada saat tubuhnya ditarik kebelakang, Helena terjungkal dan terguling di tangga. Darah segar sudah berceceran di sebagian tangga hingga lantai.
"Tidak.... Arrghhhh! Kepalaku sakit sekali!!" Helena terbangun dari tidurnya, ia beranjak duduk dan meremmas rambutnya dengan begitu kuat.
"Helena, ada apa denganmu?" Seseorang yang sedari tadi berada di dalam ruangan, menunggu Helena bangun dari tidurnya segera menghampiri dan menangkap kedua bahu Helena. "Hei, ada apa?" Namun Helena tidak menyahut dan semakin meremmas rambutnya lebih kuat lagi disusul suara erangan dan isakan tangis.
"AARRGHH.... TIDAK! JANGAN LAKUKAN ITU! JANGAN MEMBUNUHNYA!"
Menyaksikan Helena yang semakin histeris, membuatnya segera memeluk wanita itu dan menyalurkan ketenangan melalui kehangatan dekapannya dengan posisinya yang masih berdiri.
"Shhtt, kau harus tenang. Aku ada disini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu." Telapak tangan kekar seseorang terulur membelai rambut Helena. Kehangatan telapak tangan itu benar-benar menyalurkan rasa nyaman, sehingga membuat Helena melingkarkan kedua tangannya di pinggang seorang pria yang mendekapnya dengan erat. Menenggelamkan wajahnya diperut pria itu, lalu menumpahkan tangisnya yang terdengar pilu. Entah kenapa ia selalu bermimpi buruk seperti itu, akan tetapi yang mimpi yang baru saja terjadi benar-benar terasa nyata, hingga rasa sakit di kepalanya menghujam hingga ke jantungnya.
Lama pria itu membiarkan Helena menangis dan sesekali meracau tidak jelas. Hanya satu kalimat yang bisa ia tangkap dari ucapan Helena yang sesegukan.
"Aku takut, aku melihat banyak darah yang keluar dari kepalaku," lirih Helena disela-sela isakan tangis.
"Hmm, tenanglah. Kau baik-baik saja." Masih memberikan usapan lembut di kepala Helena.
Helena mengangguk pelan, ia merasakan kenyamanan ketika di usap kepalanya. Hingga semakin menenggelamkan wajahnya di perut pria itu dan menghirup aroma maskulin yang menguar dari dalam tubuh pria yang tengah di peluknya itu. Aroma yang sangat ia kenal dan satu minggu ini ia rindukan.
"Ar...?" Helena sesaat membisu. Menatap lekat wajah Arthur dengan kepalanya yang mendongak ke atas, dan kedua tangannya masih melingkar di pinggang Arthur. Sejak kapan pria itu datang dan sudah berada di ruangan perawatannya? tanyanya membatin.
Arthur mengulas senyum setipis mungkin. Jika Helena tidak menatap lekat mungkin tidak akan menyadari senyum Arthur yang begitu mempesona.
"Ada apa?" Arthur bertanya lembut karena tiba-tiba saja Helena terdiam dengan lelehan air matanya yang masih menghiasi wajah cantik wanita itu. "Apa ada bagian tubuhmu yang sakit, hm?" Jemarinya kemudian mengusap sisa air mata yang meleleh di wajah Helena.
Seketika tubuh Helena merasakan sengatan listrik, saat jemari Arthur mengusap wajahnya dengan begitu lembut. Helena segera menggeleng pelan untuk mewakilkan jawaban jika dirinya baik-baik saja.
"Aku tidak tau kenapa selalu bermimpi buruk seperti itu. Mimpi itu benar-benar sangat nyata...." Pandangan Helena tertunduk. Itu adalah mimpi buruk, akan tetapi seolah itu adalah nyata karena rasa sakitnya benar-benar ia rasakan.
Arthur paham. Mungkin hal itu memang bukan sekedar mimpi buruk. Bisa saja mimpi itu adalah bagian masa lalu yang sempat dilupakan oleh Helena dan tentu Arthur harus menyelidikinya.
"Jangan dipikirkan. Pikirkan saja sesuatu yang membuatmu senang." Helena hanya mengangguki ucapan Arthur.
"Ehem?!" Deheman Steve yang baru saja datang ke dalam ruangan menyetak telinga Arthur serta Helena dan membuat keduanya menyadari posisi mereka saat ini. Helena masih lingkarkan kedua tangannya di pinggang Arthur, hingga wanita itu buru-buru menjauhkan tubuhnya karena merasa malu dengan kehadiran Steve.
"Sepertinya hubungan kalian sudah membaik." Entah sebuah sindiran atau pujian, Steve mengatakannya dengan begitu enggan dan terkesan salah paham. Bagaimana Steve tidak salah paham jika posisi mereka saling menempel seperti itu.
Helena mengusap tengkuk lehernya, tatapan Steve padanya seolah menyelidik. "Aku lagi-lagi bermimpi buruk dan Ar membantu menenangkanku." Berbeda dengan Helena yang menjadi canggung, Arthur justru bersikap acuh, seolah tidak ada yang terjadi. Faktanya memang tidak terjadi apapun, hanya memeluk Helena dana menenangkan wanita itu saja.
Pandangan Steve menemui Arthur. Keduanya sepakat jika mimpi itu bukanlah mimpi biasa. Namun Steve tidak akan mengorek apapun hingga keadaan Helena benar-benar pulih benar tanpa harus diawali dengan teriakan histeris.
"Baiklah, biar aku periksa terlebih dulu." Steve tidak ingin membahas hal itu. Ia mendekati ranjang untuk memeriksa tekanan darah Helena.
Tatapan Steve tidak berpindah dari wajah Helena saat memulai dan menyelesaikan pekerjaannya memeriksakan Helena. Dan tatapan Steve yang penuh mendamba itu membuat Arthur berdecih kesal di dalam hati.
Steve kemudian mendapati mata sembab Helena, menduga jika wanita itu baru saja habis menangis. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Helena, namun Arthur lebih dulu menahan tangan Steve sebelum berhasil menjangkau wajah calon istrinya.
"Jangan menyentuh calon istriku!!" sentak Arthur, lalu menghempaskan tangan Steve. Sudah cukup ia membiarkan Steve menyentuh tangan Helena ketika pria itu memeriksa tekanan darah.
Mata Steve dan Helena sontak melebar ketika mendengar penuturan Arthur. Terlebih Helena yang tidak tahu menahu mengenai pernikahan mereka yang sudah direncanakan oleh Arthur.
To be continue
Helena
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...