The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Terbawa Perasaan



Beberapa hari kemudian


Hubungan Austin dan Licia berjalan seperti sebelum-sebelumnya. Yang jelas terlihat berbeda, kini keduanya selalu nampak canggung ketika tidak sengaja saling bersitatap.


Seiring berjalannya waktu perasaan yang mereka rasakan kian tumbuh. Namun keduanya masih sulit mengartikan apa yang mereka rasakan. Yang dirasakan saat ini adalah rasa nyaman dan rasa ingin saling melindungi dan saling memiliki.


"As, terima kasih sudah mengantarku," ucap Licia saat mobil yang dikendarai Austin berhenti tepat di depan gedung Oxford University.


"Hm, belajarlah dengan benar agar cepat Lulus." Austin memberi semangat.


"Ck, aku sudah mengajukan proposal skripsi dan sebentar lagi akan lulus." Bibir Licia mencebik maju. Apa Austin lupa jika dirinya sedang menyusun skripsi dan bahkan sudah melakukan bimbingan sebanyak dua kali. Meskipun waktunya banyak terbuang lantaran harus mendapatkan perawatan dirumah sakit selama satu minggu penuh.


Austin terkekeh. Ia tidak lupa, hanya sedang menggoda saja. "Aku tau dan aku ingat apapun tentangmu."


Blush


Wajah Licia merona merah. Apa Austin sadar apa yang baru saja dikatakannya. Jelas perkataan tersebut benar-benar membuat dirinya terbawa perasaan.


"Ka-kalau begitu aku masuk dulu." Sungguh Licia menjadi salah tingkah, sehingga nada bicaranya mejadi gugup.


"Hm, jangan lupa mengabariku jika sudah selesai." Telapak tangan besar Austin memberikan sentuhan kecil pada puncak kepala Licia.


Meskipun merasa canggung, Licia tetap mengangguk. Lalu segera turun dari mobil dan berlari kecil menjauh dari mobil Austin. Namun beberapa detik kemudian, gadis itu kembali membalikkan badan. Ternyata Austin belum pergi dari sana, sehingga Licia melambaikan tangan.


Austin membalasnya dengan lambaian tangan singkat. Ia terkekeh kecil dan memastikan gadis itu benar-benar lenyap dari pandangannya. Barulah mobilnya melaju, meninggalkan gedung Oxford University.


Setibanya di perusahaan, Austin segera mengerjakan pekerjaannya. Bastian sudah memberikan setumpukan dokumen, alih-alih jengah, Austin justru menarik kedua sudut bibirnya. Sehingga membuat Bastian terheran-heran. Apa Tuan Mudanya itu baru saja kemasukan jin yang suka sekali tersenyum. Kenapa akhir-akhir ini ia melihat Tuan Mudanya itu selalu menebarkan senyuman? pikirnya.


Tak ingin banyak berspekulasi, Bastian segera pergi dari ruangan. Ia juga harus semangat mengerjakan pekerjaannya agar dapat beristirahat lebih awal.


Tepat pukul 3 sore, Austin sudah menyelesaikan beberapa dokumen. Kemudian ia memanggil Bastian melalui interkom. Tak berselang lama, terlihat Bastian memasuki ruangan.


"Bas, aku memiliki urusan dan tidak perlu menungguku karena aku tidak akan kembali ke perusahaan," ujar Austin saat Bastian sudah berdiri di hadapan meja kerjanya.


Bastian mengangguk mengerti. "Baik Tuan Muda."


Kemudian Austin beranjak dari tempat duduknya, mengambil jas yang dilampirkan pada sandaran kursi lalu segera mengenakannya kembali. "Jika ada yang mencariku suruh menemuiku besok saja."


Kepala Bastian kembali mengangguk tanda mengerti. Setelahnya Austin berlalu pergi meninggalkan perusahaan. Sore ini ia akan berkunjung ke perusahaan GL Corp. Perusahaan milik Paman Daniel, Paman Keil dan Paman Nico. Saat ini GL Corp sudah diwariskan kepada Liam, Gavin dan Elden. Ketiganya menjadi pimpinan di perusahaan ketiga Daddy mereka, meskipun mereka masih belum menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah.


Begitu tiba di perusahaan, beberapa karyawan yang berada di lobby menyapa Austin. Ketampanan yang dimiliki pria itu lagi-lagi menghipnotis para karyawan wanita. Tidak perlu mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada resepsionis, Austin segera melesat menuju lantai 10. Dan bahkan tidak perlu membuat janji jika ingin datang ke GL Corp, sebab Austin bisa datang kapan saja.


Langkah Austin tertahan di depan pintu ruangan Liam ketika samar-samar ia mendengar percakapan di dalam sana. Bukan bermaksud menguping, hanya saja ia mendengar namanya disebut berulang kali. Apa mereka memiliki masalah dengannya? Dan diam-diam membicarakan dirinya di belakangnya? Ia mencoba menerka. Tetapi segera menepis pikiran tersebut. Sejak dulu hingga saat ini Austin percaya dengan mereka, mengingat mereka bukanlah sosok yang seperti itu.


Tubuh Austin tiba-tiba saja menegang kala mendengar pengakuan salah satu teman baiknya yang sudah seperti saudara baginya. Apa ia salah mendengar? Rasanya tidak. Telinganya masih berfungsi dengan baik.


Namun pintu tiba-tiba saja terbuka dan orang itu mendapati Austin berdiri di depan pintu.


"As, kau disini? Kenapa tidak langsung masuk?" tanya Elden. Ia begitu heran saat Austin justru berdiam diri di depan pintu.


"Aku baru saja datang. Kupikir kalian sedang sibuk." Alasannya tidak sepenuhnya berdusta. Ia memang baru saja datang tetapi urung masuk lantaran terkejut dengan apa yang ia dengar. Segera Austin memasuki ruangan setelah Elden menyingkir dari ambang pintu dan kedatangannya itu membuat Liam serta Gavin terkesiap.


"Kau tidak menghubungi kami jika akan datang, As," kata Liam berbasa-basi.


"Memangnya sejak kapan aku harus menghubungi kalian sebelum datang kemari." Austin menyahut sembari membenamkan tubuhnya di sofa. Disandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Hari ini sungguh sangat melelahkan, karena ia harus menyelesaikan beberapa dokumen penting.


Liam mengusap pelipisnya. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Austin, memang temannya itu selalu datang tanpa pemberitahuan.


Gavin berjalan menuju lemari pendingin, ia mengambil dua minum kaleng coffee dan kaleng soda. Lalu meletakkannya di atas meja, lebih tepatnya menyodorkannya pada Austin.


"Apa kau kehausan, As?" ejek Elden yang sejak tadi tak luput memperhatikan Austin. Pria itu menduduki salah satu sofa single.


"Hm, diluar sangat panas." Lalu menyentakkan kaleng coffee yang telah kosong itu ke atas meja.


Elden, Gavin dan Liam saling melemparkan pandangannya. Panas? Yang benar saja, dua hari yang lalu Kota London sduah memasuki musim semi.


"Ah, bagaimana jika nanti malam kita ke Club?" ujar Elden memberi saran. Ia menyadari jika saat ini mood Austin begitu buruk. Memang diantara mereka Elden yang paling dekat dengan Austin. Mungkin karena mereka sepupu, yang berarti Mommy Elden adalah Bibi Jennifer yang merupakan adik dari Daddy Xavier.


"Ide yang sangat bagus, aku bisa mencari wanita disana." Seperti biasa, Liam akan bersemangat jika mereka datang ke Club. Teman mereka yang satu itu tidak akan puas bertualang dengan hanya satu wanita saja.


Elden menepuk kepala Liam. Posisi mereka memang tak berjarak. "Apa di otakmu hanya ada wanita saja, heh?" tegurnya heran.


Liam mengedikkan bahunya. "Saat muda Daddy-ku memiliki banyak wanita. Jadi aku tidak boleh kalah dengan masa mudanya." Ya, Daddy Daniel adalah petualang wanita. Alasan seperti itu selalu menjadi tameng Liam jika Daddy-nya mulai memprotes kebiasaannya mengencani banyak wanita. Hanya perlu mengatakan 'kita sama saja Dad'. Kalimat seperti itu sudah dapat membungkam Daddy Daniel.


Elden dan Gavin terkekeh. Padahal bukan Paman Daniel saja yang merupakan petualang wanita. Daddy Nico dan Daddy Keil juga petualang wanita. Hanya saja Elden dan Gavin tidak mengikuti jejak kedua Daddy mereka itu.


Meskipun sudah mengetahui kebiasaan Liam, mereka tidak pernah protes dan mendukung saja apa yang dilakukan pria itu.


Austin memperhatikan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku harus pergi." Ia segera bangkit dari tempat duduknya


"Kau belum lama berada disini, As," keluh Elden. Padahal belum ada satu jam Austin datang, tetapi sudah ingin pergi kembali.


"Aku akan menjemput Licia di kampusnya." Austin menjawab santai, seolah tidak ada yang terusik dengan perkataannya itu.


"Oh, baiklah." Elden tidak banyak bertanya. Tetapi ekor matanya melirik ke arah Gavin. Jika ia terlalu banyak bertanya, bisa dipastikan jika mood Gavin yang mendadak turun.


"Sampaikan salamku untuk Licia," timpal Liam tanpa maksud apapun. Sejak dulu ia pun dekat dengan Licia.


Austin berdehem tanda mengiyakan. "Dan kau Gav?" Yang ditanya lantas mendongak. "Apa kau juga tidak menitip salam untuk Licia?"


Gavin terhenyak. Apa maksudnya Austin bicara seperti itu padanya.


"Hahaha.... Benar, sampaikan juga salam untuk Licia dari Gav." Liam mencoba mencairkan suasana. Ia menepuk-nepuk bahu Gavin berulang kali.


Gavin mengerti sehingga ia mengangguk-anggukkan kepala dengan seulas senyum tipis.


"Baiklah aku pergi dulu." Austin berpamitan.


"Ya, sampai bertemu nanti." Mereka menyahut bersamaan.


"Ah, As. Aku akan menghubungimu nanti," ujar Elden berteriak.


Austin yang sudah mencapai pintu hanya mengangkat tangannya tanda mengiyakan, tanpa menoleh ia segera berlalu dari sana.


Ketiganya menghela napas panjang usai kepergian Austin. Melemparkan pandangan dengan pikiran yang entah. Hanya mereka yang tahu.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...