The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tidak Akan Membiarkan!



Setelah berhasil menyelamatkan Elie, Mike Jhonson membawa istrinya itu ke Mansion miliknya yang berada di North Yorkshire. Ia menunggu Nathan datang bersama dokter kandungan. Beberapa jam yang lalu, Nathan tiba di North Yorkshire dan menunggu di Mansion.


Begitu mobil Nathan terpakir sempurna, pria itu mempersilahkan seorang dokter pria untuk segera masuk ke dalam Mansion. Mike tidak mempermasalahkan dokter kandungan yang Nathan bawa adalah dokter pria, sebab keadaan Elie lebih penting dari egonya.


"Silahkan Dokter." Nathan mempersilakan untuk memeriksakan Nona Elie yang terbaring lemah di atas ranjang.


Dokter itu mengangguk. Ia menyapa Mike yang merupakan suami dari wanita yang akan ia periksa.


"Nyonya Elie dan kandungannya baik-baik saja. Luka lebam di sudut bibirnya tidak sampai membuatnya demam," papar dokter tersebut usai memeriksa kondisi Elie.


Ah, syukurlah. Mike menghembuskan napas lega. Sungguh hal sangat membahagiakan. Selain ia dapat bertemu dengan Elie kembali, Mike pun senang kedua bayinya baik-baik saja, meski sempat mengalami kejadian yang cukup mengguncang mereka.


"Terima kasih," kata Mike pada dokter itu.


Dokter itu mengangguk. "Berikan vitamin ini untuk Nyonya Elie dan pastikan istri Tuan tidak mengalami stress seperti hari ini." Kemudian dokter itu menjelaskan alasan kenapa Elie bisa tidak sadarkan diri, setelah beberapa menit yang lalu sempat tersadar.


Mike mengangguk mengerti. Guncangan yang diterima Elie memang diluar kendalinya. Ia tidak bisa melindungi Elie kemarin.


Usai menjelaskan, dokter itu pamit undur diri dan Nathan kembali mengantarkannya. Selepas kepergian Nathan dan dokter tersebut, Mike menggendong Elie untuk dibaringkan di dalam kamar mereka yang berada di lantai dua. Sebelumnya Elie sempat tersadar dan wanita itu justru ingin tertidur di kamar yang berada di lantai bawah. Begitu berada di dalam kamar, Mike kembali membaringkan Elie di atas ranjang. Dengan berhati-hati Mike menyelimuti istrinya agar tidak terbangun. Sebelum kemudian memberikan kecupan di kening Elie cukup lama dan dalam. Mike menyalurkan rasa cintanya melalui kecupan di kening sang istri.


"Terima kasih sudah menjaga mereka dengan baik." Diusapnya perut Elie dengan lembut. Sungguh, Mike sangat mencintai istrinya, ibu dari calon anak-anaknya.


***


Sedangkan ditempat lain, suasana tiba-tiba saja mencekam saat sosok pria yang baru saja tiba melayangkan tatapan tajam kepada dua pria paruh baya.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADANYA, HAH?!" Sebuah teriakan menggema di dalam ruangan, bertepatan dengan Helena yang kehilangan kesadaran. Dengan cepat, pria itu beralih ke arah Helena untuk menangkap wanita itu agar tidak terjerembab di lantai.


Ya, Vasco. Tatapan pria itu berkilat penuh amarah ketika mendapati Jorge dan Benjamin berada di ruangan Helena. Sebelum kemudian ia membaringkan wanita itu di atas ranjang.


Vasco kembali menatap keduanya dengan tajam. "Bukankah sudah kukatakan untuk tidak masuk ke dalam ruangan ini, hah?!"


Jorge dan Benjamin menelan saliva dengan berat. Seharusnya mereka segera keluar dari ruangan sebelum Vasco datang dan memergoki mereka. Saat ini entah alasan seperti apa yang harus mereka katakan agar Vasco percaya.


"Helen berteriak histeris. Jadi aku terpaksa ingin melihatnya dan mencoba untuk menenangkannya." Jorge berkilah. Berharap jika Vasco akan mempercayai perkataannya.


"Hm, Ya. Yang dikatakan Jorge benar." Benjamin mendukung perkataan Jorge. "Dan aku membantu Jorge saat dia kesulitan menenangkan Helena," sambungnya turut menambahi.


Vasco tersenyum sinis. "Kalian pikir, aku akan percaya, hah?! Aku lebih mempercayai rekaman CCTV di ruangan ini dari pada ucapan kalian!"


Bodoh! Baik Jorge dan Benjamin meringis karena tentunya mereka tidak bisa mengelak lagi jika Vasco sudah melihat rekaman CCTV di ruangan ini. Kenapa mereka bisa melupakan jika ada CCTV? runtuk mereka dalam hati.


"Pergi dari kamar ini, sebelum aku menghabisi kalian!" seru Vasco penuh perintah.


Sebelum Vasco membuktikan perkataannya, Jorge dan Benjamin buru-buru meninggalkan ruangan tersebut. Sepeninggalnya Jorge dan Benjamin, Vasco melabuhkan tubuhnya tepat disisi ranjang. Dipandanginya wajah cantik Helena yang bersinar meski tanpa make up.


"Seandainya aku yang bertemu denganmu lebih dulu, mungkin saat ini yang kau kandung adalah bayiku." Vasco berucap lirih. Ia seolah menyalahkan takdir yang terlambat mempertemukan mereka. Tangannya kemudian terulur untuk menyentuh wajah Helena, menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening wanita itu. "Jika kau ingin mempertahankan bayimu, aku akan membiarkannya. Kita akan membesarkannya bersama." Pria itu bertekad akan membiarkan wanita itu mempertahankan bayinya hingga melahirkan. Ia menginginkan ibunya, sudah pasti harus menerima bayi wanita itu juga.


Merasakan ada sentuhan di wajahnya, Helena berusaha menggerakkan mata. Perlahan membuka matanya dan merasakan jemari itu masih menyentuh wajahnya. Saat menoleh, betapa terkejutnya wanita itu saat mendapati pria asing di sisi ranjang.


"Kau sudah sadar, hm?" Vasco menyapa dengan seulas senyum.


Helena lantas beranjak duduk dan berangsur menjauhi pria asing itu. "Si-siapa kau?" tanyanya memastikan. Bukankah Jorge yang menculiknya? Lalu siapa pria di hadapannya ini?


"Vasco. Kau bisa memanggilku Vasco. Saat ini kau berada di tempatku. Jadi buatlah dirimu senyaman mungkin." Masih mempertahankan senyum tipisnya, Vasco menjawab pertanyaan Helena dengan lembut.


Tidak. Helena spontan menggelengkan kepala. Apa maksud perkataan pria?


"Tidak!" Rahang Vasco seketika mengeras. Ia tentu tidak senang mendengar perkataan Helena yang ingin dilepaskan. "Tempatmu saat ini adalah disini bersamaku!" Ia menekankan perkataannya agar wanita itu mengerti.


"Tidak! Aku ingin pulang, aku ingin suamiku!" Helena berteriak, sehingga membuat Vasco sontak berdiri.


"Diam! Jangan bicarakan pria itu lagi. Untuk saat ini dan kedepannya, kau dan bayimu adalah milikku!" Vasco balas berteriak. Jika berkata lembut tidak membuahkan hasil, tentu ia harus keras terhadap wanita itu.


Sungguh, Helena tidak mampu berkata. Dirinya dan bayi-bayinya adalah milik pria itu? Apa dia sudah gila mengakuiku dan kedua bayiku sebagai miliknya? batinnya.


"Aku dan kedua bayiku adalah milik suamiku. Atas dasar apa kau mengakuinya?!" Tidak. Helena tidak ingin lebih lama berada di sekitar pria itu. Jujur saja ia merasa takut saat ini, meski pria itu tidak melakukan hal yang buruk padanya, tetapi tatapan pria itu sangat menakutkan.


Vasco menarik napas guna menahan amarahnya. Ia tidak ingin lepas kendali meng.hadapi wanita di hadapannya itu. "Dengar baik-baik. Suamimu sudah tiada. Jadi akulah yang akan menggantikannya."


Sulit untuk mempercayainya. Mana mungkin suaminya meninggalkannya begitu saja. "Tidak!" Ya, Helena tidak percaya dengan omong kosong Vasco dan bahkan Jorge. Baginya ia hanya perlu mempercayai Arthur dan keluarga dari suaminya itu.


Melihat ada celah pintu yang terbuka, Helena melompat dari ranjang, ia lupa jika perutnya yang besar sangat sulit untuk bergerak cepat, sehingga saat ingin melangkah menuju pintu, Vasco lebih dulu menangkapnya.


"Jangan coba-coba melarikan diri dariku, Helena!" Vasco mendekap erat tubuh Helena yang berusaha memberontak.


"Tolong lepaskan aku! Aku ingin suamiku!" Helena meronta-ronta, meski sangat kesulitan.


"Jika kau masih membicarakannya, maka akan kubuat bayimu tidak bisa dilahirkan!" seru Vasco mengancam.


Dan ternyata ancaman pria itu berhasil, Helena tidak lagi memberontak. Baginya keselamatan kedua bayinya adalah yang terpenting. Keadaannya yang tidak memungkinkan, membuatnya tidak mungkin bisa melawan Vasco.


"Good." Vasco tersenyum puas sembari mengusap puncak kepala Helena. "Kembalilah ke ranjang, aku akan membantumu."


Pada akhirnya Helena hanya bisa menurut. Wanita itu membiarkan Vasco membantunya berbaring di atas ranjang, tetapi melindungi perut besarnya.


Vasco yang melihatnya menjadi tersenyum. "Kau tidak perlu takut aku akan menyingkirkan kedua bayimu. Jika kau menurut, aku akan membiarkan mereka tetap hidup."


Helena mengangguk pasrah. Ia menyembunyikan air matanya, sehingga hanya tertahan di sudut mata. Saat ini ia sangat membutuhkan pelukan Arthur dan mengharapkan suaminya itu akan datang menyelamatkannya.


"Honey, tolong aku...." lirihnya membatin saat Vasco sudah berlalu dari kamar.


Vasco menuruni tangga. Ia masih menyimpan amarah pada Jorge serta Benjamin.


"Jika sekali lagi kalian masuk ke dalam kamarnya, aku akan menendang kalian saat itu juga!" Peringatan Vasco memberikan efek mengerikan. Jorge, Benjamin dan bahkan Alan Born tentu tidak akan berani membantah. Sehingga mereka hanya mengangguk saja.


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara deru tembakan yang memekakan telinga. Vasco dan yang lainnya tersentak sejenak, lalu mulai saling menyadari apa yang terjadi.


"Sialan!!!" Vasco meninju udara. Baru saja ia merasa senang, tiba-tiba harus dihadapi situasi yang tidak ia prediksikan. Ia tidak menyangka jika mereka menemukan Markas Kartel Sinaloa sebelah ini. Padahal cukup jauh dari Desa Guiseley dan berada di berbatasan pegunungan.


"Kalian hadapi mereka bagaimanapun caranya!" Setelah mengatakan hal itu, Vasco segera berlalu. Ia mulai memerintahkan seluruh anak buah untuk melakukan serangan, tidak peduli jika sudah tengah malam dan saat ini telah pukul satu dini hari.


Siapapun tidak akan bisa merebut wanita yang ia inginkan. Baik Arthur maupun pria lain tidak akan ia biarkan membawa pergi wanita itu dari genggamannya.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...