
Beberapa hari terkurung di dalam Villa saja, Arthur memutuskan mengajak Helena untuk menikmati indahnya Kota Spanyol. Selain memberikan hiburan untuk wanita itu, dirinya juga perlu melepaskan penat selama beberapa hari ini mengerjakan pekerjaan yang menumpuk melalui email yang dikirimkan oleh Darren dari London.
Kini keduanya sudah berada di salah satu wisata yang berada di kawasan Kota Madrid. Senyum sumringah tiada henti tersemat di sudut bibir istrinya. Ternyata keputusannya tepat untuk membawa Helena menikmati indahnya Kota Madrid.
Arthur memeriksa ponsel miliknya yang mendapatkan sebuah pesan dari Mommy Elleana. Wanita pertama di hidupnya itu berulang kali mengirim pesan hanya untuk menyuruh dirinya memotret Helena dan mengirimkannya pada Mommy-nya itu.
Helaan napas berat dihembuskan oleh Arthur, merasa enggan menuruti permintaan Mommy-nya itu. Namun ia tetap melakukan apa yang diinginkan oleh Mommy Elleana. Sedari dulu tidak ada wanita yang ia abadikan di dalam kamera ponselnya, dan kini untuk pertama kali ponselnya menyimpan foto seorang wanita.
Senyum tipis terpatri di sudut bibir Arthur memandangi hasil fotonya lalu bergantian memandangi wanita yang masih berdiri di ujung sana dengan menikmati pemandangan. Satu kata yang patut disematkan untuk istrinya itu, cantik. Entah kenapa Arthur betah berlama-lama memandangi wajah wanita itu yang meneduhkan.
"Akkhh...." Suara lengkingan keras yang berasal dari bibir Helena menyita perhatian Arthur yang segera mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Arthur tergesa-gesa berlari menghampiri Helena yang terjatuh tersungkur akibat ulah seorang pria yang berjalan tidak berhati-hati, sehingga menabrak Helena. Ia membantu Helena untuk berdiri, sementara pria yang baru saja menabrak tidak dapat melarikan diri, sebab sudah lebih dulu diringkus oleh dua anak buah yang memang berada tidak jauh dari posisi mereka.
"Apa kau tidak bisa melihat, hah?!" seru Arthur mendesis penuh amarah.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak sengaja." Pria yang diseret paksa untuk menghadapi Arthur itu tiba-tiba merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaf-lah pada istriku! Kau sudah membuatnya terjatuh!"
Helena memegang lengan Arthur agar amarah suaminya itu berkurang. Lagi pula dirinya tidak apa-apa, tidak terdapat luka pada bagian tubuhnya.
"Ar, sudahlah. Aku baik-baik saja," ucap Helena menyela. Ia menatap kasihan kepada pria yang diringkus oleh kedua anak buah Arthur.
"Tidak. Dia harus diberikan pelajaran supaya kedepannya tau caranya meminta maaf setelah melakukan kesalahan!" katanya dengan sarkas dan penuh sindiran.
Pria itu menunduk dan ia benar-benar merasa bersalah karena berlari begitu saja usai menabrak seseorang, yang pada akhirnya justru menjerumus pada permasalahan panjang, sebab yang ditabrak olehnya adalah istri dari pria berkuasa.
"Nona, aku tidak sengaja. Aku benar-benar minta maaf, aku terburu-buru sehingga tidak melihat Nona ada di depanku. Maafkan aku," sahutnya lirih meminta maaf kepada wanita di hadapannya itu. Berharap wanita itu bisa memaafkan dirinya dan ia terbebas dari kemarahan dari suami wanita itu.
Helena meringis melihat bagaimana wajah pria itu penuh dengan keringat karena ketakutannya. Ia hanya mengangguk pelan dan berkata, "Aku sudah memaafkanmu. Lain kali berhati-hatilah saat berjalan."
"Iya Nona, terima kasih." Pria itu berucap tulus dan penuh rasa haru. Kemudian melirik ke arah pria yang berdiri di samping wanita itu dengan tatapan tajam yang tidak menyurut. "Tuan...."
"Pergilah! Jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku!"
Dan mendengar seruan Arthur untuk pria itu, dua anak buah segera melepaskan cekalan tangan mereka dan berangsur mundur menjauhi.
Seketika pria tersebut merasakan rongga dadanya kembali menghirup udara. "Terima kasih Tuan, sekali lagi aku minta maaf." Pria itu menunduk hormat, lalu berlari tunggang langgang menjauh dari pria yang menurutnya mengerikan.
Mata Arthur yang semula mengekori kepergian pria itu hingga benar-benar lenyap dari pandangannya, beralih kepada Helena.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arthur memastikan. Dan sorot matanya begitu cepat berubah menjadi lebih melunak dan... hangat.
Helena mengangguk mengiyakan, ia memang merasa baik-baik saja, meskipun bagian bokongnya sedikit meninggalkan rasa nyeri.
"Aku baik-baik saja," jawabnya disertai senyuman. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini, aku sudah bosan dan ingin mencari tempat yang indah lainnya." Helena mengalihkan pembicaraan. Sayang sekali jika hari ini di sia-siakan. Ia ingin menikmati waktu seperti ini bersama dengan pria dingin dan kaku, yang kini sudah menjadi suaminya. Helena kemudian mengaitkan tangannya di lengan Arthur, ia terkekeh kecil, sebab tidak menduga menjadi istri dari Arthur dengan segala sifat mendominasinya. Sedari dulu ia hanya membayangkan jika Mikel yang akan menjadi suaminya, tetapi semua sudah berlalu dan dirinya pun sudah tidak memiliki rasa terhadap Mikel.
Helena melepaskan kaitan tangannya dari lengan Arthur ketika melihat sebuah mutiara yang dipajang di toko tepi jalan. "Ar, lihatlah. Ini bagus, bukan?" Helena mengambil sebuah kalung mutiara imitasi tersebut lalu mengalungkan di lehernya.
Arthur memandangi Helena yang begitu senang hanya karena barang murahan seperti itu. "Jika kau menyukainya kau bisa memilikinya."
"Benarkah?" Senyum Helena kian mengembang. Ia tidak menyangka jika Arthur tidak keberatan dengan dirinya yang ingin memiliki barang murahan tersebut. "Kalau begitu aku ingin yang ini. Tolong di bungkus dan pilihkan beberapa yang seperti ini."
"Baik Nona." Pria berusia muda itu mengangguk, lalu mengambil beberapa kalung seperti yang diinginkan oleh Helena.
"Kau hanya memerlukan satu, untuk apa beli sebanyak itu?" Kening Arthur mengernyit heran. Bukan uang yang menjadi permasalahannya, akan tetapi untuk apa membeli banyak benda seperti itu jika tidak akan digunakan nantinya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membantu pemuda itu. Diusia muda sudah bekerja keras, pasti kedepannya akan menjadi pria yang sukses."
"Kalau begitu aku akan membeli semua yang ada di toko ini."
Heh? Tentu Helena terkejut, tetapi ia tidak bisa mencegah Arthur karena pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam toko kecil itu.
"Apa Tuan benar-benar ingin membeli semua yang ada disini?" Pemuda itu nyaris tidak percaya, sebab untuk pertama kalinya seluruh jualannya di beli habis oleh seseorang.
"Hem, kau bisa membagikan semua yang ada disini kepada orang-orang yang membutuhkan," ujar Arthur dengan wajah yang selalu datar dan serius.
Pemuda tersebut terharu, bahkan kedua matanya berkaca-kaca. "Terima kasih banyak Tuan. Terima kasih banyak Nona." Dan pemuda itu berulang kali menunduk hormat. Rasanya ungkapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan pasangan suami istri itu.
Helena tersenyum menyaksikan. Ternyata dirinya sangat beruntung dapat bersama dengan pria seperti Arthur.
"Semua sudah dibungkus. Jadi sebaiknya kita pergi dari sini." Helena sudah berdiri di sisi Arthur, wanita itu kembali melingkarkan tangannya di lengan Arthur.
Kini keduanya kembali berjalan mengitari beberapa bangunan tua yang menjadi pusat wisata di Kota Madrid. Keduanya memutuskan singgah di Taman Parque Del Buen Retiro, Helena memutuskan untuk duduk di kursi yang tersedia disana dengan meneguk minuman segar yang sudah dipesan sebelumnya. Sembari menunggu Arthur yang tengah menerima telepon, Helena menikmati udara sejuk dan danau hijau yang begitu tenang.
"Helen?" Lamunannya tersentak mendengar suara yang tentu tidak asing di pendengarannya. Helena menoleh dan mendongak untuk memastikan pria yang menegurnya itu.
"Mikel?" Sangking terkejut dengan sosok pria yang sudah lama tidak ia jumpai, Helena beranjak berdiri dan menjatuhkan minuman yang di pegangnya.
"Ternyata kau benar-benar berada di Madrid," katanya dengan datar. "Aku dengar keadaanmu tidak baik dan diharuskan di rawat di rumah sakit."
"Ya, benar. Tapi saat ini keadaanku sudah membaik." Awkward. Itulah yang dirasakan oleh Helena. Sejak dulu keduanya memang tidak pernah banyak bertukar suara, sebab Mikel selalu menghindari dirinya. "Dan... kau? Sedang apa kau disini?"
"Aku ada urusan di Madrid. Tidak kusangka aku mendapat informasi jika kau berada di kota yang sama." Mikel terdengar santai menyahuti pertanyaan Helena. Ia memasukkan kedua tangan di dalam saku celana. Memang benar, begitu mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya, ia bergegas menuju lokasi Helena berada dan ternyata benar wanita itu sudah dalam kondisi baik-baik saja. "Baguslah, saat ini sudah ada yang menjagamu."
"Maksudmu?" Kedua alis Helena bertaut dalam.
"Arthur. Kalian sudah menikah bukan? Dia adalah pria yang tepat untukmu. Dia bisa melindungimu dan-"
"Untuk apa kau berada di Madrid?!" Belum sempat Mikel menyelesaikan kalimatnya, suara bariton yang terdengar dingin, mengalihkan perhatian keduanya dan segera menoleh ke arah Arthur. "Apa kau sengaja ingin menemui Helena?!" serunya menggerakkan matanya menemui Mikel dengan tatapan menghakimi.
Mikel berdecak malas. Selalu saja pria itu berprasangka buruk terhadapnya. "Aku bisa kemana saja yang aku inginkan, termasuk Madrid. Kenapa kau mempersalahkannya?!" Sedikit tidak terima jika Arthur selalu mencari masalah dengannya.
"Dari beberapa negara yang luas ini, kenapa kau juga berada di kota yang sama denganku. Apa kau berusaha mencari tau sesuatu?" Mata Arthur mendelik curiga terhadap Mikel.
"Apa maksudmu?!" sahut Mikel gagal mencerna.
Arthur menyeringai, lalu melangkah mendekati Mikel dan berbisik, "Sudah kuperingati padamu, jauhi Elie jika kau tidak ingin melihatnya terluka! Jangan libatkan dia dengan rencanamu!"
Deg
Tubuh Mikel mematung seketika. Ia mencoba meraba perkataan Arthur yang sangat sulit untuk dicerna. Ia memutar tubuhnya hendak menanyakan kembali, namun Arthur sudah lebih dulu berlalu dengan merengkuh pinggang Helena menjauhi dirinya.
To be continue
Helena
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...