
Seorang gadis menggeliatkan tubuhnya di tengah kesadarannya. Perlahan kelopak matanya terbuka dan iris cokelat terang itu mulai menjamah penerangan lampu di dalam ruangan yang asing.
"Eugh, aku ada dimana?" Ia meraba tempat pembaringannya. Ternyata ia berada di atas ranjang yang asing. Detik kemudian berusaha untuk beranjak duduk, masih sulit menerka dimana dirinya berada.
Ruangan itu cukup luas, meski hanya sedikit furniture di dalamnya. Gadis itu mulai meraba ingatannya, tetapi hanya sekelebat ingatan yang mampu dijangkau. Ia teringat jika sedang berada di dalam mobil menuju rumah sakit. Tetapi kenapa saat ini ia berada di ruangan asing? Apa dirinya sudah berada di rumah sakit? pikirnya.
Licia. Ya, ia berada di ruangan asing setelah ia terlibat kecelakaan. Bukan di rumah sakit seperti dugaannya, melainkan seseorang membawanya ke bangunan pribadinya yang biasa disebut Paviliun Babilone.
Gadis itu mendelik tajam ketika samar-samar mendengar suara langkah kaki seseorang. Ia memutuskan untuk kembali berbaring dan berpura-pura jika dirinya masih belum sadar.
Langkah seseorang itu semakin mendekat, bahkan ia merasakan pergerakan di atas ranjang karena seseorang itu duduk di tepi ranjang. Lalu membelai wajah Licia yang seputih susu itu.
"Akhirnya kita bisa bersama, Licia sayang. Aku berhasil membawamu pergi dari mereka." Jemarinya menyusuri wajah Licia. Tidak pernah bosan ia menikmati kecantikan gadis yang tengah terpejam itu.
Sentuhan itu sungguh sangat mengganggu, sehingga tanpa sadar membuat Licia menggeliat dan membuka mata. Pada akhirnya ia melihat wajah pria itu, yang tidak lain adalah Maxime.
Maxime mengulas senyum. Ia bernapas lega karena gadisnya sudah sadar. "Kau sudah sadar, hm?" Lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Licia. Tentu saja membuat Licia terkejut. Gadis itu menjauhkan dirinya dari Maxime.
Mendapati renspon Licia yang melesat dari bayangannya, membuat Maxime mengernyit bingung. Sebab Licia terlihat seperti ketakutan saat melihatnya.
"Ada apa, hm?" Dan ia berusaha mencari tahu. Ia berpikir jika Licia hanya terlalu terkejut saja.
"Maxi, ke-kenapa kau bisa berada disini?" Alih-alih menjawab, Licia justru menanyakan keberadaan pria itu.
Maxime terkekeh gemas. "Tentu saja karena ini adalah tempat tinggalku. Itu artinya kau berada denganku disini. Kau senang, hm?" Tangan Maxime menjulur untuk menyentuh wajah Licia, namun lagi-lagi Licia menjauhkan diri.
"A-aku sama sekali tidak mengerti kenapa aku bisa berada di tempat tinggalmu." Ya, bagaimana ia bisa senang, sedangkan ia sama sekali tidak mengerti. Kebingungan nampak jelas tergambar di wajah cantiknya. "Dimana Mommy? Dimana Kak Jac dan As?" Dan ia mulai sadar akan keberadaan Mommy-nya, Jacob serta Austin. Ia ingat jika sebelumnya mereka berada dalam satu atap mobil.
Maxime mengeram tertahan ketika mendengar gadisnya menyebut nama-nama yang seharusnya dilupakan.
"Licia, lupakan." Namun Maxime masih berusaha untuk bersikap lembut. "Tidak ada mereka, hanya ada aku yang menemanimu." Dan ia menekankan perkataannya dengan suara yang begitu rendah, sebab tidak ingin membuat Licia semakin ketakutan.
"Ta-tapi Max, aku-" Tidak membiarkan Licia untuk kembali bersuara, Maxime merengkuh Licia dan menangkup wajah gadisnya itu. Terselip amarah pada bola matanya yang berubah menajam.
Namun detik selanjutnya ia kembali tersenyum, wajahnya pun kembali melunak. "Percaya padaku, Licia. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Mulai saat ini aku yang akan selalu melindungimu."
Telapak tangannya kembali memberikan usapan di wajah Licia. Tidak lupa dengan lirikan kecil yang mengarah pada telinga Licia secara bergantian. Tidak ada? Tetapi tidak masalah, saat ini Licia sudah bersamanya.
Licia berusaha menghindari tatapan Maxime, meskipun begitu Maxime tidak tinggal diam. Ia mengapit dagu Licia, agar gadis itu menatapnya. "Dengar, kau hanya perlu menurutiku. Jangan membuatku marah. Mengerti?!"
Namun Licia tetap diam. Membuat Maxime menghela napas kasar. "Licia, lihat mataku dan dengar suaraku. Selama ini kau selalu mendengar suaraku, bukan?"
Ingatan Licia mulai menggali bahkan telinganya berdengung hebat, membuat gadis itu menutup kedua telinganya. Sungguh, kepala serta telinganya mendadak terasa sangat sakit.
"Akkhh.... sakit sekali," rintihnya memekik.
Maxime menjadi cemas, ia segera membawa Licia ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa. Obat itu hanya bereaksi sebentar karena kau melupakan suaraku." Diusapnya punggung Licia dengan lembut.
Benar. Perlahan rasa sakit yang Licia rasakan mereda. Gadis itu tidak lagi merintih kesakitan.
"Aku ada bersamamu, jadi kau tidak akan merasa kesakitan lagi." Diusapnya puncak kepala Licia.
Sinyal kalimat mulai merasuk ke dalam tubuh Licia dan dicerna dengan baik. Sehingga Licia mengangguk di dalam dekapan Maxime.
Pria itu tersenyum. Licia-nya sudah kembali mematuhi perkataannya. Sebelumnya ia sempat khawatir melihat gadisnya ketakutan. Tetapi ia berhasil menghipnotis Licia seperti biasa yang ia lakukan. Tidak ada giwang di cuping gadisnya itu bukan masalah besar baginya. Sebab ia bisa mendoktrin Licia secara langsung.
***
Demon berjalan tergesa-gesa memasuki bangunan tua yang selama ini menjadi Markasnya. Bloods Dead, sesuai namanya yang selalu memakan korban. Operasi ilegal untuk mengambil organ tubuh korbannya selalu merenggut paksa nyawa-nyawa yang tidak bersalah. Namun mau bagaimana lagi, pekerjaan mereka adalah menjual organ tubuh dengan nominal fantastis. Selain itu, mereka bergerak dalam menjual anak-anak untuk dijadikan budak.
"Dimana Max?" tanyanya begitu duduk di singgasana yang biasa ia tempati.
"Di Paviliun Babilone, Bos." Salah satu anak buah menjawab.
Demon menampakkan senyum smirk. "Dia berhasil membawa gadis itu. Kuakui dia cukup hebat dan licik."
Laporan yang sangat memuaskan, sehingga membuat Demon tergelak penuh kebanggaan. "Ternyata ilmu yang kuajarkan benar-benar berguna untuknya. Memang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tidak perlu berbelas kasih." Masih dengan tawanya yang menggelegar. Selama dua tahun lebih ia mengajarkan strategi dan taktik untuk melumpuhkan lawan yang sulit. Terbukti Maxime membuktikan jika tanpa bantuannya, ia berhasil membawa gadis yang digilainya itu.
Tawanya menyurut seketika, wajahnya kembali datar. "Panggilkan Max sekarang juga. Aku ingin bicara padanya."
"Baik Bos." Anak buah tersebut segera melakukan tugasnya. Ia menyusuri lorong untuk mencapai Paviliun Babilone. Terdapat dua Paviliun di sekitar Markas, Paviliun Dongdae dihuni oleh bos mereka. Sementara Paviliun Babilone dihuni oleh Maxime. Karena Maxime adalah anak buah kesayangan, sehingga mendapatkan fasilitas yang lebih. Selain anak buah, Maxime juga merupakan keponakan dari bos, sehingga mereka tidak bisa protes apapun.
Selang beberapa saat, Maxime datang dengan anak buah yang memanggilnya itu.
"Apa aku mengganggu kesenanganmu, heh?!" Dengan sengaja Demon menyindir Maxime yang nampak kesal itu.
"Aku hanya sedang menenangkannya. Dia sempat takut padaku." Maxime menjelaskan. Selama ini ia tidak pernah mencuri kesempatan disaat Licia tidak berdaya. Hanya pernah mengecup puncak kepala dan kening gadisnya itu.
Demon tertawa mendengarnya. "Jika aku jadi kau, aku sudah menidurinya," ejeknya menyindir telak. Menurutnya selama ini Maxime terlalu membuang waktu. Jika dirinya yang menjadi Maxime sudah pasti akan menikmati tubuh gadis itu.
"Sayangnya, aku bukan kau, Paman." Maxime membalas cibiran Demon. Tidak ada rasa takut dalam dirinya, meski sering kali menerima kemarahan bos sekaligus Pamannya itu.
"Kau...." Demon kesal karena Maxime selalu berani membalasnya. Namun ia masih bisa menahan, sebab pekerjaan Maxime selama ini sangat memuaskan dan menguntungkan untuk Bloods Dead. "Lupakan. Ada hal yang lebih penting lagi yang ingin aku tanyakan padamu."
Maxime mengangguk. Ia sudah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Pamannya itu.
"Apa kau sudah membereskan mereka?" Benar, pertanyaan Demon sudah diperkirakan oleh Maxime.
"Sudah, aku membawa mereka ke gudang besar."
"Mereka tidak tewas di tempat?" tanya Demon kembali.
"Sayangnya tidak. Mereka masih bernyawa dan terluka cukup parah."
"Bagus... bagus." Demon manggut-manggut penuh kepuasan "Lalu bagaimana dengan istri Jasper?" tanyanya kemudian.
"Dia baik-baik saja, Paman."
Mendengar jawabannya, membuat Demon tersenyum penuh arti dan hal itu disadari oleh Maxime.
"Jangan katakan kau menginginkan ibu dari gadisku?" Maxime memicing curiga.
"Hahahaha...." Demon tertawa. Pertanyaan Maxime sungguh menggelitiknya. "Memangnya kenapa? Kau mendapatkan gadismu dan aku bisa mendapatkan ibunya. Cukup adil bukan?"
"Ya, terserah kau saja." Bagi Maxime yang terpenting adalah Licia berada di sisinya. Terserah jika Pamannya itu menginginkan ibu dari gadisnya.
Demon menghentikan tawa. Ia mengayunkan tangan memanggil anak buah yang berdiri di sudut ruangan. Anak buahnya itu segera mendekat, siap untuk menerima perintah.
"Obati wanita itu jika terluka. Berikan makan dan minum. Jangan biarkan dia sakit."
"Baik Bos."
"Dan bunuh dua pria itu. Mereka adalah ancamanku," katanya kemudian memberikan perintah untuk melenyapkan Austin dan Jacob, akan tetapi menyisakan Mommy Angela.
Anak buah itu mengangguk dan segera berlalu dari sana. Membentuk anggota yang akan ia libatkan dalam melenyapkan dua pria di gudang besar.
Sementara Maxime hanya bergeming, tetapi ia merasa puas. Setidaknya ia tidak perlu bersusah payah untuk menyingkirkan Jacob serta Austin. Dua hama yang selalu menggagalkan rencananya itu.
To be continue
Penasaran ya sama nasib Austin dan Jacob gimana. Tunggu tanggal mainnya ya 😆😄
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...