
Sementara di Perusahaan MJ Corp, Mikel baru saja mengusap hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal. Lalu tidak lama kemudian mengeluarkan udara dari hidung dan mulut secara bersamaan. Hingga membuat Nathan yang sedang duduk memeriksa beberapa dokumen di ruangan yang sama, fokusnya terpecah dan tersita perhatiannya ke arah sang tuan yang tiba-tiba saja mengalami gejala flu.
"Tuan baik-baik saja?" tanyanya cemas. Jika tuannya benar-benar tidak sehat, tentu ia harus mengingatkan Tuah Mikel agar berisitirahat saja di ruangan pribadi. "Sebaiknya tuan beristirahat saja di dalam ruangan pribadi tuan. Biar saya yang menyelesaikan pekerjaan ini."
Mikel diam sesaat, ia kembali mengusap hidungnya yang terasa tidak nyaman. "Entahlah Nath, sebelumnya aku baik-baik saja."
"Kalau begitu saya akan meminta Laura untuk membuatkan minuman hangat untuk tuan." Tanpa menunggu jawaban dari Mikel, lantas Nathan bangkit bangkit berdiri menuju pintu, tangannya menarik handle pintu, lalu menyembulkan kepalanya.
Meja Laura berada di dekat pintu ruangan sehingga bisa dengan mudah berbicara dengan sekretaris wanita itu dengan posisinya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Laura," panggilnya kemudian hingga membuat wanita cantik dengan rambut menjuntai di pundak itu menoleh ke arah asal suara.
"Apa ada yang anda inginkan, Tuan Nath?" tanyanya bersiap diri. Ia sudah paham jika ada tugas yang harus segera dilakukan.
"Buatkan minuman hangat seperti biasanya," ujar Nathan. Tanpa diberitahu, Laura juga sudah paham dengan minuman yang selalu dikonsumsi oleh Presdir mereka.
"Baiklah." Lantas Laura segera beranjak dari tempat duduknya bersamaan dengan Nathan yang kembali menutup pintu, lalu membenamkan tubuhnya ke tempat semula.
Tidak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu yang Nathan yakini adalah Laura, lantas ia membiarkan Laura untuk masuk. Dan benar saja, Laura datang dengan membawa dua gelas minuman.
"Terima kasih Laura. Kau boleh kembali," kata Nathan begitu Laura sudah selesai menata dua gelas minuman di atas meja.
"Baik." Laura tersenyum lembut, ia segera keluar dari ruangan. Selama satu tahun bekerja menjadi sekretaris, pekerjaan Laura sangat cekatan, bahkan wanita itu tidak pernah memiliki niat terselubung untuk menggoda Tuan Mikel maupun Nathan. Karena itu Laura dipertahankan disana, karena bisa menempatkan diri. Tidak seperti sekretaris sebelumnya yang nyaris menggoda Tuan Mikel dengan tubuhnya.
Nathan meletakkan gelas milik Tuan Mikel di meja kebesaran tuannya itu. Karena kebiasaan tuannya hanya ingin dilayani oleh Nathan. Sehingga apapun yang bersangkutan dengan Tuan Mikel, Laura atau siapapun akan menanyakannya melalui Nathan.
Setelah Nathan kembali ke tempat duduknya, Mikel segera menyeruput teh hangat yang dipadukan dengan perasan jahe. Hingga kemudian samar-samar keduanya mendengar suara keributan di luar ruangan. Kening Mikel nampak berkerut sembari meletakkan kembali secangkir teh tersebut di atas meja, ia sangat tidak asing dengan suara diluar sana. Detik itu juga, Mikel melihat ke arah asistennya dan Nathan yang paham hanya mengangguk lalu beranjak berdiri.
"Aku hanya ingin menemui Mikel. Kenapa kau tidak membiarkanku masuk?!" Seorang wanita nampak mendengkus kesal karena dirinya tidak diizinkan masuk oleh sekretaris Mikel.
"Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas. Tuan Mikel dan Tuan Nathan sedang sibuk di dalam dan tidak memperbolehkan siapapun untuk menggangu," sahut Laura dengan ramah, meskipun lawan bicaranya terlihat semena-mena.
Wanita itu berdecih, melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang remeh Laura. "Kau tidak berhak mengaturku. Kau hanya sekertaris disini, sedangkan aku kekasih dari atasanmu!" ujarnya sinis.
"Ck, kau hanya mengaku-ngaku saja Nona. Selama ini Tuan Mikel selalu menolakmu" Dan tentu saja Laura hanya mampu bersuara di dalam hati. "Tapi Nona, saya hanya tidak ingin-" Percuma saja Laura menahan wanita itu, karena faktanya wanita di hadapannya ini mampu mendorong tubuhnya dalam sekali dorong saja. Laura akui jika wanita itu bukan wanita sembarangan, nampak jelas jika pandai ilmu bela diri. Tapi sayang sikap angkuhnya itu melunturkan karisma wanita itu.
Laura yang kewalahan akhirnya hanya bisa pasrah ketika wanita itu sudah membuka pintu ruangan atasannya. "Tuan Maafkan saya...."
Suara Laura tertahan karena bertepatan dengan Nathan yang ternyata sudah berdiri dengan tatapan tajam. "Keluarlah, biarkan Nona Helena disini." Dan Laura mengangguk, sekretaris itu segera melesat keluar dari sana.
Helena tidak pedulikan tatapan Nathan yang menajam. Sorot matanya hanya tertuju pada pria yang tidak bergeming akan kedatangannya.
"Mikel, kenapa kau mengabaikan teleponku? Kau juga tidak membalas pesanku!" Wajah Helena berubah menjadi lebih lembut dari sebelumnya.
Mikel melirik singkat tanpa ingin menjawab pertanyaan tidak penting wanita yang berdiri di hadapannya.
"Mikel, aku sedang bicara denganmu!" teriak Helena kesal karena merasa diabaikan.
Hembusan napas kasar yang menjadi reaksi Mikel ketika wanita itu justru berteriak. Lantas Mikel mengalihkan pandangannya dari beberapa dokumen, lalu menatap datar kepada sosok wanita cantik dan seksi itu. "Ada apa Helena? Jika ada kepentingan, kau bisa berbicara dengan Nathan. Dia akan mewakiliku."
"Sudah hampir satu bulan kau mengabaikan teleponku. Karena itu aku datang jauh-jauh dari Paris untuk menemuimu," keluhnya berharap Mikel sedikit saja tersentuh dengannya.
"Tapi aku tidak memintamu untuk datang. Apa kau lupa, hm?" Mikel menyahut dengan tenang.
Tanpa sepengetahuan kedua pria tampan itu, Helena mengepalkan kedua tangannya di sisi pahanya. "Apa kau lupa janjimu dengan Daddy-ku? Ingat Mikel, aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku. Jika bukan karena Daddy, kau tidak akan bisa mengembangkan perusahaan seperti saat ini," serunya menahan rasa geram yang bergemuruh.
Hilang sudah kesabaran Helena yang selama ini ditahan olehnya. Ia yang selalu memuja Mikel, merendahkan diri, bahkan menerima perlakuan pria itu padanya nampak kilatan kekesalan dan kekecewaan.
Mikel tersenyum masam, ia tau jika Helena akan mengungkit hal itu. "Aku tau dan aku tidak lupa, karena itu aku membiarkanmu berkeliaran di sekitarku. Jika kau wanita lain, mungkin aku sudah mengusirmu dengan cara kasar!"
Helena terkekeh getir, ucapan Mikel cukup menyentil dirinya. Ternyata perlakuan Mikel tetap sama seperti dua tahun yang lalu. Dan itu semakin membuat Helena tidak ingin melepaskan Mikel. Karena selama ini tidak ada pria yang bisa menolak pesona seorang Helena Bonham, putri satu-satunya dari keluarga kaya raya setelah keluarga Romanov tentunya.
Untuk meredam amarahnya, Helena memejamkan singkat matanya, lalu menatap kembali pria yang sangat ia puja itu dengan tatapan berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya Helena memancarkan kekecewaan, kini wanita itu menatap penuh cinta.
"Baiklah, aku mengerti. Saat ini kau pasti sangat sibuk, karena itu aku akan menemuimu lagi nanti." Detik itu juga Helena tersenyum lembut, memang untuk menghadapi Mikel tidak harus menggunakan emosi. Sebab itu, Helena perlahan meredam emosi yang sudah nyaris puncak itu. Dan tanpa menunggu jawaban dari Mikel, Helena berlalu dari ruangan setelah berpamitan kepada Mikel serta Nathan, sontak saja kedua pria tercengang selama beberapa saat.
"Kau lihat Nath, dia bisa berubah secepat itu," ujar Mikel heran dengan sikap wanita yang sudah dua tahun ini mengejar dirinya.
"Saya benar-benar tidak habis pikir dengan Nona Helena. Kenapa tidak ingin menyerah setelah dua tahun mengejar cinta tuan?" Nathan masih memandangi ke arah pintu, padahal sosok wanita yang mereka bicarakan sudah berlalu sedari tadi.
Mikel mengedikkan bahu. Ia tidak peduli jika Helena bersikeras mengejarnya. Karena hingga kapanpun ia tidak akan membagi cintanya untuk wanita lain. Cintanya tetap utuh hanya untuk satu wanita saja, yaitu Aurelie.
"Nath, untuk saat ini biarkan Helena melakukan apapun selama berada di London," ujar Mikel kemudian.
"Tapi tuan, apa tidak masalah jika Nona Helena kembali menggembar-gemborkan hubungannya dengan anda?" Nathan sedikit meragukan, mengingat wanita itu selalu membawa nama Tuan Mikel sebagai kekasihnya.
"Tidak masalah. Karena selama itu, Elie akan tetap aman. Orang itu tidak akan tau siapa wanita yang sampai saat ini aku lindungi."
Nathan mengangguk mengerti. Ia sudah paham dengan segala resiko yang terjadi jika berada di sisi tuannya. Selain masa lalunya masih mengincar, tuannya juga harus melindungi orang-orang di sekitarnya.
Mikel tercenung sesaat, ingin rasanya ia menampakkan diri sebagai dirinya yang dahulu. Akan tetapi sangat mustahil, karena ia tidak ingin membahayakan siapapun, termasuk Nathan sendiri. Karena itu Mikel menutupi identitasnya, baik di masa lalu maupun saat ini dan hanya memberitahukan sedikit tentang kisah masa lalunya kepada Nathan.
To be continue
Babang Mikel
Helena Bonham
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...