The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Ada Rasa Yang Berbeda



Setelah menyelesaikan pekerjaan yang tertunda selama beberapa hari, kini Austin tergesa-gesa mengendari mobilnya menuju rumah sakit. Luka tembak sudah mengering dan beberapa hari ini ia masih nampak bugar. Hanya saja ia harus menenangkan Mommy Elleana kala dirinya terluka dua hari yang lalu. Kegiatannya dibatasi oleh sang Mommy tercinta, sehingga sampai saat ini Austin belum mengunjungi Licia di rumah sakit.


Begitu tiba di rumah sakit, Austin mengayunkan langkah menuju VVIP room yang berada di lantai 11. Selama berpapasan dengan para perawat, tak jarang yang terpesona dengan pria itu. Perawakan tampan dengan postur tubuh yang menjulang tinggi memang akan membuat setiap wanita nyaris terkejang-kejang. Bahkan saat ini Austin melintasi salah satu perawat yang gagal fokus padanya sehingga perawat wanita tersebut menabrak dinding. Seharusnya perawat itu berbelok, akan tetapi pandangannya yang tertuju pada Austin membuatnya berjalan lurus ke depan dan akhirnya membentur dinding. Karena kepalang malu, buru-buru perawat itu berlari kecil. Austin yang melihatnya dibuat terkekeh, ia selalu saja menemukan wanita dengan sikap yang random.


Begitu tiba di depan ruang perawatan, Austin membuka pintu begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Alhasil pria itu menyaksikan sesuatu yang langka. Gavin tengah membantu Licia makan, lebih tepatnya temannya itu tengah menyuapi Licia.


Terkejut sudah pasti, akan tetapi Austin tetap memasang wajah datar. Ia melangkah mendekati keduanya seolah apa yang baru saja ia lihat tidak mengganggunya.


"Sejak kapan kau disini, Gav?" tanya Austin memecah kecanggungan setelah kedatangannya yang tiba-tiba itu. Memang ia tidak memberi kabar pada siapapun jika dirinya akan berkunjung ke rumah sakit.


Gavin meletakkan mangkuk bubur di atas nakas, lalu bangkit berdiri dari kursi. Tiba-tiba saja ia merasa canggung dan menggaruk tengkuk lehernya. "Sudah sejak tadi," ucapnya membuat Austin menyipit tajam. Sejak tadi? Berdua saja? Inginnya mengatakan hal itu, akan tetapi Austin lebih memilih mengangguk saja.


"Jac, Lim dan El sedang membeli makanan di kantin, mungkin sebentar lagi mereka akan kembali." Gavin menyadari perubahan raut wajah Austin. Ia merasa tidak enak dan tidak ingin membuat Austin salah paham. Biar bagaimanapun hubungan Austin dan Licia lebih dekat.


Austin kembali mengangguk. Tetapi entah kenapa hatinya mendadak lega setelah Gavin menjelaskan. Ah, apa artinya ini?


Tatapan Austin kemudian bertemu dengan tatapan Licia. Sejak tadi gadis itu sudah merasa canggung. Terlebih saat memasuki ruangan, Austin tidak menatap ke arahnya, sehingga ia menyimpulkan jika Austin masih menyimpan kekecewaan padanya.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanyanya memastikan keadaan gadis di hadapannya itu. Jujur saja sebenarnya ia mencemaskan keadaan Licia. Akan tetapi ia lebih mengikuti keinginan sang Mommy untuk beristirahat di Mansion. Meskipun tidak berkunjung secara langsung, Austin selalu memantau keadaan Licia melalui Jacob.


"Iya, aku sudah merasa lebih baik." Licia tersenyum. Jujur saja ia senang saat Austin masih peduli dan perhatian padanya.


Austin mengangguk. Yang ia dengar dari Jacob, Licia sudah kembali seperti sedia kala. Kemudian ia memilih melabuhkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan ranjang.


Mendapati Austin tidak lagi bertanya, membuat Licia menghela napas kecewa. Padahal jika dulu, Austin selalu banyak bicara, bahkan selalu ingin tahu apa saja yang ia rasakan dan ia lakukan.


Apa As masih marah padaku? batinnya bertanya-tanya.


Licia menatap Austin yang fokus pada ponselnya. Gadis itu tidak menyadari jika Gavin memperhatikan mereka. Tak banyak bertanya, tetapi mampu menyimpulkan sesuatu.


"Sepertinya aku perlu membeli coffee, tiba-tiba saja aku merasa mengantuk." Akhirnya Gavin bersuara, memecahkan keheningan yang sempat terjadi diantara mereka. Perhatian Austin teralihkan dari layar ponselnya dan mendongak pada Gavin, pun dengan Licia yang menoleh ke arah Gavin.


"Hm, belikan satu untukku," sahut Austin. Tubuhnya memerlukan caffeine. Meski tidak merokok, tetapi dirinya penyuka coffee.


Gavin mengangguki perkataan Austin. Ia menyambar ponsel miliknya yang diletakkan di atas nakas, kemudian segera keluar dari ruang perawatan. Saat di lorong, Gavin berpapasan dengan Jacob, Liam dan Elden.


"Kau mau kemana? Kenapa meninggalkan Licia sendirian saja?" tanya Jacob. Ia mendadak kesal lantaran Gavin meninggalkan Licia tanpa menunggu dirinya terlebih dahulu.


"Ada As yang menemani." Gavin memberitahu. Ia menyadari jika Jacob kesal padanya.


"Jadi As datang?" tanya Elden terperangah. Pasalnya Austin tidak menghubungi mereka sebelumnya.


Gavin mengangguk. "Kalian kembalilah."


"Lalu kau mau kemana?" Jacob menyipitkan matanya.


"Aku ingin membeli coffee." Lalu melangkah melewati teman-temannya itu.


Meski heran dengan sikap Gavin, Jacob dan Elden kembali melanjutkan langkah. Berbeda dengan Liam yang menatap punggung ketiga teman-temannya yang berjalan berlawanan.


Ah... Liam mendesahkan napas berat. "Tunggu Gav, aku akan menemanimu." Lalu menyusul langkah cepat Gavin. Akhir-akhir ini ia mendapati mood Gavin yang naik turun. Sehingga ia harus menemani temannya yang satu itu.


"Kenapa kau mengikutiku?!" Gavin menyikut perut Liam saat pria itu terlalu menempel padanya.


"Aku takut kau kesepian," sahut Liam mengejek. Ia merangkul Gavin, tak peduli Gavin yang berulang kali menyingkirkan tangannya.


Licia menggigit pipi bagian dalamnya. "Hm, As. Aku minta maaf."


Atensi Austin teralihkan, suara Licia sepertinya lebih menarik ketimbang ponsel yang sedari tadi ia mainkan. Ditatapnya gadis itu dengan lamat. "Minta maaf untuk apa?" tanyanya.


"Untuk yang terjadi terakhir kali. Aku tidak percaya padamu tentang Maxi. Aku yang terlalu percaya padanya sangat mudah dibodohi. Kau sudah pasti sangat kecewa padaku." Licia tertunduk sedih. Kedua matanya bahkan sudah mengembun. Gadis itu sungguh merasa bersalah dan perasaan bersalahnya semakin besar ketika mendengar bagaimana Austin menyelamatkan dirinya. Meskipun ia tidak terlalu ingat apa yang terjadi, tetapi melalui cerita yang ia dengar dari Jacob bahwa Austin sampai tertembak karenanya.


"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Kau pasti masih marah padaku dan tidak ingin bicara lagi padaku," tuturnya mengisak. Sedari tadi sudah menahan diri agar tidak menangis. Tetapi berhadapan dengan Austin membuat pertahanannya runtuh. Ia begitu merasa bersalah.


Austin menghela napas. Ia mencampakkan ponselnya di atas sofa, sedangkan dirinya segera bangkit berdiri dan melangkah mendekati ranjang. Membenamkan tubuhnya di sisi ranjang, lalu menangkup wajah Licia agar menatapnya.


Namun Licia masih enggan menatap pria itu, sehingga Austin berkata, "Lihatlah, apa saat ini aku terlihat marah padamu?"


Licia mencoba menemui mata Austin. Gadis itu tidak menemukan kemarahan di manik mata hazel milik Austin. Gadis itu kemudian menggeleng.


"Kalau begitu jangan berpikiran yang macam-macam. Fokuslah pada kesembuhanmu."


"Ta-tapi sudah dua hari aku berada di rumah sakit, kau baru menjengukku hari ini." Bibir Licia mengerucut dan terlihat menggemaskan. Terlebih kedua telapak tangan Austin menekan wajah gadis itu, sehingga bibir Licia terlihat maju dan menjadi kecil.


Entah kenapa Austin teringat akan ciuman mereka dua hari yang lalu. Ia baru mengetahui jika bibir teman sejak kecilnya itu memiliki rasa strawberry yang manis.


"As...." Licia menepuk lengan Austin saat pria itu justru diam saja. Membuat Austin tersentak dan tersadar dari pikiran liarnya.


Dengan cepat Austin menjauhkan tangannya dari wajah Licia. "Mommy tidak membiarkanku keluar dari Mansion. Aku bahkan dikurung di dalam kamar selama dua hari." Ya, Mommy-nya itu jika kepada dirinya akan bertindak sangat posesif. Berbeda dengan Arthur dan Elie, Mommy Elleana selalu percaya pada kedua kakaknya itu. Sehingga apapun yang mereka lakukan akan dibebaskan.


Apa yang dikatakan oleh Austin membuat Licia tertawa. Ia baru tahu jika Bibi Elleana dapat bertindak posesif seperti itu kepada Austin.


"Bibi Elle seperti itu padamu?" Masih dengan tawanya.


Austin mengangguk. Sudut bibirnya melengkung tipis saat melihat Licia sudah kembali ceria. Menggemaskan. Dan lagi-lagi membuat pandangannya tertuju pada bibir mungil Licia yang bewarna peach. Padahal ia tahu jika gadis itu tidak mengenakan make up. Buru-buru mengeyahkan pikiran tersebut, Austin membuang pandangannya ke arah lain.


"As, kau mendengarku tidak?" Licia menarik bahu Austin. Sedari tadi ia mengajak pria itu berbicara, akan tetapi Austin diam saja dan tidak ingin melihat ke arahnya.


Namun justru yang terjadi tubuh Austin mencondong ke depan, nyaris menimpa Licia jika saja pria itu tidak menahan bobot tubuhnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Mata mereka bertemu dan saling mengunci. Jantung Licia tiba-tiba saja berdetak lebih cepat dari biasanya. Posisi mereka seperti ini sudah sering terjadi, akan tetapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Ia baru menyadari jika Austin memiliki wajah yang tampan, sangat-sangat tampan. Kemana saja dirinya selama ini?


Tidak berbeda jauh dengan Austin, pria itu pun merasakan jantungnya bertalu-talu. Padahal wajah Licia seperti biasa, tidak ada yang berubah. Tetapi kali ini Licia nampak terlihat sangat cantik. Tanpa sadar keduanya mendekatkan wajah, hidung nyaris bersentuhan dan bibir mereka sudah tanpa jarak dan beberapa senti lagi saling menempel dan.....


To be continue


Wkwkwk bersambung dulu ya biar makin penasaran 😂 Btw Yoona kasih foto close up Austin ya



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...