
Sementara di tempat lain, Aurelie baru saja tiba di perusahaan Glory Ent. Baru saja memasuki studio rooms semua mata sudah memandang ke arahnya. Berbeda dengan Mandy yang sejak tadi merasa risih di perhatikan seperti mereka baru saja tertangkap basah mencuri sesuatu, Aurelie justru nampak santai berjalan anggun seolah mereka hanya patung yang tidak perlu di hiraukan.
"Baguslah, jika kau sudah datang." Baru saja ingin melangkah masuk ke dalam salah satu ruangan, suara tidak asing yang terdengar selalu menyebalkan itu menghentikan langkah Aurelie serta Mandy yang sejak tadi mengekor di belakangnya.
Keduanya sontak menoleh, mendapati sosok Carmela yang bersedekap dengan angkuh. Tidak lupa pria yang baru saja bertunangan dengan wanita itu tadi malam berdiri di samping Carmela dengan tatapan penuh kerinduan pada mantan kekasihnya itu. Ingin mendekap, akan tetapi apa daya kini mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun. Terlebih apa yang ia lakukan selalu dalam pengawasan Carmela, sehingga ia tidak bisa bergerak bebas seperti sebelumnya.
"Aku hanya ingin mengambil barang-barangku saja," ucap Aurelie tersenyum tipis. Tangannya turut menyilang di depan dada. Jika dilihat tidak kalah angkuh dengan Carmela, namun tentunya wajah Aurelie lebih lembut ketimbang wanita yang menyerupai boneka berbie itu, tetapi justru sifatnya sangat buruk.
"Cih, ambil semua barang-barangmu. Aku tidak ingin agensiku masih menyimpan semua barang-barang milikmu." Sudah cukup Glory Ent menampung wanita tidak jelas asal usulnya tersebut. Kini ia tidak perlu lagi melihat wajah wanita yang sangat di bencinya.
"Baik Nona Carmela." Aurelie mengangguk menyahut. "Mandy, tolong ambilkan semua barang-barangku yang ada di dalam," ucapnya kepada Mandy menoleh sekilas. Mandy yang mendapatkan perintah demikian, segera melaksanakannya hingga buru-buru masuk ke dalam ruangan.
Melihat sikap santai Aurelie membuat Carmela meradang. Pasalnya Elie tidak menampakkan raut wajah yang sedih karena akan kehilangan karirnya. Bekerja selama beberapa tahun bukanlah waktu yang sebentar, sehingga seharusnya wanita itu menangis atau meratapi nasib kedepannya.
Namun Carmela tidak kehabisan akal, ia masih memiliki senjata terakhir untuk menekan wanita itu. "Sayang, bukankah masa kontrak Elie masih sampai tahun depan?" Carmela menoleh kepada Brandon yang sejak tadi nampaknya tidak ingin turut andil mengganggu mantan kekasihnya itu.
"Ya...." Dan hanya menjawab seadanya saja. Ia tahu apa yang sedang direncakan oleh tunangannya itu. Apalagi jika bukan mengenai uang pinalty untuk mengganti rugi.
"Karena Elie keluar sebelum masa kontrak selesai, maka dia harus membayar pinalty sebanyak 2 milyar." Carmela tersenyum tipis, senyum yang nampak meremehkan. Uang itu sangat banyak, sudah pasti Elie tidak akan mampu membayarnya.
Wajah Aurelie masih nampak datar, ia sudah tidak terkejut lagi. Karena sebelumnya sudah menduga jika Carmela akan meminta uang pinalty kepada dirinya.
Semua staf serta model-model lainnya yang berada disana sudah menguping pembicaraan mereka. Bahkan beberapa dari mereka mengepung dan saling berbisik. Tidak terkecuali Larry, pria yang selama ini menaruh hati kepada Elie. Tentu saja merasa tidak tega jika wanita itu harus membayar pinalty yang tidak sedikit. Hingga kemudian ia mengayunkan langkah kakinya menuju Elie dan Carmela.
"Apa Elie harus membayar pinalty sebanyak itu?" Suara Larry mengalihkan ketiganya dan menoleh ke arah pria itu. Hingga langkahnya terhenti tepat di sisi kanan Elie.
"Benar, perusahaan ini sudah membesarkan namanya, sehingga harga itu sesuai dengan uang ganti rugi yang harus dibayarkan," sahut Carmela menatap Larry dan Elie bergantian.
"Tapi bukankah pinalty yang harusnya dibayar hanya 1 Milyar, tapi kau meminta Elie membayar lebih dari yang seharusnya?!" Sungguh Larry tidak terima jika Carmela benar-benar ingin mempermainkan Elie. Uang 2 Milyar tidaklah sedikit, dari mana Elie akan mendapatkan uang sebanyak itu? pikirnya.
Carmela berdecak sinis. Memang pinalty setiap model yang menyalahi aturan berkisar 1 Milyar. Namun pengecualian untuk Elie, wanita yang sudah mempermalukan dirinya tadi malam harus menerima pelajaran darinya. Sehingga wanita itu harus membayar lebih mahal dari yang seharusnya.
"Kau tidak perlu ikut campur Larry, karena ini bukan urusanmu. Aku yang menentukan dia harus membayar berapa dan itu harga yang pantas untuknya karena dia sudah mempermalukanku!" seru Carmela kembali meradang jika mengingat kejadian tadi malam.
"Kau sendiri yang mencari masalah, wajar saja jika Elie memukulmu!" Ya, Larry mengetahui permasalahan yang terjadi di antara Elie dengan Carmela. Selama kni Larry adalah teman baik Carmela, tentu saja wanita itu menceritakannya kepada Larry namun sedikit di lebih-lebihkan.
Carmela tidak terima dengan ucapan Larry, meskipun pria itu adalah teman baiknya selama ini. Tangannya menyilangkan disertai senyuman kecut. "Dengar Larry, kau memang temanku tapi tidak berarti kau bisa ikut campur urusanku!"
Brandon merasakan pening pada bagian kepalanya. Carmela tetap bersikeras dan belum lagi pria yang bernama Larry itu seolah ingin menjadi pahlawan kepagian.
"Carmel-"
"Sudahlah Larry, tidak perlu membelaku." Aurelie menyela Larry yang ingin bersuara kembali. Sungguh ia tidak ingin masalah ini berlarut-larut. "Aku akan membayar sesuai yang diinginkan oleh Nona Carmela," katanya kemudian setenang mungkin. Lalu tersenyum kepada Carmela, wanita cantik bak berbie itu. "Bagaimana Nona Carmela? Apa kau sudah puas hm?"
"Ck, karena sudah merasa hebat menjadi simpanan pria kaya raya kau menjadi sombong seperti ini," desis Carmela.
Aurelie terkekeh, kenapa memangnya jika ia mendapatkan uang dari pria kaya?
"Apa Nona Carmela iri denganku karena tidak bisa mendapatkan uang dari pria kaya sepertiku?" Sindiran Aurelie tertuju telak pada sosok Brandon. Lirikan matanya nampak meremehkan. Jika diperhatikan sejauh ini, Carmela selalu mengeluarkan uang untuk Brandon.
Satu tangan Carmela terkepal, merasa jika sindiran Elie tidak bisa dipatahkan. "Aku terlahir dari keluarga kaya raya, jadi aku tidak memerlukan sokongan uang dari pria diluar sana."
Aurelie hanya mengangguk saja. Terserah wanita itu ingin berkata apapun. Bertepatan dengan Mandy yang baru saja keluar dari ruangan dengan membawa satu paperbag. Barang-barang Elie memang tidak banyak, karena wanita itu tidak suka jika barang pribadinya berada di tempat lain.
"Jangan membawa apapun yang bukan menjadi milik kalian!" Tatapan Carmela mengarah pada paperbag tersebut.
"Tenang Nona Carmela, saya memang tidak memiliki uang yang banyak, tetapi saya tidak pernah berniat untuk mencuri apapun dari agensi ini," sahut Mandy memberanikan dirinya. Baru kali ini Mandy berani menyahuti ucapan Carmela. Untuk apa ia menghormati wanita seperti Carmela.
"Elie bisa mencari uang dengan menjual tubuhnya, tidak menutup kemungkinan dia juga menyuruhmu untuk mencuri!" tuding Carmela.
Tanpa berpamitan dengan siapapun disana, Aurelie melangkahkan kakinya meninggalkan studio rooms. Carmela serta Brandon masih bertahan menatap jejak Aurelie yang kian menjauh. Pria itu lebih banyak diam, karena ia sudah mendapatkan ultimatum, tidak diperbolehkan membela mantan kekasihnya itu. Beberapa staf serta para model lainnya bergegas membubarkan diri begitu perdebatan secara live itu telah usai.
Berbeda dengan Larry yang sudah menyusul langkah Elie. Rupanya pria itu tidak rela jika Elie keluar dari agensi begitu saja.
"Elie tunggu...." Larry menyambar pergelangan tangan Elie hingga menghentikan langkah wanita itu.
"Ada apa Larry?" tanyanya berkerut bingung.
"Kau benar-benar keluar dari agensi?" Nampak ketidakrelaan karena kedepannya ia tidak dapat melihat dan bertemu Elie kembali.
"Ya, kau sudah mendengarnya tadi. Aku sudah dikeluarkan dan juga harus membayar pinalty," sahutnya mengingatkan apa yang baru saja terjadi di dalam studio rooms.
Sejenak Larry diam, lalu menarik napas panjang. "Ya, tapi darimana kau akan mendapatkan uang sebanyak itu?"
"Kau tidak perlu khawatir, aku masih memiliki tabungan," jawabnya tersenyum. Selama ini Larry tidak pernah mencari masalah dengannya, sehingga tidak ada alasan untuk dirinya memusuhi Larry, meskipun selama ini pria itu dekat dengan Carmela. Lagi pula Aurelie tidak memusingkan uang 2 Milyar tersebut, dengan mudah uang itu akan berada di tangannya, mengingat ia memiliki tabungan jauh lebih banyak.
Larry mengangguk dalam keraguan. "Baiklah, jika butuh bantuan kau bisa menghubungiku." Setidaknya jika Elie meminta bantuan kepadanya akan ada alasan untuk bertemu dengan wanita itu.
Aurelie tersenyum simpul. "Terima kasih Larry."
"Elie...?" Suara yang tidak asing mengalihkan perhatian ketiganya. Seorang pria yang tubuhnya menjulang tinggi terlihat menghampiri Elie dengan semburat gusar di wajahnya. "Aku dengar kau tidak lagi menjadi model di Glory Ent?" tanyanya memastikan.
Aurelie mengangguk membenarkan. "Benar Lee, untuk kedepannya aku tidak akan datang kemari lagi." Pria itu tidak lain adalah fotografer Leon.
"Sayang sekali aku akan kehilangan salah satu model terbaik." Kekecewaan nampak jelas terukir di wajahnya.
Aurelie terkekeh lalu menepuk-nepuk bahu Lee. "Pasti akan ada penggantiku, tenang saja." Memberikan semangat meskipun hatinya kecewa, karena selama beberapa tahun ini ia begitu dekat dengan Lee.
Lee tidak menjawab, pun dengan Larry yang tidak ingin bergabung dengan percakapan tersebut. Kedua pria itu larut dalam kesedihan masing-masing karena akan kehilangan sosok wanita yang mereka kagumi.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik." Aurelie segera mengajak Mandy pergi dari sana usai berpamitan dengan Larry serta fotografer Lee.
***
Di bawah sinar matahari yang cukup menyengat, pasangan yang baru saja bertunangan terlihat keluar dari gedung Glory Ent. Keduanya masuk ke dalam mobil, hingga tidak lama kemudian berlalu dari sana.
Brandon mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Tatapannya lurus ke depan seolah terlihat sedang fokus, namun yang sebenarnya pria itu tengah memikirkan nasib Elie di luar sana jika tidak bekerja lagi sebagai model. Masih saja pria itu memikirkan mantan kekasihnya, padahal disisinya terdapat Carmela, tetapi keberadaan wanita itu tidak dipedulikan oleh Brandon.
Terlalu fokus menyetir, sementara Carmela hanya fokus pada ponselnya, mereka tidak menyadari jika sejak keluar dari area gedung Glory Ent, ada sebuah mobil yang menunggu lalu mengikuti mereka dari belakang. Hingga pada saat berada di jalanan yang nampak sepi, mobil tersebut menghantam mobil Brandon.
To be continue
Elie
Banyak yang protes karena sikap Helena ya. Kurang cocok sama Arthur wkwk iya sih ngeselin emang 😂 Tapi dari awal udah kaya gitu alurnya, bisa diingat dari novel baba vier sampe bastard Mafia, Yoona gak bikin cerita yang lempeng aja gitu, selalu buat kalian greget. Pasti ada konflik, ada rintangan untuk melengkapi setiap cerita, dan di cerita Yoona masih ada misteri yang belum terungkap. Jadi dinikmati aja ya.... 🤗
Cukup sesi curhatnya wkwk terimakasih banyak yang selama ini masih setia sama Yoona 🥰💕
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...